SERAT WEDHATAMA

SeratWedhatama (asal kata dalam bahasa Jawa; Wredhatama) merupakan salah satu karya agung pujangga sekaligus seniman besar pencipta berbagai macam seni tari (beksa) dan tembang. Wayang orang, wayang madya, pencipta jas Langendriyan (sering digunakan sebagai pakaian pengantin adat Jawa/Solo). Beliau adalah enterpreneur sejati yang sangat sukses memakmurkan rakyat pada masanya dengan membangun pabrik bungkil, pabrik gula Tasikmadu dan Colomadu di Jateng (1861-1863) dengan melibatkan masyarakat, serta perkebunan kopi, kina, pala, dan kayu jati di Jatim dan Jateng. Masih banyak lagi, termasuk merintis pembangunan Stasiun Balapan di kota Solo. Beliau juga terkenal gigih dalam melawan penjajahan Belanda. Hebatnya, perlawanan dilakukan cukup melalui tulisan pena, sudah cukup membuat penjajah mundur teratur. Cara inilah menjadi contoh sikap perilaku utama, dalam menjunjung tinggi etika berperang (jihad ala Kejawen); “nglurug tanpa bala” dan “menang tanpa ngasorake”.
Kemenangan diraih secara kesatria, tanpa melibatkan banyak orang, tanpa makan korban pertumpahan darah dan nyawa, dan tidak pernah mempermalukan lawan. Begitulah kesatria sejati.
Selain terkenal kepandaiannya akan ilmu pengetahuan, juga terkenal karena beliau tokoh yang amat sakti mandraguna. Beliau terkenal adil, arif dan bijaksana selama dalam kepemimpinannya. Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja di keraton Mangkunegaran Solo. Berkat “laku” spiritual yang tinggi beliau diketahui wafat dengan meraih kesempurnaan hidup sejati dalam menghadap Tuhan Yang Mahawisesa; yakni “warangka manjing curiga” atau meraih kamuksan; menghadap Gusti (Tuhan) bersama raganya lenyap tanpa bekas.
Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya.
Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apapun. Karena ajaran dalam Wedhatama bukan lah dogma agama yang erat dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Mudah diikuti dan dipelajari oleh siapapun, diajarkan dan dituntun step by step secara rinci. Puncak dari “laku” spiritual yang diajarkan serat Wedhatama adalah; menemukan kehidupan yang sejati, lebih memahami diri sendiri,manunggaling kawula-Gusti, dan mendapat anugrah Tuhan untuk melihat rahasia kegaiban.
Serat yang berisi ajaran tentang budi pekerti atau akhlak mulia, digubah dalam bentuk tembang agar mudah diingat dan lebih “membumi”. Sebab sebaik apapun ajaran itu tidak akan bermanfaat apa-apa, apabila hanya tersimpan di dalam “menara gadhing” yang megah.
Mudah-mudahan hakikat yang tersirat di dalam pelajaran ini dapat diserap secara mudah Harapan saya mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama dan kepercayaannya. Bagi siapapun yang lebih winasis pada sastra Jawa

PANGKUR (Sembah Raga/Syariat)

1.Mingkar mingkuring angkara,Akarana karanan mardi siwi,Sinawung resmining kidung,Sinuba sinukarta,Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung Kang tumrap neng tanah Jawa Agama ageming aji.

Meredam nafsu angkara dalam diri,Hendak berkenan mendidik putra-putri Tersirat dalam indahnya tembang,dihias penuh variasi,agar menjiwai hakekat ilmu luhur,yang berlangsung di tanah Jawa agama sebagai “pakaian” kehidupan.

2.Jinejer neng Wedatama ,Mrih tan kemba kembenganing pambudi Mangka nadyan tuwa pikun Yen tan mikani rasa,yekti sepi asepa lir sepah, samun,Samangsane pasamuan Gonyak ganyuk ngliling semi.

Disajikan dalam serat Wedhatama, agar jangan miskin pengetahuan walaupun sudah tua pikun jika tidak memahami rasa sejati (batin) niscaya kosong tiada berguna bagai ampas, percuma sia-sia, di dalam setiap pergaulan sering bertindak ceroboh memalukan.

3.Nggugu karsaning priyangga,Nora nganggo peparah lamun angling,Lumuh ing ngaran balilu,Uger guru aleman,Nanging janma ingkang wus waspadeng semu Sinamun ing samudana,Sesadon ingadu manis

Mengikuti kemauan sendiri,Bila berkata tanpa dipertimbangkan (asal bunyi),Namun tak mau dianggap bodoh,Selalu berharap dipuji-puji.(sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami (ilmu sejati) tak bisa ditebak berwatak rendah hati,selalu berprasangka baik.

4.Si pengung nora nglegawa,Sangsayarda deniro cacariwis,Ngandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah,saya elok alangka longkanganipun, Si wasis waskitha ngalah,Ngalingi marang si pingging.

(sementara) Si dungu tidak menyadari,Bualannya semakin menjadi jadi,ngelantur bicara yang tidak-tidak,Bicaranya tidak masuk akal,makin aneh tak ada jedanya.Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah,Menutupi aib si bodoh.

5.Mangkono ngelmu kang nyata,Sanyatane mung weh reseping ati,Bungah ingaran cubluk,Sukeng tyas yen denina,Nora kaya si punggung anggung gumrunggung Ugungan sadina dina. Aja mangkono wong urip.

Demikianlah ilmu yang nyata,Senyatanya memberikan ketentraman hati,Tidak merana dibilang bodoh,Tetap gembira jika dihina Tidak seperti si dungu yang selalu sombong,Ingin dipuji setiap hari.Janganlah begitu caranya orang hidup.

6.Urip sepisan rusak, Nora mulur nalare ting saluwir, Kadi ta guwa kang sirung, Sinerang ing maruta, Gumarenggeng anggereng Anggung gumrunggung, Pindha padhane si mudha,Prandene paksa kumaki.

Hidup sekali saja berantakan,Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut.Umpama goa gelap menyeramkan,Dihembus angin,Suaranya gemuruh menggeram,berdengung Seperti halnya watak anak muda masih pula berlagak congkak

7.Kikisane mung sapala, Palayune ngendelken yayah wibi, Bangkit tur bangsaning luhur,Lha iya ingkang rama,Balik sira sarawungan bae during Mring atining tata krama,Nggon anggon agama suci.

Tujuan hidupnya begitu rendah,Maunya mengandalkan orang tuanya,Yang terpandang serta bangsawan Itu kan ayahmu ! Sedangkan kamu kenal saja belum,akan hakikatnya tata krama dalam ajaran yang suci

8.Socaning jiwangganira,Jer katara lamun pocapan pasthi,Lumuh asor kudu unggul,Semengah sesongaran,Yen mangkono keno ingaran katungkul,Karem ing reh kaprawiran,Nora enak iku kaki.

Cerminan dari dalam jiwa raga mu,Nampak jelas walau tutur kata halus,Sifat pantang kalah maunya menang sendiri Sombong besar mulut Bila demikian itu, disebut orang yang terlena Puas diri berlagak tinggi Tidak baik itu nak !

9.Kekerane ngelmu karang,Kekarangan saking bangsaninggaib,Iku boreh paminipun,Tan rumasuk ing jasad, Amung aneng sajabaning daging kulup,Yen kapengok pancabaya,Ubayane mbalenjani.

Di dalam ilmu yang dikarang-karang(sihir/rekayasa)Rekayasa dari hal-hal gaib Itu umpama bedak.Tidak meresap ke dalam jasad, Hanya ada di kulitnya saja nak Bila terbentur marabahaya,bisanya menghindari

10. Marma ing sabisa-bisa,Bebasane muriha tyas basuki,Puruita-a kang patut,Lan traping angganira,Ana uga angger ugering kaprabun,Abon aboning panembah,Kang kambah ing siyang ratri.

Karena itu sebisa-bisanya,Upayakan selalu berhati baik Bergurulah secara tepat Yang sesuai dengan dirimu Ada juga peraturan dan pedoman bernegara,Menjadi syarat bagi yang berbakti,yang berlaku siang malam.

11. Iku kaki takok-eno,marang para sarjana kang martapi Mring tapaking tepa tulus,Kawawa nahen hawa,Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu Tan mesthi neng janma wredha Tuwin mudha sudra kaki.

Itulah nak, tanyakan Kepada para sarjana yang menimba ilmu Kepada jejak hidup para suri tauladan yang benar,dapat menahan hawa nafsu Pengetahuanmu adalah senyatanya ilmu,Yang tidak harus dikuasai orang tua,Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak !

12. Sapantuk wahyuning Gusti Allah,Gya dumilah mangulah ngelmubangkit,Bangkit mikat reh mangukut,Kukutaning jiwangga,Yen mengkono kena sinebutwong sepuh, Lire sepuh sepi hawa,Awas roroning atunggil

Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,Mampu menguasai ilmukas am pur nan,Kesempurnaan jiwa raga,Bila demikian pantas disebut“orang tua”.Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu,Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)

13. Tan samar pamoring sukma,Sinuksmaya winahya ing ngasepi,Sinimpen telenging kalbu, Pambukaning warana,Tarlen saking liyep layaping aluyup,Pindha pesating sumpena,Sumusuping rasa jati.

Tidak lah samar sukma menyatu meresap terpatri dalam keheningan semadi,Diendapkan dalam lubuk hati menjadi pembuka tabir,berawal dari keadaan antara sadar dan tiada Seperti terlepasnya mimpi Merasuknya rasa yang sejati.

14. Sejatine kang mangkana,Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,Bali alaming ngasuwung,Tan karem arameyan,Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula ulanira. Mulane wong anom sami

Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan,Kembali ke alam yang mengosongkan,tidak mengumbar nafsu duniawi,yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal muasalmu Oleh karena itu,wahai anak muda sekalian…

SINOM (Sembah Cipta/Kalbu/Tarekat)

15. Nulada laku utama,Tumrape wong Tanah jawi,Wong agung ing Ngeksiganda,Panembahan Senopati,Kepati amarsudi,Sudane hawa lan nepsu,Pinepsu tapa brata, Tanapi ing siyang ratri,Amamangun karyenak tyasing sesama.

Contohlah perilaku utama bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),orang besar dari Ngeksiganda (Mataram),Panembahan Senopati,yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa),serta siang malam selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang)

16. Samangsane pasamuan, mamangun marta martani,Sinambi ing saben mangsa,Kala kalaning asepi,Lelana teki-teki,Nggayuh geyonganing kayun,Kayungyun eninging tyas,Sanityasa pinrihatin,Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra.

Dalam setiap pergaulan,membangun sikap tahu diri.Setiap ada kesempatan,Di saat waktu longgar,mengembara untuk bertapa,menggapai cita-cita hati,hanyut dalam keheningan kalbu. Senantiasa menjaga hati untuk prihatin(menahan hawa nafsu),dengan tekad kuat, membatasi makan dan tidur.

17. Saben mendra saking wisma,Lelana lalading sepi,Ngingsep sepuhing supana,Mrih pana pranaweng kapti,Tis tising tyas marsudi,Mardawaning budya tulus, Mesu reh kasudarman,Neng tepining jalanidhi,Sruning brata kataman wahyu dyatmika

Setiap mengembara meninggalkan rumah(istana),berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),menghirup tingginya ilmu,agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup)sejati.Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,memperdayakan akal budi menghayati cinta kasih, ditepinya samudra.Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika(hidup yang sejati).

18. Wikan wengkoning samodra,Kederan wus den ideri,Kinemat kamot hing driya,Rinegan segegem dadi,Dumadya angratoni,Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,Ndedel nggayuh nggegana, Umara marak maripih,Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda

Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi,“kesaktian” melimputi indera Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa,Kangjeng Ratu Kidul, Naik menggapai awang-awang,(kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat,kepada Wong Agung Ngeksigondo.

19 Dahat denira aminta,Sinupeket pangkat kanthi,Jroning alam palimunan, ing pasaban saben sepi,Sumanggem anyanggemi,Ing karsa kang wus tinamtu,Pamrihe mung aminta,Supangate teki-teki,Nora ketang teken janggut suku jaja.

Memohon dengan sangat lah beliau,agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib, tempatnya berkelana setiap sepi.Bersedialah menyanggupi,kehendak yang sudah digariskan. Harapannya hanyalah meminta restu dalam bertapa,Meski dengan susah payah.

20. Prajanjine abipraya,Saturun-turuning wuri,Mangkono trahing ngawirya,Yen amasah mesu budi,Dumadya glis dumugi,Iya ing sakarsanipun,Wong agung Ngeksiganda,Nugrahane prapteng mangkin,Trah tumerah dharahe padha wibawa.

Perjanjian sangat mulia,untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari.Begitulah seluruh keturunan orang luhur,bila mau mengasah akal budi akan cepat berhasil,apa yang diharapkan orang besar Mataram,anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa.

21. Ambawani tanah Jawa,Kang padha jumeneng aji,Satriya dibya sumbaga,Tan lyan trahing Senopati,Pan iku pantes ugi,Tinelad labetipun,Ing sakuwasanira,Enake lan jaman mangkin, Sayektine tan bisa ngepleki kuna.

Menguasai tanah Jawa (Nusantara),yang menjadi raja (pemimpin),satria sakti tertermasyhur,tak lain keturunan Senopati,hal ini pantas pula sebagai tauladan budi pekertinya,Sebisamu, terapkan di zaman nanti,Walaupun tidak bisa persis sama seperti di masa silam.

22. Lowung kalamun tinimbang,Ngaurip tanpa prihatin,Nanging ta ing jaman mangkya,Pra mudha kang den karemi,Manulad nelad nabi,Nayakengrat gusti rasul, Anggung ginawe umbag,Saben seba mampir masjid,Ngajab-ajab tibaning mukjijat drajat.

Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin,namun di masa yang akan datang (masa kini),yang digemari anak muda,meniru- niru nabi, rasul utusan Tuhan,yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,setiap akan bekerja singgah dulu di masjid,Mengharap mukjizat agar mendapat derajat(naik pangkat).

23. Anggung anggubel sarengat,Saringane tan den wruhi,Dalil dalaning ijemak,Kiyase nora mikani,Ketungkul mungkul sami,Bengkrakan mring masjid agung,Kalamun maca kutbah, Lelagone Dandanggendis,Swara arum ngumandhang cengkok palaran

Hanya memahami sariat (kulitnya) saja,sedangkan hakekatnya tidak dikuasai,Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni Mereka lupa diri, (tidak sadar) bersikap berlebih-lebihan di masjid besar,Bila membaca khotbah berirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati),suara merdu bergema gaya palaran (lantang bertubi-tubi).

24 Lamun sira paksa nulad,Tuladhaning Kangjeng Nabi,O, ngger kadohan panjangkah, Wateke tan betah kaki,Rehne ta sira Jawi,Sathithik bae wus cukup,Aywa guru aleman, Nelad kas ngepleki pekih,Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat.

Jika kamu memaksa meniru,tingkah laku `Kanjeng Nabi,Oh, nak terlalu naif,Biasanya tak akan betah nak,Karena kamu itu orang Jawa,sedikit saja sudah cukup.Janganlah sekedar mencari sanjungan,Mencontoh-contoh mengikuti fiqih,apabila mampu,memang ada harapan mendapat rahmat.

25 Nanging enak ngupa boga,Reh ne ta tinitah langip, Apata suweting Nata,Tani tanapi agrami,Mangkono mungguh mami,Padune wong dahat cubluk,Durung wruh cara arab,Jawaku wae tan ngenting,Parandene paripaksa mulang putra.

Tetapi seyogyanya mencari nafkah,Karena diciptakan sebagai makhluk lemah,Apakah mau mengabdi kepada raja,Bercocok tanam atau berdagang,Begitulah menurut pemahamanku, Sebagai orang yang sangat bodoh,Belum paham cara Arab,Tata cara Jawa saja tidak mengerti,Namun memaksa diri mendidik anak.

26. Saking duk maksih taruna,Sadhela wus anglakoni,Aberag marang agama,Maguru anggering kaji,Sawadine tyas mami,Banget wedine ing mbesuk,Pranatan ngakir jaman,Tan tutug kaselak ngabdi,Nora kober sembahyang gya tinimbalan.

Dikarenakan waktu masih muda,Keburu menempuh belajar pada agama,Berguru menimba ilmu pada yang haji, maka yang terpendam dalam hatiku, menjadi sangat takut akan hari kemudian,Keadaan di akhir zaman,Tidak tuntas keburu “mengabdi”Tidak sempat sembahyang terlanjur dipanggil.

27. Marang ingkang asung pangan,Yen kesuwen den dukani,Abubrah kawur tyas ingwang, Lir kiyamat saben ari,Bot Allah apa Gusti,Tambuh tambuh solahingsun,Lawas lawas nggraita, Rehne ta suta priyayi,Yen mamriha dadi kaum temah nistha.

Kepada yang memberi makan,Jika kelamaan dimarahi,Menjadi kacau balau perasaanku,Seperti kiyamat saban hari,Berat “Allah” atau “Gusti”,Bimbanglah sikapku,Lama-lama berfikir, Karena anak turun priyayi,Bila ingin jadi juru doa (kaum) dapatlah nista,

28 Tuwin ketip suragama,Pan ingsun nora winaris,Angur baya ngantepana,Pranatan wajibing urip,Lampahan angluluri,Kuna kumunanira,Kongsi tumekeng samangkin,Kikisane tan lyan amung ngupa boga.

begitu pula jika aku menjadi pengurus dan juru dakwah agama.Karena aku bukanlah keturunannya,Lebih baik memegang teguh aturan dan kewajiban hidup,Menjalankan pedoman hidup warisan leluhur dari zaman dahulu kala hingga kelak kemudian hari.Ujungnya tidak lain hanyalah mencari nafkah.

29. Bonggan kan tan merlok-na,Mungguh ugering ngaurip,Uripe lan tri prakara,Wirya arta tri winasis,Kalamun kongsi sepi,Saka wilangan tetelu,Telas tilasing janma,Aji godhong jati aking, Temah papa papariman ngulandara.

Salahnya sendiri yang tidak mengerti,Paugeran orang hidup itu demikian seyogyanya,hidup dengan tiga perkara; Keluhuran(kekuas aan), harta(kemakmuran),ketiga ilmu pengetahuan. Bila tak satu pun dapat diraih dari ketiga perkara itu,habis lah harga diri manusia.Lebih berharga daun jati kering, akhirnya mendapatlah derita, jadi pengemis dan terlunta.

30. Kang wus waspadha ing patrap,Manganyut ayat winasis,Wasana wosing jiwangga,Melok tanpa aling-aling, Kang ngalingi kalingling,Wenganing rasa tumlawung,Keksi saliring jaman,Angelangut tanpa tepi,Yeku ingaran tapa tapaking Hyang Suksma.

Yang sudah paham tata caranya,Menghayati ajaran utama,Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa,akan melihat tanpa penghalang,Yang menghalangi tersingkir,Terbukalah rasa sayup menggema.Tampaklah seluruh cakrawala,Sepi tiada bertepi,Yakni disebut“tapa tapaking Hyang Sukma”.

31 Mangkono janma utama,Tuman tumanem ing sepi,Ing saben rikala mangsa,Masah amemasuh budi,Laire anetepi,Ing reh kasatriyanipun,Susilo anor raga,Wignya met tyasing sesami,Yeku aran wong barek beragama.

Demikianlah manusia utama,Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),Di saat-saat tertentu,Mempertajam dan membersihkan budi,Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria,berbuat susila rendah hati,pandai menyejukkan hati pada sesama,itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.

32 Ing jaman mengko pan ora,Arahe para taruni,Yen antuk tuduh kang nyata,Nora pisan den lakoni,Banjur njujurken kapti,Kakekne arsa winuruk,Ngandelken gurunira,Panditane praja sidik, Tur wus manggon pamucunge Mring makripat

Di zaman kelak tiada demikian,sikap anak muda bila mendapat petunjuk nyata,tidak pernah dijalani,Lalu hanya menuruti kehendaknya,Kakeknya akan diajari,dengan mengandalkan gurunya,yang dianggap pandita negara yang pandai,serta sudah menguasai makrifat.

PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat)

33 Ngelmu iku Kalakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani Setya budaya pangekese dur angkara

Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,dimulai dengan kemauan.Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,Teguh membudi daya Menaklukkan semua angkara

34 Angkara gung Neng angga anggung gumulung Gegolonganira Triloka lekeri kongsi Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Nafsu angkara yang besar ada di dalam diri, kuat menggumpal,menjangkau hingga tiga zaman, jika dibiarkanberkembang akan berubah menjadi gangguan.

35 Beda lamun kang wus sengsem Reh ngasamun Semune ngaksama Sasamane bangsa sisip Sarwa sareh saking mardi martatama

Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,Watak dan perilaku memaafkan pada sesama, selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,

36 Taman limut Durgameng tyas kang weh limput,Karem ing karamat Karana karoban ing sih Sihing sukma ngrebda saardi pengira

Dalam kegelapan.Angkara dalam hati yang menghalangi,Larut dalam kesakralan hidup,Karena tenggelam dalam samodra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung

37 Yeku patut tinulat tulat tinurut Sapituduhira,Aja kaya jaman mangkin Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna

Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti seperti semua nasehatku.Jangan seperti zaman nanti Banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat

38 Durung becus kesusu selak besus Amaknani rapal Kaya sayid weton mesir Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma

Belum mumpuni sudah berlagak pintar.Menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.

39 Kang kadyeku Kalebu wong ngaku aku akale alangka Elok Jawane denmohi Paksa langkah ngangkah met Kawruh ing Mekah

Yang seperti itu termasuk orang mengaku-aku, Kemampuan akalnya dangkal Keindahan ilmu Jawa malah ditolak.Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu diMekah,

40 Nora weruh rosing rasa kang rinuruh lumeketing angga anggere padha marsudi kana kene kaanane nora beda

tidak memahami hakekat ilmu yang dicari,sebenarnya ada di dalam diri.Asal mau berusaha sana sini (ilmunya) tidak berbeda,

41 Uger lugu,Den ta mrih pralebdeng kalbuYen kabul kabuki Ing drajat kajating urip Kaya kang wus winahya sekar srinata

Asal tidak banyak tingkah agar supaya merasuk ke dalam sanubari.Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya. Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas).

42 Basa ngelmu Mupakate lan panemune Pasahe lan tapa Yen satriya tanah Jawi Kuna kuna kang ginilut tripakara

Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.Bagi satria tanah Jawa,dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

43 Lila lamun kelangan nora gegetun, Trima yen ketaman Sakserik sameng dumadi Tri, legawa nalangsa srah ing Bathara

Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,Sabar jika hati disakiti sesama,Ketiga ; lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan.

44 Bathara gung Inguger graning jajantung Jenek Hyang wisesa Sana pasenedan suci Nora kaya si mudha mudhar angkara

Tuhan Maha Agung diletakkan dalam setiap hela nafas Menyatu dengan Yang Mahakuasa Teguh mensucikan diri Tidak seperti yang muda,mengumbar nafsu angkara.

45 Nora uwus Kareme anguwus uwus Uwose tan ana Mung janjine muring muring Kaya buta buteng betah anganiaya

Tidak henti hentinya gemar mencaci maki.Tanpa ada isinya kerjaannya marah-marah seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya sesama.

46 Sakeh luput Ing angga tansah linimput Linimpet ing sabda Narka tan ana udani Lumuh ala ardane ginawa gada

Semua kesalahan dalam diri selalu ditutupi,ditutup dengan kata-kata mengira tak ada yang mengetahui,bilangnya enggan berbuat jahat padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.

47 Durung punjul Ing kawruh kaselak jujul Kaseselan hawa Cupet kapepetan pamrih tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa

Belum cakap ilmu Buru-buru ingin dianggap pandai.Tercemar nafsu selalu merasa kurang, dan tertutup oleh pamrih,sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.

GAMBUH (Langkah Catur Sembah)

48 Samengko ingsun tutur Sembah catur supaya lumuntur Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa,kaki Ing kono lamun tinemu Tandha nugrahaning Manon

Kelak saya bertutur,

Empat macam sembah supaya dilestarikan;

Pertama; sembah raga,

kedua; sembah cipta,

ketiga; sembah jiwa, dan

keempat; sembah rasa, anakku !

Di situlah akan bertemu dengan pertanda anugrah Tuhan.

49 Sembah raga punika Pakartine wong amagang laku Susucine asarana saking warih Kang wus lumrah limang wektu Wantu wataking weweton

Sembah raga adalah Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin”Menyucikan diri dengan sarana air,Yang sudah lumrah misalnya lima waktu Sebagai rasa menghormat waktu

50 Inguni uni during Sinarawung wulang kang sinerung Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit Mintokken kawignyanipun Sarengate elok elok

Zaman dahulu belum pernah dikenal ajaran yang penuh tabir, Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan,memamerkan ke- bisa-an nya amalannya aneh aneh

51 Thithik kaya santri Dul Gajeg kaya santri brai kidul Saurute Pacitan pinggir pasisir Ewon wong kang padha nggugu Anggere padha nyalemong

Kadang seperti santri “Dul” (gundul) Bila tak salah, seperti santri wilayah selatan Sepanjang Pacitan tepi pantai Ribuan orang yang percaya.Asal-asalan dalam berucap

52 Kasusu arsa weruh Cahyaning Hyang kinira yen karuh Ngarep arep urub arsa den kurebi Tan wruh kang mangkono iku Akale kaliru enggon

Keburu ingin tahu,cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mata Orang tidak paham yang demikian itu Nalarnya sudah salah kaprah

53 Yen ta jaman rumuhun Tata titi tumrah tumaruntun Bangsa srengat tan winor lan laku batin Dadi nora gawe bingung Kang padha nembah Hyang Manon

Bila zaman dahulu, Tertib teratur runtut harmonis sariat tidak dicampur aduk dengan olah batin, jadi tidak membuat bingung bagi yang menyembah Tuhan

54 Lire sarengat iku Kena uga ingaran laku Dhingin ajeg kapindone ataberi Pakolehe putraningsun Nyenyeger badan mrih kaot

Sesungguhnya sariat itu dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun. Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan agar lebih baik,

55 Wong seger badanipun Otot daging kulit balung sungsum Tumrah ing rah memarah Antenging ati Antenging ati nunungku Angruwat ruweding batos

badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar, Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati. Ketenangan hati membantu Membersihkan kekusutan batin

56 Mangkono mungguh ingsun Ananging ta sarehne asnafun Beda beda panduk pandhuming dumadi Sayektine nora jumbuh Tekad kang padha linakon

Begitulah menurut ku ! Tetapi karena orang itu berbeda-beda, Beda pula garis nasib dari Tuhan. Sebenarnya tidak cocok tekad yang pada dijalankan itu

57 Nanging ta paksa tutur Rehne tuwa tuwase mung catur Bok lumuntur lantaraning reh utami Sing sapa temen tinemu Nugraha geming kaprabon

Namun terpaksa memberi nasehat Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah. Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.Barang siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.

58 Samengko sembah kalbu Yen lumintu uga dadi laku Laku agung kang kagungan Narapati Patitis tetesing kawruh Meruhi marang kang momong

Nantinya, sembah kalbu itu jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual. Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja. Tujuan ajaran ilmu ini;untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)

59 Sucine tanpa banyu Mung nyunyuda mring hardaning kalbu Pambukane tata titi ngati ati Atetep telaten atul Tuladan marang waspaos

Bersucinya tidak menggunakan air Hanya menahan nafsu di hati Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada) Teguh, sabar dan tekun,semua menjadi watak dasar,Teladan bagi sikap waspada.

60 Mring jatining pandulu Panduk ing ndon dedalan satuhu Lamun lugu legutaning reh maligi Lageane tumalawung Wenganing alam kinaot

Dalam penglihatan yang sejati,Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar. Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan Itulah, terbukanya “alam lain”

61 Yen wus kambah kadyeku Sarat sareh saniskareng laku Kalakone saka eneng ening eling Ilanging rasa tumlawung Kono adiling Hyang Manon

Bila telah mencapai seperti itu, Saratnya sabar segala tingkah laku.Berhasilnya dengan cara;Membangun kesadaran, mengheningkan cipta,pusatkan fikiran kepada energi Tuhan.Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa memasuki alam gaib rahasia Tuhan)

62 Gagare ngunggar kayun Tan kayungyun mring ayuning kayun Bangsa anggit yen ginigit nora Marma den awas den emut Mring pamurunging kalakon

Maka awas dan ingat lah dengan yang membuat gagal tujuan Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu) Tidak suka dengan indahnya kehendak rasasejati,Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.

63 Samengko kang tinutur Sembah katri kang sayekti katur Mring Hyang Sukma sukmanen saari ari Arahen dipun kacakup Sembaling jiwa sutengong

Nanti yang diajarkan Sembah ketiga yang sebenarnya diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa). Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !

64 Sayekti luwih perlu Ingaranan pepuntoning laku Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin Sucine lan awas emut Mring alaming lama maot

Sungguh lebih penting, yang disebut sebagai ujung jalan spiritual, Tingkah laku olah batin, yakni menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.

65 Ruktine ngangkah ngukut Ngiket ngruket triloka kakukut Jagad agung ginulung lan jagad alit Den kandel kumadel kulup Mring kelaping alam kono

Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai. Jagad besar tergulung oleh jagad kecil, Pertebal keyakinanmu anakku ! Akan kilaunya alam tersebut.

66 Kaleme mawi limut Kalamatan jroning alam kanyut Sanyatane iku kanyatan kaki Sejatine yen tan emut Sayekti tan bisa awor

Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan,Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !Sejatinya jika tidak ingat Sungguh tak bisa “larut”

67 Pamete saka luyut Sarwa sareh saliring panganyut Lamun yitna kayitnan kang mitayani Tarlen mung pribadinipun Kang katon tinonton kono

Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin)Tetap sabar mengikuti “alam yang menghanyutkan”Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya yang tampak terlihat di situ

68 Nging away salah surup Kono ana sajatining urub Yeku urub pangareb uriping budi Sumirat sirat narawung Kadya kartika katonton

Tetapi jangan salah mengerti Di situ ada cahaya sejati Ialah cahaya pembimbing,energi penghidup akal budi. Bersinar lebih terang dan cemerlang, tampak bagaikan bintang

69 Yeku wenganing kalbu Kabukane kang wengku winengku Wewengkone wis kawengkuneng sireki Nging sira uga kawengku Mring kang pindha kartika byor

Yaitu membukanya pintu hati Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh). Cahaya itu sudah kau (roh) kuasai Tapi kau (roh) juga dikuasai oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.

70 Samengko ingsun tutur Gantya sembah ingkang kaping catur Sembah rasa karasa wosing dumadi Dadine wis tanpa tuduh Mung kalawan kasing batos

Nanti ingsun ajarkan,Beralih sembah yang ke empat.Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan.Terjadinya sudah tanpa petunjuk,hanya dengan kesentosaan batin

71 Kalamun durung lugu Aja pisan wani ngaku aku Antuk siku kang mangkono iku kaki Kena uga wenang muluk Kalamun wus padha melok

Apabila belum bisa membawa diri, Jangan sekali-kali berani mengaku-aku, mendapat laknat yang demikian itu anakku ! Artinya, seseorang berhak berkata apabila sudah mengetahui dengan nyata.

72 Meloke ujar iku Yen wus ilang sumelanging kalbu Amung kandel kumandel Amarang ing takdir Iku den awas den emut Den memet yen arsa momot

Menghayati pelajaran ini Bila sudah hilang keragu-raguan hati.Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdir itu harap diwaspadai, diingat,dicermati bila ingin menguasai seluruhnya.

73 Pamoting ujar iku Kudu santosa ing budi teguh sarta sabar tawekal legaweng ati Trima lila ambeg sadu Weruh wekasing dumados

Melaksanakan petuah itu Harus kokoh budi pekertinya Teguh serta sabar tawakal lapang dada Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya Mengerti “sangkan paraning dumadi”.

74 Sabarang tindak tanduk Tumindake lan sakadaripun, Den ngaksama kasisipaning sesami, Sumimpanga ing laku dur,Hardaning budi kang ngrodon.

Segala tindak tanduk dilakukan ala kadarnya,memberi maaf atas kesalahan sesama, menghindari perbuatan tercela,(dan) watak angkara yang besar.

75 Dadya weruh iya dudu,Yeku minangka pandaming kalbu,Ingkang buka ing kijab bullah agaib,Sesengkeran kang sinerung, Dumunung telenging batos.

Sehingga tahu baik dan buruk,Demikian itu sebagai ketetapan hati,Yang membuka penghalang/tabir antara insane dan Tuhan,Tersimpan dalam rahasia,Terletak di dalam batin.

76 Rasaning urip iku,Krana momor pamoring sawujud,Wujudollah sumrambah ngalam sakalir, Lir manis kalawan madu,Endi arane ing kono.

Rasa hidup itu dengan cara manunggal dalam satu wujud,Wujud Tuhan meliputi alam semesta,bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.

77 Endi manis endi madu,Yen wis bisa nuksmeng pasang semu,Pasamoaning hebing kang Mahasuci,Kasikep ing tyas kacakup,Kasat mata lair batos.

Mana manis mana madu,apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,Bagaimana pengertian sabda Tuhan,Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami secara lahir dan batin.

78 Ing batin tan kaliru Kedhap kilap liniling ing kalbu,Kang minangka colok celaking Hyang Widhi, Widadaning budi sadu,Pandak panduking liru nggon.

Dalam batin tak keliru,Segala cahaya indah dicermati dalam hati,Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan,Selamatnya karena budi (bebuden) yang jujur (hilang nafsu),Agar dapat merasuk beralih “tempat”.

79 Nggonira mrih tulus,Kalaksitaning reh kang rinuruh,Nggyanira mrih wiwal warananing gaib, Paranta lamun tan weruh,Sasmita jatining endhog.

Agar usahamu berhasil,Dapat menemukan apa yang dicari,upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban,Apabila kamu tidak paham ; lihatlah tentangbagaimana terjadinya telur.

80 Putih lan kuningipun,Lamun arsa titah,titah teka mangsul,Dene nora mantra-mantra yen ing lair, Bisa aliru wujud,Kadadeyane ing kono.

Putih dan kuningnya,bila akan mewujud (menetas),wujud datang berganti,tak disangka-sangka,bila kelahirannya dapat berganti wujud,Kejadiannya di situ !

81 Istingarah tan metu,Lawan istingarah tan lumebu,Dene ing njro wekasane dadi njawi, Rasakna kang tuwajuh,Aja kongsi kabasturon.

Dipastikan tidak keluar,juga tidak masuk,Kenyataannya yang di dalam akhirnya menjadi di luar,Rasakan sunguh-sungguh,Jangan sampai terlanjur tak bisa memahami.

82 Karana yen kebanjur,Kajantaka tumekeng saumur,Tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi, Dadi wong ina tan weruh,Dheweke den anggep dayoh.

Sebab apabila sudah terlanjur,akan tak tenang sepanjang hidup, tidak ada gunanya bila kelak mati,Menjadi orang hina yang bodoh,dirinya sendiri malah dianggap tamu.

83 Mangka kanthining tumuwuh,Salami mung awas eling,Eling lukitaning alam,Dadi wiryaning dumadi,Supadi nir ing sangsaya,Yeku pangreksaning urip.

Padahal bekal hidup,selamanya waspada dan ingat,Ingat akan pertanda yang ada di alam ini,Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.Begitulah memelihara hidup.

84 Marma den taberi kulup,Anglung lantiping ati,Rina wengi den anedya,Pandak panduking pambudi,Bengkas kahardaning driya,Supaya dadya utami.`

Maka rajinlah anak-anakku,Belajar menajamkan hati,Siang malam berusaha,merasuk ke dalam sanubari,melenyapkan nafsu pribadi,Agar menjadi (manusia) utama.

85 Pangasahe sepi samun,Aywa esah ing salami,Samangsa wis kawistara,Lalandhepe mingis mingis,Pasah wukir reksamuka,Kekes srabedaning budi.

Mengasahnya di alam sepi (semedi),Jangan berhenti selamanya,Apabila sudah kelihatan, tajamnya luar biasa,mampu mengiris gunung penghalang,Lenyap semua penghalang budi.

86 Dene awas tegesipun,Weruh warananing urip,Miwah wisesaning tunggal,Kang atunggil rina wengi,Kang mukitan ing sakarsa,Gumelar ngalam sakalir.

Awas itu artinya,tahu penghalang kehidupan,serta kekuasaan yang tunggal,yang bersatu siang malam,Yang mengabulkan segala kehendak,terhampar alam semesta.

87 Aywa sembrana ing kalbu,Wawasen wuwus sireki,Ing kono yekti karasa,Dudu ucape pribadi, Marma den sembadeng sedya,Wewesen praptaning uwis.

Hati jangan lengah,Waspadailah kata-katamu,Di situ tentu terasa,bukan ucapan pribadi,Maka tanggungjawablah,perhatikansemuanya sampai tuntas.

88 Sirnakna semanging kalbu,Den waspada ing pangeksi,Yeku dalaning kasidan,Sinuda saka sethithik,Pamothahing nafsu hawa,Linalantih mamrih titih.

Sirnakan keraguan hati,waspadalah terhadap pandanganmu,Itulah caranya berhasil,Kurangilah sedikit demi sedikit godaanhawa nafsu,Latihlah agar terlatih.

89 Aywa mematuh nalutuh,Tanpa tuwas tanpa kasil,Kasalibuk ing srabeda,Marma dipun ngati-ati,Urip keh rencananira,Sambekala den kaliling.

Jangan terbiasa berbuat aib,Tiada guna tiada hasil,terjerat oleh aral,Maka berhati-hatilah,Hidup ini banyak rintangan,Godaan harus dicermati.

90 Umpamane wong lumaku,Marga gawat den liwati,Lamun kurang ing pangarah,Sayekti karendhet ing ri.Apese kasandhung padhas, Babak bundhas anemahi.

Seumpama orang berjalan,Jalan berbahaya dilalui,Apabila kurang perhitungan,Tentulah tertusuk duri,celakanya terantuk batu,Akhirnya penuh luka.

91 Lumrah bae yen kadyeku,Atetamba yen wus bucik,Duweya kawruh sabodhag,Yen tan nartani ing kapti,Dadi kawruhe kinarya,Ngupaya kasil lan melik.

Lumrahnya jika seperti itu,Berobat setelah terluka,Biarpun punya ilmu segudang,bila tak sesuai tujuannya,ilmunya hanya dipakai mencari nafkah dan pamrih.

92 Meloke yen arsa muluk,Muluk ujare lir wali,Wola wali nora nyata,Anggepe pandhita luwih, Kaluwihane tan ana,Kabeh tandha tandha sepi.

Baru kelihatan jika keinginannya muluk-muluk,Muluk-muluk bicaranya seperti wali,Berkali-kali tak terbukti,merasa diri pandita istimewa,Kelebihannya tak ada, Semua bukti sepi.

93 Kawruhe mung ana wuwus,Wuwuse gumaib gaib,Kasliring thithik tan kena,Mancereng alise gathik,Apa pandhita antiga,Kang mangkono iku kaki,

Ilmunya sebatas mulut,Kata-katanya di gaib-gaibkan,Dibantah sedikit saja tidak mau, mata membelalak alisnya menjadi satu,Apakah yang seperti itu pandita palsu,..anakku ?

94 Mangka ta kang aran laku,Lakune ngelmu sejati,Tan dahwen pati openan,Tan panasten nora jail,Tan njurungi ing kahardan,Amung eneng mamrih ening.

Padahal yang disebut “laku”,sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak sukam emanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,Tidak iri hati dan jail,Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.

95 Kaunanging budi luhung,Bangkit ajur ajer kaki,Yen mangkono bakal cikal,Thukul wijining utami,Nadyan bener kawruhira,Yen ana kang nyulayani.

Luhurnya budipekerti,pandai beradaptasi, anakku !Demikian itulah awal mula,tumbuhnya benih keutamaan,Walaupun benar ilmumu,bila ada yang mempersoalkan..

96 Tur kang nyulayani iku,Wus wruh yen kawruhe nempil,Nanging laire angalah,Katingala angemori,Mung ngenaki tyasing liyan,Aywa esak aywa serik.

Walau orang yang mempersoalkan itu,sudah diketahui ilmunya dangkal,tetapi secara lahir kita mengalah,berkesanlah persuasif,sekedar menggembirakan hati orang lain.Jangan sakit hati dan dendam.

97 Yeku ilapating wahyu,Yen yuwana ing salami,Marga wimbuh ing nugraha, Saking heb Kang mahasuci,Cinancang pucuking cipta,Nora ucul ucul kaki.

Begitulah sarat turunnya wahyu,Bila teguh selamanya,dapat bertambah anugrahnya,dari sabda Tuhan Mahasuci,terikat di ujung cipta,tiada terlepas-lepas anakku.

98 Mangkono ingkang tinamtu,Tampa nugrahaning Widhi,Marma ta kulup den bisa,Mbusuki ujaring janmi,Pakoleh lair batinnya,Iyeku budi premati.

Begitulah yang digariskan,Untuk mendapat anugrah Tuhan.Maka dari itu anakku,sebisanya, kalian pura-pura menjadi orangbodoh terhadap perkataan orang lain,nyaman lahir batinnya,yakni budi yang baik.

99 Pantes tinulat tinurut,Laladane mrih utami,Utama kembanging mulya,Kamulyan jiwa dhiri, Ora ta yen ngeplekana,Lir leluhur nguni-uni.

Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,Wahana agar hidup mulia,kemuliaan jiwa raga. Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.

100.Ananging ta kudu kudu,Saka darira pribadi,Aywa tinggal tutuladan,Lamun tan mangkono kaki,Yekti tuna ing tumitah,Poma kaestokna kaki.

Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,Jangan melupakan suri tauladan,Bila tak berbuat demikian itu anakku,pasti merugi sebagai manusia.Maka lakukanlah anakku !

SERAT WEDHATAMA – Sri Mangkunegoro IV

Iklan

Sebab dan Akibat

Sebab dan akibat merupakan kelanjutan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain yang berurutan dalam dimensi waktu. Peristiwa yang pertama disebut sebab, dan peristiwa berikutnya disebut akibat. Jadi peristiwa pertama dianggap menimbulkan peristiwa berikutnya. Misalnya cangkir jatuh lalu pecah. Jatuh dinamakan sebab, sedangkan pecah dinamakan akibat. Jadi si jatuh dianggap menimbulkan si pecah.

Sebab dan akibat adalah sesuatu yang abstrak, artinya tidak dapat ditangkap oleh pancaindera. Yang dapat ditangkap oleh pancaindera adalah si jatuh dan si pencah. Jadi sebab dan akibat tidak terdapat dalam barang (benda), tetapi terdapat dalam pengertian atau rasa.

Oleh karena yang dapat mengerti dan merasa adalah orang, maka sebab dan akibat terdapat dalam orang. Jadi sebab dan akibat adalah rasa orang yang menghubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.

Jadi sebab dan akibat adalah tindakan orang yang menyatukan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Jika demikian sebab dan akibat merupakan satu hal tetapi wujudnya dua kejadian. Agar lebih jelas diberikan contoh sebagai berikut:

Misalnya buah mangga jatuh di tanah kemudian tumbuh jadi pohon mangga. Melihat kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa di dalam buah mangga tersebut sudah ada benih pohon mangga. Jika di dalam buah mangga tidak ada benih pohon mangga, maka buah mangga tidak akan tumbuh menjadi pohon mangga. Pohon mangga jika sudah dewasa menghasilkan buah mangga. Melihat kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa di dalam pohon mangga sudah ada benih buah mangga. Jika di dalam tidak ada benih buah mangga, pohon mangga tidak dapat berbuah mangga.

Dalam peristiwa tersebut di atas terjadi peristiwa silih berganti antara buah mangga, pohon mangga, buah mangga, pohon mangga dan seterusnya. Apabila sebab dan akibat dikira dua hal akan timbul pertanyaan, “Manakah yang lebih dulu buah mangga atau pohon mangga?”

Jika orang mengerti bahwa sebab dan akibat itu merupakan satu hal, maka dua kejadian tersebut, yaitu buah mangga dan pohon mangga merupakan dua wujud yang sebetulnya satu hal yaitu sebab dan akibat.

Jika sebab dan akibat dikira merupakan dua hal, orang akan bingung, sebab orang akan menjadi senang kepada akibatnya tetapi benci kepada sebabnya atau benci akibatnya tetapi senang akan sebabnya.

Misalnya bab kaya. Kaya yang dimaksud di sini bukan karena mendapat undian uang banyak atau mendapat warisan banyak dari orang tua, tetapi dari hasil usaha sendiri. Kaya adalah akibat yang disebabkan oleh karena rajin dan hemat.

Jika sebab dan akibat dikira merupakan dua hal, maka orang akan senang menjadi kaya tetapi benci kepada rajin dan hemat, atau mengejar kaya tetapi menghindari rajin dan hemat.

Mengejar kaya tetapi menghindari rajin dan hemat adalah cita-cita yang tidak mungkin tercapai, sama halnya dengan kucing yang mengejar ekornya. Sama pula halnya dengan benci dan menghindari miskin, tetapi senang dan mengejar malas dan boros. Malahan malas dan boros itu menjadi cita-cita.

Cita-cita malas itu dalam hatinya berkata, “Kalau aku kaya tidak akan bekerja.” Rasa demikian itu adalah rasa miskin. Meskipun kerja keras, tetapi jika rasanya malas, orang hanya akan mengejar akibat, yaitu kaya dan merasa tidak senang kerja keras.

Demikian pula jika boros menjadi cita-cita. Boros adalah kebalikan dari hemat. Hemat berarti memelihara barang-barang kebutuhan hidupnya dengan baik sedang boros berarti memelihara barang-barang kebutuhan hidupnya kurang baik.

Rasa hemat disebabkan karena mengerti kebutuhan hidup. Meskipun kaya, orang sering tidak mengerti akan kebutuhan hidupnya sehingga salah menggunakan kekayaannya yaitu dipergunakan untuk mencari kehormatan dan kekuasaan.

Jika barang-barang digunakan untuk kehormatan dan kekuasaan, orang tidak merasa cukup dan merasa miskin sebab orang akan berebutan barang-barang untuk kehormatan dan kekuasaan. Jadi apabila barang-barang digunakan untuk kebutuhan hidup, kebutuhan raga (jasmani), orang akan merasa cukup dan apabila digunakan untuk kebutuhan jiwa, kehormatan dan kekuasaan, tidak akan merasa cukup.

Jadi rajin adalah rasa senang bekerja tanpa mengharapkan akibatnya, sebab orang sudah jelas akan akibatnya seperti seorang tukang kayu yang membuat meja dari kayu. Jika semua sarana dan pengetahuannya sudah siap, tukang kayu tersebut segera bekerja tidak mengharapkan akibatnya, sebab mengerti bahwa akibat dari perbuatannya, meja tersebut tentu akan jadi.

Jika mengerti bahwa sebab dan akibat merupakan satu hal, orang akan bebas dari rasa mengejar akibat, seperti halnya orang makan tidak mengejar kenyang, sebab sudah mengerti bahwa kenyang tentu akan terjadi jika makan banyak. Jadi kebebasan tersebut terjadi karena mengerti.

Bebas dari rasa mengejar akibat, menyebabkan orang melihat rasa sendiri yang mengejar akibat dalam berbagai macam hal. Padahal rasa mengejar akibat tersebut menimbulkan perang batin. Oleh karena itu perang batin akan lenyap jika rasa mengejar akibat ketahuan sebelumnya.

Orang ingin damai dan tidak bertengkar dengan orang lain. Jika tidak mengerti rasa bertengkar atau rasa damai dan jika tidak mengerti bahwa sebab dan akibat merupakan satu hal, orang akan mencari damai dengan cara kekerasan.

Mencari damai dengan kekerasan inilah yang menyebabkan orang memaksa anaknya agar senang damai dengan cara dimarahi atau dipukul, atau orang yang ingin damai dengan orang lain dengan cara mengejek orang lain, atau golongan yang satu ingin damai dengan golongan yang lain dengan cara mengancam, atau bangsa yang ingin damai dengan bangsa lain dengan cara mengebom. Padahal memarahi, memukul, mengejek, mengancam ataupun mengebom adalah bertengkar, bukan damai.

Demikianlah juga orang bertengkar dengan pendapatnya sendiri atau yang dinamakan perang batin.

selesai


Menyembah Yang Kuasa

Orang sering ingin menyembah dan merasa sudah menyembah pada Yang Kuasa. Hal itu terdorong oleh berbagai ajaran yang diperolehnya. Salah satu ajaran menerangkan bahwa rumah itu ada pembuatnya yakni manusia, maka bumi dan langit dengan semua isinya pasti ada juga pembuatnya, yaitu Yang Kuasa. Ia dinamakan Yang Kuasa sebab ia kuasa membuat apa saja yang tak mungkin dibuat oleh manusia. Bahkan Yang Kuasa itu pun memberikan hidup serta penghidupan jiwa dan raganya. Malah, anak, istri, dan suaminya juga pemberian Yang Kuasa. Angin, hujan, matahari dan lain-lain termasuk pemberian Yang Kuasa.

Oleh karena Yang Kuasa itu yang memberikan segala sesuatu, maka pantas sekali jika orang memohon dan menghaturkan terima kasih kepadanya. Andaikata ia tidak diberi matahari, betapa besarnya biaya langganan listrik Aniem (nama perusahaan listrik zaman kolonial Belanda) yang harus dibayarnya. Oleh karenanya orang lalu menyembah dan memohon kepada Yang Kuasa.

Adapun cara menyembahnya berbagai macam. Ada yang dengan membakar dupa/kemenyan di depan pohon besar. Ada yang memberi sesajen di jalan perempatan (simpang empat). Ada yang memuja sesuatu dan sebagainya.

Menyembah Yang Kuasa dengan menghaturkan terima kasih tidak selalu dapat dijalankan, karena pada waktu orang menderita sakit atau mengalami kesusahan, ia tidak yakin bahwa sakitnya dan kesusahannya itu pemberian Yang Kuasa, sehingga ia mengurungkan niatnya. Pikirnya, mustahil Yang Kuasa memberikan sakit dan kesusahan pada umatnya. Perbuatan itu bertentangan dengan kekuasaannya yang bisa dianggap sewenang-wenang.

Apabila timbul masalah seperti di atas, orang lalu diberi penjelasan, bahwa pemberian yang lebih baik dari Yang Kuasa ialah setelah orang meninggal dunia. Apabila ia menyembah dengan sungguh hati, ia akan memperoleh kemuliaan abadi setelah mati.

Di sini maksud menyembah sudah berubah. Kalau maksud semula untuk menghaturkan terima kasih, sekarang untuk memperoleh kemuliaan setelah mati, dengan kata lain sebagai sogokan. Lagi pula orang menderita kesusahan pada waktu sekarang, sabarkah ia menanti kemuliaan setelah mati. Tentu tidak, sebab daya upayanya mengatasi kesusahan belum habis.

Dalam persoalan di atas kepada orang itu diajarkan lagi, apabila ia benar-benar memohon sepenuh hati kepada Yang Kuasa, pasti akan dikabulkan keinginannya dalam hidupnya sekarang. Peribahasanya: siapa patuh akan dikaruniai.

Hal tersebut jika dipikirkan, jelas tidak nalar. Karena kalau semua permohonan bisa dikabulkan, jagat dengan semua isinya menjadi kacau. Misalnya petani mohon hujan, sedang pemain ketoprak mohon cuaca terang. Sulitlah dua macam permohonan yang bertentangan itu dilaksanakan. Maka menyembah demikian itu tidak masuk di akal.

Jadi, menyembah dengan maksud menghaturkan terima kasih, tidak dapat dilakukan bila orang sedang sakit atau susah. Menyembah dengan maksud memperoleh kemuliaan setelah mati, orang pasti tak sabar menanti. Menyembah dengan maksud agar dikabulkan permohonannya, pasti tidak dapat terkabul semua.
Adapun cara menyembah yang masuk di akal, ialah apabila orang mengerti:

  1. Yang menyembah itu apa
  2. Yang disembah itu apa
  3. Bagaimana cara menyembah

Supaya jelas, ketiga hal tersebut perlu diteliti.

1. Yang Menyembah

Tanpa meneliti dengan cermat, orang menyatakan, bahwa yang menyembah adalah orang. Pernyataan tersebut tidak jelas, karena jika yang diartikan orang, ialah setiap orang yang berwatak menyembah, maka kita tidak perlu lagi bersusah payah, dengan sendirinya sudah menyembah. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Kenyataannya yang menyembah adalah orang yang sedang malang hidupnya. Karena kalau ia sedang mujur, beruntung, ia tidak menyembah. Jadi yang menyembah ialah yang merasa sial nasibnya.

Di sini timbul dua macam pertanyaan. Pertama bagaimanakah orang merasa sial? Dan kedua, apa pula yang menyebabkannya merasa sial?

Orang merasa sial tatkala mendapat kesulitan, dan merasa tak mungkin terlepas dari kesulitan itu. Sedangkan ia selalu berusaha melepaskan dan menolak kesulitan itu namun tak berhasil. Jadi sial itu sama dengan keinginan tidak tercapai.

Sebagai contoh, orang yang sedang menikmati hidupnya yang sejahtera, merasa umurnya semakin tua, mendekati saat ajalnya tiba. Menurut keinginannya, jangan sampai ia menjadi tua dan mati. Maka ia merasa sial karena keinginannya tak tercapai.

Padahal kesialan itu disebabkan kurangnya pengertian akan kesulitan. Kesulitan adalah akibat dari suatu sebab. Apabila penyebabnya lenyap, akibatnya pasti turut lenyap. Orang yang mengerti demikian itu tidak merasa sial. Ia lalu mencari tahu sebab-musababnya kesulitan. Kurangnya pengertian akan kesulitanlah yang menyebabkan kesulitan.

Jadi yang menyembah ialah yang merasa sial. Yang merasa sial ialah keinginan yang tak tercapai. Dengan kata lain yang menyembah ialah keinginan yang tak tercapai.

Padahal yang menyebabkan orang merasa sial ialah kurangnya pengertian akan kesulitan. Maka bila ia mengerti akan kesulitan, sebab rasa sial itu sirna. Dan bila sebabnya sirna, akibatnya, yakni rasa sial, pasti sirna.

Tadi sudah dikatakan bahwa yang menyembah ialah yang merasa sial. Maka kalau yang merasa sial sirna, berarti yang menyembah sirna. Demikianlah bila mengerti sebabnya kesulitan, yang menyembah pun sirna. Dan bila yang menyembah sirna, yang disembah pun turut sirna. Namun perlu dijabarkan apakah yang disembah itu.

2. Yang Disembah

Menurut keterangan di atas jelas, bahwa bila yang menyembah, yang merasa sial atau yang keinginannya tak tercapai, maka yang disembah tentulah yang merasa berkuasa atau yang keinginannya tercapai.

Misalnya seorang yang sedang memiliki banyak harta benda, ia merasa berkuasa, lalu berhenti menyembah. Malah sebaliknya, ia disembah oleh orang yang keinginannya tak tercapai. Orang berkuasa itu disodori makanan, pakaian, dengan hormat sekali. Lebih-lebih kalau ingin meminjam uang darinya.

Di sini akan saya terangkan proses rasa sial yang mengadakan barang yang disembah. Kalau kita mengerti yang menyembah rasa sial, maka yang disembah ialah yang merasa berkuasa.

Tatkala orang menderita kesusahan, dan ingin menolaknya, ia tidak mencari tahu sebab-musabab kesusahannya, sehingga usahanya menolak kesusahan pun sia-sia. Lalu ia merasa sial, celaka. Rasa sial itu mendorongnya untuk minta pertolongan Yang Kuasa. Dicarinya dukun-dukun atau guru-guru yang dapat menunjukkan jalan untuk menemui Yang Kuasa.

Gambarannya tentang Yang Kuasa ialah sesuatu yang dapat menolongnya menghindari kesulitan. Dibayangkannya bahwa Yang Kuasa itu akan menggunakan kekuasaannya untuk memenuhi permohonannya. Dan Yang Kuasa dapat mencipta sesuatu yang tidak ada, menjadi ada, dan yang ada, menjadi tidak ada. Misalnya Gunung Merapi yang ada dapat dicipta lenyap. Maka orang menggunakan kekuasaan Yang Kuasa untuk memperoleh yang dimintanya.

Yang diminta orang ialah menghindari kesulitan. Kalau kesulitannya berupa utang yang tak dapat ia bayar, ia memohon kepada Yang Kuasa agar utangnya dicipta menjadi lunas. Kalau kesulitannya berupa rindunya terhadap seseorang, ia mohon kepada Yang Kuasa agar orang yang dicintai berbalik mencintai dirinya. Namun yang sering terjadi si pemohon semakin tergila-gila, lupa daratan. Jadi yang dianggapnya Yang Kuasa adalah anggitan si orang yang merasa sial itu.

Bila kita mengerti bahwa sifat diri-sendiri yang buas, ampuh dan sewenang-wenang ini sama dengan orang lain, kita segera mengerti bahwa tidak ada orang yang baik. Pengertian itu membuat kita tidak lagi dapat dikelabui oleh pernyataan adanya orang baik. Dunia menjadi kacau-balau sekarang ini, karena manusia kena dikelabui oleh pernyataan tentang adanya orang baik. Sering kali dikabarkan bahwa di sana ada orang baik, lantas kita ikut-ikutan menyatakan benar ia baik, dan mempercayainya saja; tetapi pada akhirnya kita kecewa.

Jadi bila kita mengerti bahwa kita sendiri buas, ampuh, sewenang-wenang sama dengan orang lain; kita tidak dapat ditipu oleh pernyataan adanya orang baik, dan tidak dapat menipu pada diri-sendiri, dengan berpura-pura baik. Hal mana berarti kita melihat kenyataan yang ada pada diri-sendiri. Pengertian diri-sendiri inilah, yang seharusnya dipakai sebagai landasan membangun masyarakat.

Pada masa sekarang ini, pembangunan masyarakat kita tidak berdasar atas hal-hal yang nyata, tetapi berdasarkan atas cita-cita yang tidak nyata, yang dapat menimbulkan bentrokan. Membangun masyarakat yang luas itu, harus dimulai dari masyarakat lingkungan kecil; yaitu lingkungan keluarga.

Bila kita mengetahui kenyataan kita sendiri, kita dapat mengetahui pula kenyataan keadaan anak kita. Kalau diselidiki, ternyata anak itu dendam terhadap kita. Mengetahui dendam anak kita itu lebih mudah dari pada mengertinya. Misalnya pada masa kanak-kanak, kita setiap kali menderita susah, kita selalu menyalahkan orang tua kita. “Kalau orang tuaku tidak begini atau begitu, tentu aku tidak akan menderita seperti sekarang.” Kemudian kita dapat pula mengetahui kenyataan isteri/suami kita, yang kecewa terhadap kita; karena mereka merasa menjadi korban dari watak sewenang-wenang kita.

Dalam membangun masyarakat, orang sering kali menanyakan: “Apakah seseorang itu diperuntukkan masyarakat, atau masyarakat itu diperuntukkan seseorang?” Pertanyaan tersebut telah lama usianya, dan memperoleh dua macam jawaban. Yaitu yang pertama, bahwa seseorang untuk masyarakat dan yang kedua adalah masyarakat untuk seseorang.

Jawaban bahwa masyarakat itu untuk seseorang, ini berarti yang dipentingkan adalah perseorangan. Masyarakat harus memberi kemerdekaan kepada seseorang. Kemerdekaan yang diberikan kepada setiap orang itu, dipergunakan oleh masing-masing orang, untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, tidak kenal batas. Sehingga menimbulkan bentrokan dengan kepentingan masyarakat. Hal itu kemudian meletus menjadi pemberontakan atau peperangan. Padahal perang adalah bertentangan dengan tujuan hidup. Kalau tujuan hidup ialah untuk melangsungkan kehidupan, sedangkan perang adalah bunuh membunuh. Maka perang, dengan dalih apapun adalah jahat dan keliru.

Jawaban lainnya bahwa seseorang untuk masyarakat, ini pun keliru. Karena pertanyaannya sendiri keliru, maka bila dijawab, jawabannya pasti keliru. Kekeliruan ini terdapat pada kedua pertanyaan, yang berupa pemisah seseorang dari masyarakat. Sedang keadaan yang sebenarnya, seseorang dan masyarakat bukan dua badan terpisah, melainkan satu badan kesatuan. Masyarakat itu terjadi dari hubungan seorang dengan seorang, yang diatur dengan peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian atau undang-undang. Undang-undang ini jika ditulis dinamakan tata-negara, jika tidak ditulis dinamakan aturan masyarakat. Undang-undang negara adalah perjanjian dalam hubungan antara warga negara, Undang-undang masyarakat ialah perjanjian dalam hubungan antara perseorangan. Sifat undang-undang atau hubungan Itu tergantung pada sikap jiwa orangnya. Bila jiwa orang yang berhubungan itu tenteram dan damai, maka hubungannya (masyarakat) pun tenteram dan damai. Tetapi bila orangnya gelisah, hubungannya (masyarakat) pun menggelisahkan. Jadi kalau undang-undang atau hubungan itu ibarat asapnya, orangnya adalah sebagai apinya. Maka bila usaha kita hanya menghilangkan asapnya, tanpa memadamkan apinya, usaha itu pasti akan sia-sia saja.

Manusia kerapkali mengalami kesulitan-kesulitan yang berupa pertikaian. Tiap-tiap pertikaian selalu dipecahkan dengan undang-undang, tetapi tidak pernah berhasil. Demikian menurut sejarah, telah terjadi juga di negara kita Indonesia. Pada jaman Majapahit, timbul perselisihan yang mengobarkan perang saudara. Kesudahan dalam perang saudara itu, Majapahit kalah dan berdirilah kerajaan Demak, serta mengganti undang-undang negara. Apakah setelah diadakan undang-undang baru, lantas tidak timbul pertikaian lagi? Tidak, pertikaian berjalan terus, sehingga pecah perang saudara lagi. Perang itu berakhir dengan kerajaan Demak kalah, dan yang menang mendirikan kerajaan di Mataram. Kerajaan baru ini pun mengganti undang-undang lama dengan yang baru. Setelah ada undang-undang baru, apakah tiada perselisihan lagi? Tidak, perselisihan masih saja terjadi, dan mengobarkan perang saudara lagi, dengan kesudahan Mataram kalah. Kemudian datanglah penjajah Belanda, yang menamakan tanah air kita Hindia Belanda, dan mengadakan undang-undang baru. Apakah setelah undang-undang baru pertikaian lantas lenyap? Tidak, pertikaian tetap terjadi. Sampai pada tanggal 17 Agustus 1945, kita memberontak sehingga lenyaplah penjajah itu. Dan lahirlah Republik Indonesia, dengan undang-undang baru yakni undang-undang berdasar Pancasila. Apakah setelah ada undang-undang tdak ada perselisihan? Saudara-saudara dapat membuktikan sendiri, bahwa perselisihan senantiasa ada saja. Jadi jelaslah bahwa kesulitan itu tidak dapat diselesaikan dengan undang-undang.

Kita bangsa Indonesia dalam membangun negara Indonesia kerapkali salah, yaitu yang dibangun bukan negara Indonesia. Misalnya pada jaman Majapahit, terjadi pecah perang saudara yang berakhir runtuhnya kerajaan Majapahit. Keruntuhan Majapahit itu, tidak berarti meruntuhkan negara Indonesia. Maka negara Indonesia ini tidak dapat diketahui sejak kapan adanya. Catatan yang ada dan yang tertulis dibatu-batu pun tidak dapat mengungkapkan, sehingga orang tidak dapat menafsirkan kapan mulainya, dan akan berakhirnya negara Indonesia. Oleh karena demikian panjang usianya, maka dapat dikatakan negara Indonesia itu langgeng abadi. Membangun negara Indonesia yang abadi, tidak seperti kerajaan Majapahit yang tidak abadi. Keruntuhan kerajaan Majapahit, tidak berarti keruntuhan negara Indonesia, melainkan keruntuhan golongan pemimpin Majapahit, yang tindakannya sewenang-wenang. Begitu juga kehancuran kerajaan-kerajaan Demak, Mataram, pemerintah Hindia Belanda, tidak berarti kehancuran negara Indonesia, kecuaii kehancuran pemimpin-pemimpinnya yang bertindak sewenang-wenang. Jadi kerajaan Majapahit, Demak, Mataram, Hindia Belanda dan Republik Indonesia itu, bukanlah negara Indonesia yang abadi melainkan sebagai ombak negaranya. Ombak itu kerapkali mengalami pasang-surut. Tatkala kerajaan Majapahit sedang gilang-gemilang, ombak negara Indonesia mengalami pasang. Tetapi ketika kerajaan di atas runtuh, ombak negara Indonesia mengalami surut. Ombak yang pasang-surut itu, tidak mempengaruhi adanya negara Indonesia.

Maka untuk membangun negara Indonesia, terlebih dahulu harus dilihat sebabnya pasang-surut ombak negara Indonesia. Keterangannya sebagai berikut. Setiap negara di mana saja, pada jaman apa saja, selalu dikuasai oleh segolongan warga negaranya, walaupun dalam undang-undang dasarnya, dinyatakan bahwa negara itu harus dikuasai oleh seluruh warganya, pada kenyataannya negara itu hanya dikuasai oleh segolongan warganya. Golongan yang menguasai itu ialah golongan terpelajar. Golongan terpelajar itu, ialah golongan yang mengerti undang-undang negara. Golongan terpelajar jaman dulu dan jaman sekarang tentu saja berbeda, tetapi pada dasarnya adalah sama, ialah yang mengerti undang-undang.

Setiap golongan yang menguasai negara, pasti mabuk kekuasaan, dan mabuk kuasa ini pasti melahirkan perbuatan sewenang-wenang. Tindakan sewenang-wenang ini, selanjutnya membangkitkan pemberontakan, yang dapat menggulingkan pemerintahan yang ada. Bila kadang-kadang pemberontakan itu gagal, hal mana disebabkan belum matangnya tindakan sewenang-wenang itu. Misalnya pada jaman Majapahit ada pemberontakan yang gagal, yang dilakukan oleh Minakjinggo dan lain-lain. Kegagalan itu disebabkan perbuatan pemimpin-pemimpin Majapahit, yang sewenang-wenang itu, belum matang {belum cukup hebat). Tetapi setelah tindakan sewenang wenang dari pemimpin Majapahit matang, atau sudah sampai batas waktunya, pemberontakan yang timbul itu berhasil, dan mereka itu lalu mendirikan kerajaan Demak. Demikianlah sejarah negara Indonesia, yang hanya berisi segolongan warganya berkuasa, mereka lantas mabuk, dan bertindak sewenang-wenang, yang mengundang pemberontakan. Sehingga kini belum mengalami kemajuan.

Kalau kita hendak membangun negara Indonesia yang abadi, haruslah dicari jawaban atas pertanyaan, “Bagaimanakah caranya, orang berkuasa, tetapi tidak mabuk dan tidak bertindak sewenang-wenang”. Kalau kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini, berarti kita tidak dapat membangun negara Indonesia yang abadi. Sehingga kini, belum ada suatu jaminan untuk menjamin orang yang berkuasa pasti tidak mabuk dan tidak bertindak sewenang-wenang. Yang ada hanyalah baru janji-janji, atau kesanggupan-kesanggupan dari golongan-golongan. Yaitu bila nanti golongannya berkuasa, negara ini hendak diaturnya begini-begitu.

Jaminan satu-satunya agar supaya kita dalam memegang kekuasaan tidak akan mabuk dan tidak akan bertindak sewenang-wenang ialah bila kita yakin bahwa manakala kita berkuasa, pasti mabuk kekuasaan dan pasti berbuat sewenang-wenang. Karena biasanya, belum berkuasa saja, kita sudah merencanakan caranya, bagaimana kita akan mabuk dan sewenang-wenang. Misalnya seorang tua yang giginya ompong, ia merencanakan mabuknya: “Nanti bila aku berkuasa, pasti kubeli gigi palsu.” Jika kita mengerti bahwa diri-sendiri ini buas, ampuh, sewenang-wenang, rencana mabuk di atas dapat kita teliti sebagai berikut: “Aku hendak membeli gigi palsu ini untuk apa? Kalau hanya untuk menggigit uli saja, tidak usah pakai gigi pun dapat.” Jelaslah gigi itu akan dipakai menggigit kulit yang masih ulet.

Jadi untuk membangun negara Indonesia yang abadi itu, kita harus senantiasa mengawasi dan mengerti sifat diri-sendiri, yang galak, ampuh dan sewenang-wenang. Setiap detik langkah kita, tentu berasal dari rasa mabuk kuasa dan watak sewenang-wenang. Tetapi sifat mabuk dan sewenang-wenang itu, jika diteliti sedalam-dalamnya sehingga selesai, rasa itu tidak melahirkan perbuatan sewenang-wenang. Namun setelah penelitian tadi selesai, pada saat berikutnya tentu timbul rasa sewenang-wenang lagi. Dan jika diteliti lagi, segera selesai laqi. Jadi penelitian diri-sendiri itu hendaknya dilakukan setiap detik, pada setiap rasa yang timbul. Demikianlah caranya membangun negara Indonesia yang abadi.

Melihat dan mengerti akan sifat-sifat diri-sendiri, yang sewenang-wenang itu, menimbulkan revolusi jiwa. Revolusi jiwa adalah perubahan jiwa, yang terjadi dalam diri kita sendiri, dan mengakibatkan perubahan sikap kita terhadap diri-sendiri dan orang lain. Melihat sifat kita sendiri yang galak, ampuh, sewenang-wenang, sama dengan setiap orang, maka kita tidak dapat melengahkannya barang sekejap saja. Karena kelengahan terhadap diri kita sendiri barang sedetik saja, cukuplah menyempatkan kita untuk mengganggu orang lain atau diri-sendiri.

Jadi jika kita hendak membangun negara Indonesia yang abadi, kita harus senantiasa mengawasi diri kita sendiri, yang berwatak tetap sewenang-wenang.

selesai

Ilmu Jiwa Kramadangsa

Adapun yang saya ceramahkan malam ini adalah llmu Jiwa Gambar Kramadangsa. Ilmu mengenai jiwa orang, dan jiwa adalah rasa. Rasa itu yang mendorong orang berbuat apa saja. Orang bertindak mencari air minum karena terdorong oleh rasa haus, bertindak mencari bantal untuk tidur karena terdorong oleh rasa kantuk dan seterusnya. Maka rasa itu menandai hidup orang. Kalau hanya ada badan saja tanpa rasa, disebut bangkai. Mempelajari tentang rasa adalah mempelajari tentang orang. Sedangkan kita sendiri pun orang. Jadi mempelajari tentang orang, dapat dikatakan mempelajari diri sendiri atau mengetahui diri sendiri (bhs. Jawa: pangawikan pribadi).

Diri sendiri yang manakah yang dipelajari? Ialah diri sendiri yang diberi dan memiliki nama khusus. Kalau namanya Krama, merasa aku si Krama, atau kalau namanya Suta, merasa aku si Suta. Rasa yang bergandengan dengan namanya itu, saya istilahkan “Kramadangsa“. Kramadangsa ini yang menyahut bila namanya dipanggil orang. Rasa namanya sendiri atau Kramadangsa iniiah yang akan kita teliti. Penelitian itu tidak sukar apabila kita mau, karena rasa itu melekat pada diri kita setiap hari, hingga untuk menelitinya tidak perlu pergi jauh-jauh. Maka dalam mengikuti ceramah ini bila ada sebutan “Kramadangsa”, gantilah dengan nama Anda masing-masing, untuk mencocokkan kebenaran uraian saya ini.

Kramadangsa ini menyatukan diri dengan segala rasa yang timbul dalam dirinya. Misalnya timbul rasa haus, Kramadangsa merasa “aku haus”, atau yang haus adalah “aku”. Jika timbul rasa kantuk, lapar, dirasakannya “aku ngantuk”, “aku lapar” dan seterusnya. Kramadangsa inilah yang merasa beda dari semua orang lain di seluruh dunia. Tegasnya kecuali aku, orang lain diperlakukan sebagai “kamu”.

Sekarang marilah kita mulai meneliti, bagaimana kelahiran dan perkembangan rasa Kramadangsa dalam diri kita masing-masing.

Ketika kita masih sebagai bayi, kita bertindak sebagai juru catat, yang mencatat segala hal yang berhubungan dengan diri kita. Misalkan sebagai bayi kita melihat sesuatu, mendengar sesuatu, menjilat dan merasakan sesuatu, sesuatu itu kita catat. Seperti saya melihat lampu ini, lantas saya mencatatnya.

Catatan lampu dan lampunya yang dicatat, adalah dua barang terpisah, yang tidak bersangkutan. Umpama lampu yang dicatat itu pecah, catatan lampu yang ada dalam diri saya, tidak turut pecah. Sebaliknya, bila saya tiba-tiba mati, catatan lampu yang ada dalam diri saya rusak, tapi lampu yang dicatat itu, tidak turut rusak.

Untuk melihat catatan-catatan itu harus memakai mata batin, tidak dapat memakai mata kepala. Seperti saya sekarang di Jakarta, dengan mata terpejam melalui mata batin, dapat melihat catatan rumah saya di Yogyakarta, jelas sekali.

Dengan perantara pancaindera, kita mencatat segala rupa penglihatan, suara, rasa dan sebagainya; yang berjuta-juta jumlahnya, tidak kunjung penuh. Maka isi catatan kita itu, lebih besar jumlahnya dari pada isi dunia. Karena rasa sendiri, yang tak ada di dunia luar, ada dalam catatan.

Pemisahan catatan dari hal yang dicatat sebagai berikut, misalnya saya berkata: “Kemarin saya minum air kelapa muda, segar rasanya.” Pada waktu saya berkata itu, rasa segar sudah tidak ada, tapi saya dapat mengatakannya, karena melihat catatan rasa segar yang masih ada dalam ingatan saya.

Peranan kita sebagai juru catat ini, boleh dikatakan hidup dalam ukuran kesatu, seperti cara hidup tumbuh-tumbuhan. Pekerjaannya tidak lain hanya mencatat, dan bila berhenti mencatat, matilah juru catat itu. Hasil pekerjaan mencatat, ialah berupa bermacam-macam catatan yang berjuta-juta jumiahnya.

Catatan-catatan itu barang hidup, yang hidup dalam ukuran kedua, seperti kehidupan hewan. Maka sebagai barang hidup, catatan itu bila dapat makanan cukup, suburlah hidupnya, tapi bila kurang makanan ia menjadi kurus, kemudian mati. Makanan catatan-catatan itu berupa perhatian. Jika memperoleh perhatian besar, catatan-catatan itu hidup subur, tapi jika tidak dapat perhatian, catatan-catatan akan mati.

Sebagai contoh, kita kaum laki-laki, barangkali masih ingat bahwa di masa kanak-kanak kita suka bermain gundu, gasing, layang-layang dan sebagainya. Mengapa sekarang setelah dewasa kita tidak melakukannya lagi, padahal catatan permainan-permainan itu masih terdapat dalam ingatan kita? Karena catatan itu sudah lama tidak mendapat perhatian, sampai menjadi kurus dan akhirnya mati; maka sudah tidak menarik si Kramadangsa lagi.

Seperti halnya benda-benda hidup lain, catatan ini pun pada saat terakhir mengalami sekarat (ulmaut). Seperti lampu minyak yang habis minyaknya, pada saat terakhir menyala besar, lalu padam.

Tetapi kalau catatan masih hidup, ia masih menarik diri kita. Umpama catatan berjudi, yang masih hidup dalam ingatan saya, menggerakkan hati dan badan saya, ketika saya melihat orang-orang berjudi dalam suatu pesta. Walaupun mengalami kekalahan dan habis uang, saya telah bersumpah tidak akan berjudi lagi. Tetapi bila nanti memegang uang lagi dan melihat orang berjudi, saya segera mendekatinya untuk turut serta pula.

Jika catatan berjudi itu tidak diberi perhatian, ia akan menjadi kurus kemudian mati. Pada saat mendekati kematiannya, catatan itu mengalami sakarat (ulmaut), berwujud keinginan yang sangat besar untuk berjudi. Jika keinginan yang sangat besar ini pun tidak diperhatikan, matilah catatan itu.

Apabila catatan-catatan itu sudah cukup banyak jumiah dan jenisnya, barulah lahir rasa Kramadangsa. Yaitu rasa yang menyatukan diri dengan semua catatan-catatan, yang berjenis-jenis itu sebagai: harta-bendaku, keluargaku, bangsaku, golonganku, agamaku, ilmuku dan sebagainya. Rasa aku si Kramadangsa ini, bagaikan tali pengikat batang-batang lidi dari sebuah sapu lidi.

Kramadangsa ini pun barang hidup, yang hidup dalam ukuran ketiga, karena tindakannya dengan berpikir. Jadi Kramadangsa ini tukang pikir, memikirkan kebutuhan catatan-catatan di atas tadi.

Supaya jelas, di sini perlu saya ulangi mulai dari asal sampai terjadinya Kramadangsa.

Dimulai dari bayi yang baru lahir, sudah mencatat apa saja yang berhubungan dengan dirinya. Yang dari luar melalui pancaindra dan yang dari dalam melalui rasanya. Misalnya pada waktu lahir bayi itu diterangi dengan lampu, di waktu lampu padam, ia menangis. Disini bayi itu sudah membedakan terang dan gelap, hal itu telah tercatat dalam catatannya. Kemudian ia mencatat benda-benda di bawah cahaya terang. Ia pun mencatat rasa iapar yang timbul dalam dirinya dan rasa enak di waktu diberi air tetek ibunya.

Apabila bayi ini makin besar dan makin lengkap catatan-catatannya, ia pun dapat membedakan lelaki dan perempuan, dan mengenali mana ibunya dan yang bukan. Kemudian catatan-catatan itu menjadi dorongan bagi tindakan atau perbuatannya.

Kita orang dewasa pun bertindak atau berbuat terdorong oleh catatan. Misalnya di jalan kita melihat seorang wanita yang mirip dengan isteri kita. Kita tidak berani segera menegur, sebelum mencocokkan wanita itu dengan catatan isteri kita, yang ada dalam diri kita sendiri. Umpama bagian-bagian anggota badannya sama, tetapi rambut ubannya tidak sebanyak uban isteri kita, kita belum berani memanggil. Tetapi bila seluruh wujudnya sama dengan catatan kita, barulah kita bertindak menegur: “Isteriku, kamu hendak ke mana?”

Jadi dalam hal bayi tadi, apabila catatan-catatannya belum cukup dan belum lengkap, ia belum dapat membedakan benda-benda dan menghubungkan sebab dan akibat kejadian-kejadian, karena belum lahir rasa Kramadangsa. Oleh karenanya ia belum dapat memikir. Memikir ialah membedakan pohon waru dengan pohon pisang, menghubungkan sebab terjadinya gelas jatuh, yang mengakibatkan pecah. Setelah bayi itu agak besar, sebagai anak kecil, ia pun belum mengerti hal ruang dan waktu {zaman). Misalkan diperlihatkan bulan, ia berusaha memegangnya, dan bila diberi pakaian baru untuk dipakai pada hari raya, ia menangis minta segera dipakai sekarang juga.

Dapat dilihat lebih jelas lagi, bahwa rasa Kramadangsa anak tadi belum lahir, ialah tiap ia minta makan, ia tidak mengatakan: “Bu, aku minta makan,” tetapi mengatakan namanya: “Bu, Din minta makan,” misalkan nama anak itu si Din. Dan menyebut ibunya tidak sebagai “ibuku”, tetapi sebagai “ibu si Din”.

Bila anak itu sudah berusia tiga tahun ke atas, rasa Kramadangsanya sudah terbentuk, maka bila ia minta makan, dikatakannya “Bu, aku minta makan.” la merasa, kecuali aku si Din, semua orang lain adalah bukan aku. Manakala ia melihat ibunya disandari oleh kakaknya, ia tidak membolehkannya. Karena ia merasa ibuku ialah milikku, bukan milik orang lain. Demikian seterusnya sehingga tua. banyak hal dan benda-benda dinyatakan sebagai miliknya.

Berjuta-juta catatan itu menggerombol, mendekati yang sama sifat coraknya dan menjauhi yang lain. Seperti ayam mendekati kalkun, menjauhi kambing.

krdg

Dalam gambar Kramadangsa di atas, ada sebelas kelompok catatan. Kesebelas kelompok catatan tersebut adalah:

  1. HARTA BENDA
  2. KEHORMATAN
  3. KEKUASAAN
  4. KELUARGA
  5. GOLONGAN
  6. KEBANGSAAN
  7. JENIS
  8. KEPANDAIAN
  9. KEBATINAN
  10. ILMU PENGETAHUAN
  11. RASA HIDUP

Perhatikan juga bahwa dari ukuran ketiga (kramadangsa) hendak menuju ke ukuran keempat (manusia tanpa ciri), terdapat simpang tiga. Untuk menuju ke ukuran keempat terdapat penghalang yang berupa PENDAPAT BENAR, yaitu rasa benar sendiri.

Pembagian ini dibuat dengan sengaja oleh Ki Ageng Suryomentaram. Orang lain dapat saja membaginya menurut kehendak masing-masing, tidak terikat. Di luar kelompok-kelompok di atas, masih banyak lagi catatan-catatan yang khusus, misalkan ada barang-barang baru, kapal udara dan sebagainya yang tercatat dalam catatan.

Catatan itu hidup dalam ukuran kedua, sama dengan kehidupan binatang. Misalnya seekor anjing sedang menyusui anak-anaknya, tiba-tiba orang datang mengganggunya. Menggonggonglah anjing itu, siap untuk menggigit. Bila merasa menang ia mengejar, dan bila merasa kalah ia lari. Langkah demikian itu bagi semua anjing adalah sama.

Bagi manusia, bila anaknya diganggu orang, ia pun segera marah, karena anak itu termasuk catatan “keluargaku”. Tapi tindakannya tidak seperti anjing, dipikirkan cara melaksanakan amarahnya. Yaitu catatan “keluargaku” memerintah tukang pikirnya, si Kramadangsa. Cara memikir Kramadangsa bagi setiap orang berbeda-beda, disebabkan berbeda-bedanya catatan pengalaman masing-masing orang. Sedangkan memikir adalah melihat catatan-catatan itu. Misalnya si Suta, mengetahui bahwa anaknya di sekolah diganggu oleh anak lain. Ia lantas marah dan setelah berpikir kemudian diambilnya keputusan untuk melaporkan pada guru sekolah. Tapi bila hal tersebut terjadi pada si Naya, lain pula tindakannya, mungkin ia akan mengadukan pada polisi, Dan lain lagi bagi si Waru, mungkin didamaikan dengan orang tua anak yang mengganggu. Buah pikiran mereka berlainan karena catatan-catatan pengalaman mereka pun berlainan.

Demikian perbedaan hidup manusia dari binatang, walaupun reaksi rasanya sama, tetapi tindakannya berlainan. Karena manusia punya tukang memikir yaitu Kramadangsa, yang bertindak menurut perintah catatan-catatannya.

Jadi Kramadangsa ini dapat dikatakan, sebagai seorang buruh yang mengabdi pada sebelas orang majikan, yang berwujud sebelas kelompok catatan tadi.

Sebagai barang hidup, catatan-catatan itu ingin hidup subur, oleh karena jika diganggu, marah, jika dibantu, senang. Bagi binatang, jika diganggu ia akan menggigit, dan jika disayang, bergoyang-goyanglah ekornya.

Dalam kelompok catatan-catatan itu, yang kesatu ialah catatan “harta benda“, yang berisi perumahan, tanah, hewan peliharaan, harta perhiasan mas intan dan sebagainya. Sifat catatan harta benda, sebagai “harta bendaku”, ini tetap, yakni kalau diambil, dikurangi, akan marah, tetapi kalau dibantu, ditambah, akan tertawa girang.

Kelompok catatan kedua yaitu “kehormatan“, berisi cara-cara memberi hormat seperti, bersalaman, berjongkok, menyembah, mengangguk, membongkok badan, dan sebagainya. Sifat catatan ini pun tetap, jika dihormat orang akan tertawa senang, tetapi jika tidak dihormat akan marah.

Kelompok catatan ketiga yaitu “kekuasaan“, berisi hak atas segala hal atau milik yang dikuasainya; misalkan rumah yang dipagari, ini berarti segala yang ada di dalam lingkungan pagar ini, “aku”lah yang berkuasa. Sehingga jika orang-orang atau benda-benda di daiam lingkungan kekuasaannya itu diganggu, marahlah ia, tetapi jika dibantu, girang dan tertawalah ia. Misalnya ada orang masuk rumahnya tanpa permisi, tentu ia lantas marah, karena merasa dilanggar kekuasaannya.

Kelompok catatan keempat yaitu “keluarga“, yang berisi catatan anakku, isteri/suamiku, keponakanku dan sebagainya. Sifatnya pun tetap sama, bila diganggu marah, bila dibantu ketawa.

Kelompok catatan kelima “golongan“. Cara orang masuk dalam suatu golongan ada dua jalan, yang satu dengan sengaja, dan yang kedua tidak dengan sengaja. Misalnya orang melarat, ia tidak sengaja masuk golongan melarat, tetapi masyarakat atau orang lain mengatakannya, bahwa ia tergolong melarat. Demikian pula golongan kaya, priyayi, tani dan sebagainya, masuk ke dalam golongannya secara tidak sengaja. Tetapi orang masuk suatu golongan agama atau partai, kebanyakan dengan kemauannya sendiri atau dengan sengaja. Catatan golongan ini pun jika diganggu marah, dan jika dibantu ketawa.

Misalnya golongan saya “golongan kawruh jiwa” atau “kawruh rasa” ini. Kalau ada yang mencela: “Lihatlah golongan kawruh jiwa/rasa itu, kerjanya tidak lain hanya ngomong tentang rasa saja. Bila perutnya lapar akan makan rasa pula.” Diejek demikian, saya pun marah. Tetapi bila dipuji orang: “Lihatlah, golongan kawruh jiwa/rasa ini, sudah mencapai ketenteraman, tidak mudah marah.” Maka ketawalah saya karena dipuji.

Kelompok catatan keenam “bangsa“. Pada umumnya, orang masuk salah satu golongan dengan tidak sengaja. Misalkan saya ini, tahu-tahu sudah menjadi bangsa Indonesia. Sifat catatan bangsa ini pun tetap, jika dicela, marah, dan jika dipuji, ketawa. Andaikata dicela: “Wah, kesaktian bangsa Indonesia hanya sebagai kelinci, yakni terus beranak banyak-banyak,” saya segera marah. Tetapi jika dipuji: “Bangsa Indonesia itu halus budi bahasanya” saya segera ketawa.

Kelompok catatan ke tujuh “jenis“. Pada waktu kita bertemu dengan seseorang, walaupun berlainan agama, bangsa dan golongan, tetapi merasa satu jenis, yaitu jenis manusia. Sifat catatan ini pun tetap, jika sesama jenisnya diganggu, marah dan jika dibantu, ketawa. Umpama ada seorang sedang beristirahat di atas pohon dalam hutan, sekonyong-konyong dilihatnya seorang lain dikejar oleh seekor babi hutan. Orang itu marah dan ingin membunuh binatang tersebut, karena orang yang dikejar binatang itu, adalah sejenis dengan dirinya, walaupun bukan sebangsa dan sekeluarga.

Kelompok catatan kedelapan “kepandaian“, berisi kepandaian menari, pencak, membuat kecap dan kepandaian-kepandaian lainnya. Sifatnya pun tetap, jika dicela, marah dan jika dipuji, ketawa.

Kelompok catatan kesembilan “kebatinan“, isinya bermacam-macam dan berbeda-beda pada setiap orang. Bahkan “kawruh jiwa” pun ada yang menamakannya kebatinan.

Kelompok catatan kesepuluh “ilmu pengetahuan“, berisi pengetahuan membuat barang-barang seperti tikar, bom-atom dan lain-lain. Sifatnya tetap sama seperti diterangkan di atas.

Terakhir, kelompok catatan kesebelas “rasa hidup“, berisi berbagai-bagai kenangan dan pengalaman yang ditimbulkan oleh rasa hidup. Jadi yang mendorong gerakan manusia, selain catatan-catatan tersebut di atas, ada lagi yaitu rasa hidup. Malahan rasa hidup ini yang mendorong gerakan barang hidup. Barang-barang hidup itu berwujud tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Mereka bergerak sendiri, tak digerakkan oleh barang lain. Barang yang digerakkan oleh barang lain, ialah barang tidak hidup.

Barang hidup bergerak dengan maksud untuk mencukupi dua macam kebutuhan hidupnya. Yaitu untuk melangsungkan hidup raga dan jenisnya. Hal ini adalah hukum alam yang tidak dapat disangkal. Misalnya pohon kelapa, bergerak untuk melangsungkan hidupnya. Setelah dewasa lalu berbunga dan berbuah. Buah itu setelah masak, jatuh ke tanah, kemudian tumbuh sebagai pohon kelapa muda. Dengan demikian bila pohon kelapa yang tua mati, dunia tidak kehabisan jenis pohon kelapa.

Demikian pula manusia yang bergerak, selain didorong oleh catatan, juga didorong oleh rasa hidup untuk melangsungkan hidup raga dan jenisnya. Syarat-syarat untuk melangsungkan hidup raganya ialah makan, pakaian dan tempat tinggal. Lain dari tiga hal itu, bukanlah syarat hidup raga. Sebab badan manusia kalah kuat dibandingkan dengan badan binatang.

Bagi hewan, untuk melangsungkan raganya hanya satu cara yaitu makan. Misalnya kambing, pada saat ia lahir, badannya dapat tahan panas, angin, hujan, tetapi manusia tidak tahan panas atau dingin, hingga perlu memakai pakaian. Sekalipun perutnya kenyang, kalau tidak berpakaian, lama kelamaan ia akan kurus, sakit lalu mati.

Kebutuhan ketiga ialah rumah tinggal. Sebab raga orang, setelah lelah bergerak, butuh istirahat atau tidur. Karena sekalipun kenyang dan berpakaian, tetapi kalau tidak dapat istirahat, ia akan kurus, sakit lalu mati. Dalam hal tidur, manusia pun kalah dengan burung. Burung jika mengantuk bisa tidur di cabang-cabang pohon, walaupun hujan turun dan petir sambar-menyambar. Tetapi manusia bila ingin tidur masih memerlukan tempat yang tidak kepanasan, kehujanan, keanginan, yaitu berupa rumah.

Barang-barang lain yang tidak merupakan syarat hidup, bukanlah kebutuhan hidup. Misalnya barang semacam gamelan, bukanlah kebutuhan hidup, sebab tanpa gamelan orang tetap hidup. Tetapi orang sering salah anggapan, bahwa barang-barang yang bukan kebutuhan hidup dianggapnya sebagai kebutuhan hidup. Dan ini menimbulkan kesusahan dalam mempergunakan. Misalnya seorang laki-laki menganggap sepeda motor sebagai kebutuhan hidup, dan seorang perempuan menganggap perhiasan kalung dan giwang sebagai kebutuhan hidup. Bila mereka terpaksa sampai menjual barang-barang itu, malulah mereka, sehingga tidak berani ke luar rumah. Tetapi jika mereka dapat menganggap barang-barangnya itu sebagai barang kelebihan, sehingga bila terpaksa dijual, tidak menimbulkan malu.

Gerak manusia untuk melangsungkan jenisnya pun tidak dapat dihindarkan. Sama halnya dengan kebutuhan makan untuk melangsungkan raganya. Saudara-saudara dipersilakan mengingat-ingat pengalaman sewaktu kanak-kanak. Anak lelaki suka main gundu, gasing, sedangkan anak perempuan suka msin gateng (permainan anak Jawa, menyebar dan meraup biji-biji sawo), main manik-manik dan sebagainya. Kemudian bila sudah dewasa, berganti permainannya. Anak lelaki itu mengganti gundu atau gasingnya yang biasa dengan yang bisa tertawa. Dan anak perempuan yang sudah menjadi remaja, mengganti gateng dan manik-manik yang biasa dengan yang dapat tersenyum. Masa perubahan tadi dapat dinamakan masa birahi. Dari manakah datangnya rasa birahi itu? Tidak dapat diketahui, kecuali tahu-tahu sudah ada, tidak dapat ditolak. Bahkan pada diri saya yang sudah tua, ompong, kadang-kadang masih timbul birahi. Maka para jejaka dan gadis yang sama birahi, kejar-mengejar untuk mencukupi kebutuhannya, yang tidak dapat dicegah. Kalaupun orang berusaha mencegahnya, ini sama dengan mencegah orang lapar tidak boleh makan.

Jadi yang mendorong gerak itu ialah rasa-hidup dan catatan-catatan. Maka rasa-hidup dan catatan-catatan itu adalah bahan adonan Kramadangsa, atau diri-sendiri. Jika bahan adonan itu dipisahkan, hilanglah Kramadangsa. Seperti air teh dalam gelas di depan saya ini. Apabila adonan yang terdiri dari daun teh, air dan gula dipisahkan, air teh ini tidak ada lagi.

Rasa-hidup dan catatan rasa-hidup itu, mendorong gerak manusia. Misalnya saudara, biasa setiap pukul tujuh pagi minum kopi, Pada suatu hari saudara lupa atau tidak sempat melakukan kebiasaan minum kopi itu, sehingga pada waktu pukul sembilan pagi, kepala merasa pusing. Kemudian ingat bahwa pagi itu belum minum kopi, lalu bertindak mencari minuman kopi. Tindakan ini terdorong oleh catatan minum kopi dalam diri-sendiri. Tetapi tatkala pukul dua siang hari, merasa lapar, ia lalu mencari makanan. Tindakan ini terdorong oleh rasa-hidup. Jadi dorongan dari rasa-hidup dan dari catatan rasa-hidup, adalah dua hal yang tidak sama.

Sebagai contoh, orang lapar bertindak mencari makanan, ini terdorong oleh rasa-hidup. Tetapi ketika melihat tak ada bakmi pada hidangan yang disajikan isterinya di atas meja, urunglah ia makan. Tindakan ini terdorong oleh catatan rasa-hidup. Bagi anak kecil yang belum ada catatan bakmi, bila merasa lapar lalu makan apa saja yang diberikan. Demikian orang ditarik dan didorong oleh berbagai-bagai catatan yang sering bertentangan, sehingga menimbulkan kepusingan. Tetapi rasa-hidup yang hanya butuh untuk mencukupi kelangsungan hidupnya, mendorong orang bila ia lapar, untuk makan makanan apa saja dan makanan itu tentu terasa lezat.

Kramadangsa sebagai pengikat dan pemilik catatan-catatan, menilai catatan-catatan itu tidak sama rata. Pada umumnya yang bernilai paling tinggi, ialah catatan harta benda, kehormatan, kekuasaan (bhs. Jawa: semat, drajat, kramat). Penilaian ketiga macam catatan tersebut oleh masing-masing Kramadangsa, juga berbeda-beda. Yang satu menilai harta-benda nomor satu, kehormatan nomor dua, kekuasaan nomor tiga. Yang lain menilai kehormatan nomor satu, kekuasaan nomor dua, harta-benda nomor tiga. Yang lain lagi mempunyai urutan penilaian yang lain pula.

Catatan yang dianggap terpenting itu, makin lama mencengkeram Kramadangsa. Kramadangsa yang dicengkeram oleh salah satu catatan, tindakannya mengabaikan catatan-catatan lain dan diri-sendiri. Misalkan catatan harta-benda yang mencengkeram Kramadangsa, setiap tindakannya pasti ditujukan untuk menambah kekayaannya. Ibaratnya kata sepatah, tindak selangkah, jika tidak menambah kekayaan, tidak akan dilakukannya. Pernah saya melihat seorang kaya yang tercengkeram catatan harta-benda, bila makan puas dengan gudangan mentah (campuran sayur mentah dengan sambal kelapa), bila memasak, mencari sampah tetangganya untuk bahan bakar. Bila nanti mencari menantu, tujuannya pun untuk menambah kekayaan. Sehingga diterimanya pinangan seorang laki-laki yang sudah berusia delapan puluh tahun, untuk gadisnya yang baru berusia enam belas tahun. Bahkan makin hebat cengkeraman catatan tadi, sehingga menyatukan diri dengan harta-bendanya, “harta-bendaku ialah aku”. Pada waktu ia diserbu penggedor (perampok), dia membela harta-bendanya mati-matian, sehingga mengorbankan jiwa-raganya.

Peristiwa semacam itu banyak terjadi pada masa geger-perang yang lalu. Andaikata ia tidak mati, tetapi gagal mempertahankan harta-bendanya hingga rudin/bangkrut, orang kaya yang tercengkeram catatan harta-benda itu lalu menjadi malas hidupnya, sebab memikirkan harta-bendanya yang telah amblas. Rasanya, meskipun aku bekerja seratus tahun lagi, tidak mungkin jumiah harta-bendaku yang hilang itu kembali. Orang itu takut hidup akan tetapi takut pula mati. Lama-kelamaan ia malas makan, malas tidur dan malas bernafas, akhirnya menderita TBC atau sakit jiwa. Menderita TBC itu seolah-olah bunuh diri secara lamban. Kalau ia menggantung diri atau mencebur diri ke dalam sumur, maka ia membunuh diri secara cepat.

Karena masing-masing catatan itu minta diperhatikan dan dipentingkan, maka sering timbul pertengkaran, antara catatan yang satu dengan yang lain, yang membuat si Kramadangsa sebagai buruhnya, menjadi kebingungan. Misalkan di kala ia menghadapi anaknya yang menghambur-hamburkan uangnya, maka bingunglah Kramadangsa, karena yang menghamburkan uangnya ialah “anakku” yang harus dipelihara, dididik, disenangkan. Di pihak lain, yang dihamburkan ialah “hartaku” yang harus diamankan dan diperbanyak jumlahnya.

Semakin hebat cengkeraman salah satu catatan, maka kepentingan catatan lainnya siabaikan, membuat Kramadangsa bertindak tanpa menggunakan pikiran, sehingga ia bertindak laksana hewan saja. Misalnya seorang laki-laki, tercengkeram hebat oleh catatan “keluargaku”. Suatu ketika ia pulang ke rumah dan melihat sang isteri berbuat serong dengan laki-laki lain. Tanpa pikir panjang lagi, dicabut pisau dan dibunuhlah laki-laki yang menggendak isterinya itu. Kemudian ketika ia meringkuk dalam penjara, sebagai hukuman atas perbuatannya, catatan-catatan lain mengeroyok dirinya atau Kramadangsanya. Sebagai majikan, catatan-catatan itu menyesalkan perbuatan buruhnya: “Hai Kramadangsa, sekarang kamu berada dalam penjara, lalu siapakah yang akan mengurus sapimu, anak-anakmu? Bahkan bila isterimu bergendak lagi, mana kau tahu?”

Jadi kesimpulannya, dalam diri kita ini terdapat juru catat, yang menghasilkan berbagai-bagai catatan, yang menggerombol menjadi sebelas kelompok. Kelompok-kelompok catatan ini melahirkan Kramadangsa, yaitu rasa aku dengan namanya sendiri. Kramadangsa ini tukang memikir, yang memikirkan kebutuhan catatan-catatan di atas. Dengan kata lain, Kramadangsa sebagai seorang buruh dari sebelas majikan.

(Bagian ketiga dan keempat disampaikan oleh Ki Ageng Suryomentaram)

Tadi sudah diterangkan bahwa Kramadangsa, rasa nama sendiri, ialah pesuruh catatan-catatan; Maka boleh dikata, Kramadangsa ialah budak dari sebelas orang majikan.

Setiap gerak-hati sesaat (bhs. Jawa: krenteg) yang muncul dalam rasa, tentu berasal dari rasa-hidup atau dari catatan-catatan. Yang berasal dari rasa-hidup itu sedikit dan mudah dimengerti, tetapi yang berasal dari catatan-catatan, sukar diketahui dan dimengerti. Rasa yang muncul itu baik berwujud gerak-hati, maupun ilham, tentu berasal dari catatan-catatan.

Yang mendapat ilham itu pada umumnya mereka yang berprihatin. Orang berprihatin biasanya bertirakat, mengurangi makan, mengurangi tidur, kemudian memperoleh ilham (bhs. Jawa: wisik), dan ilham itu berasal dari catatan-catatan. Jika orang tidak berhasil dalam usahanya, ia lalu prihatin, bertirakat dan akhirnya memperoleh ilham (bisikan hati). Ilham itu pasti berasal dari catatan harta-benda. Biasanya ilham itu mengatakan: “Kamu harus bekerja di bidang ini; harus berdagang barang ini; menemui dukun anu; tirakatlah ke keramat anu; dan sebagainya.” Bisikan hati ini ialah dari catatan harta-benda.

Pada waktu ada rasa muncul dalam diri-sendiri, yang berasal dari catatan-catatan, maka ini berarti bahwa kita berada di jalan simpang tiga. Jalan simpang tiga ini, yang satu menuju ke ukuran ketiga, yakni hidup Kramadangsa, dan yang lain menuju ke ukuran keempat, yakni hidup manusia tanpa ciri.

Jika kita merasa marah, maka kita berada di jalan simpang tiga. Dalam marah itu, bila kita memikirkan bagaimana cara melaksanakan marah, kita menuju ke jurusan ukuran ketiga, yakni Kramadangsa. Hal demikian ini sudah biasa kita lakukan sepanjang ribuan tahun. Tetapi bila dalam marah itu, kita tidak memikirkan bagaimana cara melaksanakan marah, melainkan memikirkan si marah, yaitu marah itu apa, bagaimana rupa dan bagaimana arti maksudnya, kita lalu menjurus ke ukuran keempat, manusia tanpa ciri. Kemudian apabila kita berhubungan dengan orang lain, kita merasa damai atau tidak berselisih.

Pada jalan simpang tiga itu, rasa yang timbul hanya dua macam, yaitu rasa suka dan rasa benci. Rasa suka dan benci ini bisa bermacam-macam rupanya. Rasa benci bisa berupa marah, malu, takut, terganggu (bhs. Jawa: risi) dan sebagainya. Rasa suka bisa berupa bangga, senang, gembira dan sebagainya.

Rasa suka dan benci ini berasal dari catatan-catatan, oleh karenanya bermaksud untuk membela diri. Lantaran catatan-catatan itu butuh hidup subur, maka jika diganggu akan marah, jika dibantu akan tertawa senang; sehingga jika dirugikan akan benci, jika diberi keuntungan akan suka. Jadi bila ada rasa muncul, dan rasa itu diteliti, maka kita akan menemukan hanya dua macam hal, yaitu suka dan benci, kedua-duanya itu tentu bersifat membela diri.

Jika anak kita diganggu, maka kita marah. Anak ini termasuk catatan keluarga, yang butuh tetap hidup subur; sehingga tatkala anak kita diganggu, kita akan marah, dan ini berarti bahwa kita membela diri. Begitupun bila kita dibantu dalam mengasuh anak kita, sukalah hati kita. Suka ini pun berarti membela diri, karena memperoleh untung.

Dalam gambar Kramadangsa, pada bagian gambar jalan simpang tiga, terdapat penghalang (bhs. Jawa: aling-aling). Penghalang inilah yang menghalangi kita menuju ke ukuran keempat. Penghalang ini ialah pembelaan diri, yang berwujud anggapan benar. Jadi penghalang yang menghalangi diri-sendiri menuju ke ukuran keempat, berwujud “anggapan’ benar.

Anggapan benar yang ada pada diri-sendiri ini, menimbulkan perselisihan. Dua orang yang berselisih, masing-masing sama-sama beranggapan benar. Misalnya si A berselisih dengan si B, si A merasa benar dan si B juga merasa benar. Maka merasa benar adalah perselisihan, dan orang berselisih karena merasa benar. Apabila merasa benar berarti berselisih, maka damai itu berarti merasa salah. Jadi, di waktu kita berselisih dengan orang lain, dapatlah dimengerti bahwa kita sendiri yang salah, maka carilah kesalahan diri-sendiri itu sampai ketemu. Yakni bahwa kita hanya mengejar kepentingan diri sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Maka kita ini bertindak sewenang-wenang, tukang bertengkar atau juara pertengkaran.

Karena persengketaan itu disebabkan oleh anggapan benar sendiri, sedang kita ini selalu merasa benar, maka kita selalu bersengketa, baik dengan isteri/suami, anak, orang tua, maupun dengan tetangga-tetangga kita.

Yang menjadi penghalang kita menuju ukuran keempat ialah anggapan bahwa kita benar, dan anggapan inilah yang menyebabkan perselisihan. Bila kita berselisih dengan siapa saja, maka kita akan menyadari dan mengerti, bahwa anggapan benar itu salah. Pengertian demikian itu berarti menjebol penghalang di atas. Dan kita menghayati hidup dalam ukuran keempat, yakni sebagai manusia tanpa ciri yang bila bergaul dengan orang lain, selalu merasa damai.

Jadi, rasa yang menanggapi apa saja, tentu hanya rasa suka atau benci. Suka atau benci ini berarti membela diri, yang berwujud anggapan-benar. Oleh karena anggapan-benar ini menyebabkan perselisihan, maka dapat dimengerti bahwa anggapan-benar itu salah. Kesadaran ini berarti jebolnya penghalang jalan hidup, yang menuju ukuran keempat. Maka kita terjun ke dalam hidup ukuran keempat, sebagai manusia tanpa ciri, yang merasa damai bila berhubungan dengan orang lain.

Bersamaan dengan lahirnya manusia tanpa ciri dalam ukuran keempat, si Kramadangsa menjadi tidak berdaya. Dengan demikian dapatlah dilihat kekeliruan dan kesalahan catatan-catatan yang ada dalam diri kita. Catatan-catatan yang mengenai rasa, hampir semua salah, sedangkan yang mengenai wujud barang, banyak yang benar. Misalnya, mencatat wujud meja di depan saya ini, benar, berbentuk persegi panjang; tetapi bila mencatat rasa/tanggapan akan sering kali salah.

Mari bersama-sama kita periksa catatan pertama dalam gambar Kramadangsa itu, yakni catatan harta benda. Kita mencatat harta benda ini salah, jika kita salah mempergunakannya. Harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan raga yang berupa makan, pakaian dan tempat tinggal. Karena kebutuhan raga itu pada dasarnya tidak banyak (sederhana), maka orang tidak akan kekurangan, atau kaya, untuk mencukupi kebutuhan raga ini. Tetapi kita sering keliru, mempergunakan harta benda sebagai alat untuk mencari kehormatan dan kekuasaan. Padahal kehormatan dan kekuasaan ini kebutuhan jiwa, bukan kebutuhan raga. Apabila harta benda dipakai untuk kebutuhan jiwa, orang merasa tidak cukup, atau melarat. Walaupun mempunyai berjuta-juta harta benda, masih saja merasa tidak cukup atau kekurangan.

Dalam masyarakat kita, orang kaya lebih dihormati daripada orang miskin. Ini membuktikan bahwa harta benda dipakai untuk memperoleh kehormatan. Begitu pula harta benda sering dipakai untuk memperoleh kekuasaan. Misalkan seorang kaya hendak menguasai pegawainya yang melarat, lalu mengancam: Bila kamu tidak menurut perintah-perintahku kamu akan kupecat. Padahal orang kaya itu pasti menghadapi orang lain, yang melebihi kekayaannya. Maka untuk mempertahankan kedudukannya, ia selalu merasa kekurangan harta bendanya. Jadi jika harta benda dipakai untuk kebutuhan jiwa, maka harta benda selalu menimbulkan rasa tidak cukup.

Tetapi bila orang memakai harta benda untuk mencukupi kebutuhan raga, ia akan merasa cukup, kaya. Misalnya dengan memiliki tiga helai celana, orang sudah serba cukup, kaya. Satu helai dipakai, yang lain dicuci, dan yang lain lagi untuk cadangan bila yang dipakai tiba-tiba kotor. Jadi orang punya tiga helai celana, sudah kaya. Jika ia sampai mempunyai empat helai celana, berarti ia kelebihan sehelai. Barang kelebihan ini, bila hilang tidak akan menjadi soal baginya. Demikian seterusnya, jika ia mempunyai sepuluh helai celana, berarti ia kelebihan tujuh helai sebagai kekayaannya. Sehingga bila hilang kekayaan atau kelebihan itu, tidak akan menjadi soal baginya.

Orang yang mempunyai kelebihan tujuh helai celana, boleh dikatakan merugikan masyarakat, karena tujuh helai celana itu, yang seharusnya tersebar dalam masyarakat, ditimbunnya sendiri. Hal ini memboroskan masyarakat. Maka orang yang menimbun barang adalah orang yang boros. Barang-barang yang dimaksudkan di sini, bukanlah barang dagangan. Oleh karena orang yang menimbun barang-barang itu memboroskan dan merugikan masyarakat, dengan sendirinya ia memperoleh hukuman dari masyarakat. Hukuman masyarakat ini, berupa rasa ketakutan akan pencuri. Tetapi bagi orang yang hanya punya sehelai celana, ia tidak takut akan pencuri. Demikian orang yang salah mempergunakan harta benda, sehingga ia bertikai dengan masyarakat.

Kekeliruan dalam menggunakan harta benda, dapat menimbulkan kekacauan dan keributan, sehingga merusak ketenteraman. Supaya lebih jelas, saya beri tambahan contoh pengalaman saya sendiri.

Pada suatu ketika saya mempunyai dua buah rumah, yakni rumah belakang dan rumah depan (pendopo). Pada suatu ketika pendopo itu doyong ke timur, saya tunjang dari timur. Kemudian ketika pendopo itu doyong ke barat, saya tunjang dari barat, lalu ketika doyong lagi ke utara, saya tunjang dari utara. Walhasil rumah itu penuh dengan bambu-bambu penunjang, hingga tidak dapat didiami, dan terpaksalah dirobohkan. Setelah rumah itu roboh, barulah saya merasa kaya. Ketika saya mengerti bahwa rumah yang roboh itu adalah barang kelebihan, maka hal itu tidak menimbulkan persoalan bagi saya lagi. Saya bersama keluarga lalu tinggal di rumah belakang, terhindar dari panas, hujan dan angin. Dan waktu itu juga, saya merasa kaya karena memiliki kayu bakar yang lumayan banyaknya; sehingga selama dua bulan tidak perlu membeli kayu bakar. Jadi bila harta benda dipergunakan untuk kebutuhan raga, orang merasa cukup, malah merasa kaya. Kedua, kelompok catatan kehormatan. Dalam diri kita ada catatan kehormatan yang berupa tata-cara menghormat, dengan bersenyum, manggut, bersalaman, menunjuk ke langit dan sebagainya. Kelompok catatan ini pun dapat keliru; jelasnya sebagai berikut.

Kita merasa nikmat, bila orang lain menghormati kita. Dan kita mengira bahwa rasa nikmat itu berasal dari penghormatan, yang diberikan oleh orang lain. Maka kita berusaha keras agar dihormati oleh orang lain, sehingga berebut kehormatan atau gila hormat. Hal itu salah, sedangkan yang benar ialah dalam hormat terdapat nikmat. Tegasnya, baik hormat orang lain terhadap diri-sendiri, maupun hormat diri-sendiri terhadap orang lain rasanya nikmat. Jadi, dihormati itu nikmat, menghormati pun juga nikmat.

Jika kita mengerti bahwa hormat adalah nikmat, bilamana kita ingin merasa nikmat dari hormat, cukuplah dengan bertindak menghormat orang lain. Dengan demikian kita tidak perlu berebut kehormatan.

Ketiga, kelompok catatan kekuasaan, ini pun dapat keliru. Kuasa itu berarti dipercaya oleh orang lain. Dipercaya oleh orang lain itu, rasanya nikmat. Bila kita tidak mengerti apa sebab hingga dipercaya dan berkuasa, kita lalu berusaha membabi-buta mencari kekuasaan, berebut kekuasaan dan gila kekuasaan, yang pada akhirnya menjadi perkelahian.

Padahal orang berkuasa atau dipercaya itu adalah karena ia mengenakkan orang lain. Umpama seorang dokter, setiap mengobati orang sakit selalu berhasil menyembuhkan. Sudah tentu beribu-ribu orang minta pertolongan dan percaya akan nasehatnya. Dokter itu dipercaya oleh orang banyak, dan ia merasa berkuasa dan nikmat. Jadi orang berkuasa atau dipercaya itu, karena ia mengenakkan orang lain. Maka bila kita ingin berkuasa dan dipercaya, kita harus bertindak mengenakkan orang lain.

Tetapi jika kita tidak mengerti bahwa berkuasa atau dipercaya itu adalah karena mengenakkan orang lain, maka kita justru mencari kekuasaan atau kepercayaan tanpa mengenakkan orang lain.

Dipercaya oleh satu orang atau oleh orang banyak, rasa nikmatnya sama saja. Saudara-saudara dapat mencoba sendiri. Saudara-saudara kaum lelaki yang biasanya tidak pernah mengambil air dari sumur (bhs. Jawa: ngangsu), besok pagi-pagi bangun tidur, saudara segera mengambil air. Yang biasanya tidak pernah menyapu lantai rumah, lakukanlah pekerjaan itu. Pasti saudara segera dipercaya oleh isteri saudara. Sang isteri itu belum diperintah, sudah mendahului minta diperintah, “Mas, kau ingin kubuatkan apa?” Hal itu dapat saudara buktikan sendiri.

Maka bila mengerti bahwa berkuasa itu disebabkan mengenakkan orang lain, orang lalu merasa kaya akan kekuasaan dan tidak berebut kekuasaan.

Keempat, catatan keluarga, ini pun dapat keliru. Dalam catatan itu yang penting ialah suami/isteri, anak-anak. Jadi kita seringkali keliru mencatat tanggapan terhadap suami/isteri dan anak-anak kita. Dalam hubungan suami-isteri, kita merasa bahwa kita mencintai satu sama lain. Padahai kenyataannya tidak demikian.

Mari saudara-saudara saya ajak bersama-sama meneliti diri sendiri masing-masing. Apakah kita ini mencintai pasangan kita atau tidak? Saudara-saudara, baik laki-laki maupun perempuan, cobalah meneliti diri sendiri, ketika memilih jodoh, apakah kita berniat membahagiakan calon pasangan kita? Jika calon pasangan kita itu menolak untuk diperisterikan atau dipersuamikan, apakah kita masih tetap ingin membahagiakannya? Tentu saja tidak. Padahal rasa ingin membahagiakan itu, lahir dari rasa cinta. Jadi kita tidak lagi mencintai, karena kehendak kita ditolaknya, bahkan kita lalu membencinya.

Mari saudara-saudara saya ajak mengingat-ingat rasa sendiri, ketika kita memilih pasangan. Rasa yang paling baik: “Bila aku memperoleh dia, aku akan senang sekali.” Sedang rasa yang jelek: “Kalau enak diteruskan, kalau tidak enak diceraikan.” Jadi rasa yang terbaik itu, ialah semata-mata memikirkan kesenangan diri-sendiri, dengan tidak mempedulikan pihak calon pasangannya. Rasa demikian itu bukanlah cinta, melainkan mengejar kesenangan sendiri. Jadi kita menghargai pasangan kita, sebagai barang kesenangan belaka. Sama dengan barang-barang kesenangan lain, seperti burung perkutut, kucing dan dengkek (nama salah satu kartu judi).

Orang yang senang memelihara perkutut, bila burung itu bersiul bagus “hoorketekung,” burung itu lalu dirawat baik-baik, dikerek tinggi, dimandikan, ditambah makanannya. Tetapi jika perkutut itu berbunyi ‘hoorketekek” jelek, maka akan dibantingnya, karena tidak menyenangkan. Demikian pula ia bertindak terhadap pasangannya, yang tidak menyenangkan atau “hoorketekek”, juga dibantingnya. Bedanya, pada perkutut yang dibanting raganya, sedang pada suami/isteri, yang dibanting rasanya.

Contoh “hoorketekek bagi manusia, misalnya seorang laki-laki yang sangat merosot penghasilannya, karena semula bekerja tetapi kini dipensiun. Penghasilan kurang inilah “hoorketekek”, tegasnya tidak menyenangkan isterinya. Maka sang isteri membantingnya; hanya saja yang dibanting bukan raganya, tetapi perasaan hatinya. Caranya dengan menghidangkan “gudangan mentah” (daun daun sayur mentah dengan sambal kelapa). Di pihak lain, sang suami yang baru dipensiun itu, sering lupa, sehingga tatkala menghadapi hidangan “gudangan mentah” itu, merasa ogah-ogahan makannya. Ogah-ogahan ini pun rasa hoorketekek lagi, maka sang isteri membanting pula dengan berkata: “Orang sudah dipensiun, masih tetap minta lauk pauk telur?” Demikian orang menghargai suami/isteri hanya sebagai barang kesenangan belaka.

Melihat kenyataan bahwa dirinya sesungguhnya tidak mecintai isterinya, laki-laki itu takut melihat keadaan diri-sendiri yang sebenarnya. Ketakutan itu mendorongnya untuk menutupi dirinya sendiri demikian: “Tetapi aku ini berbeda dengan laki-laki lain. Aku benar-benar mencintai isteriku, buktinya ia kubelikan rumah, pakaian, perhiasan mas-intan yang bagus-bagus.

Mari saudara-saudara saya ajak bersama meneliti diri-sendiri masing-masing. Rasa apakah yang mendorong kita, memberi sesuatu kepada suami/isteri; rasa cintakah atau dengan maksud lain? Hal ini bagi kaum laki-laki atau perempuan sama saja.

Umpama seorang laki-laki pulang dari perjalanan ke Singapura, ia membawa oleh-oleh kain baju untuk isterinya. Pada waktu menyerahkan, rasanya: “Isteriku, ini kuberi oleh-oleh kain baju. Walaupun kamu tidak memesan, namun kubelikan; ini sebagai bukti dari cintaku kepadamu”. Apakah membelikan kain baju dapat diartikan cinta? Sehingga sebuah baju sama dengan satu cinta, dua buah baju sama dengan dua buah cinta? Kalau bajunya satu lemari, apakah cintanya pun satu lemari? Jika demikian halnya, orang-orang kaya itu kaya dengan cinta, karena mereka mampu memberi delapan lemari berisi penuh dengan kain baju, yang berarti delapan lemari penuh cinta kepada isterinya. Sementara orang-orang miskin tidak dapat mencintai suami/isterinya karena tidak punya baju berlemari-lemari.

Demikian orang itu tidak dapat mencintai suami/isterinya. Rasa yang ada dalam hubungan suami-isteri hanyalah rasa saling memanfaatkan, untung-menguntungkan. Maka bila dirasakan masih seimbang, memadai, perkawinan masih dapat dipertahankan, tetapi bila tidak, lalu bercerai.

Demikian juga catatan “anak” pun keliru. Orang mencatat bahwa dirinya mencintai anak-anaknya, padahal sebenarnya tidak. Yang sering dianggap cinta itu, hanyalah rasa hidup untuk mempunyai keturunannya. Wujud rasa hidup tersebut, berupa asuhan kepada anak kecil, supaya raganya berlangsung hidup. Tetapi setelah anak itu dewasa, kita ajak bertengkar, dan pertengkaran bukanlah cinta.

Kecuali rasa hidup untuk melangsungkan keturunan, yang mendorong kita untuk memelihara anaknya, kita menganggap anak kita hanyalah sebagai cadangan dana pensiun dan alat kebanggaan. Anggapan itu dapat diungkapkan sebagai berikut: “Anakku ini kudidik rajin bersekolah, agar berilmu dan berijazah serta mendapat jabatan tinggi dengan penghasilan besar. Nanti kalau saya sudah tua dan tidak dapat bekerja tetapi masih butuh makan dan pakaian, maka anakkulah yang akan memberi pensiun padaku. Bahkan keinginan jaminan pensiun ini bisa makin jauh, rasanya: “Apabila anakku berpenghasilan besar, sedangkan aku sudah tua dan tidak bekerja, tetapi masih butuh tambah atau ganti isteri/suami, maka anakkulah yang nanti harus mengawinkan aku.”

Kecuali untuk cadangan pensiun, kita menghargai anak kita sebagai alat kebanggaan, rasanya: “Untuk mencari kebanggaan, aku sendiri sudah tidak mungkin. Tetapi kuharapkan anakku memperoleh pangkat tinggi, sehingga derajatku pun turut naik tinggi.” Maka apabila anak kita yang bersekolah tidak naik kelas, kita jadi marah, anak dipukul, kadang-kadang sampai hati pula mengusirnya. Hal ini menyebabkan pada setiap kali masa ujian terakhir, ada pelajar yang bunuh diri. Karena pelajar itu telah mengecewakan harapan orang tuanya. Demikian kekeliruan catatan keluarga itu.

Catatan-catatan yang lain pun semua dapat keliru, tetapi tidak akan saya terangkan satu persatu, karena akan makan banyak waktu. Selanjutnya saudara-saudara dapat meneliti bersama-sama kawan-kawan lain, atau dengan saudara-saudara yang baru mendengarkan sekarang.

Jadi catatan-catatan yang berjuta-juta banyaknya dalam diri kita sendiri dapat keliru. Bila catatan keliru itu sudah diketahui, maka akan ada catatan baru yang benar. Kemudian catatan lama yany keliru bertarung dengan catatan baru yang benar. Jika dalam perkelahian itu, catatan lama (yang keliru) kalah, matilah catatan lama itu. Catatan yang mati itu tidak mengganggu kita lagi.

Jadi bila rasa-rasa yang muncul dari dalam diri kita, diteliti sehingga selesai, penghalang yang berupa anggapan benar itu jebol. Barulah kita mengetahui kekeliruan catatan-catatan itu, dan rasa aku si Kramadangsa diam atau mati. Bersamaan dengan itu lahirlah rasa manusia tanpa ciri.

Ukuran keempat ialah sifat manusia tanpa ciri, dan ukuran ketiga ialah sifat Kramadangsa, atau manusia memakai ciri-ciri. Ciri-ciri itu dapat diibaratkan ekor, yang berupa jenis dan golongan; seperti: laki-laki, perempuan, tua, muda, kaya, miskin, pangkat tinggi, pangkat rendah dan sebagainya. Segala apa yang membedakan seseorang dengan seseorang lain ialah ciri atau ekor. Ciri-ciri atau ekor-ekor inilah yang menyebabkan orang, pada waktu berhubungan dengan sesama orang, tidak dapat bertemu sebagai manusia dengan manusia tanpa ciri. Tetapi yang bertemu hanyalah ciri-ciri atau ekor masing-masing. Oleh karenanya mereka pasti berselisihan.

Misalnya seorang kaya berjumpa dengan seorang miskin, yang berjumpa ialah rasa kaya di satu fihak dan rasa miskin di fihak lain. Maka mereka pasti bertikai dan ejek mengejek. Si kaya mengejek si miskin: “Ah, orang melarat ini, biasanya semula bicara baik-baik, lama kelamaan pasti minta berhutang”. Si miskin pun mengejek si kaya: “Ah, orang kaya ini, bicara baik-baik, ujung-ujungnya hanya akan menyuruh saja. Pukul tiga dini hari membangunkan orang tidur hanya untuk menyuruh. Mentang-mentang banyak uang. Tapi akau kok mau juga disuruh-suruh.

Demikianlah, Kramadangsa atau manusia berciri atau berekor, bila bergaul tidak dapat bertemu secara manusia dengan manusia, melainkan sebagai ekor dengan ekor, maka itu mereka berselisih.

Demikian pula bila seorang wali (orang sakti, aulia) bertemu dengan seorang bajingan, mereka tidak dapat berbicara sebagai manusia dengan manusia. Tetapi sebagai wali dan bajingan, yaitu ekor masing-masing. Si Wali mengejek si bajingan: “Ah, bajingan ini biasa, diajak bicara baik-baik, tapi begitu kita lengah sedikit, segera ia mencopet”. Dan si bajingan pun mengejek si Wali: “Ah, Wali ini biasa, diajak bicara baik-baik, begitu kita lengah, ia segera mengutuk”. Demikianlah Kramadangsa atau rasa kita sendiri yang berciri dan berekor, tidak dapat bergaul secara manusia dengan manusia.

Jadi tumbuhnya jiwa manusia tanpa ciri dalam diri kita, bila kita mengetahui ciri-ciri kita. Ciri-ciri itu berpusat pada aku Kramadangsa, yang muncul sebagai tanggapan rasa suka atau benci. Bila ciri-ciri itu diketahui, Kramadangsa mati dan lahirlah manusia tanpa ciri. Manusia tanpa ciri ini bila berhubungan dengan orang lain akan damai, karena ia merasa sama. Perbedaannya hanya pada ciri cirinya.

Ciri atau ekor orang itu mudah diketahui sewaktu ia berada dalam pergaulan umum, misalnya dalam bis, kereta api, bioskop dan sebagainya. Umpama si Kramadangsa, yakni manusia pakai ciri atau ekor, sedang di dalam kereta api, duduk berdampingan dengan seorang yang belum dikenalnya. Bila ia ingin berbicara, tentu dimulai dengan meraba-raba ekornya dan ditanyanya: “Saudara pergi ke mana? Dari mana? Menjabat apa? Anak saudara berapa? Yang sudah kawin berapa? Saudara masuk agama apa dan masuk partai apa? Kalau pertanyaan-pertanyaan itu sudah dijawab, baru mereka melihat ekor masing-masing. Kemudian berjumpalah ekor dengan ekor, bercakap-cakap dengan tak putus-putus. Apabila bicara, ekor itu menggunakan dirinya sendiri sebagai patokan, supaya ditiru oleh semua orang. Semboyannya; “Kalau saya…” Maka ekor dengan ekor itu, dalam pembicaraan memakai semboyan “Kalau saya…” “Kalau saya begini…..” Dan pihak satunya menjawab: “Wah, kalau saya … begini,” yang akan dijawab “Ah tidak, kalau saya begini…!” Kadang-kadang ekor dengan ekor sampai semalam suntuk saling memamerkan “Kalau saya” nya masing-masing.

Contoh lain, ada seorang laki-laki duduk dalam kereta-api. Sebenarnya ia sudah mengantuk, tetapi tatkala melihat seorang wanita cantik memasuki gerbong itu, mendadak kantuknya hilang. Tiba-tiba ia bangun dan memperlihatkan seluruh kepandaiannya, yang merupakan ekornya. Ia membuka dompet dan menghitung uangnya, meskipun bukan milik sendiri. Karena ia pandai bersiul, bersiullah ia lagu Indonesia Raya. Ia mulai mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris, meskipun ia takut berbicara pada orang Inggris. Demikian ciri sendiri atau ekor-ekor sendiri, dengan jelas dapat diketahui dalam pergaulan umum.

Kadang permasalahan yang timbul dalam diri seseorang, dikaitkan dengan ekornya. Atau dengan kata lain, masalahnya dikurung dalam cirinya sendiri. Misalnya seorang isteri bertengkar dengan suaminya. Ia marah dan mengeluh: “Kaum laki-laki selalu mau menang sendiri, mereka diperbolehkan berpoligami. Sebaliknya, kaum perempuan tidak diperbolehkan berpoligami.” Padahal keruwetan suami-isteri adalah masalah perkawinan. Padahal yang menderita kesusahan dalam perkawinan tidak hanya orang perempuan saja, tetapi orang lelaki juga. Jadi masalah perkawinan adalah masalah manusia, bukan masalah golongan. Bila soal perkawinan dikaitkan dengan ciri buntutnya sendiri, usaha bersama untuk memecahkan persoalan menjadi gerakan golongan. Yakni gerakan golongan wanita berkelompok menentang golongan laki-laki untuk menuntut hak sama, dalam contoh ini, untuk diperbolehkan berpoligami.

Akan tetapi bila diteliti, bahwa permasalahan suami-isteri itu adalah masalah perkawinan. Sedangkan masalah perkawinan adalah masalah semua manusia, maka permasalahan tadi jadi terurai. Yang masih ada hanyalah permasalahan manusia dalam perkawinan. Bila kita ingin memecahkan bersama, usaha kita menjadi gerakan manusia. Dan dalam gerakan manusia ini tidak ada golongan lain yang ditentang.

Sebagai hasil mempelajari ilmu jiwa ini, seharusnya jiwa kita menjadi sehat. Jadi mempelajari ilmu jiwa adalah salah satu usaha untuk menyehatkan jiwa. Dalam berusaha menyehatkan jiwa, seharusnya terlebih dahulu kita mengetahui penyakit jiwa. Sama halnya bila kita berusaha menyehatkan raga, terlebih dahulu kita harus mengetahui penyakit raga. Perbedaan sakit jiwa dan sakit raga, ialah pada sakit raga, cara mengobatinya dapat dengan minta bantuan orang lain, tetapi pada sakit jiwa, mengobatinya tidak dapat minta bantuan orang lain. Umpama sakit gigi, orang dapat minta bantuan seorang dokter gigi untuk mencabutnya. Tetapi dalam hal sakit jiwa, si penderita sendirilah yang dapat mengobatinya. Sakit raga dan jiwa ini bisa ringan dan bisa berat. Raga mungkin menderita sakit ringan atau berat, begitu pun jiwa mungkin menderita sakit ringan atau berat.

Perbedaaan lain antara sakit raga dan sakit jiwa ialah, sakit raga mudah dirasakan karena ada ukuran yang dipakai untuk menetapkannya. Ukuran itu ialah bila orang tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari, lalu merasa sakit dan berusaha mengobatinya. Tetapi, daiam hal sakit jiwa, orang tidak mudah merasakannya, karena tidak mempunyai ukuran; ukuran untuk menetapkan sehat atau sakit jiwanya. Semakin ringan sakitnya semakin sukar dirasakan, karena tidak ada ukurannya. Malahan seorang sakit jiwa yang sudah hebat, dan sedang dirawat di rumah sakit, masih belum merasa bahwa dirinya menderita sakit jiwa. Malahan ia menganggap orang lainlah yang sakit jiwa. Dalam hati ia berkata: “Eeee, dokter rumah sakit jiwa itu gila. Aku tidak gila mengapa dianggap gila.” Demikianlah kesukaran penderita sakit jiwa untuk merasakan sakitnya, karena itu ia tidak berusaha untuk mengobatinya. Lebih-lebih sakit jiwa yang ringan, yang sebenarnya masih mudah diobati, tetapi jadi semakin sukar karena tidak dirasakannya.

Karena untuk mengobati penyakit jiwa, orang harus mengetahui sakitnya, padahal ukuran untuk menetapkannya tidak ada; maka di sini saya sengaja membuat ukuran untuk menetapkan jiwa sehat atau jiwa sakit. Ukuran itu berupa gambar jiwa sehat seratus persen.

Saya sengaja membuat gambar jiwa sehat seratus persen, meskipun dalam kenyataan tidak ada. Sama dengan ahli kesehatan raga, bisa membuat gambar raga sehat seratus persen, meskipun kenyataannya tidak ada. Umpama raga yang sehat seratus persen ialah yang keadaan jantungnya begini, ginjalnya begitu, hatinya begini, ususnya demikian dan sebagainya. Adapun gambar jiwa sehat seratus persen ialah bila juru catat dalam diri kita, setiap kali mencatat apa saja, pasti sama persis antara catatan dan yang dicatatnya. Juru catat ini umumnya dalam mencatat barang yang berwujud (kasat mata) sering kali benar, tetapi bila ia mencatat rasa sering salah, catatan dan yang dicatat tidak sama tepat.

Di sini juru catat itu saya ganti istilahnya dengan juru potret, karena lebih tepat. Jadi gambar ukuran jiwa sehat 100% ini, ialah bila juru potret memotret rasa, dan hasilnya atau potretnya sama persis dengan yang dipotret. Bila hal itu terjadi maka berarti kita mengetahui rasa, baik rasa sendiri maupun rasa orang lain. Tetapi bila junu potret memotret rasa, dan hasilnya tidak sama persis, berarti kita belum mengetahui rasa orang lain atau rasa kita sendiri. Kita hanyalah mengira tahu rasa-rasa itu.

Junu potret ini sering kali gagal, yakni hasil potretannya tidak sama dengan yang dipotretnya. Seperti halnya dengan alat potret yang lazim, ia harus memakai film. Film negatif ini, bila sudah dipakai (berisi potretan), lalu digunakan memotret lagi, hasil potret itu bertindihan tidak jelas. Maka agar yang dipotret persis dengan potretnya, alat potret itu harus memakai film negatif yang belum terpakai (belum ada gambarnya), yang masih bersih.

Begitu pula denganjuru potret dalam diri kita ini, bila hasil potret rasa sendiri atau rasa orang lain ternyata tidak bisa persis, itu tentu dikarenakan filmnya kotor atau sudah berisi potretan. Maka juru potret itu belum pernah berhasil memotret rasa dengan tepat, persis sama dengan yang dipotret. Sehingga meskipun sudah mempunyai anak cucu, namun belum juga mengetahui rasa suami/isterinya. Bila ditanya: “Bagaimanakah rasa suami/isterimu?” Tentu kita tidak dapat menjawabnya secara tepat: “Ya, bagaimana ya?” Kadang-kadang kita menetapkan: “Suami/isteriku ini galak!” Jawaban ini tercampur tanggapan kita sendiri atas omelan suami/isteri kita. Ada kalanya kita menjawab: “Suami/isteriku sangat terbuka!” Jawaban ini pun tercampur tanggapan kita atas perhatian suami/isteri kita. Jadi rasa suami/isteri kita yang sesungguhnya, tanpa campuran rasa diri-sendiri, belum pernah kita ketahui walaupun sudah punya anak-cucu. Demikianlah juru potret itu, tiap kali memotret rasa sendiri atau rasa orang lain, tidak pernah berhasil tepat, karena filmnya kotor atau sudah berisi gambar lain sehingga hasil pemotretan rasa itu bertindihan, tidak jelas, membuat diri-sendiri tidak dapat melihat rasa.

Supaya juru potret berhasil memotret rasa dengan persis, maka terlebih dahulu kita perlu membersihkan filmnya. Kotoran dalam film yang menghalangi juru potret itu adalah Kramadangsa dan catatan-catatan. Apabila Kramadangsa, atau manusia yang berciri dan berekor ini diketahui, maka ia tidak menghalang-halangi juru potret lagi. Catatan-catatan salah yang memerintah Kramadangsa pun dapat diketahui. Jika catatan-catatan itu diperiksa hingga tuntas, maka film negatif menjadi bersih, tidak lagi berisi gambar potretan lama. Setelah itu, barulah juru potret dapat memotret rasa dengan hasil potretan yang tepat sama dengan yang dipotretnya. Artinya, kita mengetahui rasa sendiri maupun rasa orang lain, yang sesungguh-sungguhnya.

Rasa orang lain yang diketahui itu, pasti tepat sama dengan rasa kita sendiri. Kalau tidak demikian, berarti kita belum mengetahui rasa orang lain. Begitu pula rasa sendiri yang diketahui, pasti sama dengan rasa semua orang. Kalau tidak demikian, berarti kita belum melihat rasa kita sendiri.

Sekarang bagaimanakah caranya membersihkan film? Di sini saya beri contoh pengalaman saya. Pada suatu waktu, tatkala saya pulang dari bepergian, saya menjumpai anak perempuan saya sedang bertengkar dengan ibunya. Melihat kedatangan saya, isteri saya segera menyerang dengan omelan: “Lihatlah anakmu ini, ia menolak kusuruh pergi mencari pinjaman uang. Tabiatnya ini ialah hasil didikanmu yang sukar diperintah. Sekarang silakan kamu menasehatinya. Gunakanlah ilmumu, manusia tanpa ciri atau Kramadangsa! Aku ingin mengetahui khasiatnya”. Sudah tentu, karena dimarahi, saya lalu membalas marah. Pada saat itu saya sedang berada di jalan simpang tiga, yaitu saya Suryomentaram atau Kramadangsa, marah, akibat dimarahi oleh orang lain. Bila kemarahan itu tidak saya ketahui, saya tidak dapat melihat rasa anak dan isteri saya. Maka ketika saya melihat marah saya, lalu menelitinya hingga tuntas. Penelitian rasa ini bisa selesai dalam satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu bulan, satu tahun, atau bisa tetap tidak selesai. Saat itu, penelitian saya atas marah saya, selesai dalam satu detik. Penelitian saya itu sebagai berikut:

Ketika saya dimarahi, Iantas saya marah, marah saya itu saya rasakan; dan saya merasa bingung, tidak mengerti apa yang harus saya lakukan. Kebingungan itu disebabkan pertengkaran anak dan isteri saya, yang keduanya saya cintai. Selanjutnya timbullah keinginan saya untuk melerai mereka. Tetapi bagaimanakah cara melerai orang yang sedang bertengkar? Kalau caranya sudah diketemukan mudah saja melakukannya. Ternyata cara orang melerai pertengkaran hanyalah dengan membenarkan atau menyalahkan salah satu pihak. Kalau kita membenarkan ibunya berarti mengeroyok anaknya, kalau membenarkan anaknya berarti mengeroyok ibunya. Jadi melerai orang bertengkar itu, berarti turut mencampuri pertengkaran. Maka saya berpendapat bahwa orang tidak mungkin melerai pertengkaran. Bahkan setelah diteliti lagi saya mengetahui bahwa rasa ingin melerai pertengkaran di atas, adalah rasa pura-pura mencintai anak dan isteri.

Padahal rasa pura-pura cinta itu bukanlah cinta, melainkan selubung rasa cinta. Setelah rasa selubung cinta ini diketahui, barulah saya melihat rasa saya yang sebenarnya, yang mendorong saya untuk melerai pertengkaran antara anak dan isteri saya. Rasa tersebut ternyata bukan cinta melainkan rasa terganggu {bhs. Jawa: risi) sewaktu saya melihat orang bertengkar. Jadi tiap kali melihat orang bertengkar, pasti merasa terganggu. Tetapi jika dirinya sendiri yang bertengkar, sama sekali tidak merasa terganggu.

Setelah rasa terganggu ini diketahui, saya segera dapat melihat rasa anak saya tanpa dirintangi rasa selubung cinta. Rasa selubung cinta tadi ialah reaksi marah saya. Marah itu adalah salah satu wujud dari rasa benci. Setelah rasa benci ini diketahui, saya melihat rasa anak yang vertengkar itu sebagai berikut: Anakku itu menolak perintah ibunya, berarti anak itu sukar diperintah. Padahal tabiatnya itu adalah hasil didikanku. Jadi didikanku menghasilkan tabiat sukar-diperintah. Bila yang dididik sukar diperintah, yang mendidik pasti juga sukar diperintah. Buktinya aku sendiri sukar diperintah. Aku lebih suka memerintah daripada diperintah.

Mengetahui rasa yang sama demikian itu, menimbulkan rasa damai. Tidak suka dan tidak benci, tidak memuji dan tidak mencela. Tegasnya, saya tidak dapat memarahi anak saya, karena ia dan saya sama-sama sukar diperintah. Bagaimana harus memarahinya? Apakah demikian: “Kamu ini, janganlah terlalu sama denganku”?

Kemudian saya meneliti rasa ibunya, yaitu isteri saya. Ibu menyuruh anaknya tetapi anaknya tidak mau menurut, lalu ia marah. Maka ibunya pun termasuk orang yang sukar diperintah. Jika ia mudah diperintah, cukuplah ia pergi sendiri dan urusan selesai. Kemudian saya melihat rasa yang sama antara isteri saya yang sukar diperintah dan saya yang juga sukar diperintah. Jadi, sudah menjadi jodoh, sama-sama sukar diperintah. Bila salah seorang ingin menyuruh yang lain, timbullah pertengkaran, yaitu jodoh yang sama-sama senang bertengkar. Mengetahui rasa yang sama ini, menimbulkan rasa damai, tidak berselisih.

Waktu itu anak saya segera pergi, dan ketika saya melihat kemarahan isteri saya agak reda, lalu saya katakan: “Bu, memang anakmu itu sukar diperintah. Itu hasil didikanku. Maka anakmu itu mewarisi sifatku, sama-sama sukar diperintah. Aku sendiri belum pernah mau engkau suruh. Bila aku segera melakukan perintahmu, itu hanya karena ingin dipuji, bukan karena rajin.” Melihat rasa yang sama demikian itu, menimbulkan rasa damai, tidak berselisih.

Rasa damai itu menghapuskan bekas-bekas luka hati. Bila pertengkaran di atas tadi tidak diteliti sampai tuntas, pasti akan meninggalkan bekas luka yang tergores di hati kita, dan menjadi dendam. Maka bila rasa tanggapan yang muncul dalam pertengkaran itu tidak diteliti dengan tuntas, pasti akan menghasilkan dendam. Parut bekas luka ini akan muncul lagi, bila suatu hari suami/isteri itu bertengkar lagi: “Nah, ini dia, yang mencaci-maki aku kemarin!”

Bila dilakukan penelitian dengan tuntas, tidak akan ada parut bekas luka atau dendam. Parut pada diri saya hilang, menular ke anak dan isteri saya. Seakan-akan pertengkaran tadi tidak pernah terjadi. Ini dapat dilihat ketika anak saya berjumpa lagi dengan ibunya, seolah-olah tidak pernah bertengkar.

Demikianlah contoh cara membersihkan film. Bila film telah bersih, rasa yang muncul bisa diketahui, yakni Kramadangsa atau catatan-catatan. Juru potret kemudian memotret rasa, dan hasilnya bisa persis sama dengan yang dipotret.

Apabila Kramadangsa diketahui, ia akan segera mati, dan dengan matinya Kramadangsa, lahirlah manusia tanpa ciri, yang merasa damai bila berhubungan dengan orang lain. Juru catat lantas mencatat manusia tanpa ciri. Catatan manusia tanpa ciri ini memerintah Kramadangsa, sehingga Kramadangsa hidup lagi dan berbuat sewenang-wenang seperti biasanya. Tetapi jika Kramadangsa itu diketahui, ia pun mati lagi, diiringi lahirnya manusia tanpa ciri. Demikianlah proses ini berlangsung terus, kematian Kramadangsa diiringi kelahiran manusia tanpa ciri.

Jadi lahirnya manusia tanpa ciri ini tidak berlangsung terus-menerus, tetapi hanya pada setiap kejadian, satu peristiwa demi satu peristiwa, atau satu masalah demi satu masalah. Setiap ada kesulitan, bila diteliti sehingga tuntas, maka lahir/timbul manusia tanpa ciri, yang kemudian tenggelam lagi. Demikian seterusnya. Jadi lahir/timbulnya manusia tanpa ciri itu tidak terus menerus.

Sebagai penutup, saya ulangi bahwa dalam batin kita sendiri terdapat juru catat, catatan-catatan, kelompok-kelompok catatan, Kramadangsa dan manusia tanpa ciri. Sekianlah ceramah llmu-Jiwa tentang Kramadangsa,


Rasa Bebas

Rasa bebas adalah rasa tidak bertentangan (konflik). Apabila orang melihat sesuatu dan mengerti sifatnya, ia akan merasa bebas; yakni tidak berselisih dengan sesuatu yang dilihat dan dimengerti. Melihat dan mengerti itu tidak hanya melalui panca indera, tetapi juga dengan rasa hati dan pikiran.

Bila melihat dan mengerti dalam diri orang itu terpisah, hal itu tidak dapat menimbulkan rasa bebas. Misalnya seorang digigit nyamuk malaria. Ia memperoleh keterangan, bahwa nyamuk malaria itu, setelah menggigit orang yang menderita sakit malaria, ia tentu mengandung kuman-kuman penyakit, dan akan menularkan penyakit pada orang lain yang digigitnya. Mendengar keterangan semacam itu, orang dapat mengerti, tetapi tidak melihat prosesnya. Maka tatkala ia menderita sakit malaria dan makan obat malaria, namun penyakitnya tidak sembuh, berselisihlah ia dengan penyakit malaria, maka ia merasa tidak bebas. Demikian bila orang mengerti, tetapi tidak melihat, sehingga ia tidak bebas.

Sebaliknya, walaupun melihat, kalau tidak mengerti, orang pun tidak akan bebas. Umpama, kita melihat bola lampu di atas ini, yang bentuknya bulat dan cahayanya terang. Tetapi bila kita tidak mengerti bagaimana cara memadamkan atau menyalakannya, jikalau bola lampu itu tiba-tiba padam, kita menjadi bingung, lantas bertengkar dengan bola lampu itu, sehingga tidak bebas.

Jadi rasa bebas atau tidak berselisih itu timbul, jika kita serentak melihat sesuatu dan mengerti sifatnya. Misalnya kita melihat dan mengerti, bahwa api itu bila dipegang dapat membakar tangan. Maka kita merasa bebas dan tidak bertengkar dengan api. Artinya, kita tidak berusaha mengubah sifat api itu, sehingga tidak membakar tangan yang memegangnya. Rasa bebas ini melahirkan perbuatan yang pasti benar. Tegasnya kita tidak akan berbuat, tanpa sengaja memegang api.

Supaya lebih jelas, saya beri contoh lain lagi. Misalnya kita melihat dan mengerti, bahwa ular belang itu berbisa, ia dapat membinasakan orang yang dipagutnya. Maka bebaslah kita untuk tidak menentang ular itu. Tegasnya, kita tidak perlu berusaha mengubah sifat ular belang itu supaya tidak berbisa. Tindakan kita yang tepat dalam menghadapi ular itu, ialah menyingkiri atau mengusirnya.

Melihat dan mengerti terhadap rasa batin (emosi} pun dapat menimbulkan rasa bebas atau tidak berselisih, antara batin yang melihat dan batin yang dilihatnya. Sebaliknya, bila melihat dan mengerti terhadap rasa-rasa itu terpisah, hal itu tidak menimbulkan kebebasan, melainkan perselisihan. Misalnya kita sedang marah, kita menyadari kemarahan itu. Tetapi kita tidak mengerti makna marah kita itu. Karena itu kita menentang kemarahan kita, yang berwujud perbuatan menahan marah. Pertentangan itu merupakan perang batin, dalam mana pada suatu saat kita merasa “aku marah”, pada saat kemudian kita merasa “aku menahan marah”. Sehingga kita bingung untuk menentukan diri kita sendiri ini yang mana. Yang marah, atau yang menahan marah. Kita mengira bahwa kedua rasa itu, berasal dari dua unsur yang berlainan. Padahal, rasa yang marah dan rasa yang menahan marah itu sebenarnya adalah sama sifatnya. Pada waktu kita marah, kita merasa bahwa kemarahan itu akan menimbulkan tindakan yang berakibat tidak enak. Untuk menghindari hal itu kita lalu berusaha menahan marah, atau dengan kata lain, menentang marah. Jika diteliti rasa menahan atau menentang marah itu, ternyata juga rasa marah; yakni marah terhadap diri-sendiri. Kalau semula kita marah terhadap orang lain, kini kita marah terhadap diri sendiri. Jadi yang yang menahan marah adalah si marah, yang masih bersifat sama. Pengertian di atas itu melahirkan kesadaran bahwa diri-sendiri si-marah tidak dapat mengubah kemarahan sendiri.

Dengan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa diri-sendiri “si marah”, tidak dapat mengubah sifat dirinya. Setiap kali kita berusaha mengubah diri sendiri, selalu tidak berhasil, melainkan berganti rupa. Yaitu si marah menjadi si menahan marah. Bila kita sudah mengerti bahwa kita tidak dapat mengubah diri-sendiri, maka kita tidak ingin mengubah. Bila kita, dalam keadaan perang batin itu tidak ingin mengubah diri-sendiri, maka diri-sendiri lalu ‘diam, tidak bergerak’. Dengan kata iain, berarti diri-sendiri ‘mati’. Sudah tentu yang mati bukan raga kita, melainkan rasa “aku” kita, atau rasa “aku” si Kramadangsa. “Kramadangsa” ini adalah rasa “aku”, identik dengan namanya sendiri-sendiri. Orang itu mempunyai nama sendiri-sendiri, dan merasa “aku” dengan namanya sendiri-sendiri. Jika ia bernama Suta, ia merasa aku si Suta, jika ia bernama Naya, ia merasa aku si Naya. Rasa aku identik dengan nama sendiri ini, saya beri istilah “Kramadangsa”.

Jadi yang marah itu adalah diri-sendiri yang merasa aku si Kramadangsa, dan yang menahan marah pun si Kramadangsa. Jika Kramadangsa ini mati, tentu perbuatan marahnya tidak terlaksana. Mengerti atas kemarahan sendiri demikian itu, kita bebas dari kemarahan kita sendiri. Artinya kita tidak bertentangan dengan marah kita. Kebebasan ini, pasti melahirkan perbuatan benar, yang tidak mungkin salah. Bila kita bergaul dengan orang lain, kita dapat mengetahui rasa orang itu. Mengetahui rasa orang lain pun, menimbulkan rasa bebas, yang tidak berselisih dengan orang lain. Tidak berselisihan ini, berarti tidak menabrak rasa orang lain, oleh karenanya damai dalam hubungannya.

Rasa yang perlu dilihat dan dimengerti itu, ialah rasa kita sendiri. Karena meskipun kita mengetahui banyak macam barang-barang, tetapi bila kita tidak mengetahui diri kita sendiri, pasti berselisihan dengan diri-sendiri, dan timbulah perang batin (konflik). Tetapi kita takut melihat diri-sendiri dan kita berusaha menutupi diri-sendiri, supaya tidak tampak seperti diri-sendiri. Bila diri-sendiri sudah kelihatan tidak seperti diri-sendiri, barulah kita puas. Jadi kita tidak puas hanya sebagai mana adanya diri-sendiri. Sekarang, mari kita teliti rasa kita sendiri, yang takut melihat diri-sendiri ini.

Terlebih dahulu saya jelaskan dalil saya, ialah bahwa kita takut melihat diri-sendiri ini adalah sama dengan setiap orang. Tetapi kita takut melihat kenyataan, bahwa diri kita itu sama dengan orang lain. Maka kita cari tutupnya, untuk menutupi diri-sendiri, supaya tidak sama dengan setiap orang. Sehingga kita berusaha mati-matian mencari kekayaan, kedudukan dan kekuasaan (bhs. Jawa: semat, drajat, kramat) untuk menutupi diri-sendiri, agar supaya tidak tampak keadaan yang sesungguhnya. Kekayaan atau harta benda, kecuali untuk kebutuhan penghidupan, kita pakai untuk menutupi diri kita. Misalnya kita memakai pakaian baru yang mahal dan bagus, kita lantas congkak dan sombong. Rasa congkak dan sombong ini jika diteliti, berarti kita merasa beda dari keadaan kita yang sebenarnya, yaitu kita sudah merasa lain dari pada setiap orang.

Bila kita melihat dan mengerti bahwa diri kita adalah sama dengan setiap orang, maka kita dapat meneliti diri-sendiri sebagai berikut: “Saya memakai baju baru mengapa menjadi congkak, sombong, ini karena apa? Apakah kalau bajuku baru, diriku pun turut menjadi baru? Sudah barang tentu sifat diriku yang sebenarnya, masih tetap sama seperti yang kemarin itu.” Demikian kita menutupi diri-sendiri namun tidak mengubah keadaan yang sesungguhnya.

Kedudukan pun dipakai untuk menutupi diri kita sendiri. Misalnya kita baru saja memperoleh kenaikan pangkat, lantas kita merasa congkak, sombong. Bila kita mengerti bahwa diri-sendiri sama dengan setiap orang, maka kita dapat meneliti kecongkakan dan kesombongan kita demikian: “Aku dapat kenaikan pangkat, mengapa menjadi congkak, sombong ini karena apa? Apakah kalau pangkatku tinggi, sifat batinku pun menjadi tinggi? Sudah tentu sifat diriku yang sebenamya masih sama saja seperti yang kemarin itu.”

Bila kita memeluk salah satu agama, agama ini pun kita gunakan untuk menutupi diri kita sendiri, supaya tidak kelihatan keadaan yang benar, dan kita dapat menyombongkan diri. Memang agama itu baik karena ia mengajarkan: “Janganlah berdusta.” Tetapi apakah kita dengan menganut pelajaran itu, lantas menjadi baik dan tidak berdusta? Sudah barang tentu sifat batin kita yang sesungguhnya, masih tetap seperti kemarin ini. Demikian kita berusaha menutupi diri, namun kita tetap sebagaimana adanya.

Umpama kita masuk suatu kelompok ideologi yang bersemboyan: “Sama Rata Sama Rasa”. Semboyan itu pun kita pakai untuk menutupi diri kita. Sehingga kita sombong dan merasa sudah berbeda dari kita sendiri. Padahal sifat kita masih tetap sama, yaitu kita masih suka menyembunyikan uang isteri kita dan tidak berlaku sama rata sama rasa. Demikian itu kita berusaha mati-matian mencari tutupnya, untuk menutupi supaya tidak tampak seperti kita sendiri.

Ada lagi tutup yang berupa nama-nama dari orang-orang termashur. Misalnya yang kita pakai nama-nama jalan, seperti jalan Diponegoro, Imam Bonjol dan lain-lain. Hal mana mencerminkan bahwa kita berpegangan pada orang-orang ternama.

Misalnya kita mengandal pada Prabu Joyoboyo yang di dalam dongeng kesohor, karena ia dapat meramalkan masa tujuh ratus tahun yang akan datang. Orang ternama itu, sering kita pergunakan untuk menakuti isteri kita sendiri, demikian: “Lihatlah Prabu Joyoboyo ini, ternama, hal-hal yang akan terjadi tujuh ratus tahun kemudian, ia sudah mengetahuinya. Apakah kamu tidak takut?” Biasanya isteri kita menjawab: “Kalau terhadap Prabu Joyoboyo, aku takut. Tetapi terhadap kamu, tidak!” Demikian kita mati-matian mencari tutup, yang berupa orang-orang termashur, untuk menutupi diri kita, agar tidak tampak keadaannya yang asli.

Sekarang marilah kita teliti, bagaimana sifat kita yang sama dengan setiap orang itu? Kita masing-masing merasa pribadi, yaitu merasakan apa saja secara sendiri, tidak dapat mewakilkannya kepada orang lain. Umpama saya menderita sakit gigi, dan saya minta saudara saya untuk mewakili penderitaan itu. Dapatkah sakit gigi itu dipindahkan kepada orang lain, pastilah tidak mungkin. Mau tidak mau, harus saya derita sendiri. Demikian rasa pribadi, yang berarti menanggung sendiri segala perasaan kita.

Oleh karena setiap orang itu merasa pribadi, maka kita masing-masing mencari enak (senang) sendiri (pribadi); dengan tidak mempedulikan orang lain. Meskipun orang lain itu terdiri dari anak atau isteri kita. Maka kita ini sebenarnya tidak mencintai anak-isteri kita, melainkan pura-pura mencintai mereka. Demikian kita menutupi diri supaya tidak kelihatan sifat kita yang sebenarnya.

Mari saudara-saudara saya ajak bersama-sama meneliti diri kita sendiri. Apakah kita, benar-benar mencintai suami/isteri kita? Ingatlah akan maksud kita pada waktu kita memilih calon suami/isteri kita. Apakah benar-benar kita ingin membahagiakan mereka sebagai manusia? Kaiau kita ingin membahagiakan manusia saja, ada ribuan manusia yang bersedia untuk dibahagiakan. Tetapi kita hanya ingin membahagiakan satu orang saja, yaltu calon suami/isteri kita. Maka jelaslah keinginan itu bukanlah cinta kasih, melainkan rindu asmara, mengejar kenikmatan diri-sendiri. Rasa hati kita: “Bila aku berjodoh dengan orang itu, aku akan senang sekali.” Kita semata-mata memikirkan kesenangan diri-sendiri dengan tidak memperdulikan kepentingan calon suami/isteri kita. Jadi menghargai suami/isteri kita, hanyalah sebagai barang untuk kesenangan. Sama dengan barang-barang kesenangan yang berupa burung perkutut, kucing, dengkek (nama kartu ceki, dalam bahasa Jawa) dan sebagainya. Misalnya kita memelihara burung perkutut, bila burung itu bersiul bagus “hoorketekung”, kita akan menambah makannya, air minumnya, dan memandikan serta mengereknya tinggi-tinggi. Tetapi bila burung itu berbunyi buruk “tekekkek”, kita lantas benci dan membantingnya. Demikian juga tindakan kita terhadap suami/isteri kita, bila mereka tidak menyenangkan kita, seperti perkutut yang berbunyi “hoorketekekkek” kita segera membantingnya. Maka dalam setiap pertengkaran antara suami-isteri, tidak lain dan tidak bukan disebabkan oleh tindak-tanduk yang tidak menyenangkan satu sama lain, seperti perkutut bersiul “hoorketekekkek” itu.

Oleh karena kita tidak mau melihat diri-sendiri sebagaimana adanya, maka kita lalu menutupi diri sebagai berikut: “Sebetulnya aku ini mencintai isteri, buktinya aku membelikan pakaian dan rumah yang bagus.” Tetapi kalau diteliti, apakah membelikan barang-barang itu berarti cinta? Misalnya seorang suami, tatkala ia pulang dari luar negeri, membawa oleh-oleh berupa kain-kain indah untuk isterinya; dengan harapan bahwa sang isteri tentu akan senang dan ketawa bila melihat barang-barang tanda kecintaannya. Tetapi ternyata isterinya tidak ketawa senang, malah mengomeli: “Kamu pergi jauh-jauh ke luar negeri, hanya membawa kain semacam itu, di Jakarta saja banyak yang menjualnya.” Bagaimana tanggapan suami itu, apakah ia masih tetap mencintai isterinya? Tentulah tidak, bahkan sebaliknya, ia akan kecewa dan marah. Maka jelaslah, hal itu bukanlah cinta kasih, melainkan sebagai hal jual-beli, yakni si suami membayar dengan kain untuk membeli tawa si isteri. Demikian dalam hubungan suami-isteri, masing-masing pihak mengharapkan faedah sebanyak-banyaknya, dan memberi faedah sedikit mungkin.

Begitu juga terhadap anak-anak kita, kita pun tidak mencintainya. Yang sering kita anggap sebagai cinta kasih, ialah hasrat hidup untuk melangsungkan keturunan. Misalnya di waktu anak kita masih kecil, kita rawat baik-baik supaya bisa berlangsung hidupnya. Sama halnya dengan kucing atau hewan lain, yang melindungi anaknya yang masih kecil. Tetapi bila anak itu sudah dewasa, kita sering mengajaknya bertengkar. Padahal pertengkaran itu bukanlah cinta kasih.

Di samping untuk melanjutkan keturunan, anak itu kita anggap sebagai dana pensiun dan alat kebanggaan. Kita merasa: “Anakku kudidik demikian rupa, agar ia memperoleh ijazah dan kedudukan baik dengan penghasilan besar. Karena jika saya sudah tua dan tidak kuat lagi bekerja, anakkulah yang memberi pensiun padaku.” Bahkan penilaian ini sering menyeleweng jauh demikian: “Jika anakku berpenghasilan besar, sedang aku sudah tua, tidak bekerja lagi, tetapi masih butuh tambah isteri, maka kuharap ia akan mengawinkan aku lagi.”

Selain untuk cadangan pensiun, kita menilai anak sebagai alat kebanggaan. Maka jika anak tidak membanggakan kita, tetapi mencemarkan nama kita, marahlah kita dan mengusirnya. Demikian persamaan diri kita dengan orang lain, atau setiap orang, yaitu kita sendiri merasa pribadi, mencari enak pribadi, dengan mengorbankan orang lain; walaupun anak-isteri/suami sendiri. Oleh karena itu, kita sendiri bila diganggu atau dirugikan lantas marah, sekalipun yang mengganggu anak-isteri-suami. Jadi sifat kita ini sebenarnya buas, galak. Padahal marah itu tidak mengenakkan, melainkan menyakiti orang lain, maka kita ini suka menyakiti orang lain; ibarat senjata yang ampuh. Jadi dapat dikatakan kita ini buas! galak dan ampuh, yang sama dengan tabiat sewenang-wenang. Maka kesimpulannya sifat kita sendiri ini buas, ampuh, sewenang-wenang, yang sama dengan orang lain atau setiap orang.

Bila kita mengerti bahwa sifat diri-sendiri yang buas, ampuh dan sewenang-wenang ini sama dengan orang lain, kita segera mengerti bahwa tidak ada orang yang baik. Pengertian itu membuat kita tidak lagi dapat dikelabui oleh pernyataan adanya orang baik. Dunia menjadi kacau-balau sekarang ini, karena manusia kena dikelabui oleh pernyataan tentang adanya orang baik. Sering kali dikabarkan bahwa di sana ada orang baik, lantas kita ikut-ikutan menyatakan benar ia baik, dan mempercayainya saja; tetapi pada akhirnya kita kecewa.

Jadi bila kita mengerti bahwa kita sendiri buas, ampuh, sewenang-wenang sama dengan orang lain; kita tidak dapat ditipu oleh pernyataan adanya orang baik, dan tidak dapat menipu pada diri-sendiri, dengan berpura-pura baik. Hal mana berarti kita melihat kenyataan yang ada pada diri-sendiri. Pengertian diri-sendiri inilah, yang seharusnya dipakai sebagai landasan membangun masyarakat.

Pada masa sekarang ini, pembangunan masyarakat kita tidak berdasar atas hal-hal yang nyata, tetapi berdasarkan atas cita-cita yang tidak nyata, yang dapat menimbulkan bentrokan. Membangun masyarakat yang luas itu, harus dimulai dari masyarakat lingkungan kecil; yaitu lingkungan keluarga.

Bila kita mengetahui kenyataan kita sendiri, kita dapat mengetahui pula kenyataan keadaan anak kita. Kalau diselidiki, ternyata anak itu dendam terhadap kita. Mengetahui dendam anak kita itu lebih mudah dari pada mengertinya. Misalnya pada masa kanak-kanak, kita setiap kali menderita susah, kita selalu menyalahkan orang tua kita. “Kalau orang tuaku tidak begini atau begitu, tentu aku tidak akan menderita seperti sekarang.” Kemudian kita dapat pula mengetahui kenyataan isteri/suami kita, yang kecewa terhadap kita; karena mereka merasa menjadi korban dari watak sewenang-wenang kita.

Dalam membangun masyarakat, orang sering kali menanyakan: “Apakah seseorang itu diperuntukkan masyarakat, atau masyarakat itu diperuntukkan seseorang?” Pertanyaan tersebut telah lama usianya, dan memperoleh dua macam jawaban. Yaitu yang pertama, bahwa seseorang untuk masyarakat dan yang kedua adalah masyarakat untuk seseorang.

Jawaban bahwa masyarakat itu untuk seseorang, ini berarti yang dipentingkan adalah perseorangan. Masyarakat harus memberi kemerdekaan kepada seseorang. Kemerdekaan yang diberikan kepada setiap orang itu, dipergunakan oleh masing-masing orang, untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya, tidak kenal batas. Sehingga menimbulkan bentrokan dengan kepentingan masyarakat. Hal itu kemudian meletus menjadi pemberontakan atau peperangan. Padahal perang adalah bertentangan dengan tujuan hidup. Kalau tujuan hidup ialah untuk melangsungkan kehidupan, sedangkan perang adalah bunuh membunuh. Maka perang, dengan dalih apapun adalah jahat dan keliru.

Jawaban lainnya bahwa seseorang untuk masyarakat, ini pun keliru. Karena pertanyaannya sendiri keliru, maka bila dijawab, jawabannya pasti keliru. Kekeliruan ini terdapat pada kedua pertanyaan, yang berupa pemisah seseorang dari masyarakat. Sedang keadaan yang sebenarnya, seseorang dan masyarakat bukan dua badan terpisah, melainkan satu badan kesatuan. Masyarakat itu terjadi dari hubungan seorang dengan seorang, yang diatur dengan peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian atau undang-undang. Undang-undang ini jika ditulis dinamakan tata-negara, jika tidak ditulis dinamakan aturan masyarakat. Undang-undang negara adalah perjanjian dalam hubungan antara warga negara, Undang-undang masyarakat ialah perjanjian dalam hubungan antara perseorangan. Sifat undang-undang atau hubungan Itu tergantung pada sikap jiwa orangnya. Bila jiwa orang yang berhubungan itu tenteram dan damai, maka hubungannya (masyarakat) pun tenteram dan damai. Tetapi bila orangnya gelisah, hubungannya (masyarakat) pun menggelisahkan. Jadi kalau undang-undang atau hubungan itu ibarat asapnya, orangnya adalah sebagai apinya. Maka bila usaha kita hanya menghilangkan asapnya, tanpa memadamkan apinya, usaha itu pasti akan sia-sia saja.

Manusia kerapkali mengalami kesulitan-kesulitan yang berupa pertikaian. Tiap-tiap pertikaian selalu dipecahkan dengan undang-undang, tetapi tidak pernah berhasil. Demikian menurut sejarah, telah terjadi juga di negara kita Indonesia. Pada jaman Majapahit, timbul perselisihan yang mengobarkan perang saudara. Kesudahan dalam perang saudara itu, Majapahit kalah dan berdirilah kerajaan Demak, serta mengganti undang-undang negara. Apakah setelah diadakan undang-undang baru, lantas tidak timbul pertikaian lagi? Tidak, pertikaian berjalan terus, sehingga pecah perang saudara lagi. Perang itu berakhir dengan kerajaan Demak kalah, dan yang menang mendirikan kerajaan di Mataram. Kerajaan baru ini pun mengganti undang-undang lama dengan yang baru. Setelah ada undang-undang baru, apakah tiada perselisihan lagi? Tidak, perselisihan masih saja terjadi, dan mengobarkan perang saudara lagi, dengan kesudahan Mataram kalah. Kemudian datanglah penjajah Belanda, yang menamakan tanah air kita Hindia Belanda, dan mengadakan undang-undang baru. Apakah setelah undang-undang baru pertikaian lantas lenyap? Tidak, pertikaian tetap terjadi. Sampai pada tanggal 17 Agustus 1945, kita memberontak sehingga lenyaplah penjajah itu. Dan lahirlah Republik Indonesia, dengan undang-undang baru yakni undang-undang berdasar Pancasila. Apakah setelah ada undang-undang tdak ada perselisihan? Saudara-saudara dapat membuktikan sendiri, bahwa perselisihan senantiasa ada saja. Jadi jelaslah bahwa kesulitan itu tidak dapat diselesaikan dengan undang-undang.

Kita bangsa Indonesia dalam membangun negara Indonesia kerapkali salah, yaitu yang dibangun bukan negara Indonesia. Misalnya pada jaman Majapahit, terjadi pecah perang saudara yang berakhir runtuhnya kerajaan Majapahit. Keruntuhan Majapahit itu, tidak berarti meruntuhkan negara Indonesia. Maka negara Indonesia ini tidak dapat diketahui sejak kapan adanya. Catatan yang ada dan yang tertulis dibatu-batu pun tidak dapat mengungkapkan, sehingga orang tidak dapat menafsirkan kapan mulainya, dan akan berakhirnya negara Indonesia. Oleh karena demikian panjang usianya, maka dapat dikatakan negara Indonesia itu langgeng abadi. Membangun negara Indonesia yang abadi, tidak seperti kerajaan Majapahit yang tidak abadi. Keruntuhan kerajaan Majapahit, tidak berarti keruntuhan negara Indonesia, melainkan keruntuhan golongan pemimpin Majapahit, yang tindakannya sewenang-wenang. Begitu juga kehancuran kerajaan-kerajaan Demak, Mataram, pemerintah Hindia Belanda, tidak berarti kehancuran negara Indonesia, kecuaii kehancuran pemimpin-pemimpinnya yang bertindak sewenang-wenang. Jadi kerajaan Majapahit, Demak, Mataram, Hindia Belanda dan Republik Indonesia itu, bukanlah negara Indonesia yang abadi melainkan sebagai ombak negaranya. Ombak itu kerapkali mengalami pasang-surut. Tatkala kerajaan Majapahit sedang gilang-gemilang, ombak negara Indonesia mengalami pasang. Tetapi ketika kerajaan di atas runtuh, ombak negara Indonesia mengalami surut. Ombak yang pasang-surut itu, tidak mempengaruhi adanya negara Indonesia.

Maka untuk membangun negara Indonesia, terlebih dahulu harus dilihat sebabnya pasang-surut ombak negara Indonesia. Keterangannya sebagai berikut. Setiap negara di mana saja, pada jaman apa saja, selalu dikuasai oleh segolongan warga negaranya, walaupun dalam undang-undang dasarnya, dinyatakan bahwa negara itu harus dikuasai oleh seluruh warganya, pada kenyataannya negara itu hanya dikuasai oleh segolongan warganya. Golongan yang menguasai itu ialah golongan terpelajar. Golongan terpelajar itu, ialah golongan yang mengerti undang-undang negara. Golongan terpelajar jaman dulu dan jaman sekarang tentu saja berbeda, tetapi pada dasarnya adalah sama, ialah yang mengerti undang-undang.

Setiap golongan yang menguasai negara, pasti mabuk kekuasaan, dan mabuk kuasa ini pasti melahirkan perbuatan sewenang-wenang. Tindakan sewenang-wenang ini, selanjutnya membangkitkan pemberontakan, yang dapat menggulingkan pemerintahan yang ada. Bila kadang-kadang pemberontakan itu gagal, hal mana disebabkan belum matangnya tindakan sewenang-wenang itu. Misalnya pada jaman Majapahit ada pemberontakan yang gagal, yang dilakukan oleh Minakjinggo dan lain-lain. Kegagalan itu disebabkan perbuatan pemimpin-pemimpin Majapahit, yang sewenang-wenang itu, belum matang {belum cukup hebat). Tetapi setelah tindakan sewenang wenang dari pemimpin Majapahit matang, atau sudah sampai batas waktunya, pemberontakan yang timbul itu berhasil, dan mereka itu lalu mendirikan kerajaan Demak. Demikianlah sejarah negara Indonesia, yang hanya berisi segolongan warganya berkuasa, mereka lantas mabuk, dan bertindak sewenang-wenang, yang mengundang pemberontakan. Sehingga kini belum mengalami kemajuan.

Kalau kita hendak membangun negara Indonesia yang abadi, haruslah dicari jawaban atas pertanyaan, “Bagaimanakah caranya, orang berkuasa, tetapi tidak mabuk dan tidak bertindak sewenang-wenang”. Kalau kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini, berarti kita tidak dapat membangun negara Indonesia yang abadi. Sehingga kini, belum ada suatu jaminan untuk menjamin orang yang berkuasa pasti tidak mabuk dan tidak bertindak sewenang-wenang. Yang ada hanyalah baru janji-janji, atau kesanggupan-kesanggupan dari golongan-golongan. Yaitu bila nanti golongannya berkuasa, negara ini hendak diaturnya begini-begitu.

Jaminan satu-satunya agar supaya kita dalam memegang kekuasaan tidak akan mabuk dan tidak akan bertindak sewenang-wenang ialah bila kita yakin bahwa manakala kita berkuasa, pasti mabuk kekuasaan dan pasti berbuat sewenang-wenang. Karena biasanya, belum berkuasa saja, kita sudah merencanakan caranya, bagaimana kita akan mabuk dan sewenang-wenang. Misalnya seorang tua yang giginya ompong, ia merencanakan mabuknya: “Nanti bila aku berkuasa, pasti kubeli gigi palsu.” Jika kita mengerti bahwa diri-sendiri ini buas, ampuh, sewenang-wenang, rencana mabuk di atas dapat kita teliti sebagai berikut: “Aku hendak membeli gigi palsu ini untuk apa? Kalau hanya untuk menggigit uli saja, tidak usah pakai gigi pun dapat.” Jelaslah gigi itu akan dipakai menggigit kulit yang masih ulet.

Jadi untuk membangun negara Indonesia yang abadi itu, kita harus senantiasa mengawasi dan mengerti sifat diri-sendiri, yang galak, ampuh dan sewenang-wenang. Setiap detik langkah kita, tentu berasal dari rasa mabuk kuasa dan watak sewenang-wenang. Tetapi sifat mabuk dan sewenang-wenang itu, jika diteliti sedalam-dalamnya sehingga selesai, rasa itu tidak melahirkan perbuatan sewenang-wenang. Namun setelah penelitian tadi selesai, pada saat berikutnya tentu timbul rasa sewenang-wenang lagi. Dan jika diteliti lagi, segera selesai laqi. Jadi penelitian diri-sendiri itu hendaknya dilakukan setiap detik, pada setiap rasa yang timbul. Demikianlah caranya membangun negara Indonesia yang abadi.

Melihat dan mengerti akan sifat-sifat diri-sendiri, yang sewenang-wenang itu, menimbulkan revolusi jiwa. Revolusi jiwa adalah perubahan jiwa, yang terjadi dalam diri kita sendiri, dan mengakibatkan perubahan sikap kita terhadap diri-sendiri dan orang lain. Melihat sifat kita sendiri yang galak, ampuh, sewenang-wenang, sama dengan setiap orang, maka kita tidak dapat melengahkannya barang sekejap saja. Karena kelengahan terhadap diri kita sendiri barang sedetik saja, cukuplah menyempatkan kita untuk mengganggu orang lain atau diri-sendiri.

Jadi jika kita hendak membangun negara Indonesia yang abadi, kita harus senantiasa mengawasi diri kita sendiri, yang berwatak tetap sewenang-wenang.

selesai

Filsafat Rasa Hidup

Filsafat ialah pengetahuan tentang segala apa yang ada. Filsafat memberi jawaban atas pertanyaan “Apakah hakikatnya segala yang ada di atas bumi dan di kolong langit?”

Segala apa yang ada ini dapat dibagi dua bagian, yaitu benda hidup dan benda tidak hidup. Benda tidak hidup berupa cangkir, piring, meja, kursi, batu dan sebagainya. Benda hidup berupa tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia. Jadi segala apa yang ada hanya terdiri dari benda hidup dan benda tidak hidup, selain itu tidak ada.

Benda tidak hidup tidak bergerak, kecuali bila digerakkan oleh benda lain. Sedangkan benda hidup bergerak walaupun tidak digerakkan oleh benda lain. Dengan demikian maka hidup itu bersifat gerak pribadi (dapat bergerak sendiri).

Gerak dan diam ialah sifat laku (bhs. Jawa: lelampahan). Diam ialah tetap pada tempatnya, dan bergerak ialah berpindah tempat, walaupun yang bergerak hanya bagian benda itu. Jadi hidup itu bersifat gerak. Yang bergerak ialah satu persatu benda jadi. Wujud satuan benda jadi ialah hewan, manusia, meja, kursi dan sebagainya. Wujud manusia sebagai benda disebut badan (raga). Raga manusia senantiasa dapat bergerak sendiri. Kalau raga itu tidak dapat lagi bergerak sendiri, maka raga itu disebut mati. Jadi mati ialah tidak lagi dapat bergerak sendiri.

Kalau kita mengerti bahwa hidup ialah laku, maka orang bebas dari anggapan bahwa hidup ialah benda. Anggapan bahwa hidup itu benda, menimbulkan persoalan yang berupa pertanyaan sebagai berikut, “Bila orang telah meninggal, maka akan ke manakah hidupnya?”. Teranglah pertanyaan ini menanyakan tempat benda, yaitu si hidup yang dianggapnya benda.

Yang memerlukan tempat ialah benda, tetapi gerak tidak memerlukan tempat. Misalnya duduk ialah suatu gerak, dan oleh karena itu tidak memerlukan tempat. Yang membutuhkan tempat ialah raga yang duduk; seperti halnya si Dadap duduk di kursi. Jadi yang memerlukan tempat di kursi ialah raga si Dadap.

Laku dapat dibagi-bagi menurut artinya. Bagian-bagian laku merupakan rentetan kejadian yang saling kait-mengait dalam hubungan sebab dan akibat, yang berlangsung di dalam waktu (jaman). Maka laku memakan waktu.

Benda hidup dapat dibagi menjadi tiga golongan, yakni tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Benda hidup yang dinamakan manusia, ia merasa hidup. Jadi manusia mempunyai rasa hidup. Rasa hidup inilah yang mendorong manusia bergerak.

Di sini perlu diselingi keterangan, bahwa tindakan manusia itu terdorong oleh perasaannya. Orang mencari minum karena terdorong oleh rasa haus, dan orang ingin tidur karena terdorong oleh rasa kantuk.

Bahkan bukan saja gerak manusia, tetapi gerak semua benda hidup, tumbuh-tumbuhan atau hewan, juga didorong oleh rasa hidup. Karena gerak benda hidup terdorong oleh rasa hidup, maka maksud gerak semua benda hidup ialah supaya hidupnya berlangsung terus. Maka rasa hidup menolak kematian.

Sebagai contoh, misalnya pohon mangga itu bergerak, dan akar-akarnya masuk ke dalam tanah mencari makanan, tentu dengan maksud agar hidupnya berlangsung walaupun tidak disadari. Setelah besar (dewasa) pohon mangga itu tidak berhenti di situ saja, tetapi tentu akan berbunga, dan bunga ini menjadi putik yang kemudian menjadi buah. Buah mangga itu setelah masak akan jatuh di tanah, yang kemudian tumbuh menjadi pohon mangga lain lagi. Maka bila pohon yang tua mati, yang muda akan menggantikan hidupnya.

Keadaan seperti di atas yang melangsungkan jenis pohon mangga, karena pohon muda itu pun bila sudah dewasa akan berbuah, dan demikian seterusnya. Jadi selain melangsungkan hidupnya, gerakan pohon mangga itu pun melangsungkan jenisnya.

Di sini jelaslah bahwa gerak pohon mempunyai dua macam maksud, yakni agar dapat melangsungkan hidupnya dan melangsungkan jenisnya. Demikian juga maksud gerak hewan dan manusia. Maka maksud gerak bagi pohon, hewan dan manusia ialah sama, yaitu supaya dapat melangsungkan hidup dan jenisnya.

Gerak manusia yang ditujukan untuk melangsungkan hidupnya seperti makan, berpakaian, bertempat tinggal (bhs. Jawa: pangan, sandang, papan) disebut memenuhi kebutuhan hidup (bhs. Jawa: pangupa jiwa). Bila tidak makan, manusia akan menjadi sakit, dan kemudian mati. Maka makan ialah kebutuhan hidup. Kegunaan pakaian ialah untuk melindungi badan dari hawa panas atau dingin. Karena bila terserang panas atau dingin yang hebat, badan menjadi sakit, dan kemudian mati. Maka pakaian merupakan kebutuhan hidup. Kegunaan tempat tinggal ialah untuk beristirahat atau tidur. Bila tidak tidur orang menjadi sakit, dan kemudian mati. Maka tempat tinggal atau perumahan merupakan kebutuhan hidup.

Gerak manusia yang ditujukan untuk melangsungkan jenisnya berupa perkawinan. Bila tidak kawin, orang tidak dapat beranak-cucu, hingga habislah jenis manusia. Maka perkawinan merupakan kebutuhan hidup.

Demikianlah, “pangupa jiwa” dan perkawinan menjadi kebutuhan hidup. Bila kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi maka orang akan mati atau tidak akan berketurunan. Oleh karena itu, bila kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi, orang merasa senang dan bila tidak, orang merasa susah. Maka rasa hidup ini menimbulkan takut mati dan takut tidak berketurunan, dan mendorongnya untuk menghindari apa yang dapat menyebabkan ia mati atau tidak mempunyai keturunan.

Penyakit, kelaparan, ketelanjangan, tidak bertempat tinggal dan sebagainya, merupakan sebab kematian. Yang menyebabkan tidak berketurunan, ialah tidak dapat jodoh, perceraian, mandul, dan sebagainya. Jadi takut mati dan takut tidak mempunyai keturunan, menurut rasa hidup ialah wajar.

Bila jiwa mengalami kelainan, sering orang melakukan pantang makan, pantang tidur, pantang istri/suami dan sebagainya. Kelainan jiwa ini disebabkan karena keinginan memperoleh keunggulan dalam suatu hal (bhs. Jawa: linangkung) atau karunia dari Yang Mahakuasa. Menolak kebutuhan hidup demikian itu tidak wajar.

Menolak kebutuhan hidup menimbulkan perang batin. Padahal perang batin mengakibatkan penderitaan. Maka menolak kebutuhan hidup berarti mengalami penderitaan jiwa (bhs. Jawa: cilaka).

Bagaimanakah perang batin itu timbul? Seseorang yang pantang makan tentu akan merasa lapar. Di situ rasa ingin makan bertentangan dengan rasa pantang makan, maka terjadilah perang batin. Dalam perang batin kadang-kadang diri sendiri menjadi “yang ingin makan”, dan kadang-kadang menjadi “yang pantang makan”. Ketika menjadi “yang ingin makan”, rasanya “aku ingin makan”. Ketika menjadi “yang pantang makan”, rasanya “aku pantang makan”. Akulah yang menguasai nafsuku, dan yang ingin makan ialah godaan. Seolah-olah dirinya sendiri pecah menjadi dua. Demikian kebingungan seorang bila timbul perang batin, sehingga sangat sukar untuk mengatakan yang manakah dirinya sendiri.

Apabila orang menyadari kelainan dalam jiwanya, yang berupa keinginannya memperoleh keunggulan atau karunia, perang batin itu sirna. Lenyapnya perang batin, membangunkan rasa tenteram.

Kebudayaan

Semua gerak tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia, didorong oleh rasa hidup dengan maksud yang sama, yakni supaya berlangsung hidupnya dan jenisnya. Tetapi cara manusia bergerak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Cara bergerak tumbuh-tumbuhan dan hewan berlangsung tanpa pengertian, karena mereka tidak memiliki pikiran. Sedangkan cara bergerak manusia berlandaskan pengertian, sebab manusia memiliki pikiran. Jadi perbedaan antara manusia dan benda hidup yang bukan manusia, hanya terletak pada kenyataan, bahwa yang satu mempunyai pikiran, sedang yang lain tidak mempunyainya.

Jika seseorang memakai pikirannya untuk berpikir, maka ia akan mendapat pengertian. Jumlah pelbagai pengertiannya ini merupakan ilmu. Maka tindakan manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya perlu berlandaskan ilmu, karena tanpa ilmu ia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Benda hidup lain, kecuali manusia, dapat bertindak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa ilmu. Misalnya telur itik yang menetas langsung menjadi anak itik. Anak itik itu walaupun baru sehari umurnya, bila terjun ke air sudah pandai berenang. Sedang manusia yang belajar berenang dalam tiga bulan lamanya, masih kalah pandainya dari anak itik. Dalam usahanya mencari makanan, anak itik tidak pernah mendapat didikan dari induknya, namun ia tidak pernah salah menelan pecahan kaca.

Demikianlah tindakan hewan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dapat terlaksana tanpa pengertian. Sebaliknya bayi berusia satu tahun, bila tidak dijaga oleh pengasuhnya sering menelan batu kerikil, karena ia tidak mengerti. Tetapi karena bayi itu anak manusia, seharusnyalah ia mengerti. Maka supaya tidak bertindak keliru bayi itu perlu diawasi oleh pengasuhnya. Karena itu manusia memerlukan pendidikan.

Jadi tindakan hewan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya tidak bisa keliru. Seekor kucing tidak pernah keliru menerkam ketimun, sedang manusia bisa salah menelan asap tembakau. Kambing tidak pernah menggantung diri, tetapi manusia acapkali menggantung diri. Hewan tidak pernah menyimpang dari maksud tujuan gerak hidup, tetapi manusia bisa menyimpang dari maksud tujuan gerak hidup.

Dari itu bila manusia bertindak tanpa ilmu pengetahuan, maksud tujuan tindakannya tidak akan tercapai. Umpamanya orang menanak nasi, bila tanpa pengetahuan, berasnya tidak bisa menjadi nasi. Bagi manusia, ilmu pengetahuan ialah syarat mutlak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Dalam masyarakat terdapat banyak ilmu pengetahuan guna mencukupi kebutuhan masyarakat dan perorangan. Macam-macam ilmu itu ialah ilmu pertanian, peternakan, pertukangan, sosial, ekonomi, perkawinan, politik, filsafat, ilmu jiwa dan sebagainya. Jumlah semua ilmu yang ada di masyarakat itu dinamakan kebudayaan.

Dengan semua ilmu itu, lahirlah barang-barang buatan manusia, sebagai alat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Karena pikiran bila diolah bisa mengalami kemajuan, maka cara manusia untuk mewujudkan barang-barang bisa mengalami kemajuan juga.

Dalam usaha memenuhi kebutuhan makan, manusia mula-mula mengambil hasil hutan dan memburu hewan, kemudian maju dengan bercocok tanam dan memelihara ternak. Demikian pula dalam hal pakaian, dari hanya memakai kulit kayu atau kulit hewan yang diikatkan pada badannya, kemudian maju memintal benang dan menenun kain. Dalam hal tempat tinggal, dari hanya berdiam di gua, kemudian maju membuat rumah bambu, rumah kayu, rumah gedung dan seterusnya.

Sebaliknya karena hewan tidak mempunyai pikiran, maka alat-alatnya tidak mengalami kemajuan. Misalnya pembuatan sarang burung tempua (manyar). Walaupun sarang itu indah mungil, tetapi seratus tahun yang lampau dan seratus tahun yang akan datang, sarang itu tetap serupa. Ada sejenis hewan yang dianggap lebih maju dari jenis lainnya, tetapi karena alat-alat jenis hewan ini pun tidak mengalami kemajuan, maka apa yang dihasilkan oleh hewan ini tiada pula mengalami kemajuan.

Ada lagi perbedaan antara manusia dan hewan, yakni dalam bidang kesenian. Manusia membutuhkan keindahan yang dirasakan melalui pancainderanya. Kebutuhan tadi diwujudkan dalam bentuk barang yang dapat memenuhi kebutuhan jiwa melalui pancaindera. Barang itu berwujud pelbagai macam seni rupa, seni bangunan, seni gerak dan seni tari yang indah, seni suara, dan macam-macam seni lainnya yang dapat dinikmati melalui hidung, lidah dan alat peraba.

Ada lagi perbedaan antara manusia dan hewan dalam hal rasa, yang disebabkan ada dan tidak adanya pikiran. Hewan hanya mempunyai rasa senang dan susah, tetapi tidak mempunyai rasa bahagia dan derita. Sedang manusia, selain mempunyai senang dan susah, juga mempunyai rasa bahagia dan derita. Karena manusia mempunyai pikiran, maka ia mempunyai cita-cita. Bahagia bila cita-citanya tercapai dan derita bila cita-citanya tidak tercapai.

Cita-cita inilah yang dapat menyelewengkan tindakannya dari tujuan hidup, yaitu kelangsungan hidup pribadinya dan jenisnya. Bila cita-citanya gagal, orang sering bersikap nekad, bahkan bersedia untuk bunuh diri, Ini jelas bertentangan dengan tujuan hidup. Jadi cita-cita itu menyebabkan orang tergelincir dari rel tujuan hidup.

Apabila orang mencita-citakan sesuatu, tetapi tidak mengerti cara bagaimana mencapainya, sering ia berpantang tidur atau berpantang hubungan istri/suami. Padahal semua yang dipantangnya merupakan kebutuhan hidup. Maka pantangan tadi ialah tindakan menyimpang dari jalan tujuan hidup.

Dalam masyarakat terdapat banyak macam ilmu untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jumlah ilmu itu dinamakan kebudayaan. Jadi dalam masyarakat terdapat kebudayaan.

Masyarakat dunia terdiri dari bangsa-bangsa. Bangsa-bangsa itu mendiami tanah yang berbeda-beda keadaannya, ada tanah datar dan ada tanah pegunungan; ada yang hawanya dingin dan ada yang panas. Karena itu, alat-alat untuk mencukupi kebutuhan hidup pun berbeda bagi masing-masing bangsa. Perbedaan alat-alat itulah yang menyebabkan corak kebudayaan masing-masing bangsa berbeda-beda pula.

Perbedaan corak kebudayaan ini sering dipakai sebagai senjata untuk saling mengejek. Ejek-mengejek ini kerap kali menimbulkan peperangan.

Jadi tiap-tiap bangsa, masing-masing mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Ada yang terbelakang dan ada yang maju. Pada umumnya, terbelakang atau majunya kebudayaan suatu bangsa, digunakan sebagai ukuran bagi rendah atau tingginya derajat bangsa itu. Maka bangsa yang tinggi kebudayaannya, dianggap tinggi derajatnya.

Bagian-bagian kebudayaan suatu bangsa, ada yang terbelakang dan ada yang sudah maju. Suatu bangsa, yang cara menggarap sawahnya dengan bajak ditarik hewan, dianggap lebih rendah daripada bangsa lain yang cara menggarap sawahnya dengan mesin. Jadi bajak ditarik hewan, dianggap lebih rendah dari mesin, dalam arti kebudayaan.

Bangsa yang bagian kebudayaannya rendah, dapat belajar dari bangsa lain. Sedang bangsa yang bagian kebudayaannya tinggi, dapat menyumbang pada bangsa lain. Demikianlah bangsa-bangsa dapat saling memperoleh faedah dalam kebudayaan, dan ini memungkinkan terwujudnya kesejahteraan bersama lahir dan batin.

Masyarakat

Ada dua cara hidup hewan, yang satu menyendiri seperti tokek, gangsir (semacam cengkerik), dan yang lain berkelompok seperti lebah dan sebagainya. Cara hidup demikian sesuai dengan hukum alam, karenanya tidak dapat diubah. Lebah jika dipisahkan pasti mati. Sebaliknya gangsir, jika dikelompokkan pasti mati. Sebab dalam kelompok, gangsir selalu berkelahi. Maka bila diubah cara hidupnya, hewan tersebut tidak dapat melangsungkan hidup pribadinya dan jenisnya.

Manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong royong atau kemasyarakatan. Adapun cara bertindak untuk saling memberi dan mengambil faedah masing-masing ialah sebagai berikut: Misalnya tukang besi, pekerjaannya tidak lain hanya memukuli besi. Namun ia makan nasi walaupun tidak menanam padi. Ini hanya mungkin karena adanya saling memberi dan mengambil faedah masing-masing, antara pak tani dan si tukang besi. Tukang besi memperoleh padi dari pak tani dan pak tani memperoleh pacul dari tukang besi. Saling memperoleh kefaedahan di atas, memungkinkan masing-masing pihak merasa cukup dan enak.

Ada contoh lain yang lebih jelas lagi. Misalnya ada nasi sepiring, orang bertanya, “Siapakah yang mengadakannya?” Bila dijawab bahwa pak tanilah yang mengadakannya karena ia yang menanam padi, maka jawaban itu kurang tepat; karena pak tani tidak dapat menanam padi tanpa pacul, garu dan bajak. Bajak dibuat oleh tukang kayu. Karena itu tukang kayu pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Bajak tanpa mata-bajak tidak dapat dipakai. Karena mata-bajak dari besi itu dibuat oleh tukang besi, maka tukang besi pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila pembagian aliran air untuk sawah tidak teratur, maka padi tidak akan tumbuh. Karena itu, pengatur (bhs. Jawa: ulu-ulu) aliran air pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila di antara petani timbul perselisihan dan tidak ada yang mendamaikan, maka mereka tidak sempat menanam padi. Dalam perselisihan itu jaksalah yang mendamaikan mereka. Ini berarti, jaksa pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Apabila tidak diatur pamong praja, pak tani akan saling berebut batas dan pematang (bhs. Jawa: galengan), sehingga pak tani tidak sempat menanam padi. Jadi pamong-praja pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Demikian pula halnya dengan polisi dan tentara yang menjaga keamanan dan pertahanan, mereka pun turut mengadakan sepiring nasi itu. Dengan demikian maka pekerjaan masing-masing orang itu saling berhubungan sehingga setiap orang berhubungan dengan semua orang. Hubungan semacam itu disebut masyarakat.

Agar hidup manusia dapat berlangsung, caranya ialah dengan jalan bermasyarakat. Bila hidup menyendiri, yakni tanpa berhubungan dengan orang lain, orang tentu mati, karena tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Jadi hidup ialah berhubungan.

Apabila menyendiri, orang ingin memakai celana saja tidak mungkin, karena ia harus menanam kapas sendiri, memberantas hama kapas sendiri, memintal dan membuat alat pintal sendiri, membuat paku, menenun dan membuat alat tenun sendiri, yang kesemuanya itu tentu tidak mungkin.

Jadi, nilai pekerjaan setiap orang bagi masyarakat ialah sama. Pekerjaan memotong rumput dan membikin arang, pekerjaan sebagai polisi, tentara atau pamong praja, sama nilainya bagi masyarakat. Karena bila salah satu macam pekerjaan tidak lagi berhubungan dengan masyarakat, maka roda masyarakat tidak dapat berputar secara beres. Andaikata tidak ada orang membuat arang, tukang besi tidak akan dapat membuat pacul, pak tani tidak dapat menanam padi, dan semua orang kelaparan. Demikian halnya dengan lokomotif, yang tidak akan dapat berjalan bila dicabut sebuah sekrupnya. Demikianlah ketergantungan satu orang dengan yang lain.

Apabila seseorang mengerti bahwa kelangsungan hidupnya tergantung pada masyarakat, maka orang akan mengerti bahwa apabila ia mengganggu orang lain, ia akan mengganggu masyarakat. Mengganggu masyarakat berarti pula mengganggu diri sendiri. Jadi mengganggu orang lain sama dengan mengganggu diri sendiri.

Jadi jelaslah bahwa masyarakat ialah diri sendiri. Karena itu, membangun masyarakat ialah membangun diri sendiri, dan membangun diri sendiri ialah membangun masyarakat. Kesadaran akan inilah yang disebut rasa bersatu dengan masyarakat.

Pergaulan

Cara hidup berkelompok ini mengharuskan orang bergaul dengan orang lain. Selain bergaul dengan orang lain, orang pun bergaul dengan benda-benda. Maka dalam pergaulan itu orang bergaul dengan orang lain dan dengan benda-benda.

Karena orang memiliki pikiran, ia akan merasa enak dalam pergaulan bila ia mengerti sifat dari pihak yang diajak bergaul. Bila ia mengerti sifat-sifat dari sesuatu yang dihubunginya, ia akan merasa enak, karena tindakannya benar. Tetapi bila ia tidak mengerti sifat tersebut, ia akan merasa tidak enak karena tindakannya yang salah. Jadi rasa enak atau tidak enak, dalam hubungan ini hanyalah berpangkal pada persoalan mengerti atau tidak mengerti.

Misalnya, bila orang mengerti sifat api, ia akan merasa enak dan bebas berhubungan dengan api, karena ia dapat bertindak benar. Bila tidak disengaja, ia tiba-tiba memegang api sehingga terbakar tangannya, orang pun merasa enak. Rasa enak di sini tidak berarti enak terbakar. Rasa terbakar tentu saja sakit. Tetapi enak di sini berarti rasa tidak menyalahkan api. Jadi mengerti itu menimbulkan rasa merdeka.

Manusia hanya dapat menguasai benda-benda yang ia ketahui dan mengerti sifat-sifatnya. Dengan mengerti angin berikut sifat-sifatnya, orang dapat mempergunakannya untuk menjalankan perahu layarnya, dan sebagainya. Oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa jenis manusia itu merajai dunia.

Begitu juga dalam hubungan dengan orang lain, orang akan merasa enak bila ia mengerti sifat orang lain itu. Untuk mengerti orang lain, lebih dulu. ia harus dapat menjawab pertanyaan, “Manusia itu apa?” Manusia ialah benda hidup yang mempunyai rasa. Rasa ini penting sekali bagi manusia, dan benda-benda hanyalah untuk mengenakkan rasanya. Maka rasa itu ialah hakikat manusia. Bila ada sesosok tubuh dengan kepala, badan, tangan, kaki, telinga, hidung, dan lain-lain, tetapi tanpa rasa, maka itu bukan manusia lagi melainkan mayat.

Walaupun manusia memiliki banyak macam rasa, namun pada umumnya rasa itu dapat dibagi atas dua macam yang pokok, yakni rasa enak dan tidak enak. Supaya enak dalam hubungan dengan orang lain, orang perlu mengetahui rasa orang lain. Karena manusia selain berhubungan dengan benda juga berhubungan dengan rasa, maka bila ia tidak mengerti rasa orang lain, ia tidak akan merasa enak dalam pergaulan hidup.

Hubungan yang tidak enak ini berupa perselisihan. Perselisihan secara berkelompok akan menyebabkan perang. Jadi tidak mengerti rasa orang lain ini menyebabkan perang. Cara perang itu bermacam-macam, tembak-menembak, maki-memaki, ejek mengejek, saling membusukkan dan saling berprasangka buruk. Maka perang itu tidak hanya tembak-menembak. Sebelum pecah perang, terlebih dulu orang saling memaki, saling mengejek, saling membusukkan dan saling berprasangka buruk. Jadi perang ialah perkembangan prasangka buruk. Dalam hal rasa, tembak-menembak dan saling berprasangka buruk itu sama. Jadi saling berprasangka buruk sama dengan tembak-menembak. Demikian macam-macam peperangan atau perselisihan. Perang itu mutlak keliru dan jahat. Menang atau kalah, perang tetap keliru dan jahat, karena manusia perlu melangsungkan hidupnya, sedangkan perang yang berwujud tembak-menembak berarti bunuh-membunuh. Maka perang bertentangan dan berdosa terhadap rasa hidup.

Bila diselidiki dalam rasa kita sendiri, dapat ditemukan bahwa orang hidup tidak menginginkan perang. Meskipun demikian, toh terjadi juga perang. Maka perang itu timbul dari kebodohan, yang menyebabkan tidak terlaksananya tujuan hidup.

Kecuali berdosa terhadap rasa hidup, perang juga berdosa terhadap pergaulan. Tujuan pergaulan ialah untuk dapat merasakan enak bersama, tetapi perang menimbulkan rasa tidak enak bersama. Maka perang berdosa pada rasa hidup dan pergaulan.

Perang atau perselisihan itu disebabkan karena orang tidak mengerti rasa orang lain dalam pergaulan. Bila orang mengerti rasa orang lain, perselisihan atau perang akan lenyap. Jadi memberantas perang atau perselisihan harus dengan mengetahui atau mengerti rasa orang lain.

Untuk mengetahui dan mengerti rasa orang lain, rasa diri sendirilah yang menghalang-halangi. Bila rasa diri sendiri yang menghalang-halangi itu tidak diketahui, orang tidak mungkin mengetahui rasa orang lain. Jadi supaya bisa mengetahui rasa orang lain, terlebih dulu orang harus mengetahui rasa diri sendiri yang menghalanginya untuk mengetahui rasa orang lain.

Mengetahui rasa diri sendiri ini dinamakan pengetahuan atau pengertian pribadi (bhs. Jawa: pangawikan pribadi). Pribadi atau diri sendiri di sini, dimaksud bukan pribadi yang muluk-muluk, tetapi pribadi/diri sendiri yang merasa apa-apa, menginginkan apa-apa, dan berpikir apa-apa. Jadi memberantas perang atau perselisihan harus dengan pengetahuan/pengertian diri sendiri.

Pengetahuan Diri Sendiri

Orang baru dapat mengenal diri sendiri setelah berhubungan dengan benda-benda, orang lain dan gagasannya, atau dengan rasanya sendiri. Orang hidup tentu berhubungan dengan sesuatu, karena dalam hubungan itu ia baru merasa bahwa ia ada. Rasa ada ini senantiasa merasakan segala apa yang ada. Maka rasa ada itu boleh dikatakan sama dengan hubungan atau bergaul.

Pergaulan itu pasti mencakup diri sendiri dan apa yang bukan diri sendiri. Setiap tindakan, setiap kata dan setiap keinginan, tentu berhubungan dengan sesuatu; yang mencakup diri sendiri dan apa yang bukan diri sendiri. Dalam tindakan, ucapan dan keinginan sendiri inilah orang dapat mengetahui diri sendiri.

Mengenal diri sendiri itu sulit, karena orang tidak biasa berusaha mengenal diri sendiri. Orang hanya biasa merasakan diri orang lain. Bila orang bertengkar dengan istrinya, biasanya ia hanya menyalahkan istrinya, dan tidak berusaha untuk mawas diri. Dalam hatinya ia berkata, “Wah, istriku ini sebentar-sebentar berlaku begini, begitu, begini, begitu, sehingga malanglah nasibku.” Tetapi bila orang itu ditanya kembali, “Memanglah istrimu itu begini, begitu, begini, begitu, tetapi bagaimanakah dengan kamu sendiri?” Orang tadi akan terperanjat dan mengaku bahwa dirinya sendiri tidak ditelitinya. Demikian pula dalam hubungan dengan anak dan tetangganya, orang itu tidak memeriksa atau meneliti dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa orang tidak biasa meneliti diri sendiri.

Kedudukan diri sendiri dalam hubungan itu ialah, sebagai pihak yang menyambut atau menanggapi. Bila berhubungan dengan benda-benda, diri sendiri itu menanggapi benda-benda. Sedangkan kalau berhubungan dengan orang lain, gagasan, atau rasa sendiri, ia pun menanggapi orang lain, gagasan atau rasa sendiri itu. Tegasnya, diri sendiri merasa sesuatu dalam hubungan itu. Bila melihat atau mendengar sesuatu, diri sendiri tentu ikut merasakan sesuatu. Jadi yang merasakan sesuatu, ialah dirinya sendiri dalam menyambut sesuatu yang dilihatnya atau didengarnya.

Demikian pula apabila kita berjumpa dengan orang lain, maka dirinya sendirilah yang merasakan sesuatu. Yang merasakan sesuatu inilah diri sendiri dalam menanggapi orang lain. Demikianlah, diri sendiri dalam menanggapi dunia luar.

Yang lebih sukar, ialah untuk mengetahui rasa diri sendiri dalam menanggapi gagasan atau rasanya sendiri. Karena gagasan atau rasa hati itu tidak terlihat oleh mata dan tidak tertangkap oleh pancaindera. Maka gagasan atau rasa hati dianggap seolah-olah diri sendiri. Yang seharusnya dilihat, dianggap sebagai yang melihat atau yang berkuasa. Pada umumnya gagasan atau rasa hati sendiri itu dianggap sebagai yang berkuasa, sehingga sukar untuk dikuasai.

Agar mudah dipahami, di sini perlu diberi contoh secara terperinci, bagaimana orang menanggapi sesuatu yang dihadapinya. Yang menanggapi sesuatu itu, menanggapinya dengan rasa suka dan benci. Misalnya pada waktu orang hendak membaca buku, ia akan menanggapi lampu terang dengan rasa senang, karena lampu itu memenuhi kebutuhannya. Karena itu, lampu terang dianggap baik. Sebaliknya, pada waktu ia hendak tidur, ia menanggapi lampu terang itu dengan rasa benci. Karena lampu terang menyilaukan matanya dan tidak memenuhi kebutuhannya. Orang yang hendak tidur, tidak membutuhkan lampu yang terang. Demikianlah, orang dapat menanggapi sebuah lampu terang dengan rasa senang atau benci, sesuai dengan kebutuhannya sesaat.

Kita menanggapi orang lain juga dengan rasa senang atau benci. Kalau ia seorang sahabat, kita akan menanggapinya dengan rasa senang. Tetapi kalau ia seorang musuh, kita menanggapinya dengan rasa benci. Bahkan orang yang sama, sering kita tanggapi, dengan senang dan benci, sesuai dengan kebutuhan kita sesaat. Hal inilah yang menyebabkan orang cekcok dengan suami atau istrinya. Terhadap suami atau istri, orang terkadang merasa senang, terkadang benci. Maka suami-istri itu selain menjadi kawan dalam hal-hal tertentu, juga dapat menjadi kawan bercekcok.

Lebih sukar lagi untuk mengetahui rasa senang dan benci, yang menanggapi gagasan atau rasa sendiri, karena gagasan atau rasa itu sering menjadi satu dengan senang dan benci. Sehingga sukar memisahkan gagasan dengan rasa suka dan benci.

Misalnya gagasan tentang permainan “jaelangkung”, yakni sebuah keranjang yang dimasuki sukma orang mati. Rasa senang atau benci yang menanggapi “jaelangkung” itu berubah rupa menjadi percaya atau tidak percaya. Bila perubahan itu tidak disadari, orang tidak mengerti bahwa percaya atau tidak percaya itu berasal dari rasa senang atau bencinya.

Demikian pula kesukaran untuk mengetahui rasa senang atau benci yang menanggapi rasanya sendiri. Misalnya dalam menanggapi rasa marahnya sendiri; rasa senang atau benci itu akan berganti rupa, menjadi rasa membela marah atau menahan marah.

Jadi mengetahui dirinya sendiri dalam pergaulan, berarti mengetahui rasanya sendiri yang senang atau benci dalam menanggapi sesuatu yang digauli. Tetapi kalau hal ini tidak disadari, maka kita akan menemui kesukaran berupa perselisihan dalam hubungan kita dengan orang lain.

Misalnya kita mendengar gamelan, kemudian mendengar musik. Kalau kita mendengarkan gamelan dengan rasa senang, dan mendengarkan musik dengan rasa benci, dan tanggapan kita ini tidak kita ketahui, berarti kita tidak menikmati lagu gamelan dan musik, melainkan menikmati hafalan dari lagunya. Kenikmatan semacam itu ialah kenikmatan seorang pemain gamelan atau musik, dan bukan kenikmatan seorang seniman yang dapat menyatukan dirinya dengan lagu.

Kalau hal ini tidak disadari maka ia akan hanyut dalam rasa senang atau bencinya, sehingga yang senang gamelan berselisih dengan yang senang musik. Bahkan ada kalanya, ia mengajak orang-orang lain untuk berselisih beramai-ramai.

Untuk mengetahui rasa senang kita terhadap gamelan, maka kita harus menelitinya sebagai berikut, “Aku ingin menikmati lagu, akan tetapi mengapa aku senang gamelan, sehingga tidak dapat menikmati lagu?” Bila diketahui demikian, rasa senang itu akan lenyap, yang berarti rasa senang itu tidak lagi menghalangi untuk menikmati lagu. Orang akan mengerti bahwa kenikmatan lagu tidak terbatas oleh gamelan atau musik.

Demikian pula untuk mengetahui rasa benci kita, kita dapat menelitinya sebagai berikut, “Aku benci akan musik itu, hanyalah karena aku tidak hafal sehingga tidak dapat mengikuti lagunya.” Jadi sebenarnya aku tidak hendak menikmati lagu, tetapi hanya ingin mengikuti lagu. Bila diketahui demikian, benci itu sirna, yang berarti rasa benci itu tidak menghalangi keinginan menikmati lagu. Jadi senang atau benci terhadap musik atau gamelan, bergantung pada kegemaran kita.

Dalam bergaul dengan orang, tanggapan kita pun berupa rasa senang atau benci. Rasa ini bila tidak diketahui dapat menimbulkan perselisihan. Misalnya kalau kita mendengar kabar ada seorang laki-laki berpoligami. Kalau yang menanggapi kabar itu rasa benci kita, maka kita akan mencelanya, “Laki-laki yang kawin dengan lebih dari satu perempuan, tidak memberi kesempatan kepada orang lain.” Tetapi bila rasa senang kita yang menanggapi kabar itu, maka kita membelanya, “Sedang yang memadu itu senang dan yang dimadu pun tidak berkeberatan, mengapa mereka dipersoalkan.” Bila hal ini tidak kita pahami, maka kita akan mengajak orang lain untuk membenci atau menyetujui bersama, yang akhirnya akan menjadi kelompok-kelompok pembela dan penentang poligami yang saling bermusuhan. Perkembangan permusuhan semacam ini bisa berkembang menjadi saling tembak-menembak.

Bila tanggapan kita yang berupa rasa suka atau benci yang menghalangi itu diketahui, maka kita akan dapat mengetahui atau mengerti rasa orang berpoligami, yang serupa benar dengan rasa kita sendiri. Cara untuk mengetahuinya sebagai berikut, “Aku ingin mengetahui rasa orang berpoligami, tetapi karena senang atau benci poligami, maka aku tidak dapat mengetahuinya. Sebab dua macam rasa itu menghalangiku.” Bila diketahui demikian, rasa senang atau benci akan lenyap. Artinya tidak lagi mengalaminya. Barulah kita mengetahui rasa orang berpoligami, yang serupa benar dengan rasa kita sendiri.

Adapun tindakan seseorang, tentu terdorong oleh rasanya. Mencari minuman terdorong oleh rasa haus, ingin tidur terdorong oleh rasa kantuk. Tindakan orang berpoligami ialah terdorong oleh rasanya, yang menghendaki wanita yang bukan istrinya. Setelah rasa orang berpoligami itu diketahui, maka kita dapat meneliti diri kita sendiri dengan pertanyaan berikut, “Apakah aku juga menginginkan wanita yang bukan istriku?” Untuk menjawab pertanyaan di atas, sering kita merasa malu. Sebab keinginan semacam itu kita anggap jelek, karena kita mengira bahwa yang memiliki keinginan semacam itu hanya kita sendiri atau beberapa orang saja. Maka penelitian terhadap diri sendiri dapat dimulai dengan berpikir seperti di bawah ini.

Laki-laki walaupun sudah amat tua, bila melihat wanita cantik tentu merasa senang. Rasa senang ini jika dikupas berisikan keinginan. Padahal wanita cantik itu bukan istrinya. Jadi orang tua itu pun menginginkan wanita yang bukan istrinya. Demikian pula wanita, walaupun sudah amat tua, bila melihat laki-laki yang tampan, tentu merasa senang. Rasa senang ini bila diteliti berisikan keinginan. Padahal laki-laki itu bukan suaminya. Jadi wanita itu pun menginginkan laki-laki yang bukan suaminya.

Teranglah bahwa diri sendiri dan semua orang, mempunyai rasa mengingini orang yang bukan suami atau istrinya. Jika keinginan itu tidak sampai terlaksana, hal itu disebabkan hanya karena keadaan, kemiskinan atau kekhawatiran terhadap anak-anaknya, dan sebagainya. Jadi rasa ingin berpoligami bagi semua orang sama.

Bila kita mengetahui bahwa rasa orang berpoligami ialah serupa benar dengan rasa kita sendiri, maka kita akan damai dengan orang lain tadi. Rasa damai ini berarti tidak menyetujui atau membenci, tidak memuji atau mencela, yaitu berselisihan. Rasa damai itu sama dengan damai terhadap kenyataan, bahwa matahari terbit di sebelah timur.

Orang menanggapi rasanya sendiri, juga dengan rasa senang atau bencinya. Misalnya, bila ia menanggapi amarahnya dengan rasa benci, maka rasa marah itu ditekannya, sehingga ia tidak mengerti makna amarahnya. Menahan amarah itu rasanya sebagai berikut, “Kalau amarahku ini menjadi perbuatan, maka tidak enaklah akibatnya.” Menahan marah berarti mendambakan kesabaran. Kalau rasa benci ini tidak diketahui, ia akan menimbulkan perang batin, yaitu perang antara amarahnya dan angan-angannya untuk kesabaran.

Apabila yang menanggapi amarahnya sendiri itu rasa senangnya, ia akan membela amarahnya demikian, “Kalau saya tidak marah, maka saya akan senantiasa dihina.” Dengan demikian ia tidak akan mengetahui arti amarahnya. Kalau tanggapan rasa senang atau benci itu diketahui, maka orang akan mengetahui arti amarahnya sendiri.

Adapun penelitian rasa senang dan benci dapat dilakukan sebagai berikut,”Aku ingin tahu arti amarahku, tetapi karena aku benci atau senang akan amarah itu, maka aku tidak dapat mengetahui arti amarahku.” Kalau hal ini disadari, maka rasa senang atau benci itu segera lenyap, yaitu tidak menutupi lagi. Barulah orang mengetahui arti amarahnya.

Marah itu berarti membela hal yang dianggap penting untuk diri sendiri. Jika kepentingannya sendiri diganggu orang, ia lantas marah. Wujud kepentingan manusia itu ada berbagai macam, seperti harta benda, kehormatan, kekuasaan, keluarga, kelompok, kebangsaan, jenis kelamin, ilmu kebatinan, kepandaian, ilmu, dan lain-lain. Setiap orang berbeda-beda dalam menilai kepentingannya sendiri. Salah satu kepentingannya dinilai lebih tinggi dari yang lain. Jadi kepentingan-kepentingan ini ada yang dinilai nomor satu, nomor dua dan seterusnya. Berat ringannya kemarahan tergantung pada tinggi rendahnya penilaian itu. Jika orang diganggu kepentingannya yang nomor satu, ia akan marah sekali.

Bila rasa senang atau benci dalam menanggapi rasa sendiri senantiasa diketahui, maka orang akan dapat mempelajari apa yang menjadi kepentingannya melalui pengetahuan tentang diri sendiri (pangawikan pribadi). Bila pengertian diri sendiri ini makin dalam dan luas, orang akan mengerti bahwa dasar landasan kepentingannya itu keliru. Landasan keliru inilah yang menimbulkan rasa tidak enak dalam pergaulan.

Apabila kepentingan harta benda itu landasannya keliru, maka ia akan merupakan keserakahan. Padahal kegunaan harta benda hanyalah sebagai alat untuk mencukupi kebutuhan hidup. Maka keserakahan berarti mempergunakan harta benda secara salah.

Apabila kepentingan kehormatan itu landasannya keliru, maka ia akan menjadi gila hormat. Padahal rasa hormat itu mengandung kenikmatan, baik bila diri sendiri menghormati orang lain, maupun bila orang lain menghormati dirinya. Jadi gila hormat (minta dihormati) berarti mempergunakan kehormatan secara salah.

Apabila kepentingan kekuasaan itu landasannya salah, maka ia akan merupakan hasrat menguasai orang lain. Padahal orang berkuasa atau dipercaya itu disebabkan karena ia mengenakkan orang lain. Jadi ingin menguasai orang lain tanpa mengenakkan orang lain, berarti mempergunakan kekuasaan secara salah.

Demikianlah seterusnya, untuk mengetahui kepentingan kita yang dipergunakan secara salah. Bila diketahui, maka landasan kepentingan yang salah itu akan menjadi benar. Demikian faedahnya mengetahui rasa senang dan benci kita dalam tanggapan kita terhadap rasa kita sendiri.

Bila rasa senang dan bencinya itu diketahui, orang lantas merasa enak dalam pergaulannya dengan benda-benda, dengan orang lain dan dengan rasanya sendiri.

Pengetahuan tentang senang dan bencinya sendiri ini, dinamakan pengetahuan diri sendiri (pangawikan pribadi). Jadi pengetahuan diri sendiri ialah syarat untuk membangkitkan rasa enak dalam pergaulan.

selesai

Mawas Diri

Orang sering merasa kesulitan karena tidak mengerti diri sendiri. Kesulitan tersebut dapat dipecahkan bila orang mengerti diri sendiri. Maka mengetahui diri sendiri dapat memecahkan berbagai macam kesulitan.

Pengertian diri sendiri ini disebut “pangawikan pribadi” atau “pengetahuan diri sendiri.” Oleh karena orang itu terdiri atas jiwa dan raga, sedangkan yang dibicarakan di sini hanya mengenai jiwa saja. Jadi pengetahuan diri sendiri atau pangawikan pribadi di sini dimaksudkan pengetahuan hal jiwa.

Meskipun jiwa itu tidak dapat ditangkap oleh panca indera, tetapi orang merasa bahwa jiwa itu ada, maka jiwa adalah rasa. Jadi pangawikan pribadi berarti pengertian terhadap rasanya sendiri.

Pribadi yang dimaksudkan di sini bukanlah pribadi yang muluk-muluk tetapi pribadi yang merasa apa-apa, yang memikir apa-apa dan yang ingin apa-apa. Pribadi diri kita sendiri ini terjadi dari rasa-rasa banyak sekali dan rasa-rasa tersebut ada yang dangkal, ada yang dalam, dan ada yang dalam sekali. Tentu saja mengetahui diri sendiri, rasa-rasa sendiri ini, lebih dahulu mengetahui rasa-rasa sendiri yang dangkal, sebab rasa-rasa yang dangkal lebih mudah diketahui dari pada rasa-rasa yang dalam.

Jika orang sudah biasa mengetahui rasa sendiri yang dangkal dapatlah orang mulai mengetahui rasa sendiri yang dalam. Meskipun rasa sendiri yang dangkal itu mudah diketahui tetapi orang sering tidak mengetahui. Maka banyak kesulitan-kesulitan yang dapat dipecahkan oleh karena dapat mengetahui rasa sendiri yang dangkal.

Marilah saudara-saudara saya ajak bersama-sama mengetahui diri sendiri yang dangkal. Diri kita sendiri ini dapat mencatat atau memotret. Orang melihat sesuatu itu berarti memotret sesuatu tersebut. Misalnya orang melihat meja, artinya orang tersebut memotret meja dan di dalam rasa orang tersebut lalu ada potret meja atau gambar meja.

Potret meja tersebut bukanlah meja. Meja dan potret meja tersebut merupakan dua benda yang terpisah, tidak ada sangkut pautnya.

Demikian juga orang mendengar sesuatu, misalnya mendengar lagu, orang itu memotret lagu. Dalam rasa orang itu lantas ada potret lagu dan potret lagu tersebut bukanlah lagu. Demikian juga orang dapat memotret dengan indera yang lain yaitu pembau, peraba dan perasa.

Kecuali memotret barang-barang yang dapat ditangkap oleh panca indera, orang dapat pula memotret rasa. Jika orang merasa sesuatu misalnya merasa haus orang tersebut memotret rasa haus, lalu di dalam rasa ada potret rasa haus. Potret rasa haus tersebut bukanlah rasa haus.

Mengetahui diri sendiri dapat memotret itu adalah mengetahui diri sendiri yang paling dangkal. Selanjutnya dapat mengetahui diri sendiri yang lebih dalam, Maka mengetahui diri sendiri itu berurutan mulai dari yang dangkal sampai pada yang dalam.

Kecuali dapat memotret orang dapat pula menggagas atau mengarang. Misalnya ia mengarang kuda berkepala orang lantas ada gambar kuda berkepala orang dalam rasa orang tersebut. Gambar kuda berkepala orang tersebut bukanlah potret tetapi karangan sebab barangnya yang dipotret tidak ada.

Gambar kuda berkepala orang tersebut bahannya diambil dari potret kuda dan orang. Potret kuda dihilangkan kepalanya dan diganti dengan kepala orang.

Kecuali dapat menggagas, orang dapat pula mencipta, misalnya mencipta payung. Sebelum orang mencipta payung orang berpikir lebih dahulu bagaimana caranya melindungi badan agar supaya tidak basah pada waktu kehujanan. Bila pemikiran telah selesai terciptalah barang yang disebut payung.

Maka barang-barang bikinan orang adalah ciptaan orang. Ciptaan dapat diwujudkan menjadi barang sedangkan gambar tidak dapat diwujudkan menjadi barang. Jadi mencipta dan menggagas itu berlainan.

Kecuali menggagas barang-barang, orang dapat pula menggagas rasa, misalnya menggagas rasa susah selamanya. Bila gagasan rasa itu dikira potret rasa maka akan timbul kesulitan. Banyak sekali gagasan-gagasan rasa yang dikira potret rasa.

Maka orang banyak mendapatkan kesulitan sebab gagasan dikiranya potret. Bila gagasan tersebut diketahui, kesulitan karena hal tersebut akan hilang.

Orang miskin merasa dirinya celaka lalu menggagas bila ia menjadi orang kaya maka ia akan merasa bahagia. Bahagia tersebut bila diteliti berarti senang terus menerus atau selamanya. Jadi bahagia tersebut adalah gagasan bukan potret.

Orang kaya itu memang ada dan dapat dipotret. Pengalaman (lelakon) orang kaya itu ada dan dapat dipotret. Tetapi kebahagiaan orang kaya itu tidak ada, maka tidak dapat dipotret. Jadi kebahagiaan seperti di atas adalah gagasan.

Misalnya orang merasa celaka (malang nasibnya) dan segala usaha untuk mencari kebahagiaan sudah tidak dapat, orang lantas menggagas, nanti sesudah mati akan mendapat kebahagiaan. Kebahagiaan nanti sesudah mati itu adalah gagasan. Bila gagasan tersebut diketahui maka gagasan tersebut akan lenyap sehingga tidak lagi menimbulkan kesulitan.

Biasanya orang menggagas kebahagiaan sesudah mati itu demikian: Orang mati itu yang rusak raganya sedang jiwanya atau sukmanya tidak rusak. Jadi gagasan akan mendapat kebahagiaan sesudah mati itu berarti yang bahagia adalah sukmanya.

Salah satu gagasan mendapat kebahagiaan sesudah mati itu demikian: Sukma tersebut menjelma menjadi orang lagi yaitu menjadi orang kaya, mulia dan berkuasa. Sedang gagasan bahagia yang lain demikian: Sukma tersebut bersatu dengan Hyang Sukma. Jadi gagasan itu berbeda-beda sebab orang menggagas itu bebas dan dapat sekehendaknya sendiri.

Oleh karena gagasan itu berbeda-beda maka orang menjadi bertengkar. Bila orang yang mempunyai gagasan yang sama itu menggerombol, maka gerombolan tersebut akan berperang dengan gerombolan lain yang mempunyai gagasan yang berlainan. Jadi gagasan itu menimbulkan perpecahan dan peperangan.

Meskipun yang menimbulkan peperangan itu hanya gagasan, tetapi tembak menembaknya sungguh-sungguh bukan gagasan. Demikianlah gagasan itu bila tidak diketahui akan menimbulkan kesulitan.

Misalnya orang merasa celaka (malang nasibnya) dan segala usahanya untuk mendapat kebahagiaan sudah tidak dapat, lantas menggagas demikian: Kalau negara diatur “begini” maka orang akan bahagia. Ada orang lain lagi memikir bahagia demikian: Kalau negara diatur “begitu” maka orang akan bahagia, Padahal “begini” dan “begitu” tersebut berbeda maka orang akan bertengkar. Jika orang yang mengatakan “begini” atau “begitu” tersebut menggerombol maka akan terjadilah peperangan. Peperangan tersebut terjadi oleh karena undang-undang yang ditempeli gagasan bahagia. Demikianlah gagasan itu bila tidak diketahui dapat menimbulkan perang.

Ada lagi gagasan menimbulkan kesulitan. Yaitu anggapan bahwa teh enak, kopi enak dan limun enak. Minuman terasa enak itu bagi orang yang merasa haus, sedangkan yang diminum itu teh, kopi atau limun bukanlah soalnya.

Jadi teh enak, kopi enak dan limun enak adalah gagasan, bukan potret. Jika gagasan itu dianggapnya potret orang akan berebutan teh, kopi dan limun. Demikianlah gagasan itu menimbulkan pertikaian.

Ada lagi gagasan yang menyebabkan timbulnya pertengkaran yaitu: baju-sutera-baik dan baju-belaco-jelek. Potret rasa yang sebenarnya demikian: Orang merasa dingin kemudian memakai baju sehingga merasa enak dan baik. Apakah bajunya dari bahan sutera atau belaco bukanlah menjadi soal. Gagasan sutera baik sedangkan belaco jelek tersebut menyebabkan orang berebutan sutera sehingga menimbulkan peperangan. Demikianlah gagasan dapat menimbulkan peperangan.

Ada lagi gagasan yang menimbulkan pertengkaran, yaitu gagasan orang tampan dan orang cantik yang dihubungkan dengan perkawinan. Potret keindahan seperti hidung mancung atau pesek dan kulit kuning atau sawo matang itu memang ada tetapi keindahan tersebut tidak ada hubungannya dengan perkawinan. Orang cantik dan tampan dalam perkawinan yang berasal dari rasa hidup untuk melangsungkan jenis itu berasal dari rasa butuh. Jika sedang butuh, orang akan kelihatan cantik atau tampan dan apabila orang sedang tidak butuh, tidak kelihatan cantik atau tampan. Apabila gagasan orang cantik atau tampan tersebut diketahui, orang tidak berebutan wanita cantik atau pria tampan dan tidak lagi bersaingan merasa lebih cantik atau lebih tampan.

Demikian gagasan menimbulkan pertikaian dan peperangan. Jadi diri sendiri dapat memotret dan menggagas. Banyak persoalan dapat dipecahkan dengan cara membedakan potret dan gagasan.

Apabila orang sudah jelas dengan gagasannya orang dapat melanjutkan meneliti diri sendiri yang lebih dalam yaitu “si tukang menggagas”. Mengapa diri sendiri selalu menggagas? Diri sendiri selalu menggagas karena diri sendiri merasa celaka.

TUKANG MENGGAGAS

Orang miskin merasa ceiaka lalu menggagas kebahagiaan orang kaya, Orang yang rendah derajatnya menggagas tinggi derajatnya, orang yang tidak berkuasa menggagas berkuasa, jelek menggagas baik, curang menggagas jujur, pemarah menggagas sabar, pemalas menggagas rajin dan sebagainya. Jadi yang menggagas itu “si-merasa-celaka”.

Gagasan itu cita-cita meskipun yang di cita-citakan itu bermacam-macam, tetapi pada pokoknya mencari kebahagiaan. Jadi si-merasa-celaka mencari kebahagiaan.

Si-merasa-celaka itu menelorkan bermacam-macam rasa yang saling berlawanan. Bahagia dan celaka, baik dan buruk, ingin dan menahan keinginan, sabar dan pemarah. Rasa-rasa yang berlawanan tersebut menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga menyebabkan orang merasa tidak tenteram.

Dalam pertentangan rasa yang berlawanan tersebut oreng sering membela salah satu. Bila yang dibela kalah, orang merasa menyesal. Misalnya bila orang membela si jujur dalam pertengkarannya dengan si curang.

Apabila si curang yang menang sehingga perbuatan curang terlaksana, orang merasa menyesal. Demikian pula jika membela si jujur sehingga perbuatan jujur terlaksana orangpun merasa menyesal.

Pada waktu orang membela salah satu rasa berlawanan tersebut orang menyatukan dirinya dengan salah satu rasa. Pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa curang, orang merasa “aku si curang”, dan pada waktu orang menyatukan dirinya dengan rasa jujur, orang merasa “aku si jujur”. Oleh karena pertentangan rasa berlawanan tersebut, orang sering menjadi bingung sehingga punya pendapat bahwa pertentangan rasa berlawanan tersebut merupakan ujian hidup. Jika lulus, orang akan mendapat karunia.

Demikian jika orang tunduk kepada rasa berlawanan. Apabila orang tidak menyatukan dirinya dengan salah satu, orang akan dapat meneliti rasa berlawanan tersebut sampai kepada sumbernya yaitu si-merasa-celaka. Si merasa celaka itulah si tukang menggagas bahagia.

Pada waktu orang akan meneliti rasa celakanya sendiri, orang akan bertemu dengan rasa benci terhadap rasa celakanya sendiri. Bila benci kepada rasa celakanya sendiri, orang akan menutupi rasa celakanya sendiri tersebut dengan mengidam-idamkan kebahagiaan. Bila usaha untuk menutupi tersebut diketahui, rasa benci akan lenyap sehingga tidak akan menutupi lagi. Bila rasa benci sudah lenyap orang akan bertemu dengan rasa senang terhadap celakanya sendiri, yang menutupi untuk dapat melihat rasa celakanya sendiri dan membela rasa senangnya itu. Dalam hatinya berkata: “Jika orang tidak merasa celaka itu tidak ada kemajuannya, maka orang itu harus berprihatin.”

Jika rasa senang terhadap celakanya sendiri yang menutupi itu diketahui, rasa senang tersebut lenyap sehingga orang dapat melanjutkan meneliti rasa celakanya sendiri. Kemudian orang akan bertemu dengan rasanya sendiri yang akan berusaha mengubah rasa celakanya sendiri. Selama ada usaha untuk mengubah, orang tidak akan mengetahui rasa celakanya sendiri yaitu si-tukang-menggagas.

Bila diketahui bahwa usaha mengubah rasa celakanya sendiri itu menutupi, usaha itu akan lenyap sehingga orang akan jelas melihat rasa celakanya sendiri yaitu “Aku Kramadangsa celaka”.

Kramadangsa itu rasa namanya sendiri. Kalau namanya Suta, orang merasa aku si Suta dan jika namanya Naya, orang merasa aku si Naya. Apabila orang sudah merasa “Aku Kramadangsa celaka,” maka dapatlah orang meneliti rasa eelakanya sendiri.

Kemudian orang dapat menelusuri dirinya sendiri mencari rasa celakanya. Apakah melarat itu celaka? Dan bagaimanakah celakanya orang melarat? Apakah orang yang berpangkat rendah itu celaka? Apakah merasa curang itu celaka? Apakah merasa pemarah itu celaka? Dengan diteliti cara demikian rasa celakanya sendiri tidaklah ketemu.

Bila diteliti lebih mendalam lagi, akan diketemukan bahwa rasa celaka tersebut hanyalah rasa yang tidak mau dalam keadaan lahir atau batin yang sewajarnya, sekarang, di sini. Misalnya diri sendiri sekarang di sini melarat, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri pemarah, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Sekarang diri sendiri curang, tetapi tidak mau, maka celakalah rasanya. Jadi celaka itu hanyalah: “Sekarang di sini begini, aku tidak mau.”

Jadi bahagia itu hanyalah: “Sekarang di sini begini, aku mau.” Jika sekarang di sini melarat atau kaya, aku mau, bahagialah orang itu. Jika sekarang di sini merasa curang atau jujur, aku mau, bahagialah orang itu. Jadi bahagia dan celaka itu tergantung pada diri sendiri.

Di sini akan menimbulkan kesulitan yang berupa pertanyaan: “Jika demikian orang tidak mau berusaha.” Kesulitan tersebut timbul hanyalah karena kurang telitinya orang menelusuri diri sendiri.

Untuk jelasnya demikian. Kesulitan tersebut timbul dari gagasan, yang menganggap bahwa orang dapat lepas dari berusaha. Jika gagasan tersebut diketahui orang dapat melihat bah*a orang tidak mungkin lepas dari berusaha. Maka lenyaplah kesulitan tersebut.

Jika orang mengerti bahwa bahagia atau celaka itu hanyalah tergantung pada diri sendiri, orang akan dapat meneliti gagasan-gagasan celaka yang masih hidup dalam diri sendiri dan dapat mengganti gagasan tersebut menjadi potret. Misalnya gagasan demikian: “Isteriku ini memang cerewet.” Gagasan tersebut dapat diganti potret demikian: “Isteriku ini memang setia kepada suami, meskipun aku sudah diberhentikan dari jabatanku, ia tidak minta cerai, tapi hanya cukup sering mengomeliku saja.” Jika gagasan sudah diganti potret, orang merasa enak sebab gagasan itu rasanya tidak enak sedangkan potret rasanya enak.

Bahagia dan celaka itu hanyalah soal mau atau tidak mau. Agar lebih jelas perlu diberi contoh. Misalnya ada dua orang berjalan bersama-sama dalam keadaan kehujanan. Yang satu mau, maka rasanya bahagia sedangkan yang lain tidak mau, maka rasanya celaka. Jadi meskipun dua orang tersebut dalam keadaan yang sama, tetapi yang satu menanggapi dengan mau dan yang lain tidak mau. Maka bahagia dan celaka itu hanyalah persoalan mau tidak mau.

Rasa mau sekarang di sini itu adalah rasa abadi. Di sini ada kesulitan yaitu tentang rasa abadi dan pengertian abadi. Jika kesulitan ini belum terpecahkan orang tidak dapat merasakan rasa abadi.

Pengertian abadi itu ialah; dahulu ada, sekarang ada dan nanti pun tetap ada. Dahulu begitu, sekarang begitu dan nanti pun tetap begitu. Waktu dapat dibagi menjadi dua macam yaitu waktu luar dan waktu dalam (waktu jiwa). Waktu luar itu wujudnya seperti satu menit, dua menit, setahun, dua tahun dan sebagainya.

Waktu jiwa itu wujudnya; tadi, kemarin, besok, dahulu dan nanti. Kramadangsa hidup dalam waktu jiwa yaitu dahulu dan nanti. Maka Kramadangsa tidak berani melihat diri sendiri sekarang di sini begini.

Kramadangsa tua itu biasanya sering hidup dalam waktu dahulu, rasanya demikian. “Dahulu waktu aku masih muda dapat begini-begini.” Maka bila ditanya oleh cucunya: “Sekarang bagaimana mbah?” Jawabnya mencari-cari alasan begini: “Kalau sekarang aku sudah bobrok dan takut kedinginan.” Demikianlah Kramadangsa tua hidup dalam waktu dahulu.

Kramadangsa muda itu biasanya hidup dalam waktu nanti, rasanya demikian: “Aku nanti akan begini begitu dan akan hebat.” Maka bila ditanya oleh neneknya, jawabnya mencari-cari alasan begini: “Kalau sekarang jamannya memang tidak baik.” Demikianlah Kramadangsa muda hidup dalam waktu nanti.

Rasa abadi itu rasa sekarang-disini-begini, tidak bercampur dengan rasa kemarin, besok, dahulu dan nanti. Misalnya orang sedang berjalan di jalan besar dan akan ketabrak mobil, kemudian melompat menghindari. Orang tersebut hanyalah merasa “Sekarang di sini aku melompat,” tidak dicampuri rasa kemarin atau besok.

Orang tersebut tidak sengaja merasa abadi, hanyalah terpaksa oleh keadaan, yang harus diselesaikan tanpa berpikir panjang. Bila rasa abadi tersebut diteliti maka akan diketemukan perhatian terpusat hanya terhadap satu hal yaitu melompat. Perhatian terpusat itu adalah perhatian bebas, maka rasa abadi adalah perhatian bebas terhadap salah satu hal tidak tercampur dengan perhatian lain.

Bila mengerti bahwa merasa abadi itu dari rasa bebas, dapatlah orang dengan sengaja merasa abadi. Tiap memusatkan perhatian terhadap sesuatu, tentu merasa abadi meskipun yang diperhatikan tersebut barang yang dapat dilihat ataupun dirasa. Rasa abadi dapat menghilangkan kesulitan yang berwujud menyesal dan khawatir.

Bila rasa menyesal diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk mengubah, maka dapatlah orang merasakan rasanya sehingga terlihat kejadiannya dan terlihat pula sebabnya. Sesal adalah gagasan luka dalam hati, bila diperhatikan sepenuhnya sampai selesai, sesal tersebut lenyap dan luka dalam hati akan sembuh.

Demikian pula rasa khawatir bila diperhatikan sepenuhnya dan diteliti, tanpa senang dan benci, tanpa berusaha untuk merubah, lenyaplah rasa khawatir tersebut. Jadi rasa abadi dapat melenyapkan rasa sesal dan khawatir.

Kebalikan dari perhatian terpusat adalah perhatian terpencar. Contoh perhatian terpencar misalnya, ketika sedang bepergian yang diperhatikan rumahnya dan setelah di rumah yang diperhatikan tempat lain. Perhatian terpencar itu menyebabkan orang tidak dapat selesai memikir salah satu persoalan.

Yang menyebabkan perhatian tidak terpusat atau tidak bebas adalah kesulitan yang belum dapat dipecahkan, meskipun orang itu merasa atau tidak merasa. Kesulitan yang belum dipecahkan tersebut sering muncul untuk minta diperhatikan. Maka orang yang mempunyai banyak kesulitan yang tidak terpecahkan, perhatiannya selalu ditarik ke sana ke mari.

Kesulitan yang tidak terpecahkan itu adalah suatu penyakit jiwa. Bila penyakit tersebut berat, menyebabkan orang tidak dapat menerima pembicaraan orang lain. Jadi penyakit jiwa tersebut, menyebabkan orang merasa sepi.

Bila kesulitan diperhatikan dengan sepenuhnya dan diteliti sampai selesai, orang lantas merasa bebas perhatiannya, artinya orang dapat memilih apa yang akan diperhatikan dengan bebas. Keadaan rasa bebas memilih tersebut sehingga datangnya kesulitan baru. Jadi di antara selesainya kesulitan dan datangnya kesulitan ada waktu yang kosong.

Dalam waktu tersebut orang dapat melihat hal yang sesungguhnya atau keadaan sejati. Misalnya melihat burung terbang, orang merasakan keindahannya, melihat rumput yang hijau merasa indah, melihat gunung yang besar merasa agung dan sebagainya.

Kebalikannya, bila ada kesulitan yang belum selesai orang tidak dapat melihat hal yang sesungguhnya. Misalnya melihat burung terbang merasa iri, melihat gua ingin digunakan untuk bersembunyi, bertapa dan sebagainya. Jadi waktu kosong antara dua kesulitan merupakan pengalaman perhatian bebas.

Demikianlah “pangawikan pribadi” atau “pengetahuan diri sendiri” dapat digunakan untuk memecahkan kesulitan. Demikian pula orang dapat mengetahui diri sendiri mulai yang paling dangkal sampai kepada yang dalam. Cara latihan untuk mengetahui diri sendiri tersebut akan dlpaparkan pada halaman berikutnya.

LATIHAN

Orang itu baru merasa ada bila berhubungan, baik berhubungan dengan benda, orang lain maupun dengan rasanya sendiri. Dalam berhubungan itulah orang baru dapat mengetahui diri sendiri. Maka berhubungan itu dapatlah dimisalkan sebagai cermin.

Tiap tindakan selangkah, ucapan sekata dan gerak hati sedetik, tentulah orang berhubungan. Tiap berhubungan selalu ada diri sendiri dan yang dihubungi. Jadi bila berhubungan dengan orang, berhubungan tersebut mengandung diri sendiri dan orang lain.

Maka dari itu tindakan selangkah, ucapan sekata dan gerak hati sedetik mengandung diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri sangat sukar diketahui sebab diri sendiri bersembunyi atau disembunyikan. Diri sendiri disembunyikan karena diri sendiri itu jelek dan memalukan.

Meskipun bersembunyi, tetapi bila dengan tekun orang meneIiti, diri sendiri akan ketemu pada waktu berhubungan. Misalnya diri sendiri mengatakan demikian: “Isteriku cerewet.” Dalam ucapan tersebut diri sendiri bersembunyi atau disembunyikan, yang terlihat di sini hanyalah cerewet isterinya.

Bila ucapan tersebut dirasakan tanpa rasa senang dan benci, tanpa usaha untuk mengubah, mulailah diri sendiri terlihat.

Yang mengatakan: “Isteriku cerewet” itu adalah diri sendiri. Jadi kalimat tersebut tidak lengkap dan kurang jelas. Lengkapnya kalimat tersebut demikian: “Aku mengatakan bahwa isteriku cerewet.” Sekarang sudah jelas diri sendiri berhubungan dengan isterinya. Jadi diri sendiri yang mengucapkan dan isterinya yang diucapkan.

Selanjutnya orang dapat meneruskan meneliti diri sendiri yang sudah terlihat tersebut. Cerewet adalah suatu perbuatan tidak baik atau cacat. Jadi ucapan tersebut menunjukkan cacad isterinya.

Jadi bi]a diteliti ucapan tersebut lengkapnya demikian: “Aku mengatakan cacad isteriku dengan menunjukkan cerewetnya.” Kalimat tersebut menunjukkan diri sendiri makin jelas. Bila kalimat tersebut dirasakan benar-benar dan diteliti tanpa senang dan benci dan tanpa usaha untuk mengubah, diri sendiri makin terlihat jelas. Mengatakan cacad orang lain itu namanya menjelekkan. Kalimat tersebut bisa diteliti tanpa rasa senang dan benci dan tanpa usaha untuk mengubah, agar diri sendiri makin terlihat lebih jeias lagi. Maka kalimat tersebut dapat dibuat lebih jelas lagi demikian: “Aku menjelekkan isteriku dengan mengatakan cacadnya yaitu cerewetnya.”

Selanjutnya orang dapat meneruskan meneliti diri sendiri dengan bertanya, bagaimanakah rasa hatiku bila dijelekkan? Tentu saja diri sendiri akan menjawab: “Bila aku dijelekkan hatiku merasa sakit.” Jadi menjelekkan itu menyakitkan hati.

Menyakitkan hati orang lain namanya bertindak sewenang-wenang. Kalau begitu, diri sendiri itu sewenang-wenang. Jadi kalimat tersebut lebih jelasnya demikian: “Aku bertindak sewenang-wenang menyakitkan hati isteriku dengan menjelekkan dan menunjukkan cacadnya yaitu cerewetnya.”

Demikian orang dapat melihat diri sendiri yang bertindak sewenang-wenang. Di sini ada kesulitan yang berupa pertanyaan: “Apakah tindakan sewenang-wenang itu sudah menjadi sifat seseorang atau hanya kadang-kadang saja?” Kramadangsa itu sifatnya pribadi. Pribadi itu selalu mencari enak sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Maka Kramadangsa itu selalu mencari enak pribadi tidak mempedulikan orang lain, inilah yang menyebabkan sewenang-wenang. Demikian itu jelasnya.

Jadi Kramadangsa itu tiap berhubungan dengan orang lain tentu bertindak sewenang-wenang. Orang biasanya takut untuk melihat kesewenangannya sendiri, sebab sudah terkenal bahwa bertindak sewenang-wenang itu jelek. Malahan ada ajaran kuno yang mengatakan: “Cintailah sesamamu”

Bila orang berusaha untuk melihat kesewenangannya sendiri, orang akan menjumpai rasa bencinya sendiri terhadap perbuatannya itu. Rasa benci ini timbul karena mengerti bahwa tindakan sewenang-wenang itu hasilnya tidak enak. Maka orang lalu ingin mencapai kasih.

Cita-cita kasih itu bukanlah kasih. Cita-cita kasih itulah anak dari tindakan sewenang-wenang yang takut akan akibatnya. Maka cita-cita kasih itu, kesewenangannya masih sama saja dengan bapaknya. Bedanya hanyalah bila bapaknya itu bertindak sewenang-wenang terhadap orang lain, tetapi anaknya bertindak sewenang-wenang terhadap dirinya sendiri. Bila diri sendiri marah, ditahannya atau diperanginya marahnya itu. Sering-sering orang memerangi kesewenangannya sendiri itu dengan jalan mencegah makan, mencegah tidur dan sebagainya.

Rasa sewenang-wenang itu berkelahi dengan cita-cita kasih dan saling bergantian kalah atau menang. Maka perkelahian tersebut sering dianggapnya ujian hidup, bila cita-cita kasih yang menang orang akan mendapat karunia dan bila kalah orang akan mendapat hukuman.

Demikianlah rasa bencinya sendiri menutupi untuk melihat kesewenangannya. Bila diketahui bahwa rasa bencinya sendiri itu menutupi, lenyaplah rasa benci tersebut. Selanjutnya orang dapat melihat kesewenangannya dan akan menjumpai rasa senang terhadap kesewenangannya sendiri.

Rasa senang tersebut menyebabkan ia membela terhadap kesewenangannya sendiri. Kata hatinya demikian: “Jika orang tidak bertindak sewenang-wenang, orang akan disewenang-wenangi oleh orang lain.” Cara membela kesewenangannya sendiri tersebut bermacam-macam, ada yang berkedok undang-undang ada yang berkedok tata cara, ada yang berkedok filsafat, ada yang berkedok aliran dan ada yang berkedok ajaran. Oleh karena rasa senang itu sangat erat hubungannya dengan rintangan untuk melihat kesewenangannya sendiri, maka di sini cara membela kesewenangannya sendiri tersebut akan diterangkan secara terperinci.

Misalnya seorang laki-laki memarahi isterinya yang tidak mandi dan menyisir rambutnya pada sore hari, caranya demikian: “Wanita yang demikian itu tidak setia kepada suaminya.” Demikian orang membela kesewenangannya dengan kedok ajaran-ajaran; misalnya orang kaya mengomeli orang miskin oleh karena pinjam baju tidak dikembalikan, caranya demikian: “Aturannya orang pinjam itu harus mengembalikan.” Demikian pula orang membela kesewenangannya dengan kedok undang-undang. Misalnya orang mengadakan pesta mengawinkan anaknya, karena hanya mendapat sumbangan sedikit, mengomeli tetangga-tetangganya demikian: “Tetangga-tetanggaku itu memang keterlaluan, tidak punya rasa gotong-royong sama sekali.” Demikian orang membela kesewenangannya sendiri dengan kedok tata cara.

Misalnya orang kaya, mulia dan berkuasa menyalahkan orang miskin, yang rendah derajatnya dan tidak berkuasa, caranya demikian: “Orang miskin, rendah derajatnya dan tidak berkuasa itu salahnya sendiri, karena tidak mengetahui aturan alam. Siapa yang kuat makan yang lemah.” Demikian orang membela kesewenangannya sendiri dengan kedok filsafat. Misalnya orang menggedor orang kaya, hatinya mengatakan demikian: “Orang kaya itu merusak dunia dan harus dilenyapkan, sebab menimbulkan kemelaratan orang banyak.” Demikian orang membela kesewenangannya sendiri dengan kedok aliran.

Bila timbulnya semua rasa senang terhadap kesewenangannya sendiri sudah diketahui, maka rasa senang tersebut yang merintangi untuk melihat kesewenangannya sendiri akan diketahui. Bila dapat diketahui maka lenyaplah rintangan itu.

Bila orang akan melanjutkan untuk mengetahui kesewenangannya sendiri, tentu akan berjumpa dengan rasa sendiri yang akan mengubah kesewenangannya sendiri. Tiap ada maksud untuk mengubah, orang tidak dapat melihat rasanya sendiri. Jadi niat mengubah itu merupakan rintangan untuk mengetahui kesewenangannya sendiri.

Bila diketahui rintangan tersebut akan lenyap. Demikian banyak sekali rintangan yang menutupi pandangan untuk melihat kesewenangannya sendiri. Jika semua rintangan yang menutupi tersebut diketahui dengan teliti, maka lenyaplah rintangan tersebut, sehingga orang melihat diri sendiri, kesewenangannya sendiri tanpa tirai, yaitu: “Aku Kramadangsa bertindak sewenang-wenang.”

Bila rasa kesewenangannya sendiri ketahuan sebelum terjadi perbuatan sewenang-wenang itu, maka rasa sewenang-wenang tersebut tidak lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang. Sebab bila orang melihat rasa sewenang-wenangnya sendiri tanpa maksud untuk mengubah, artinya Kramadangsa diam atau mati.

Bila Kramadangsa mati, kesewenangannya ikut mati pula. Jika Kramadangsa mati, timbullah rasa kasih tanpa syarat. Kasih tanpa batas itu berarti terhadap siapa saja kasih dan terhadap apa saja juga kasih, malahan kepada kesewenangannya sendiri pun kasih. Tanpa syarat artinya, biarpun dibenci atau dikasihi akan tetap kasih. Kasih tanpa batas dan tanpa syarat bukanlah Kramadangsa, Kramadangsa tidak pernah kasih dan Kramadangsa selalu bersifat sewenang-wenang. Maka lahirnya kasih itu bila Kramadangsa mati.

Kasih itu rasanya enak atau bahagia. Bukan rasa enak karena kehendaknya tercapai, bukan karena mendapat harta benda banyak, bukan karena mendapat kekuasaan, bukan karena mengalahkan musuh dan sebagainya. Rasa yang lahir tersebut akan dicatat oleh Kramadangsa. Jika sudah mencatat rasa kasih tersebut Kramadangsa hidup lagi.

Catatan rasa kasih itu bukanlah kasih. Dari catatan rasa kasih tersebut Kramadangsa akan mengejar kasih, setiap mengejar rasa kasih, Kramadangsa tidak dapat berhasil sebab selama hidupnya Kramadangsa tidak dapat kasih. Agar supaya rasa kasih itu lahir, Kramadangsa haruslah mati dahulu.

Padahal matinya Kramadangsa itu bila diketahui kesewenangannya tanpa maksud untuk merubah. Bila ada maksud untuk merubah berarti Kramadangsa maslh hidup, sebab yang bermaksud untuk merubah adalah Kramadangsa.

Bila sudah mencatat rasa kasih, Kramadangsa lalu hidup lagi. Demikian seterusnya. Jadi lahirnya rasa kasih itu tidak terus menerus, tetapi terputus-putus pada tiap kali perbuatan.

Meskipun kasih itu barang kuno dan abadi tetapi kasih tersebut bagi Kramadangsa seperti barang baru. Sebab kasih itu memperbarui Kramadangsa. Maka kasih itu dapat disebut barang abadi baru.

Faedah kelahiran rasa kasih itu adalah penting di dalam pergaulan sehari-hari. Padahal rasa kasih itu lahir biia orang melihat kesewenangannya sendiri. Maka melihat kesewenangannya sendiri itu penting di dalam pergaulan sehari-hari.

Di sini perlu diberi contoh dalam kejadian pergaulan sehari-hari di mana orang dapat melihat kesewenangannya sendiri. Ada seorang yang mempelajari ilmu jiwa sedang naik kereta api dan duduknya membelakangi pintu kereta, oleh karena orang tersebut tidak tahan angin, ditutupnya pintu kereta. Kemudian ada orang lain lewat masuk melalui pintu tersebut, tetapi tidak menutupnya lagi. Orang yang tidak tahan dingin tersebut merasa marah, tetapi tidak lahir menjadi perbuatan marah. Orang tersebut mengetahui marahnya sendiri, dalam hatinya berkata demikian, “Lho, aku ini orang yang berbuat sewenang-wenang, mengapa aku marah kepada orang yang tidak mau menutup pintu, padahal yang butuh menutup pintu itu aku sendiri, tetapi ogah-ogahan. Aku lebih suka memarahi orang lain daripada menutup pintu. Demikian ini adalah perbuatan sewenang-wenang.”

Hasil melihat kesewenangannya sendiri yang belum lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang, orang tersebut segera bertindak menutup pintu kereta api, dengan merasa damai dan bahagia. Rasa marah yang ketahuan demikian, tidak meninggalkan bekas atau dendam untuk dia, orang yang dimarahi tersebut sudah menjadi orang baru, artinya bukan orang yang dimarahi lagi.

Contoh lain lagi di mana orang dapat melihat kesewenangannya sendiri. Ada orang belajar ilmu jiwa. Pada suatu saat orang tersebut naik kereta api. Kemudian ada pedagang burung perkutut masuk dalam gerbong kereta api dan meletakkan sangkar burung di tengah jalan di dalam kereta api, sehingga sangkar tersebut menutupi orang yang akan lewat. Banyak orang-orang yang lewat terpaksa melompati sangkar itu. Orang yang belajar ilmu jiwa tersebut merasa marah, kata hatinya demikian: “Pedagang perkutut itu tidak mengerti peraturan kerata api, ia menaruh sangkar burung merintangi orang-orang yang akan lewat.”

Orang yang belajar ilmu jiwa tersebut mengetahui marahnya sendiri, kesewenangannya sendiri, kata hatinya demikian: “Lho aku ini berbuat sewenang-wenang, yang menaruh sangkar mau dan yang melompati mau juga, mengapa aku marah?” Tidak berapa lama kondektur lewat dan juga melompati sangkar tersebut dan tidak meIarang kepada yang punya sangkar. Orang yang belajar ilmu jiwa tersebut menjadi lebih jelas dan mengetahui kesewenangannya sendiri dan kata hatinya demikian: “Lho, aku ini jelas berbuat sewenang-wenang, mengapa aku marah kepada pedagang perkutut, meskipun marahku tidak lahir menjadi perbuatan marah, sedangkan kondektur yang punya kereta api tidak marah.”

Demikian orang melihat diri sendiri, kesewenangannya sendiri. Jika ketahuan sebelum lahir menjadi perbuatan, rasa sewenang-wenang tidak lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang. Jikalau orang menjadi biasa melihat kesewenangannya sendiri yang kasar-kasar, kemajuannya orang akan dapat melihat kesewenangannya sendiri yang halus-halus, yang belum menjadi rasa marah.

Misalnya orang menyuruh membuat air minum kepada isterinya, tetapi isterinya tidak mau. Pada waktu menyuruh membuat air minum dan isterinya mau, orang yang menyuruh tersebut tidak tampak kesewenangannya, sebab kesewenangannya tidak lahir menjadi rasa marah. Bila isterinya disuruh tidak mau, rasa sewenang-wenangnya akan lahir menjadi marah.

Jadi apabila orang menyuruh kepada isterinya dan mengetahui kesewenangannya sendiri, dan isterinya tidak mau disuruh, orang tcrsebut tidak marah sebab rasa sewenang-wenang bila diketahui sebelum jadi rasa marah, rasa sewenang-wenang tersebut tidak lahir menjadi rasa marah. Jadi rasa marah itu adalah tindakan rasa sewenang-wenang.

UNSUR-UNSUR KRAMADANGSA

Bila Kramadangsa mati, orang akan mengetahui unsur-unsur Kramadangsa. Kramadangsa itu terjadi dari catatan-catatan: harta benda, pekerjaan, kehormatan, kekuasaan, keluarga, gerombolan, bangsa, jenis, kepandaian, kepercayaan, rasa hidup dan sebagainya. Jadi bila Kramadangsa mati orang akan dapat mempelajari unsur-unsur Kramadangsa tanpa senang dan benci dan tanpa rasa ingin mengubah.

Catatan-catatan yang menjadi unsur-unsur Kramadangsa tersebut hidup, karena itu gerak dan diam dan perlu makan. Unsur-unsur Kramadangsa itulah yang mendorong dan menggerakkan Kramadangsa. Oleh karena itu bila orang tidak mengerti unsur-unsur Kramadangsa, sering terkejut akan perbuatan sendiri yang tidak diduga-duga, misalnya: bercerai dengan isterinya, menyumpahi dan mengusir anaknya, bertengkar dengan tetangga dan sebagainya.

Catatan harta benda wujudnya: catatan rumah, halaman, sawah, harta dan sebagainya. Catatan harta benda tersebut hidup, oleh karena itu ingin kelangsungan hidupnya, dan catatan tersebut dapat pula mati.

Seperti benda hidup lainnya catatan harta benda itu ada rasanya. Catatan harta benda itu rasanya lemah sekali. Misalnya rumah itu dapat bocor, lapuk dan dapat rusak.

Oleh karena merasa lemah, catatan harta benda berusaha agar menjadi kuat. Usaha untuk menjadi kuat itu menumbuhkan Kramadangsa. Jadi Kramadangsa itu pesuruh dari unsur-unsurnya.

Kramadangsa itulah yang berusaha agar harta benda menjadi kuat. Kramadangsa itu mengerti tentang aturan terjadinya benda (barang dumadi), tetapi catatan harta benda tidak. Maka Kramadangsa itu hidup dalam ukuran ketiga, sedang catatan harta benda hidup dalam ukuran kedua.

Andaikata diserang atau dirugikan, catatan harta benda tentu akan membela diri tanpa berpikir. Bila rasa membela diri itu muncul dalam perasaan, Kramadangsa akan memikir bagaimana untungnya membela diri. Jadi Kramadangsa itu adalah alat dari catatan harta-benda agar menguntungkan dan menolak bila dirugikan.

Demikian pula unsur-unsur yang lain menggunakan Kramadangsa untuk membela diri. Antara unsur-unsur Kramadangsa itu sering bertentangan antara satu dengan yang lain, sehingga menyebabkan orang menemui kesulitan.

Misalnya harta benda seseorang dihabiskan oleh anaknya. Anak adalah unsur dari Kramadangsa dan harta bendapun unsur dari Kramadangsa. Jadi dua unsur saling berselisihan.

Perselisihan antara unsur-unsur itulah yang menyebabkan orang menemui kesulitan. Bila kesulitan itu diteliti, akan ketemu, bahwa catatan-catatan yang menjadi unsur Kramadangsa itu ada yang salah. Jadi catatan itu dapat benar dan dapat pula salah.

Catatan benar rasanya enak, sedangkan catatan salah rasanya tidak enak. Bila orang mengerti bahwa catatan itu dapat benar dan dapat pula salah, dapatlah orang meneliti catatan salah untuk dibetulkan. Sebagai petunjuk yang jelas bahwa catatan itu salah bila sudah terjadi kesulitan.

CATATAN BENAR dan CATATAN SALAH

Catatan harta benda sering salah. Harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan hidup yaitu: makan, pakaian dan tempat tinggal. Jika keliru, harta benda itu dipergunakan untuk mencari kehormatan dan kekuasaan. Padahal kehormatan dan kekuasaan itu kebutuhan jiwa. Apabila harta benda digunakan untuk mencukupi kebutuhan jiwa, orang merasa tidak cukup, walaupun orang mempunyai berapa banyaknya harta benda, sehingga orang akan berebutan harta benda.

Bila kita mengerti bahwa harta benda berguna untuk mencukupi kebutuhan raga atau hidup, orang akan tenteram, karena mengerti bahwa kebutuhan raga itu sedikit sekali. Harta benda untuk kebutuhan jiwa tanpa batas, sebab untuk bersaingan. Bersaingan itulah yang menyebabkan orang menjadi sewenang-wenang.

Bila harta benda digunakan untuk kebutuhan jiwa, maka pekerjaan pun salah bila digunakan untuk bersaingan sehingga menyebabkan adanya pekerjaan yang dianggap rendah, tinggi, halus dan kasar. Jadi bila terjadi salah anggapan tentang pekerjaan maka akan ada pekerjaan bahagia dan celaka dan ada tingkat (pangkat) pekerjaan.

Pekerjaan yang tingkatnya rendah disebut pekerjaan celaka dan yang tingkatnya tinggi disebut pekerjaan bahagia. Itulah yang menyebabkan orang berebutan tingkat tinggi. Demikian bila pekerjaan digunakan untuk kebutuhan jiwa menyebabkan orang berebutan pekerjaan tinggi sehingga menimbulkan perselisihan.

Bila orang mengerti bahwa pekerjaan itu digunakan untuk kebutuhan raga, maka orang akan merasa tenteram. Bila rasa celaka muncul dalam perasaan, orang akan melihat bahwa rasa celaka demikian adalah keliru, maka lenyaplah rasa celaka tersebut. Demikian selanjutnya bila rasa celaka muncul kembali.

Tiap kali celaka muncul, catatan salah tentang pekerjaan yang menimbulkan rasa celaka tersebut menjadi benar. Bila catatan pekerjaan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, Kramadangsa tidak lagi merasa lebih tinggi atau kurang tinggi dengan orang lain dalam hal pekerjaan. Apabila pekerjaan sudah tidak dibandingkan dengan orang lain, orang akan merasa tenteram.

Catatan kehormatan menyebabkan orang marah bila dihina dan tertawa bila dihormati. Jika orang tidak mengerti sifat unsur kehormatan tersebut, orang akan mengharapkan tidak marah bila dihina, sebab marah itu menyebabkan berselisih bila lahir menjadi perbuatan. Harapan agar tidak marah tersebut menjadi menahan marah.

Marah yang ditahan itu tidak hilang marahnya, tetapi hanya berganti rupa yang berwujud menggerutu, membicarakan orang lain dan sebagainya. Orang sering lupa dengan marahnya sendiri yang sudah berganti rupa. Bila orang tidak lupa dengan marahnya sendiri yang sudah berganti rupa dapatlah melanjutkan meneliti marahnya sendiri sampai kepada sumbernya yaitu unsur kehormatan yang dihina.

Catatan kehormatan sering pula salah. Wujudnya berupa pengertian demikian: “Dihormati itu rasanya enak.” Catatan kehormatan yang salah tersebut menyebabkan orang berusaha mati-matian agar supaya dihormati. Inilah yang menyebabkan orang berebutan kehormatan.

Catatan kehormatan benar, berwujud pengertian demikian: “Hormat itu rasanya enak.” Hormat itu rasanya enak, baik hormat itu dari diri sendiri kepada orang lain maupun dari orang lain kepada diri sendiri.

Bila mengerti bahwa hormat itu rasanya enak, orang tidak usah menunggu dihormati oleh orang lain tetapi cukuplah menghormati orang lain. Meskipun lahir atau tidak lahir menjadi perbuatan, menghormati itu rasanya enak. Jadi enak dalam kehormatan itu pada diri sendiri tidak pada orang lain.

Bila catatan kehormatan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, orang dapat melihat dan tidak lupa kepada rasanya sendiri, bila rasa minta dihormati muncul dalam perasaan. Bila rasa minta dihormati itu ketahuan, tidak akan lahir menjadi perbuatan minta dihormati. Mengetahui diri sendiri minta dihormati itu menyebabkan rasa tenteram. Mengetahui diri sendiri minta dihormati itu berbeda dengan menahan diri, agar tidak kelihatan minta dihormati. Menahan diri itu rasanya gelisah, takut dan tidak enak, sedangkan mengetahui itu rasanya tenteram, tabah dan enak. Jadi menahan diri itu mengandung rasa takut sedangkan mengetahui itu mengandung rasa tabah.

Catatan kekuasaan yang menjadi unsur Kramadangsa dapat-pula benar dan salah. Bila catatan tersebut benar rasanya enak, sedangkan Bila salah rasanya tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan dapat melihat unsur kekuasaan tersebut.

Unsur kekuasaan ini menyebabkan orang menjadi benci bila diganggu dan menjadi senang bila dibantu. Bila orang tidak mengerti unsur kekuasaan tersebut orang akan mencari kekuasaan dalam masyarakat, sehingga timbullah berebutan kekuasaan dalam masyarakat.

Cita-cita untuk mencari kekuasaan akan lahir menjadi usaha agar ditakuti dalam masyarakat. Bila merasa ditakuti, orang merasa berkuasa dan puas, sehingga orang berebutan agar ditakuti dan menakut-nakuti dalam masyarakat.

Cita-cita mencari ditakuti di dalam masyarakat dianggap cita-cita luhur. Anggapan terhadap hal tersebut dinyatakan dalam ungkapan sebagai berikut: “Orang baru akan memperoleh kewibawaan bila disegani aleh orang lain.” Dalam ungkapan tersebut mengandung arti bahwa kewibawaan seseorang itu bila dapat ditakuti atau menakut-nakuti orang lain.

Demikianlah wujud catatan unsur kekuasaan bila diteliti. Bila penelitian dilanjutkan, akan terlihat bahwa catatan tersebut salah. Untuk jelasnya seperti di bawah ini. Rasa mencari kekuasaan itu lahir menjadi keinginan diturut atau dipercaya oleh orang lain. Orang menurut itu terdorong oleh rasa takut ancaman atau harapan akan kebahagiaan. Maka usaha untuk diturut atau dipercaya itu berupa ancaman atau janji yang berupa harapan bahagia, sehingga timbullah dalam masyarakat ancaman-ancaman dan janji-janji. Untuk menguatkan ancaman danjanji-janji tersebut orang mengadakan kelompok-kelompok yang berselisih satu sama lain. Inilah yang menyebabkan peperangan.

Demikian catatan unsur kekuasaan yang salah menyebabkan tidak enak. Jika orang mengerti catatan tersebut salah, orang akan dapat membetulkan seperti berikut: Orang ingin merasa enak dan menolak rasa tidak enak. Tiap orang yang merasa tidak enak dan tidak mengerti bagaimana caranya mendapatkan enak, akan bertanya kepada orang lain yang dianggap dapat. Maka bila ada orang yang dianggap oleh orang banyak dapat mengenakkan orang lain dalam salah satu hal, orang tersebut akan dipercaya oleh orang banyak. Misalnya dukun, dokter, ahli negara, ahli jiwa dan sebagainya. Jadi dipercaya orang lain itu, karena dapat mengenakkan. Catatan demikian itu benar. Maka untuk dipercaya orang, hanyalah dengan mengenakkan orang lain.

Bila catatan unsur kekuasaan tersebut sudah benar, orang dapat mcngetahui rasanya sendiri, rasa ingin dipercaya orang lain yang tidak dengan cara mengenakkan orang lain pada waktu muncul dalam perasaan. Bila rasa ingin dipercaya orang lain tersebut ketahuan sebelum lahir menjadi perbuatan, rasa tersebut tidak akan lahir menjadi perbuatan. Kemudian orang akan melihat apa yang harus dilakukan seketika itu, tanpa memikir panjang. Tindakan demikian itu hasilnya sama enaknya.

Catatan keluarga yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar, rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati orang akan dapat melihat unsur keluarga tersebut.

Keluarga itu terdiri dari suami/isteri, anak yang belum berkeluarga dan orang tua jompo yang jadi tanggungannya. Unsur keluarga ini menyebabkan orang marah bila diganggu dan tertawa bila dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri tentang hubungannya dengan anggota keluarga lain, catatan keluarga tersebut salah.

Catatan keluarga salah menyebabkan perselisihan dalam keluarga. Perselisihan dalam keluarga itu wujudnya ialah, orang bertengkar atau bercerai dengan suami/isterinya, memarahi anaknya dan sebagainya. Jadi heboh dalam keluarga itu disebabkan dari tidak mengerti rasanya sendiri atau dirinya sendiri.

Jadi ketenteraman keluarga itu tergantung kepada pengertiannya tentang diri sendiri. Pengertian diri sendiri dalam keluarga adalah mengetahui hubungan diri sendiri dengan anggota keluarga lainnya. Bila orang mengetahui hubungannya dengan anggota keluarga lainnya, catatan keluarga menjadi benar.

Orang sering ditipu oieh diri sendiri yang merasa cinta kepada suami/isterinya. Rasa cinta di sini dimaksudkan cinta tanpa syarat dan tanpa batas, sebab cinta yang bersyarat dan berbatas adalah bukan cinta. Jadi orang sering merasa cinta kepada suami/isterinya tanpa syarat dan tanpa batas. Rasa cinta tersebut dapat diteliti demikian. Jika orang membelikan baju isteri/suaminya, tetapi isteri/suaminya masih cemberut, apakah orang masih terus mencintai isteri/suaminya? Tentu saja tidak, tetapi menjadi marah.

Jadi orang membelikan baju isteri/suaminya itu mengharapkan senyum. Jadi baju ditukar dengan senyum, demikian itu sama dengan jual beli. Jadi orang tidak mencintai isteri/suaminya, tetapi jual beli.

Demikianlah orang dapat meneliti rasanya sendiri. Bila penelitian dilanjutkan, orang akan melihat rasanya sendiri pada waktu mencari pasangan, rasanya demikian: “Jika dia menjadi suami/isteriku, aku senang sekali.”

Dalam ungkapan tersebut menunjukkan bahwa orang hanyalah memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan calon pasangannya. Jadi orang menghargai suami/isterinya hanyalah sebagai kesenangan belaka, seperti kesenangan yang lain, misalnya burung perkutut, gamelan, kucing dan sebagainya. Rasa menghargai seperti itu adalah sewenang-wenang. Jadi orang itu berbuat sewenang-wenang kepada suami/isterinya.

Bila orang mengerti kesewenangannya kepada suami/isterinya, maka catatan keluarga yang merupakan unsur Kramadangsa bagian suami/isteri menjadi benar. Bila rasa sewenang-wenang muncul dalam perasaan dalam hubungannya dengan suami/isterinya diketahui, tidak akan lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang.

Demikian pula orang sering merasa sayang kepada anaknya. Bila diteliti akan diketemukan bahwa diri sendiri menghargai anaknya hanyalah untuk kehormatan. Jika anak itu membuat bangga orang tuanya, akan disayangi, tetapi bila memalukan akan dibenci.

Rasa yang sering disebut sayang kepada anak itu adalah rasa hidup untuk kelangsungan jenis, yang wujudnya memelihara anaknya pada waktu kecil. Rasa hidup tersebut bukanlah kasih. Oleh karena itu setelah anak itu menjadi besar akan berselisih dengan orang tuanya.

Oleh karena orang menghargai anaknya hanyalah untuk kehormatan, maka orang itu berbuat sewenang-wenang kepada anaknya. Bila orang mengerti kesewenangannya kepada anaknya maka catatan keluarga yang merupakan unsur Kramadangsa bagian anak menjadi benar. Bila rasa sewenang-wenang muncul dalam perasaan dalam hubungannya dengan anak diketahui, tidak akan lahir menjadi perbuatan sewenang-wenang.

Catatan gerombolan atau golongan, yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan tersebut benar rasanya enak, bila salah tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan mengetahui unsur tersebut.

Golongan tersebut dapat merupakan golongan filsafat, ilmu jiwa, partai politik, kebatinan dan sebagainya. Unsur golongan menyebabkan orang menjadi benci bila golongannya diganggu dan senang bila dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan anggota-anggota golongan tersebut, catatan golongan akan salah.

Catatan golongan salah menyebabkan perselisihan dalam golongan tersebut. Perselisihan tersebut sering berwujud perebutan harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Jadi heboh dalam golongan disebabkan oleh karena tidak mengerti rasanya sendiri.

Jadi ketenteraman golongan itu hanyalah tergantung kepada pengertian diri sendiri. Bila orang mengerti bagaimana orang menghargai anggota golongan lain, catatan golongan akan benar.

Dalam golongan, orang mempergunakan kawan segolongannya untuk kepentingan sendiri yang seolah-olah untuk kepentingan golongannya. Kepentingan sendiri tersebut berwujud mencari harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Kepentingan sendiri itulah yang menyebabkan perselisihan.

Jika kepentingan sendiri diteliti, akan terlihat bahwa kepentingan-kepentingan sendiri itu banyak sekali yang bertentangan dengan kepentingan kawan-kawan yang lain. Pertentangan kepentingan-kepentingan tersebut menyebabkan kesulitan. Bila kesulitan tersebut tidak dipecahkan, tentulah dikemudian hari akan terjadi perselisihan.

Bila kesulitan tersebut dapat diselesaikan, maka catatan menjadi benar, orang akan mengetahui bila rasa mencari keuntungan dari golongannya tersebut muncul dalam perasaan. Bila ketahuan, tidak akan lahir menjadi perbuatan. Mengetahui hal tersebut rasanya tenteram.

Catatan bangsa yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila benar rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati, orang akan melihat unsur bangsa tersebut.

Bangsa adalah kumpulan orang-orang dalam satu negara. Unsur bangsa itu menyebabkan orang marah bila diganggu dan tertawa bila bangsanya dibantu. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain dalam satu bangsa, maka catatan bangsa akan salah. Catatan bangsa salah menyebabkan pertikaian dalam bangsa itu. Pertikaian tersebut sering berwujud pertikaian filsafat, ilmu jiwa, dan aliran. Apabila pertikaian itu berkembang, maka akan menjadi perang saudara.

Bila rasanya sendiri diteliti, orang dapat melihat bahwa di belakang filsafat, ilmu jisva atau aliran tersebut mengandung rasa perebutan harta benda, kehormatan dan kekuasaan. Bila rasa tersebut ketahuan orang akan mengerti bahwa pertikaian filsafat, ilmu jiwa dan aliran tersebut hanyalah merupakan sandiwara diri sendiri yang akan mengejar harta benda, kehormatan dan kekuasaan. lnilah yang menyebabkan huru-hara dalam bangsa.

Bila rasa diri sendiri tersebut diketahui, catatan bangsa yang menjadi unsur Kramadangsa menjadi benar. Bila rasa tersebut muncul dalam perasaan, orang akan mengetahui, sehingga tidak lahir menjadi perbuatan.

Catatan ilmu kebatinan yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar rasanya enak dan bila salah tidak enak. Jika Kramadangsa mati, orang akan dapat melihat unsur ilmu kebatinan tersebut.

Unsur ilmu kebatinan itu menyebabkan orang menjadi benci bila ilmu kebatinannya disalahkan dan senang bila dibenarkan. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri dalam hubungannya dengan catatan ilmu kebatinan tersebut, catatan ilmu kebatinan tersebut salah. Catatan ilmu kebatinan salah menyebabkan perselisihan.

Rasanya sendiri yang berhubungan dengan ilmu kebatinannya sendiri itu adalah rasa senangnya sendiri. Orang senang sebab mendapat keuntungan dari ilmu kebatinan tersebut. Keuntungan tersebut berupa harta benda, kehormatan dan kekuasaan.

Bila orang tidak melihat senangnya sendiri, orang tidak akan dapat meneliti benar atau salahnya ilmu kebatinan tersebut. Bila mengetahui rasa senangnya sendiri, orang akan melihat benar atau salahnya ilmu kebatinannya sendiri. Jadi catatan ilmu kebatinan menjadi benar.

Bila catatan ilmu kebatinan yang menjadi unsur Kramadangsa sudah benar, bila ilmu kebatinannya disalahkan atau dijelek-jelekkan orang lain, orang akan mengerti bahwa yang dijelek-jelekkan itu orangnya, bukan ilmu kebatinannya. Dan orang lalu mengerti bahwa orang lain yang menjelek-jelekkan tersebut benci kepada orangnya tetapi tidak kepada ilmu kebatinannya. Orang benci kepada orang lain tentulah mencari sebab untuk menjelek-jelekkan.

Orang akan mengerti kepada diri sendiri, bila diri sendiri membenci kepada orang lain tentulah juga mencari sebab untuk menjelek-jelekkan. Jadi diri sendiri itu rasanya sama dengan orang lain. Mengetahui demikian rasanya damai dan tenteram.

Kepandaian-kepandaian dan ilmu pengetahuan adalah merupakan unsur Kramadangsa. Ilmu pengetahuan itu ada pada orang berupa kepandaian. Oleh karena itu di sini hanya akan diterangkan tentang kepandaian saja.

Catatan kepandaian yang menjadi unsur Kramadangsa dapat benar dan dapat pula salah. Bila catatan itu benar rasanya enak dan bila salah rasanya tidak enak. Bila Kramadangsa mati orang akan melihat unsur kepandaian tersebut.

Unsur Kramadangsa kepandaian itu menyebabkan orang menjadi benci bila dijelekkan dan senang bila dipuji. Bila orang tidak mengerti rasanya sendiri yang berhubungan dengan kepandaiannya sendiri, catatan kepandaian tersebut salah. Catatan kepandaian salah menyebabkan orang membangga-banggakan kepandaian dan bersaing-saingan kepandaian, sehingga terjadi pertikaian.

Rasa sendiri yang berhubungan dengan kepandaian sendiri itu rasanya bangga. Bila mengetahui rasa bangganya sendiri orang akan dapat mengetahui rasa bangga orang lain dalam hal kepandaian. Orang dapat membuat kapal terbang rasanya bangga, anak dapat bermain gundu bangga pula rasanya.

Malahan rasa bangga dalam kepandaian itu tidak terbatas pada orang tetapi juga pada hewan. Gangsir ngentir (berbunyi) rasanya bangga dan burung dapat terbang di angkasa pun rasanya bangga. Jadi rasa bangga diri sendiri sama dengan rasa bangga orang lain dan sama pula dengan rasa bangga hewan dalam hal kepandaian.

Bila orang mengerti dengan rasa sama tersebut, catatan kepandaian yang menjadi unsur Kramadangsa menjadi benar. Catatan benar rasanya cnak. Bila rasa bangga sendiri muncul dalam perasaan, diri sendiri akan mencari bahwa rasa bangga tersebut sama dengan rasa orang yang menciptakan lagu atau sama dengan rasa seorang panglima perang yang dapat menciptakan siasat perang, sama pula dengan rasanya seekor gangsir yang sedang berbunyi.

Demikianlah unsur-unsur Kramadangsa yang dapat menggerakkan Kramadangsa. Bila unsur-unsur Kramadangsa sudah diketahui, orang tidak akan lupa dengan sikapnya sendiri menghadapi perbuatannya. Demikian cara mempelajari ilmu jiwa.

selesai


Ukuran Ke Empat

Ada empat jenis ukuran yakni ukuran kesatu, kedua, ketiga, dan keempat. Wujud ukuran kesatu ialab garis, ukuran kedua berwujud dataran yang mengandung panjang dan lebar, ukuran ketiga berbentuk benda yang mengandung panjang, lebar dan tebal, dan ukuran keempat adalah benda hidup yang mengandung rasa. Jadi ukuran-ukuran tersebut mempunyai wujud dan rasa.

Wujud keempat ukuran-ukuran itu semua terdapat di dalam rasa manusia, dan tidak di luar rasa manusia. Anggapan bahwa wujud ukuran-ukuran itu terdapat di luar rasa manusia adalah keliru. Penjelasannya ialah sebagai berikut.

Ukuran kesatu yang berwujud garis, terdapat di dalam perasaan orang. Bila garis itu diperkirakan terdapat di luar rasa orang, garis itu digambarkan sebagai sejumlah titik secara berjajar. Gambaran itu menimbulkan pertanyaan: “Apakah antara titik-titik itu terdapat jarak atau tidak?”

Jika antara titik-titik itu tidak ada jaraknya maka ini berarti bahwa garis itu merupakan sebuah titik. Padahal titik bukanlah garis. Jadi pendapat bahwa titik-titik mewujudkan garis itu keliru.

Sekarang timbul pertanyaan: “Apakah ada jarak di antara titik-titik yang mewujudkan garis itu?” Bila di antara titik-titik itu dibayangkannya ada jarak, maka bisa ditanyakan: “Apakah wujud jarak itu?” Sudah tentu jawabannya ialah jarak itu berwujud titik. Jawaban di atas tentu saja menimbulkan pertanyaan lagi. “Ada apakah antara jarak titik dengan jarak titik lainnyaP” Jawabnya tentu saja: “Ya titik lagi.” Jadi jarak titik yang satu dengan yang lain tidak ada batasnya, sehingga bila sebuah anak panah, bertolak dari satu titik ke titik lain, setelah berjalan berjuta-juta tahun pun panah itu tidak akan mencapai titik yang dituju karena jaraknya tidak terhingga panjangnya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Maka pendapat bahwa garis itu terdiri dari sejumlah titik itu keliru.

Yang benar ialah bahwa garis itu perasaan orang dalam menanggapi wujud ukuran kesatu. Setiap orang menanggapi wujud ukuran kesatu sebagai garis. Jadi garis itu dicipta oleh rasa manusia sendiri.

Wujud ukuran kedua ialah dataran. Patokan untuk meneliti dataran ini serupa dengan patokan untuk garis, karena dataran ini digambarkan sebagai sejumlah garis-garis yang berjajar. Maka dataran pun adalah ciptaan rasa orang dalam menanggapi wujud ukuran kedua.

Wujud ukuran ketiga ialah wujud benda yang mengandung panjang. lebar dan tebal. Wujudnya sebagai cangkir, piring, rumah, gunung, sungai, dunia, bintang, bulan, matahari dan sebagainya. Wujud benda ini terdapat dalam perasaan manusia.

Jika benda itu dikira terdapat di luar rasa manusia, maka perkiraan itu keliru. Benda itu, selain digambarkan sebagai sejumlah dataran berjajar, juga digambarkan sebagai sesuatu yang terdapat dalam ruang. Semua benda dibayangkan sebagai sesuatu yang mengambil dan diliputi ruang. Padahal ruang adalah rasa orang dalam menanggapi adanya benda itu.

Bila ruang diperkirakan di luar rasa manusia, maka sifatnya hanyalah dua macam, berbatas atau tanpa batas. Bila ruang itu berbatas, tentu timbul pertanyaan: “Apakah di luar batas tidak ada ruang lagi?” Bila orang hendak menjawab pertanyaan di atas, tentu jawabnya ialah bahwa di luar batas tadi terdapat pula ruang. Jadi pendapat bahwa ruang itu berbatas, adalah keliru.

Sekarang tinggal meneliti pertanyaan: “Apakah ruang itu tanpa batas?” Tanpa batas ini bukanlah jumlah dari bagian-bagian ruang, bukan jumlah satu meter kubik dengan dua meter kubik, atau satu dunia dengan dua dunia, sebab jumlah itu merupakan batas. Jadi tanpa batas ini berarti tidak dapat ditanyakan berapa banyaknya, karena jumlah itu berbatas.

Diteliti secara di atas, maka terlintas dalam pikiran kita bahwa memanglah ruang itu bersifat tanpa batas. Namun bila sifat ruang itu tanpa batas, maka ini berarti bahwa setiap ruang itu tidak berbatas. Jadi ruang jarak satu benda dengan benda lain tidak berbatas. Sehingga bila orang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, beribu-ribu tahun tidak akan tiba pada tempat yang ditujunya.

Demikianlah maka pendapat bahwa ruang itu terdapat di luar perasaan manusia itu keliru. Yang benar ialah bahwa ruang itu rasa manusia dalam menanggapi adanya benda. Jadi benda itu terdapat di dalam rasa manusia.

Wujud ukuran keempat pun ada dalam rasa manusia. Penjelasannya lebih jauh akan diberikan di belakang. Sementara ini akan diterangkan bagaimanakah hidup manusia dalam berbagai ukuran itu. Manusia itu hidup dalam ukuran kesatu, kedua, ketiga dan keempat.

Hidup manusia dalam ukuran kesatu ialah sebagai hidup seorang bayi yang baru lahir beberapa hari. Bayi itu sudah merasakan sesuatu, tetapi badan dan bagian-bagiannya belum dapat digunakan untuk mengikuti perasaannya. Misalnya bila bayi itu digigit nyamuk maka dapat dimengerti bahwa bayi itu merasa sakit. Tetapi tangan bayi itu belum dapat dipergunakan untuk menghalau nyamuk. Hidup dalam ukuran kesatu ini sama dengan hidup tanaman.

Hidup dalam ukuran kedua ialah sebagai hidup anak-anak yang badan dan bagian badannya sudah dapat mengikuti perasaannya, tetapi anak tadi belum mengerti sifat hukum benda-benda. Oleh karenanya dalam hubungannya dengan benda, ia sering keliru. Sebagai contoh misalnya seorang anak melihat api bercahaya, maka senanglah ia dan dipegangnya api itu.

Ini mengakibatkan tangannya terbakar. Anak itu merasakan sesuatu, yakni rasa senang, dan tangannya sudah dapat dipakai untuk mewujudkan perasaan senangnya, yakni memegang api. Tetapi ia belum mengerti hukum alam benda, bahwa api dapat membakar tangan yang memegangnya. Hidup dalam ukuran kedua ini sama dengan kehidupan hewan.

Hidup dalam ukuran ketiga ialah hidup manusia yang merasakan sesuatu dan badannya sudah dapat dipergunakan menurut perasaannya serta ia sudah mengerti sifat hukum alam benda. Oleh karenanya dalam hubungannya dengan benda-benda yang dipakai untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia tidak sering keliru. Sebagai contoh misalnya seorang merasa haus, maka diambilnya air dari tempayan, dan diminumnya. Orang itu merasa sesuatu, yakni haus, dan mengerti hukum alam benda, kemudian mengerti caranya minum dengan mengambil air dari tempayan. Maka tindakan orang itu adalah tepat.

Hidup dalam ukuran keempat ialah hidup manusia dalam hubungannya dengan benda. Benda hidup ini mempunyai perasaan. Jadi hidup dalam ukuran keempat ialah hidup manusia dalam hubungannya dengan perasaan-perasaan.

Dalam hubungannya dengan perasaan-perasaan itu dapat timbul pelbagai kesukaran. Kesukaran dalam hubungannya dengan perasaan-perasaan disebabkan karena ia tidak mengerti tentang perasaan. Serupa halnya kesukaran dalam hubungannya dengan suatu benda, karena ia tidak mengerti tentang sifat benda itu. Jadi kesukaran dalam kedua hal di atas disebabkan karena ketidakmengertian.

Ukuran keempat ialah salah satu alat manusia. Manusia memiliki berbagai alat seperti tangan, kaki, mata, kuping dan sebagainya. Alat-alat itu ada yang harus dididik agar berkembang, dan ada pula yang tidak perlu pendidikan. Alat-alat yang tidak mesti dididik berupa mata, kuping dan sebagainya. Mata untuk melihat rupa dan kuping untuk mendengar suara. Mata dan kuping ini sekalipun tidak dididik, bila tidak mengalami cedera, perkembangannya akan berlangsung secara wajar.

Tetapi alat-alat yang perlu dididik, bila tidak dididik maka perkembangannya tidak akan wajar. Wujud alat-alat yang perlu dididik ialah hati, pikiran dan ukuran keempat. Hati ialah alat untuk merasakan rasanya sendiri, pikiran ialah alat untuk memikir dan ukuran keempat ini ialah alat untuk merasakan rasa orang lain. Alat-alat inilah yang menyebabkan orang membutuhkan pelajaran, tidak hanya yang bersifat ketrampilan, akan tetapi juga yang dapat mengembangkan hati, pikiran, dan ukuran keempatnya.

Hati sebagai alat untuk merasakan rasa sendiri, bila tidak cukup pendidikannya, tidak akan dapat berkembang secara wajar, sehingga untuk merasakan rasa sendiri sering keliru. Rasa orang dapat dibagi dua, yaitu rasa enak dan rasa tidak enak. Bila hati tidak cukup terdidik, ia sering keliru untuk merasakan rasa sendiri yang enak dan tidak enak, yakni enak dianggapnya tidak enak, sedang tidak enak dianggapnya enak. Sering kekeliruan tadi diketahui kemudian berupa penyesalan.

Kekeliruan-kekeliruan itu disebabkan karena bercampurnya pelbagai rasa secara tidak teratur; misalnya bercampurnya rasa enak dan tidak enak dalam suatu tindakan. Maka memisah-misahkan rasa yang bercampur secara tidak teratur itu, adalah salah satu latihan untuk mendidik hati.

Misalnya orang berjudi atau main ceki; ketika menang merasa enak dan senang. Tetapi rasa senang ini bercampur rasa gelisah, rasa takut kalau kalah dan dia bernafsu untuk mempertahankan kemenangannya. Dan main kartu ceki dengan kegelisahan, karena takut kalah disertai nafsu menang, merupakan rasa tidak enak yang mencampuri rasa senang dalam kemenangannya.

Adapun main kartu ceki tanpa rasa gelisah dan tanpa nafsu menang tentu saja tidak mengganggu rasa senang. Adanya rasa itu menimbulkan rasa susah dan celaka yang kedua-duanya tidak enak. Jelasnya sebagai berikut. Rasa susah ialah rasa keinginan yang tidak tercapai, maka tidak berlangsung iama. Tetapi rasa celaka (malang) itu ialah idam-idaman yang ditakutkan akan gagal dan yang disebut prihatin, dan oleh karena itu berlangsung lama. Rasa prihatin tetap ada pada waktu orang merasa senang.

Rasa prihatin adalah tetap tidak enak. Tatkala belum tercapai, idam-idaman itu menggelisahkan, maka rasanya tidak enak, prihatin. Ketika idam-idaman itu gagal maka timbul rasa sedih, yang rasanya tidak enak. Sekalipun idam-idaman itu tercapai, namun tetap timbul kekhawatiran kalau-kalau ia terlepas lagi, maka rasanya tidak enak. Jadi main kartu ceki bila menjadi idam-idaman, tidaklah enak rasanya.

Contoh rasa enak yang dianggap tidak enak, ialah bila orang berbuat baik kepada orang lain, namun akhirnya dibalas dengan kejahatan, maka menyesallah ia atas perbuatan baiknya tadi. Penyesalan itu disebabkan karena tercampurnya rasa enak dan tidak enak. Berbuat baik terhadap orang lain itu enak rasanya, dan dibalas dengan kejahatan oleh orang lain, tidak enak rasanya. Jadi berbuat baik terhadap orang lain tetap enak rasanya. Maka penyesalan di atas berarti menyesal akan rasa enak yang diperolehnya. Apabila orang sering menyesal atas keenakannya, akhirnya ia akan jemu merasa enak. Demikianlah kekeliruan yang sering terjadi dalam mempergunakan hati untuk merasakan rasanya sendiri.

Pada hakikatnya tindakan manusia semata-mata menurut bagaimana ia menanggapi rasanya. Bila penanggapannya sering keliru, tindakannya pun sering keliru. Jadi dasar tindakan manusia adalah bagaimana ia menanggapi rasanya.

Oleh karena itu, mula-mula hati ini harus dilatih untuk menanggapi pelbagai rasanya sendiri yang pokok, agar dapat memisahkan rasa suka dan duka (susah), dengan bahagia dan derita. Setelah itu maka dengan mudah hati dapat digunakan untuk menanggapi perincian rasa sendiri. Demikianlah cara mendidik hati.

Pikiran ialah untuk memikir. Bila tidak cukup terdidik pikiran tidak akan memperoleh kemajuan yang wajar, sehingga pemikirannya sering keliru. Hal-hal yang dipikirkan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu benda dalam arti umum dan benda secara terperinci. Yang pertama ialah jawaban atas pertanyaan: “Apakah yang terdapat di atas bumi dan di kolong langit?” Yang kedua adalah benda-benda satu persatu serta gerak-geriknya.

Memikirkan masalah benda dalam arti umum, harus dijalankan tanpa bertanya berapa, bagaimana, di mana dan bilamana. Benda dalam arti umum tidak ada jumlahnya tidak dapat dilihat dan tidak bergantung pada tempat dan waktu. Maka kelirulah bila memikirkan benda dalam arti umum, dengan menggunakan empat macam pertanyaan tersebut.

Memikirkan benda secara terperinci, harus menggunakan pertanyaan berapa, bagaimana, di mana dan bilamana. Karena benda terperinci itu mempunyai jumlah yang dapat dilihat dan tergantung pada tempat dan waktu. Maka kelirulah bila memikirkan benda terperinci tanpa menggunakan empat macam pertanyaan tersebut.

Benda terperinci ialah benda berwujud serta gerak-geriknya (Bhs. Jawa: lelampahan). Memikirkan benda berwujud, ialah membeda-bedakan dan menyama-nyamakan benda yang satu dengan lainnya, menurut jumlah, bentuk, tempat, dan zamannya. Hasil pemikiran demikian itu merupakan pengertian.

Memikirkan cara gerak-geriknya ialah membedakan dan menyamakan gerak-geriknya satu persatu dan meneliti sebab dan akibatnya. Gerak gerik itu merupakan pergeseran jumlahnya, perubahan bentuknya dan pergantian waktunya. Hasil pemikiran demikian itu merupakan pengertian.

Apa yang dipikirkan, bagaimanakah sifat-sifatnya dan apakah faedahnya, semua ini harus jelas, agar kita dapat berpikir benar. Pemikiran yang tidak jelas, disebabkan tidak terpenuhinya tiga syarat tersebut. Jadi untuk berpikir dengan jelas itu perlu menjawab tiga pertanyaan, yaitu apa yang dipikir, bagaimana sifatnya dan apa gunanya.

Dalam pergaulan, banyak perselisihan disebabkan oleh kekeliruan dalam berpikir. Misalnya, ada yang berpikir bahwa Nyai Rara Kidul (Ratu Laut Selatan dalam mitos/dongeng Jawa) ialah penyebar penyakit; sedangkan ada pula yang berpikir, bahwa Nyai Rara Kidul ialah penyembuh penyakit. Dua macam eara berpikir yang bertentangan di atas menyebabkan perselisihan. Tetapi pemikiran di atas akan menjadi jelas bila disertai pertanyaan: “Yang dipikir itu apa? bagaimana? dan apa faedahnya?” Misalnya pertama, Nyai Rara Kidul itu apa? Jawabnya, Nyai Rara Kidul itu sebuah dongeng, dan dongeng itu ialah cerita yang tidak bersangkutan dengan kenyataan. Kemudian pertanyaan kedua, bagaimanakah Nyai Rara Kidul itu? Penyebar atau penyembuh penyakit? Dongeng itu diceritakan oleh dua orang yang masing-masing tidak berhubungan, maka sewajarnyalah bila dongeng tersebut berbeda-beda. Akhirnya, apakah faedahnya dongeng itu? Jawabnya, faedah dongeng adalah untuk hiburan atau untuk memasukkan pelajaran kebatinan dan sebagainya. Setelah jelas demikian, dongeng Nyai Rara Kidul itu tidak lagi menyebabkan perselisihan.

Hal-hal yang dipikir pun dapat dipisah menjadi dua, yakni benda dan rasa. Sering cara memikir rasa dikacaukan dengan cara memikir benda, sehingga mengakibatkan kesulitan. Untuk memikir rasa, terlebih dahulu harus memisahkan rasa dari benda. Rasa yang bersumber pada keinginan, pada pokoknya ialah senang dan susah. Senang ialah rasa tercapainya keinginan, dan susah ialah rasa tidak tercapainya keinginan. Jadi senang dan susah itu rasa, bukan benda.

Yang menyebabkan senang ialah keinginan tercapai, dan yang menyebabkan susah ialah keinginan tidak tercapai, tetapi bukanlah benda-benda yang diinginkan. Agar jelas perlu diberi contoh di sini. Misalnya banyak orang mengadakan pertemuan di malam hari, mereka membutuhkan lampu yang terang. Bila memperoleh lampu terang, senanglah mereka itu. Tetapi tatkala hendak tidur mereka perlu lampu yang tidak sebegitu terang, sehingga mereka merasa susah kalau lampu itu terang. Jadi lampu terang itu semula disenangi, kemudian tidak disenangi.

Jadi benda itu tidak menyebabkan senang atau susah. Bila sudah terpisah cara memikir benda dan memikir rasa, orang dapat menelaah pokok kebutuhannya yang semula ruwet. Setelah dimengerti, maka lenyaplah kesulitan yang bersumber pada tercampurnya memikir benda dan memikir rasa.

Rasa orang pun dapat dibagi dua bagian, sebagai rasa yang dihayati dan rasa yang menghayati. Rasa yang dirasakan yaitu senang, susah, sakit, sembuh dan sebagainya. Dan rasa yang menghayati ialah “aku”, merasa, mengerti, pribadi, dan sebagainya. Jadi rasa yang menghayati bukanlah rasa yang dihayati. Bila dalam memikirkan dua macam rasa itu bercampur-baur, sering orang keliru dalam merasakan sesuatu. Misalnya bila orang sedang sakit, ia merasa “aku sakit”. Memikir rasa demikian itu keliru.

Sakit adalah rasa yang dihayati, bukanlah rasa yang menghayati. “Aku” adalah rasa yang menghayati bukanlah rasa yang dihayati dan oleh karena itu tidak dapat sakit, melainkan dapat merasakan sakit. Jadi yang sakit bukanlah “aku”.

Setelah rasa yang dirasakan dan rasa yang merasakan terpisah maka rasa orang itu benar, yaitu “yang sakit bukanlah aku”. Bila kesadarannya sudah tepat, orang akan dapat meneliti dan mempelajari rasa-rasa sendiri yang bermacam-macam itu. Demikianlah cara memisahkan rasa yang dihayati dan rasa yang menghayati.

Jadi membina pikiran dapat dijalankan dengan memisahkan pemikiran benda dalam arti umum dan pemikiran benda terperinci, memisahkan pemikiran benda dari rasa, dan untuk memisahkan pemikiran rasa yang dihayati dengan rasa yang menghayati.

Adapun ukuran keempat ini adalah alat untuk merasakan rasa orang lain. Bila tidak cukup pembinaannya, ia tidak akan memperoleh kemajuan yang wajar. Sehingga di dalam menghayati rasa orang lain, sering salah.

Manusia itu dapat menghayati rasa sendiri dan rasa orang lain. Rasa sendiri dan rasa orang lain ini kedua-duanya terdapat dalam rasa sendiri. Jadi rasa manusia itu berisi rasa sendiri dan rasa orang lain. Bila rasa sendiri dan rasa orang lain dalam diri sendiri tercampurbaur, orang sering keliru menghayati rasa orang lain. Contohnya, orang kaya yang sering keliru menghayati rasa orang miskin. Orang kaya itu mengira bahwa orang miskin itu celaka dan susah selama-lamanya. Perasaan demikian itu, bercampur dengan rasa takut kemiskinan yang akan menimpanya. Bila rasa takut jatuh miskin itu terpisah, orang kaya itu dapat menghayati rasa orang miskin, yaitu bahwa si miskin tidak selamanya susah. Demikianlah cara memisahkan rasa sendiri dari rasa orang lain.

Orang miskin pun sering salah dalam menghayati rasa orang kaya. Ia mengira bahwa orang kaya itu bahagia dan senang selamanya. Cara mengira demikian itu tercampur dengan keinginan sendiri untuk menjadi kaya. Bila rasa ingin kaya ini terpisah maka ia dapat menghayati rasa orang kaya, yaitu bahwa si kaya tidak senang selamanya. Demikianlah cara memisahkan rasa sendiri dari orang lain. Jadi yang merintangi untuk menghayati rasa orang lain, ialah kepentingan sendiri.

Di sini perlu diberi contoh lain. Ayam (hewan) ialah benda yang memiliki rasa. Bila orang terpengaruh oleh kepentingannya sendiri, ia tidak dapat menghayati rasa hewan itu. Biasanya bila orang melihat seekor ayam maka kepentingan sendiri muncul. “Gemuk benar ayam ini, bila dipelihara akan banyak bertelur, bila digoreng enak pula rasanya dan bila dijual bisa laku sekian rupiah,” demikian perasaannya. Padahal bukanlah kehendak ayam untuk digoreng. Demikian kepentingan sendiri merintangi orang untuk menghayati rasa orang lain.

Contoh yang lebih terang lagi, ialah bila seorang laki-laki bepergian beberapa hari lamanya. Ketika pulang ditemukan istrinya menderita sakit perut. Laki-laki itu merasa kecewa, dan rasa kecewa inilah yang menyebabkan ia tidak dapat menghayati rasa sakit perut istrinya. Demikian kepentingan sendiri merintangi orang untuk menghayati rasa orang lain.

Perselisihan yang disebabkan orang keliru menghayati rasa orang lain

Dalam pergaulan banyak terjadi perselisihan yang disebabkan kekeliruan orang dalam menghayati rasa orang lain. Bahkan sering makin rapat pergaulannya makin hebat pula perselisihannya, seperti halnya dalam pergaulan antara suami-istri.

Bahkan pokok rasa yang dipakai untuk landasan berkeluarga saja sudah salah. Landasan rasa itu ialah: “Bila orang itu menjadi suami/istriku, pasti akan senang sekali.” Rasa demikian itu pada hakekatnya tidak memperhatikan rasa calon suami/istrinya. Tidak dipertimbangkan apakah mereka akan senang atau tidak sebagai suami/istrinya. Ia semata-mata mengejar kenikmatannya sendiri.

Dalam pada itu calon suami/istrinya pun hanya mengejar kenikmatan sendiri. Sudah tentu suami-istri yang berbekal rasa mencari enaknya sendiri-sendiri merasa tidak aman dan kecewa. Bekal rasa inilah yang menyebabkan perceraian dan perpisahan sementara. Suami-istri tadi tidak dapat menghayati rasa pihak lain, karena tertutup oleh kepentingannya masing-masing, sehingga mengakibatkan perselisihan dan perpisahan. Hal inilah yang menimbulkan anggapan bahwa suami-istri adalah musuh sebantal.

Pokok rasa untuk landasan bersuami-istri yang enak, ialah keinginan untuk mengenakkan suami/istrinya. Perkembangan bekal rasa itu membangkitkan ikhtiar mencari keenakan calon jodohnya. Usaha tersebut cepat atau lambat akan ditemukannya, akan tetapi mungkin juga ia akan gagal.

Kramadangsa *) memiliki keistimewaan masing-masing, yang lain daripada yang lain. Perbedaan ciri-ciri Kramadangsa itu menyebabkan perbedaan dalam penilaian orang per orang atas benda dan keadaan. Yaitu dalam keadaan yang sama ada orang yang merasa susah dan celaka, dan ada pula yang merasa senang dan bahagia.

Misalnya, orang yang tidak rukun dalam perkawinannya, akan menganggap bahwa jika ia berganti suami/istri ia akan bahagia, walaupun hal itu baru dikhayalkan saja. Tetapi bagi seseorang yang jujur, berganti suami/istri itu ialah perbuatan yang tercela. Jadi langkah pertama untuk membahagiakan suami/istri ialah mengetahui keistimewaan Kramadangsanya (kepribadiannya). Jadi keenakan dalam hubungan yang rapat, harus terlebih dahulu mengetahui Kramadangsa (pribadi) pihak yang dihubungi. Berdasarkan inilah orang dapat bertindak untuk mengenakkan pihak yang dihubunginya, dan menghindari tindakan yang tidak mengenakkannya. Jadi hubungan yang tidak enak itu disebabkan karena tidak adanya penghayatan sifat khusus Kramadangsa pihak yang dihubunginya.

Kepentingan diri-sendiri yang menutupi rasa orang lain, berupa catatan-catatan lama yang senantiasa berpautan dengan diri-sendiri. Bila catatan lama itu dipelajari, sehingga dihayati sebagai “itu bukan aku”, catatan lama itu mudah disisihkan dan tidak menutupi lagi. Jadi catatan yang menutupi ialah catatan yang diakui “inilah aku”.

Wujud ukuran keempat itu ialah sebagai berikut. Walaupun tidak disengaja sering orang merasakan rasa orang lain atau rasa hewan, tanpa dirintangi oleh kepentingan sendiri. Seperti orang tidak sampai hati untuk menyaksikan ayam disembelih, meskipun ia suka makan dagingnya; tidak sampai hati karena ia dapat menghayati rasa ayam yang tidak mau disembelih.

Ada lagi suatu contoh tentang orang yang dapat menghayati rasa hewan, yakni bila orang merasa gembira ketika mendengar burung berkicau gembira. Kegembiraan burung itu menular kepada orang yang mendengarnya, dan ini menyebabkan orang senang memelihara burung.

Bila orang mengerti bahwa tanpa disengaja ia dapat menghayati rasa hewan, maka orang pun akan dapat mempelajarinya dengan sengaja. Oleh karena sederhana maka rasa hewan ini lebih mudah dipelajari, daripada rasa manusia yang sangat banyak seluk beluknya dan liku-likunya. Maka sebelum berlatih untuk menghayati rasa orang, terlebih dahulu berlatih untuk menghayati rasa hewan; dan setelah berhasil menghayati rasa seekor hewan, lebih mudahlah orang berusaha menghayati dan mempelajari rasa hewan lainnya. Misalnya menghayati rasa seekor “gangsir” (semacam cengkrik) yang sedang “nyentir” (berbunyi), gembira dan bangga. Hewan itu tengah membanggakan kesaktiannya. Demikian wujud ukuran keempat.

Menghayati rasa dengan sengaja dapat menjadi pengetahuan (Bhs. Jawa: kawruh). Tetapi bila tidak disengaja, maka tidak akan menjadi pengetahuan. Pengalaman yang menjadi ilmu pengetahuan ini mudah dimanfaatkan oleh yang mengalami dan oleh orang lain.

Rasa orang lain yang dipelajari timbul dalam rasa orang yang mempelajari, pada awalnya seakan-akan adalah rasa orang yang mempelajari tersebut. Bila rasa tadi dipelajari sehingga yang mempelajari merasa “rasa ini bukan aku”, ia akan dapat membedakan dan menyamakan rasa itu dengan rasanya sendiri, yang juga “bukan aku”. Demikian cara merasakan rasa orang lain sehingga menjadi ilmu.

Bila ukuran keempat ini makin berkembang, orang dapat berusaha menghayati rasa kanak-kanak. Rasa kanak-kanak ini, karena lebih sederhana daripada rasa orang dewasa, juga lebih mudah dipelajarinya. Dengan mulai mempelajari rasa kanak-kanak, maka lebih mudahlah kita kemudian mempelajari rasa orang dewasa.

Kaum ibu dapat menghayati rasa anak kecilnya. Tetapi penghayatan ini sering tanpa disengaja, sehingga pengalaman itu tidak menjadi ilmu.

Bagi anak kecil, proses hidup yang wajar akan dialaminya, selalu menjadi idam-idaman. Misalnya, anak yang dapat merangkak dalam beberapa bulan, tentu mengidamkan akan dapat berdiri. Maka anak yang dapat berdiri pertama kali, merasa gembira dan bangga, bagaikan “gangsir nyentir” kedua-duanya bangga akan kepandaian masing-masing.

Bila ukuran keempat makin berkembang, maka orang dapat menghayati rasa anak yang telah dewasa, seperti jejaka atau gadis. Rasa jejaka yang mudah dipelajari ialah ketika habis mandi kemudian bercermin dan membuat belahan rambutnya dengan sisir. Ia pun merasa gembira dan bangga seperti “gangsir nyentir”, kedua-duanya sama memperlihatkan kepandaiannya. Demikian pula rasa gadis yang mudah dipelajari, ialah pada waktu ia sedang bercermin sambil menggosok giginya, ia memandang bayangan cermin lebih dua puluh kali. Rasa gadis itu pun gembira dan bangga seperti “gangsir nyentir” itu.

Semakin ukuran keempatnya berkembang, orang dapat menghayati rasa mempelai baru, yang merasa gembira dan bangga karena memperoleh kepandaian baru, sama dengan “gangsir nyentir”.

Bila ukuran keempat semakin maju lagi, orang dapat menghayati rasa yang lebih rumit, tanpa dirintangi oleh kepentingan sendiri. Misalnya kita mendengarkan seseorang berbicara, kita dapat menghayati rasa orang yang sedang berbicara, walaupun rasa itu tidak diungkapkan dengan kata-kata.

Sering dalam mendengarkan orang berbicara, kita bersitegang (ada desakan, merasa tidak sabar — ed.) ingin segera mengutarakan tanggapan kita terhadap pembicaraan itu. Bila kita setuju dengan pembicaraan itu, kita bersitegang ingin mengutarakan ketidaksetujuan kita. Bila keinginan bersitegang itu berhenti/hilang dan perhatian kita tetap pada rasa orang yang berbicara, maka kita dapat menghayati rasa orang yang berbicara itu secara tenang.

Bila ukuran keempat semakin berkembang, pada waktu orang membaca buku atau karangan dalam surat kabar, ia dapat menghayati rasa pengarangnya tanpa dirintangi oleh kepentingan sendiri. Kepentingan sendiri yang merintangi itu adalah rasa suka atau benci terhadap pengarangnya. Bila rasa suka-benci berhenti/hilang, sedang perhatiannya tetap pada rasa si pengarang, ia dapat menghayati rasa pengarangnya.

Demikian ukuran keempat sebagai alat manusia untuk merasakan rasa orang lain. Alat ini jika tidak cukup terdidik, tidak akan mencapai perkembangan yang semestinya. Adapun cara pendidikannya ialah sebagai berikut ini.

*) “Kramadangsa” adalah istilah ciptaan Ki Ageng Suryomentaram, yang dipergunakan untuk mengistilahkan kepribadian seseorang dengan nama dan sifatnya yang khas.

Pendidikan ukuran keempat

Pendidikan ukuran keempat ini termuat dalam suatu semboyan: “Siapa mencari enak tanpa mengenakkan tetangganya, sama dengan membuat tali untuk menjerat lehernya sendiri.” Ungkapan tersebut berarti “tak ada keenakan kecuali mengenakkan orang lain”. Jadi rasa enak itu hanya dapat diperoleh dengan jalan mengenakkan orang lain, lain daripada itu tak ada.

Enak tanpa mengenakkan orang lain, adalah sebagai tali yang menjerat lehernya sendiri. Karena rasa enak yang diperoleh dengan tidak mengenakkan orang lain, tercampur rasa tidak enak yang lebih berat bobotnya, maka rasa itu tidaklah murni. Misalnya ketika seseorang menikmati makanan, karena makanannya serba enak tidak seperti biasanya, maka tentu timbul rasa tidak enak: “Wah, bagaimana supaya dapat makan makanan yang serba enak serupa ini lagi. Bila keinginannya terlaksana, tentu muncul rasa tidak enak lagi: “Wah, bagaimana supaya setiap hari dapat makan serba enak serupa ini?” demikian seterusnya.

Perbuatan mengenakkan orang lain sering bersifat tidak mengenakkan orang lain. Umpama seorang suami membelikan pakaian untuk istrinya dengan maksud “supaya istrinya tidak cerewet”. Perbuatan itu sebenarnya bukan mengenakkan istrinya, tetapi menyuap istrinya dengan pakaian.

Oleh karena itu rasa enak hanya dapat diperoleh dengan jalan mengenakkan orang lain. Karena dalam suatu hubungan orang dengan orang lain, kedua belah pihak bersama merasa enak atau tidak enak. Jadi orang lain itu tidak terpisah sebagai “kamu”.

Orang menganggap orang lain dalam hubungan sebagai “kamu”, karena mengira bahwa enak dan tidak enaknya berat sebelah atau tidak berbarengan. Anggapan di atas disebabkan campurnya peristiwa dan perasaan. Bila peristiwa dan perasaan terpisah, dapatlah dimengerti bahwa rasa enak dan tidak enak timbul bersamaan dengan pihak yang dihubungi.

Umpama jika orang melihat orang lain terbentur kepalanya hingga benjol maka ia tentu merasa tidak enak walaupun tidak mengalami benjol. Jadi dalam peristiwa benturan di atas, yang bersamaan ialah rasanya tidak enak, sedang yang berbeda ialah benjolannya di kepala.

Semboyan “enak hanyalah mengenakkan orang lain” didasarkan atas anggapan bahwa orang lain bukanlah kamu. Sikap jiwa yang menganggap orang lain bukan kamu, mewajarkan tindakannya mengenakkan orang lain, dan memungkinkannya melihat rasa enak atau tidak enak orang lain.

Orang melihat rasa orang lain; pertama-tama tentu saja di dalam hubungannya terdekat, yakni suami/istrinya. Dan tatkala mulai melihat rasa pasangannya, timbullah rasa takut, karena bertentangan dengan anggapannya. Ternyata ia menyusahkan pasangannya. Si suami menyusahkan si istri, si istri menyusahkan si suami.

Untuk dapat merasa bahwa dirinya menyusahkan pasangannya, adalah lebih mudah daripada untuk mengerti. Adapun untuk mengertinya sebagai berikut. Orang menderita susah disebabkan oleh cacat pasangannya. Cacat-cacat itu ada tiga macam, yaitu cacat badan, hati dan pikiran. Jadi dengan demikian cacat diri sendirilah yang menyusahkan pasangannya. Apabila ia merasa tidak punya cacat, perasaan demikian itulah sebagai cacatnya. Cacat ini adalah cacat pikiran yang besar, yaitu kebodohan, karena ia tidak mengerti cacatnya sendiri.

Di sini akan diberi contoh bagaimana orang menyusahkan pasangannya yang disebabkan cacatnya. Misalkan seorang laki-laki berusia empat puluh tahun memperistri seorang perempuan muda berusia dua puluh tahun. Ia menyusahkan istrinya itu dengan usianya yang empat puluh tahun itu.

Mengetahui diri sendiri yang menyusahkan pasangannya, orang sering merasa takut. Takut ini mendorongnya mencari dalih sebagai landasan rasa, seolah-olah ia membahagiakan pasangannya. “Suami/istriku sekarang lebih senang daripada di waktu dulu. Dulu bila ia ingin ganti baju, tidak mudah diperolehnya. Tetapi kini ia tinggal pakai saja, sebab saya sudah membelikannya.” Demikian alasan orang takut menyadari bahwa dirinya menyusahkan pasangannya.

Orang dengan mudah dapat berganti pakaian ialah keenakan dalam penghidupan, tetapi bukanlah dalam perkawinan. Padahal kesusahan si istri dalam perkawinan, disebabkan bersuami dengan orang berusia empat puluh tahun. Membelikan pakaian tidak mengurangi usia. Jadi bidang penghidupan dan perkawinan itu terpisah. Bila diputar balik kedudukannya akan lebih jelas. Umpama laki-laki berusia empat puluh tahun itu dipersuamikan oleh seorang wanita berusia enam puluh tahun, dan dibelikannya pakaian. Sudah barang tentu laki-laki itu akan merasa tidak enak.

Walaupun orang menyusahkan dan disusahkan oleh pasangannya, namun perkawinannya sering berlangsung sampai mereka tua. Itu karena masing-masing puas dalam saling menyusahkan. Kepuasan semacam itu ialah puas dalam perhitungan untung-rugi, tetapi bukan dalam perkawinan. Hal tersebut dapat dilihat pada waktu mereka bertengkar, kedua pihak saling mengungkit-ungkit cacat masing-masing. Masing-masing menaikkan nilainya sendiri sembari menurunkan nilai lawannya.

Maka perkawinan dengan landasan untung-rugi, tetap tidak memuaskan. Karena dalam perkawinan nilai setiap orang tidak tetap dan berubah-ubah. Maka kepuasan dalam perhitungan untung-rugi tercampur kekhawatiran. Misalnya seorang laki-laki tua, berpangkat tinggi, beristrikan seorang wanita muda berpangkat rendah. Suami-istri itu kedua-duanya sama-sama merasa khawatir. Si suami khawatir turun pangkatnya, si istri pun khawatir turun kemudaannya. Maka masing-masing berusaha agar tidak menurun nilainya.

Perkawinan dengan dasar untung-rugi, menimbulkan rasa dijerumuskan atau menjerumuskan. Misalnya orang mempunyai cacat yang telah diakuinya, bila ia memperoleh jodoh, ia merasa bahwa suami/istrinya terjerumus. Sedang suami/istrinya pun sering menjerumuskannya. Maka dalam perkawinan di atas masing-masing pihak saling menjerumuskan.

Setelah orang merasa bahwa dengan cacatnya ia menyusahkan pasangannya, timbullah hasrat minta maaf. Hasrat minta maaf ini mengubah pandangan terhadap pasangannya dan inilah awal rasa rukun dan damai.

Sebelum rasa minta maaf timbul, maka laki-laki berusia empat puluh tahun dalam contoh di atas, bila didamprat oleh istrinya segera membalas mendamprat, sehingga terjadi saling damprat. Tetapi setelah ada rasa minta maaf dan berubah pandangan, maka ia menganggap dampratan istrinya itu benar: “Istriku mendamprat aku itu benar, karena ia kususahkan dengan usiaku yang empat puluh tahun ini.” Rasa demikian itu ialah lenyapnya rasa “kamu”. Jadi hilangnya rasa “kamu” karena mengerti kesalahan sendiri ketika berhubungan dengan orang lain, dan merasa tidak enak.

Bila rasa menyusahkan istrinya itu dipelajari, laki-laki tua itu dapat mengetahui bahwa istrinya berhati sabar. “Istriku ini sabar sekali. Ia seorang wanita baru berusia dua puluh tahun, memperoleh suami tua empat puluh tahun, semacam aku ini. Kesalahanku demikian besar, tetapi ia mendampratku hanya ringan saja. Andaikata aku yang mempunyai istri berusia enam puluh tahun, dampratanku pasti tidak seringan ini.” Padahal kesabaran ialah rasa luhur dan indah. Maka keinsafan bahwa dirinya menyusahkan orang lain dalam berhubungan, membuatnya melihat keindahan orang lain tersebut.

Jadi melihat rasa istrinya itu bersamaan dengan melihat cacat diri sendiri yang menyusahkan istrinya. Pokok rasa menyusahkan di atas itu juga akan lahir dalam rasa perincian. Pokok rasa menyusahkan ini menjadi bumbu dalam rasa menyusahkan secara perincian. Yaitu yang dapat mengobarkan perselisihan hebat antara suami-istri yang disebabkan karena hal-hal sepele saja, sehingga berakhir dengan perceraian, walaupun kemudian rujuk kembali.

Bila melihat cacat diri sendiri yang menyusahkan pasangannya dalam hal-hal perincian, orang akan mengerti kesalahan diri sendiri manakala merasa tidak enak dalam hubungan dengan pasangannya. Kemudian mencari kesalahan diri sendiri itu sampai menemukan. Demikian perkembangan ukuran keempat yang membuat orang senantiasa mengetahui kesalahan diri sendiri dalam hubungan yang tidak enak dengan pasangannya.

Jadi ukuran keempat ini kecuali memungkinkan orang merasakan rasa orang lain, pun memungkinkan orang mengetahui cacat diri sendiri yang pokok dan yang perincian. Melihat demikian itu disertai melihat gambar (pola) manusia tanpa cacat (sempurna). Jadi ukuran keempat membuat orang dalam berhubungan dengan orang lain, selalu menggembalakan cacat diri sendiri dengan pedoman gambar manusia sempurna.

Setelah pengetahuan rasa suami/istri semakin berkembang, orang akan mengetahui rasa anak-anaknya. Ternyata anaknya pun termasuk orang yang disusahkan oleh cacatnya. Jadi orang itu menyusahkan anaknya dikarenakan cacatnya. Sebagai anak ia mesti merasa susah (celaka) karena cacat orang tuanya. Misalnya merosotnya nilai anak itu setelah menjadi jejaka atau gadis, dapat disebabkan karena orang tuanya.

Dalam masyarakat ada pendapat yang merintangi orang melihat bahwa dirinya menyusahkan anaknya. Pendapat itu sebagai berikut: “Anak itu amat banyak berutang budi kepada orang tuanya”. Betapa banyaknya utang tersebut itu digambarkan dengan ungkapan, bahwa jumlah bulu badan si anak, bila diwujudkan uang mas belum cukup untuk membayar utang itu.

Pendapat di atas sering dipergunakan orang tua untuk menekan anaknya. Ini berarti tambah hebat orang tua itu menyusahkan anaknya. Tekanan-tekanan itu biasanya berupa minta dihormati, disanjung dan diberi apa-apa, dengan semboyan “mikul dhuwur mendhem jero” (memikul tinggi, menanam dalam – orang tua yang mati). Rasa inilah yang sering menyebabkan pertengkaran antara orang tua dan anak.

Setelah sadar bahwa ia menyusahkan anaknya, maka pasti tumbuh dalam diri orang tua, rasa minta maaf kepada anaknya. Ini berarti bahwa pandangannya terhadap anaknya berubah. Bila anaknya tidak taat kepadanya, maka itu dianggapnya benar: “Anakku nakal itu benar, karena telah kususahkan dengan cacatku.” Jadi rasa minta maaf itu datangnya serentak dengan melihat kesalahan dan cacat diri sendiri.

Setelah mengetahui rasa anaknya, maka orang dapat menghayati rasa tetangganya. Ternyata tetangganya adalah orang yang disusahkan oleh cacatnya. Jadi orang itu menyusahkan tetangganya karena cacatnya. Cacat-cacat yang kasar lebih mudah diketahui, seperti tabiat suka mengambil barang orang lain. Tetapi cacat-cacat yang halus lebih sukar diketahui. Maka biasanya melihat cacat sendiri dimulai dari cacat-cacat yang kasar dulu.

Perintang yang menghalangi orang untuk melihat rasa tetangganya ialah kepentingan diri sendiri. Kepentingan diri sendiri ini sering digunakan untuk menilai jahat atau baiknya tetangga. Kalau perbuatan tetangga itu sesuai dengan kehendaknya, maka dianggapnya baik dan kalau tidak, dianggapnya jahat.

Bila dalam hubungan dengan tetangga, kepentingannya itu lenyap, yang berarti bahwa kepentingan itu bukanlah “aku”, maka orang dapat melihat rasa tetangga. Lenyapnya kepentingan sendiri memungkinkan ia melihat bahwa tetangganya itu benar, sedang dirinya yang salah. Jadi menghayati rasa tetangga berarti lenyapnya kepentingan diri sendiri dan mengetahui kesalahan dan cacat diri sendiri.

Melihat rasa tetangga ini disertai rasa minta maaf pada tetangga. Orang akan beranggapan bahwa tetangganya benar dan diri sendiri salah. Inilah rasa bersatu dengan tetangga, yang berarti tetangga itu bukanlah “kamu”.

Bila sudah dapat bersatu dengan tetangga, maka orang akan dapat bersatu dengan siapa pun yang dihubunginya. Jiwa seperti itu dapat dikatakan sebagai jiwa bersatu (jiwa manunggal). Jadi jiwa manunggal ialah rasa “bukan kamu” terhadap siapa yang dihadapinya.

Rasa benar sebagai penghibur

Di sini ada kesukaran dalam perkembangan ukuran keempat, yakni perkembangan rasa untuk menghayati rasa orang lain. Merasa salah itu mengandung rasa berkorban amat besar bagi rasa “merasa benar”. “Merasa benar” inilah yang menjadi gangguan dalam perkembangan ukuran keempat dalam pergaulan.

Rasa salah ini rasanya tidak enak, sebab rasa ini ialah rasa keinginan yang tidak tercapai, dan oleh karena itu menimbulkan rasa susah. Bila disertai idam-idaman, maka rasa “merasa salah” ini menjadi rasa celaka. Jadi “merasa salah” yang disertai idam-idaman adalah rasa celaka.

Untuk menutupi rasa celaka, biasanya orang mencari pelipur atau penghibur. Padahal celaka itu hanyalah rasa/merasa salah. Maka hiburan itu dalam rasa hanyalah rasa “merasa benar”, meskipun wujudnya bermacam-macam.

Agar hal di atas menjadi jelas, perlu diberi contoh. Orang yang baru saja habis berselisih dengan siapa pun, biasanya akan membeberkannya pada teman-temannya. Pembeberan itu bermaksud mencari dukungan supaya rasa benarnya diperkuat.

Proses rasa itu sebagai berikut: Perselisihan itu tidak enak rasanya. Rasa tidak enak itu bersamaan dengan rasa “merasa benar” yang disertai kegelisahan. Untuk menutupi rasa tidak enak itu, orang mencari penghibur, dengan maksud untuk memperkuat rasa benarnya.

Jadi hiburan itu tidak lain adalah rasa bahwa dirinya benar. Sedangkan ukuran keempat menyebabkan orang merasa salah dalam suatu hubungan yang tidak enak. Maka berkembangnya ukuran keempat melenyapkan rasa diri-benar dalam hubungan yang tidak enak.

Bila sebelum ukuran keempat berkembang, ada orang mengalami kesusahan tanpa mempunyai hiburan, maka kesusahan semacam itu tentu saja hebat. Tidak heranlah kalau orang yang susah itu lebih suka menyalahkan para tetangganya daripada merasa diri sendiri yang salah.

Bila dalam hubungan tidak enak itu, rasa “merasa salah” menjadi subur, timbullah rasa tidak mungkin salah yaitu “Yang salah bukanlah aku, melainkan Kramadangsa”. Rasa yang tidak bisa salah ini senang dan bahagia.

Timbulnya rasa tidak mungkin salah, membuat orang dapat meneliti kesalahan diri sendiri dan menghayati rasa orang lain. Dari sini mulai terbukalah dunia rasa yang tadinya tertutup oleh kepentingan sendiri. Dunia rasa itu baru bagi yang baru saja mengalami, maka memerlukan penyelidikan.

Penyelidikan itu berupa penelitian proses perkembangan rasa yang menunjukkan kesalahan diri sendiri. Dalam penyelidikan itu terdapat dua macam rasa, yaitu rasa tidak enak karena merasa salah dan rasa enak karena mengetahui kesalahan yang sudah “bukan aku”. Jadi bahan penyelidikan itu ialah rentetan rasa salah.

Di sini terdapat kesulitan berupa pendapat seolah-olah ukuran keempat ini melemahkan jiwa orang-perorang. Pendapat ini keliru, karena berkembangnya ukuran keempat terjadi setelah jiwa orang itu kuat. Dan kekuatan jiwa orang-perorang disebabkan oleh kemajuan ukuran ketiga. Kemajuan ukuran ketiga membuat jelas perbedaan antara diri sendiri dan orang lain.

Ada perkembangan rasa dari ukuran keempat namun tidak disengaja, seperti yang digambarkan dengan ungkapan “Ikut-ikutan tanpa tahu permasalahannya” (dari bhs. Jawa: “Atut grubyug ora weruh ing rembug“). Jalan rasa di atas tanpa keinsafan dan tanpa ukuran ketiga. Maka perkembangan rasa itu dilahirkan dari jiwa yang lemah.

Perkembangan negara-negara

Kekurangan dalam perkembangan ukuran keempat ini, sering menyebabkan perkembangan negara yang mula-mula membubung hingga gilang-gemilang, kemudian kian merosot suram hingga jatuh. Maka perkembangan negara-negara itu sebentar menjulang tinggi sebentar menurun jatuh. Apakah perkembangan negara seperti di atas itu memang sudah sifat alam yang tidak dapat diubah? Teranglah tidak demikian.

Negara itu berdasarkan pergaulan hidup para warga negaranya. Bila negara itu memuaskan para warganya, negara itu makmur atau gilang-gemilang dalam rasa warganya. Keadaan demikian itu tidak akan menimbulkan pemberontakan. Bila kepuasan para warganya tetap, kegemilangan negara itu pun tetap. Kebalikannya, bila negara tidak memuaskan para warganya, maka hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan. Jadi pemberontakan itu timbul dari rasa tidak puas.

Bila negara itu mengandung hal-hal yang tidak memuaskan warganya, berarti negara itu mengandung benih pemberontakan. Sedangkan pemberontakan ialah keruntuhan negara. Maka dalam kegemilangannya, negara itu sudah mengandung keruntuhannya sendiri.

Di sini ada dua macam kepuasan, yakni kepuasan hidup dan kepuasan pada negara. Bila tidak puas akan hidupnya, orang tidak puas akan segala sesuatu, juga pada negaranya. Jadi puas atau tidaknya akan kehidupan ini, mempengaruhi puas atau tidaknya pada negara.

Kepuasan hidup tidak menyebabkan puas pada negara, karena kepuasan hidup itu berbeda dengan kepuasan pada negara. Jadi tidak puas pada negara ada dua macam sebabnya, yaitu dari orangnya dan dari negaranya.

Jadi ada dua syarat untuk negara agar tetap gemilang, yakni kepuasan hidup dan kepuasan pada negara dari warganya. Kepuasan hidup timbul karena mengerti tujuan hidup, dan kepuasan pada negara karena mengerti tujuan negara. Jadi tetap gemilangnya negara tergantung dari pengertian warganya atas dua macam tujuan tadi.

Syarat dan rintangan perkembangan ukuran keempat

Syarat perkembangan ukuran keempat tidak lain ialah pengertian bahwa rasa enak dalam berhubungan dengan orang lain hanya didapat dengan jalan menghayati rasa orang lain. Serupa halnya rasa enak dalam hubungan dengan benda-benda hanyalah dengan jalan mengerti benda-benda itu. Pengertian di atas menimbulkan ikhtiar supaya bisa menghayati rasa orang lain. Ikhtiar yang timbul dari pengertian itu membuat orang tidak henti-hentinya berusaha sehingga mencapai tujuan itu.

Rintangan-rintangan yang menghalangi perkembangan ukuran keempat ialah rasa luka. Pengalaman tidak enak yang lampau, pedih di hati menjadi luka-hati. Pada waktu berhubungan dengan orang lain, luka itu merupakan rasa balas dendam. Maka luka itu menghalangi orang merasakan rasa orang lain, karena luka itu menjadi kacamata dalam mengamati orang lain. Jika seorang laki-laki pernah bercerai dalam perkawinan, ia menanggapi wanita lain hatinya sama jahat seperti istri yang diceraikannya dan sebagainya.

Obat luka itu ialah pengertian, bahwa hubungan yang tidak enak itu disebabkan oleh kesalahannya sendiri. Pengakuan salah itu mendorong orang mencari kesalahan sendiri sampai bertemu. Bila si salah yang menyebabkan luka itu ia temukan, orang kemudian tidak lagi bersatu dengan si salah, dan bisa merasakan: “yang salah bukanlah aku”.

Bila si salah itu diteliti, dapat diketahui bahwa dulu ketika orang itu melakukan hubungan, ia tidak menghayati serta bertentangan dengan rasa orang yang dihadapinya, dan itu disebabkan terhalang oleh kepentingan dirinya sendiri. Jadi jelaslah bahwa kebutuhan diri sendiri ialah sumber dari pertikaian dan hubungan tidak enak.

Bila diteliti lebih jauh, dapat diketahui bahwa kebutuhan diri sendiri yang menimbulkan sengketa itu, ialah kebutuhan yang telah terlepas keluar dari pokoknya. Seperti kebutuhan sandang yang melebihi orang lain, ini sudah keluar dari pokok kebutuhan. Jadi ingin berlebih-lebihan dalam hal sandang bukanlah kebutuhan pokok.

Rasa ingin berlebih-lebihan itu bila diteliti tentu sebagai berikut “bila terlaksana akan senang selamanya, dan bila tidak terlaksana akan susah selamanya”. Padahal senang atau susah selamanya itu tidak pernah ada. Jadi dalam meneliti kebutuhan sendiri ini, akan diketahui rasa sendiri yang mencari senang selamanya.

Rasa mencari senang selamanya inilah sumber luka. Luka ini melahirkan sikap suka dan benci terhadap hubungannya. Maka suka dan benci ini menghalangi orang menghayati rasa orang lain dalam berhubungan.

Jadi mengobati luka ialah meneliti rasa lukanya sendiri sampai pada rasa yang menyebabkannya. Bila diteliti demikian, luka itu lenyap dan ini berarti orang merasa bahwa “luka itu bukanlah aku”. Jadi berlangsungnya luka itu disebabkan pengertian bahwa yang luka itu aku.

Bila salah satu luka lenyap, akan muncul luka lain, dan bila luka ini pun diobati sehingga lenyap, pasti akan muncul lagi luka baru lain. Demikian seterusnya sampai semua luka sirna.

Bila luka lama lenyap, orang akan dapat melihat luka baru yang mudah diobati, sebelum melahirkan tindakan yang membuat luka berikutnya. Bila luka baru senantiasa diketahui dan diobati, maka orang dapat melihat proses perkembangan rasa ketika menimbulkan luka. Keterangannya sebagai berikut.

Marah merupakan salah satu rasa yang melukai. Padahal bila melukai orang lain, diri sendiri pun terkena luka. Jadi marah adalah rasa melukai pihak sana dan pihak sini.

Ketika si marah belum reda, luka baru belumlah terlihat. Tetapi bila si marah reda, maka luka baru jadi terlihatan belumuran darah, berwujud menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri. Bila kemudian luka itu dibalut dengan rasa “merasa salah” maka luka baru itu tidak nyeri lagi.

Di sini ada kesulitan demikian. Orang marah, sering tidak mengerti bahwa ia sedang marah. Sebaliknya, melihat orang lain marah adalah mudah. Maka tindakan pertama untuk mengetahui marahnya sendiri (yang menimbulkan luka), ialah menyamakan marah orang lain dengan marahnya sendiri, dan memisahkan rasa marah dari tindakan yang berasal dari rasa marah.

Bila rasa marah diketahui sebelum melahirkan tindakan, sehingga orang merasa “yang marah bukanlah aku”, marah itu berubah sifatnya, karena berganti unsurnya. Sebelum diketahui, marah itu tercampur rasa merasa-benar; setelah diketahui, tercampur rasa merasa-salah. Maka berkelahilah rasa merasa-benar dengan rasa merasa-salah. Bila si merasa-salah menang, rasa marah lenyap dan tidak menimbulkan luka baru. Demikianlah bekerjanya rasa yang membuat luka. Jadi jiwa marah itu adalah si merasa-benar.

Kecuali dari diri sendiri, orang pun menerima marah dari lawannya. Tentu saja marah dari orang lain ini membangkitkan marah dalam diri sendiri. Sebagaimana dijelaskan di muka, lenyapnya marah mesti disebabkan oleh rasa merasa-salah.

Ikhtiar memusnahkan marah sering keliru, yaitu usaha supaya orang lain merasa salah. Ikhtiar semacam itu, bagaikan memadamkan rumah terbakar dengan menyiramkan bensin. Peristiwa semacam itu terjadi pada setiap perkelahian.

Seharusnya dimulai dari merasa salah diri sendiri. Bila kesalahan diri sendiri ditemukan, orang baru dapat menyatakan bahwa lawannya benar. Dengan jalan membenarkan orang lain, dapat diredakan rasa marah orang lain.

Demikianlah cara mengobati luka, meredakan luka dan menolak serangan yang melukai.

Latihan

Orang merasakan segala sesuatu menggunakan kacamata rasa kebalikan, yang terdapat pada dirinya sendiri. Wujud rasa-rasa yang saling bertentangan adalah seperti suka dan benci, untung dan rugi, dan sebagainya. Rasa inilah yang merintangi orang sehingga tidak dapat merasakan rasa orang lain.

Sebagai contoh rasa suka dan benci; misalnya seorang miskin membenci golongan kaya dan menyukai golongan melarat. Bila berjumpa dengan orang kaya, rasa bencinya timbul yang terungkap dalam kata-kata “orang kaya itu selalu mengejek”. Orang miskin itu tidak dapat menghayati rasa orang kaya.

Bila berjumpa dengan orang melarat, rasa suka si miskin tadi muncul verwujud rasa/kata-kata “orang miskin itu selalu diejek, maka pantas dikasihani”. Orang itu tidak dapat menghayati rasa orang miskin. Demikian suka dan benci merintangi rasa orang lain.

Contoh mengenai rasa untung dan rugi. Misalnya seseorang mendambakan kekayaan, bila menghadapi orang atau perkara, ia bertanya, “Orang atau perkara ini menguntungkan atau merugikan idam-idamanku.” Yang merugikan ditentangnya dan yang menguntungkan dimufakatinya.

Rasa saling bertentangan ini tetap ada pada manusia dan merintangi orang menghayati rasa orang lain. Maka usaha menghapuskan undangan rintangan itu tidak dengan memusnahkan rasa itu. Karena bila orang berusaha memusnahkannya, hasilnya malah melahirkan saling pertentangan yang baru. Umpama orang bersamadi dengan tujuan melenyapkan rasa bertentangan itu. Hasilnya hanyalah kebencian terhadap rasa saling bertentangan dan suka kepada bayangan lenyapnya rasa itu.

Rasa saling bertentangan itu ialah alat bantu untuk dapat mengerti rasa orang lain. Tanpa alat bantu berupa rasa berlawanan itu, orang tidak dapat menghayati rasa orang lain. Contohnya sebagai berikut.

Umpama orang menyebarkan “ilmu bahagia” (bhs. Jawa: kawruh beja), dan orang yang menanggapi mencemoohkan ajaran itu. Tentu saja penyebar ilmu itu benci pada orang tersebut. Bila kebencian itu diteliti dengan rasa merasa-salah, kebencian itu buyar.

Bila kebencian itu buyar, orang akan mengerti bahwa sesungguhnya ia tidak menyebar “ilmu bahagia”, melainkan ingin menundukkan orang lain. Perkembangannya, orang itu akan mengerti bahwa pihak lawannya benar, karena orang ditundukkan pasti merasa tersinggung dan menolaknya dengan cara mencemoohkan “ilmu bahagia” tersebut.

Latihan ini dapat pula dijalankan dalam pekerjaan. Umpama berdagang: ketika sedang laris orang tidak merasa susah, tetapi di waktu tidak laku, ia lalu merasa susah.

Bila kesusahan itu diteliti dengan landasan rasa merasa-salah, dapatlah ditemukan kesalahannya sendiri. Yakni berupa rasa suka untung dan benci rugi, yang merintangi rasa si pembeli. Bila suka dan bencinya sendiri diketahui, orang akan mengerti rasa si pembeli yaitu butuh harga murah dan barang baik. Kemajuannya orang itu ialah mengerti bahwa jika ia tidak dapat mengadakan harga murah dan barang baik, maka ia tidak sesuai dengan pekerjaan itu.

Latihan ini dapat pula dijalankan di antara keluarga. Umpama orang melihat anaknya tidak naik kelas dalam sekolahnya. Bila ia memakai kacamata untung-rugi, ia tidak dapat menghayati rasa anaknya, maka memarahinya.

Bila rasa untung-rugi yang ada pada dirinya diketahui, ia akan merasa salah dan menghayati rasa anaknya. Ternyata rasa anak sekolah yang tidak naik kelas itu tidak enak, seakan-akan putus asa dan ingin bunuh diri. Menghayati rasa anaknya itu, maka tentu saja orang segera berusaha menghilangkan rasa putus asa dan tidak memarahinya.

Bila latihan ini senantiasa dijalankan dalam kehidupan sehari-hari ukuran keempat akan berkembang semakin subur sehingga menimbulkan perubahan sifat jiwa manusia.

selesai

Ilmu Bahagia

Senang-Susah

Di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari atau ditolak secara mati-matian. Meskipun demikian manusia itu tentu berusaha mati-matian untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantasnya dicari, ditolak atau dihindarinya. Bukankah apa yang dicari atau ditolaknya itu tidak menyebabkan orang bahagia dan senang selamanya, atau celaka dan susah selamanya. Tetapi pada waktu orang menginginkan sesuatu, pasti ia mengira atau berpendapat bahwa “jika keinginanku tercapai, tentulah aku bahagia dan senang selamanya; dan jika tidak tercapai tentulah aku celaka dan susah selamanya”.

Pendapat di atas itu teranglah keliru. Bukankah sudah beribu-ribu keinginannya yang tercapai, namun ia tetap saja tidak bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi? Juga sudah beribu-ribu keinginannya yang tidak tercapai, namun ia tetap saja tidak celaka, melainkan bersusah hati sebentar kemudian senang kembali. Jadi pendapat bahwa tercapainya keinginan menyebabkan rasa bahagia atau tidak tercapainya keinginan menyebabkan rasa celaka, jelaslah keliru. Tetapi setiap keinginan pasti disertai pendapat demikian.

Sebagai contoh, ketika orang berkeinginan sesuatu, misalnya berhajat mengawinkan anaknya, dan karena ia tidak punya cukup uang, ia akan mencari pinjaman.Di dalam mencari pinjaman itu ia merasa: “Jika usahaku untuk mencari pinjaman ini tidak berhasil, pastilah aku celaka dan merasa malu selamanya”. Andaikata ia gagal memperoleh pinjaman, ia tidak akan merasa celaka, melainkan hanya merasa malu sebentar. Kemudian setelah merasa susah karena ia tidak dapat mengundang siapa pun, tidak dapat menanggap (mempertunjukan) wayang dan tidak dapat mengadakan janggrungan (tarian bersama antara penari-penari dan tetamu-tetamu dalam pesta perjamuan orang Jawa), ia pun akan merasa senang lagi, bahkan lega hatinya.”Wah, untunglah usahaku mencari hutang tempo hari tidak berhasil. Andaikata aku berhasil, pasti sekarang ini aku akan kelabakan (gelisah) mencari uang untuk membayar hutang itu kembali.” Demikianlah, maka jelaslah bahwa tidak tercapainya keinginan tidak menyebabkan orang merasa celaka.

Demikian juga keinginan yang tercapai tidak menyebabkan orang merasa bahagia. Misalnya orang berhasrat keras untuk kawin. Ia merasa: “Jika si Anu itu menjadi suami/isteriku, berbahagialah aku.” Dibayangkannya: “Jodohku itu akan kugandeng selama tiga tahun tanpa kulupakan.” Tetapi bila hasrat kawinnya itu benar-benar terlaksana, ia pun tidak akan sungguh-sungguh bahagia, melainkan hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Bahkan sering terjadi dalam perkawinan bahwa sesudah seminggu saja sudah terjadi pertikaian.

Jadi teranglah bahwa jika keinginan itu tercapai maka hal itu tidak menyebabkan bahagia dan jika tidak tercapai, tidak pula menyebabkan celaka. Kenyataannya ialah bahwa senang dan susah itu tidak berlangsung terus menerus. Sepanjang hidup manusia sejak masa kanak-kanak sampai tua, ia belum pernah mengalami senang selama tiga hari tanpa susah, atau mengalami susah selama tiga hari tanpa senang. Pengalaman semacam itu tidak akan terjadi dan tidak mungkin dapat dialami.

Mulur (memanjang)

Yang menyebabkan senang ialah tercapainya keinginan. Keinginan tercapai menimbulkan rasa senang, enak, lega, puas, tenang, gembira. Padahal keinginan ini bila tercapai pasti mulur, memanjang, dalam arti meningkat. Ini berarti bahwa hal yang diinginkan itu meningkat entah jumlahnya entah mutunya sehingga tidak dapat tercapai dan hal ini akan menimbulkan susah. Jadi senang itu tidak dapat berlangsung terus-menerus.

Misalnya menjelang hari raya orang ingin membeli sarung baru. Kata hatinya: “Bila aku dapat membeli sarung baru, pasti aku akan bahagia, yakni tetap senang. Pada hari besar nanti, aku dapat melancong ke mana-mana.” Andaikata sarung baru itu dapat dibelinya ia pun tidak akan bahagia, melainkan bergembira sebentar kemudian susah lagi. Oleh karena keinginannya itu mulur, maka ia merasa: “Memang, meskipun sarungnya sudah baru, ikat kepalanya pun harus baru.” Maka ia ingin membeli ikat kepala, tetapi uangnya tidak cukup, maka gagallah keinginannya dan susahlah ia. Demikianlah senang tidak berlangsung terus menerus. Andaikata pun kelak ia dapat membeli sarung dan ikat kepala baru, pasti keinginannya mulur lagi. Hatinya akan berkata: “Sekarang sarung dan ikat kepalanya sudah baru, dan bagaimanakah bajunya? Tidakkah harus baru pula?”

Kemudian bila pakaiannya baru sudah ada, tentu keinginannya mulur lagi. Sandalnya, arlojinya, kendaraannya, rumahnya harus baru pula. Bila semua itu sudah ada, pasti keinginannya akan mulur lagi: “Sekarang semua barang sudah baru, mengapa isterinya masih yang lama saja. Agar tidak dikatakan aneh maka ia mencari isteri baru.” Bila nanti memperoleh isteri baru, pasti mulur lagi: “Anaknya pun harus ada yang baru karena mengapa yang ada hanya anak dari isteri lama saja?” Demikianlah keinginan itu mulur sehingga apabila apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya maka susahlah ia. Jelaslah bahwa senang itu tidak tetap adanya.

Keinginan itu terwujud dalam usaha mencari semat, derajat dan kramat. Meneari semat ialah mencari kekayaan, keenakan, kesenangan. Mencari derajat ialah mencari keluhuran, kemuliaan, kebanggaan, keutamaan. Mencari kramat ialah mencari kekuasaan, kepercayaan, agar disegani, agar dipuja-puji.

Misalnya orang mencari semat/kekayaan agar ia berpenghasilan tetap. Rasa hatinya berkata: “Jika aku berpenghasilan tiap bulan sepuluh rupiah saja, aku tentu bahagia. Tidak seperti sekarang ini, kadang-kadang hanya tiga rupiah, bahkan kadang-kadang juga rugi.” Bila usahanya berhasil, maka dalam kenyataannya ia tidak bahagia, namun hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Ini disebabkan karena keinginannya mulur sebagai berikut: “Ternyata penghasilan sepuluh rupiah ini tidak membuat aku bahagia. Jika berpenghasilan dua puluh ]ima rupiah, barulah aku akan benar-benar bahagia.” Nanti bila sudah memperoleh dua puluh lima rupiah keinginan pun mulur lagi. “Kalau aku hanya menerima dua puluh lima rupiah saja, terang tidak mungkin aku bahagia. Bahkan hal itu akan menambah banyak hutangnya, karena dipercaya untuk membeli dengan bon, hingga ke sana ke sini aku membuat bon. Hanya jika aku berpenghasilan seratus rupiah, baru aku benar-benar bahagia.” Nanti bila ia berhasil memperoleh seratus rupiah keinginannya pun mulur lagi dan ia ingin dua ratus, tiga ratus rupiah. Sampai berpenghasilan beribu-ribu rupiah, berjuta-juta rupiah, masih kurang terus. Demikianlah keinginan itu mulur sampai pada suatu ketika ia tidak mungkin dipenuhi dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap adanya.

Demikian pula dalam usaha mencari kenaikan derajat. Andaikata orang sudah menjadi asisten wedana, pasti keinginannya mulur dan ia ingin menjadi wedana. Kemudian setelah menjadi wedana, tentu keinginannya mulur lagi dan ia ingin menjadi bupati. Sekalipun sudah menjadi raja, ia kemudian ingin menjadi raja dari semua raja. Andaikata terlaksana menjadi raja dari semua raja, pasti hatinya berkata. “Ternyata menjadi raja dari semua raja itu tidak membuat aku bahagia, karena memerintah manusia itu ternyata bukan main banyak kesulitannya.” “Mungkin kalau menjadi raja jin, barulah aku benar-benar bahagia. Bila sudah menjadi raja jin, pasti mulur lagi, ingin menjadi raja binatang, kutu, serangga, yang berupa anjing tanah, kacuak, tokek dan sebagainya. Demikian mulurnya keinginan sampai apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap.

Demikian pula dalam usaha memperoleh kramat atau kesaktian. Misalnya jika orang telah memiliki kesaktian dengan dapat menyembuhkan orang sakit lumpuh dengan meniupnya saja. Ia belum juga bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi, karena mulurnya keinginannya. Hatinya berkata: “Kalau hanya dapat menyembuhkan orang lumpuh dengan meniupnya saja, aku tidak berbahagia. Akan tetapi kalau dapat menghidupkan orang mati, aku tentu bahagia, karena siapapun akan percaya, segan, takut kepadaku dan akan memujaku.” la akan berusaha ke sana sini untuk dapat menghidupkan orang mati. PadahaI sekolahnya untuk mempelajarinya tidak ada. Andaikata ia pun berhasil, setelah dapat menghidupkan dua orang saja, maka timbul kekhawatirannya. “Celakalah aku nanti. Jika setiap orang mati kuhidupkan kembali. Mayat-mayat dari mana-mana pasti akan dibawa kemari semua, dan aku disuruh menghidupkannya. Halaman rumahku pasti akan penuh dengan bangkai anjing, babi hutan dan lain-lain. Mungkin kalau aku dapat mengeluarkan sukma dari badan, aku baru benar-benar bahagia. Aku akan dapat melayang-layang mengelilingi dunia melihat negeri Belanda, negeri Cina, tanpa melakukan perjalanan, tanpa susah payah, lagi pula tidak kehilangan uang untuk bekalnya.” Ia akan ke sana ke sini berusaha keras supaya bisa melepaskan sukmanya dari badannya, sedangkan sekolah untuk mempelajarinya belum ada. Andaikata ia berhasil melepaskan sukmanya dari raganya, ia pun tidak akan benar-benar bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi. Hatinya berkata “Susahlah aku bila sukma yang acapkali dilepas itu sampai tidak dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Namun manakala aku bisa menghilang, pastilah aku betul-betul bahagia. Aku akan dapat menggaruk uang di pasar-pasar tanpa diketahui pemiliknya, dan tiap kata ada orang sedang menghitung uang, uang itu kuambil. Dengan tidak usah bekerja, aku dapat memiliki banyak uang, dan apa pun kuhendaki pastilah tercapai”.

Bila ia kemudian berhasil dapat menghilang, tentu keinginannya mulur lagi, sehingga ia ingin bisa terbang, bisa menembus bumi dan seterusnya. Demikianlah mulurnya keinginannya sampai apa yang diinginkannya tidak dapat ia peroleh, maka susahlah ia. Jadi jelaslah bahwa lahirnya keinginan dalam usaha mencapai semat (kekayaan), derajat (kedudukan), kramat (kekuasaanl, apabila sudah terlaksana pasti akan mulur. Maka senang itu tidak tetap sifatnya.

Mungkret (menyusut)

Demikian pula rasa susah pun tidak tetap. Karena susah itu disebabkan tidak tercapainya keinginan yang berwujud rasa tidak enak, menyesal, kecewa, tersinggung, marah, malu, sakit, terganggu dan sebagainya. Padahal keinginan itu bila tidak tercapai pasti mungkret (menyusut), dalam arti bahwa apa yang diinginkan itu berkurang baik dalarm jumlah maupun mutunya, sehingga dapat tercapai, maka timbullah rasa senang. Jadi rasa susah itu tidak tetap.

Bila keinginan yang mungkret ini masih tidak terpenuhi, pasti ia akan mungkret lagi. Mungkretnya keinginan ini baru berhenti bila dapat terpenuhi keinginan itu. Tentunya apa yang diinginkan itu memang ada atau mudah diperoleh, sehingga keinginan itu terpenuhi dan timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap adanya.

Misalnya orang lapar ingin makan, tentu dipiiihnya lauk-pauk yang serba lezat, seperti daging, telur dan sebagainya. Tetapi bila keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pasti mungkret, sehingga makan nasi dengan garam saja ia sudah senang. Bila nasi dengan garam pun tidak diperolehnya pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga makan ketela bakar saja ia sudah girang. Bila ketela bakar pun tidak ia peroleh, pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga dengan diteguknya air saja, cukup sejuklah lidahnya.

Contoh yang makin jelas lagi ialah bila seorang laki-laki ingin mempunyai seorang isteri, maka dipilihnya tentu yang cantik, masih perawan, kaya, keturunan priyayi, cerdas, berbakti, cermat, cinta suami dan seterusnya. Bila keinginan-keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pun tidak benar-benar celaka, melainkan susah sebentar, kemudian senang kembali. Oleh karena keinginannya mungkret, maka rasanya, “Walaupun syarat pilihanku tidak terpenuhi semua, asal saja cantik wajahnya bolehlah” Jika yang cantik pun tidak diperolehnya, tentu keinginannya mungkret lagi: “Walaupun tidak cantik asal saja masih perawan” Bila ini pun tidak berhasil, mungkret lagi keinginannya “Walaupun seorang janda asal saja belum punya anak.” Bila pilihan ini masih juga gagal, pasti keinginannya mungkret lagi: “Walaupun banyak anaknya, asalkan saja ia sehat” Bila keinginan ini pun tidak terpenuhi, pasti mungkret lagi keinginannya: “Walaupun cacad, asalkan berwujud orang” Padahal mencari isteri dengan syarat asal berwujud orang saja, pastilah tidak sukar, maka ia lalu merasa senang lagi. Dari sebab itulah penderita-penderita cacad, baik laki-laki atau perempuan, banyak yang bersuami/isteri. Sebab satu sama lain berjumpa dalam keadaan sama mungkret keinginannya. Demikianlah menyusutnya keinginan sampai apa yang diinginkan itu tercapai, maka timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap.

Jadi jelaslah bahwa senang dan susah itu tidak tetap. Sebab senang itu disebabkan karena keinginan tercapai, dan keinginan yang tercapai ini mesti mulur sehingga yang diinginkan tidak mungkin tercapai, maka timbullah rasa susah. Kesusahan itu disebabkan karena keinginan tidak tercapai, padahal keinginan yang tidak tercapai ini mesti mungkret sehingga apa yang diinginkan itu mungkin tercapai, maka akan tercapailah keinginan itu dan rasa senang timbul, jadi keinginan itu bila mungkret akan mencapai apa yang diinginkan maka timbullah rasa senang, dan keinginan itu mulur. Mulur ini berlangsung sehingga tidak tercapai apa yang diinginkan maka timbul rasa susah dan keinginan itu mungkret. Mungkret, tercapai, senang, mulur lagi. Mulur, tidak tereapai, susah, mungkret lagi. Maka sifat keinginan itu sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rasa hidup manusia itu sejak muda hingga tua, pasti bersifat sebentar senang sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Rasa Sama

Manusia itu mempunyai keinginan, yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret. Sifat ini yang menyebabkan rasa hidup orang sejak kecil sampai tua, pasti bersifat sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Siapa saja dan di mana saja rasa hidup orang tentu bersifat sebentar senang, sebentar susah, karena semuanya mempunyai keinginan. Jika tidak mempunyai keinginan, maka ia bukanlah manusia, dan tiap keinginan pasti bersifat seperti di atas tadi.

Jadi rasa hidup manusia sedunia ini sama saja, yakni pasti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Sekalipun orang kaya, miskin, raja, kuli, wali (aulia), bajingan, rasa hidupnya sama saja, ialah sebentar senang, sebentar susah. Yang sama adalah rasanya senang-susah, lama-cepatnya, berat-ringannya. Sedang yang berbeda adalah halnya yang disenangi/disusahi.

Umpama orang kaya senang dapat mendirikan pabrik dan orang miskin senang dapat mendirikan kendil (periuk nasi). Kesenangan kedua orang tadi pada hakekatnya sama. Seorang raja merasa senang bahwa ia dapat menyerbu sebuah kota lawannya, dan memboyong (membawa pulang) puteri. Sedangkan seorang kuli kereta-api merasa senang bila dapat menjelajahi gerbong-gerbong dan memboyong (mengangkat-angkat) koper. Kedua orang itu sama di dalam merasa senang. Seorang wali (orang sakti) merasa senang bila dapat terbang di angkasa, sedangkan seorang bajingan merasa senang pula dapat mencopet barang, kedua-duanya sama di dalam merasa senang.

Tetapi seorang miskin sering beranggapan bahwa orang kaya itu tidak pernah susah. Anggapan demikian itu keliru, sebab diri orang kaya pun berisi keinginan yang bila tercapai pasti mulur. Misalnya seorang kaya raya, memiliki perusahaan kendaraan bis. Walaupun sudah mempunyai beratus-ratus bis, keinginannya tentu mulur. Ia tentu ingin mempunyai kereta api. Setelah mempunyai kereta api, pasti keinginannya mulur lagi, ia ingin mempunyai kapal laut. Sebelum keinginan mempunyai kapal laut tercapai, tiba-tiba ia menghadapi masalah berdirinya perusahaan bis baru sehingga ia merasa susah karena khawatir kalau disaingi. Maka orang kaya bagaimanapun, rasa hidupnya tentu sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Demikian pula seorang wali (aulia) sering dikira tidak pernah susah. Perkiraan demikian itu keliru, karena wali pun berisikan keinginan. Misalnya seorang wali yang sakti, seperti dalam dongengnya Sinuhun Kanjeng Sultan Agung di Mataram. Ia raja dan juga wali dan ketika ia hendak pergi ke Banten dengan jalan terbang, dan itu terlaksana, maka senanglah ia. Tetapi ketika hendak pulang ke Mataram, juru tamannya meninggalkannya, maka rontoklah bulu sayapnya, hingga susahlah ia. Jika wali yang bagaimana pun, rasa hidupnya pasti sebentar senang, sebentar susah. Apabila mengerti bahwa rasa orang di dunia sama saja, yakni sebentar senang, sebentar susah, bebaslah kita dari penderitaan neraka iri hati dan kesombongan.

Iri dan Sombong

Iri adalah merasa kalah terhadap orang lain, dan sombong adalah merasa menang terhadap orang lain. Iri dan sombong inilah yang menyebabkan orang berusaha keras, mati-matian, berjungkir balik, untuk memperoleh semat (kekayaan), derajat (kedudukan) dan kramat (kekuasaan). Hatinya berkata: “Sebaiknya kucari uang sebanyak-banyaknya agar menjadi kaya seperti orang itu, dan jangan sampai miskin seperti orang ini; agar bisa mengejek orang ini dan jangan sampai diejek orang itu. Dan kuharus memperoleh derajat yang luhur, supaya mulia seperti orang itu, dan jangan sampai hina seperti orang ini, sehingga terhormat seperti orang itu, dan tidak diremehkan seperti orang ini. Harus kucari kramat (kekuasaan) yang besar, supaya berkuasa dan dapat menaklukkan orang itu. Jangan sampai lemah dan ditaklukkan orang ini.” Begitu hebat usahanya, hingga ia merasa “lebih baik mati jika tidak tercapai”

Perasaan “lebih baik mati jika tidak tercapai” itu bila sering terlintas dalam pikiran, dapat membangunkan tekad yang aneh-aneh dan bertapa yang aneh-aneh. Orang yang sedang dihinggapi iri-sombong ini cenderung mencari guru-guru atau dukun-dukun. Pada guru atau dukun itu dimintanya petunjuk: “Bagaimana kyai, hidupku ini mengapa senantiasa susah. Apakah memang nasibku harus dibenci orang? Bagaimana baiknya?” Jika guru atau dukun itu mengatakan: “Sanggupkah anda bertapa secara ditanam selama empat puluh hari? Itu memang berat tetapi bila dikurniakan, tentu nasibmu akan lebih baik.” Makin gelap pikirannya namun karena terbenam dalam rasa iri-sombong, ia akan menyanggupinya: “Baiklah saya bersedia ditanam, asal dapat kurnia. Andaikata aku gagal dan mati, itu pun justru lebih baik dari pada hidup sekali saja menjadi buah ejekan tetangga-tetangga, kesana diejek, kesini diejek.” Bilamana benar-benar digali lobang untuknya dan ia memeriksanya serta menengok ke kanan ke kiri, tiba-tiba ia merasa ngeri: “Kyai, jika penguburan diriku ditangguhkan saja sampai setelah tanggal dua saja, bagaimana?”

Bila orang mengerti bahwa rasa orang sedunia itu sama, teranglah pandangannya. Kemudian ia tahu bahwa orang yang ditanam selama empat puluh hari, pasti akan mati karena tidak dapat bernapas. Mengingat bahwa jika dibungkam selama dua menit saja, orang sudah kehabisan napas, bagaimanakah bila ditanam empat puluh hari?

Idam-idaman orang yang iri hati atau sombong ialah asal dapat melebihi orang lain dalam segala hal. Dalam hal makanan, pakaian, perumahan, keluarga, anak-anak dan sebagainya, ia ingin melebihi orang lain. Sedangkan orang-orang lain pun ingin menyaingi atau melebihi orang lain lagi. Dari itu beribu-ribu, berjuta-juta manusia, bila dijangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah satu sama lain bersaingan sehingga semuanya jatuh ke bawah.

Bila dalam usahanya untuk melampaui orang lain ia sering tergelincir bahkan ia justru dilampaui orang lain, maka kesallah hatinya, “Baik, sekalipun aku kalah asal saja tetanggaku itu hidupnya merana, maka senanglah hatiku.” Sedangkan tetangganya pun berusaha menyusahkan orang lain. Dari itu beribu-ribu, berjuta-juta manusia bila dijangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah saling menyusahkan.

Bila dalam usahanya menyusahkan orang lain, sering berbalik menyusahkan diri sendiri maka ia masih tinggal dapat mengumpat orang lain. Sedangkan orang lain pun mengumpat orang lain lagi. Maka beribu-ribu, berjuta-juta manusia, bila dihinggapi iri-sombong, tindakannya hanya saling mengumpat. Bahkan tiap kali bercakap-cakap dengan suami/isterinya tidak lain hanya menjelekkan tetangganya, sampai pada soal yang kecil-kecil, misalnya: “Sesungguhnya si anu itu kan sudah payah betul. Lihat saja surat gadainya sudah daluwarsa; pohon-pohon kelapanya sudah digadaikan dan ia hanya kebagian yang hanya cukup untuk dimakannya sendiri.”

Padahal untuk melebihi seseorang saja sudah susah-payah, memaksakan diri bertirakat sampai luar-batas, Nglawet (nama tempat bertapa), Gua Langse (di pantai Parangtritis, Yogya) dan Gedancer (tempat bertapa). Bila ia telah dapat melebihi seseorang, ia akan melihat bahwa ada orang lain lagi yang melebihinya. Sedangkan jumlah orang yang melebihinya tidak terhitung banyaknya.

Apalagi untuk melebihi orang lain dalam hal perincian, pastilah tidak akan berhasil, sekalipun sudah bertirakat segala. Misalnya orang melebihi orang Iain dalam kekayaannya, tetapi kalah dalam kedudukannya, lalu berusaha keras untuk melebihi kedudukannya. Kalau sudah melebihi kedudukannya, tetapi kalah kekuasaannya, ia akan berusaha keras untuk melebihi kekuasaannya. Kalau sudah melebihi kekuasaannya, tetapi kalah tampan wajahnya, ia akan berusaha keras untuk melebihi ketampanannya. Misalkan ia sudah menang dalam hal ketampanan wajahnya, tetapi kalah muda dalam usia, ia pun berusaha keras untuk membuat dirinya lebih muda tampaknya. Karena dalam janggrungan, pesta dengan tarian dimana penari wanita menari bersama dengan tamu laki-laki, orang-orang muda dipersilakan masuk gelanggang untuk menari lebih dulu. Akan tetapi bila ia lebih muda ia pun berusaha keras untuk membuat dirinya lebih tua, karena orang-orang tua itu dalam pesta-pesta makan selalu dipilihkan makanan yang serba empuk.

Perasaan orang yang irihati-sombong ini, tiap kali menyumpahi orang, jika tidak melebihi tentu dilebihinya. Bila melebihi, dalam hatinya mengejek, “Lihat si Anu itu akhirnya celaka, karena tidak mau percaya padaku, tidak mau meniru jejakku, tentu saja celaka.” Tetapi bila diungguli ia merasa penasaran: “Tidak heran si Anu itu kaya, karena bukan main kikirnya. Bila ia buang air kedapatan kacang kedele dalam kotorannya, maka kedele itu dikorekinya dari kotorannya.”

Padahal tiap kali orang ke luar rumah pasti ia bertemu orang yang jika tidak melebihi tentu dilebihinya. Maka hidup orang sedari kecil sehingga tua, bila dihinggapi iri-sombong, hanya merasa mengejek dan diejek orang.

Jika orang hendak mengetahui rasa iri-sombong atau lebihnya sendiri, yang jelas dalam pergaulan, maka hal itu dapat ia jalankan bila sedang nonton pasar malam, menghadiri pesta perjamuan dan sebagainya. Bila di situ orang merasa kalah baik sarungnya ia akan meraba-raba ikat kepalanya dan berkata: “Ikat kepalaku lebih baru.” Bila ikat kepalanya dirasakannya masih kalah, diangkatlah dadanya dan diperlihatkan bajunya “Bajuku memang baik.” Bila ia merasa kalah, diangkatlah sarungnya dan diperlihatkan celana dalamnya, “Celanaku menang lebar.” Bila toh masih merasa kalah, jengkellah ia, maka dikeluarkan pipanya, “Tetapi pipaku menang panjang.”

Pandangan orang yang iri-sombong terhadap semua keadaan dan kejadian di dunia, terbalik-balik, tidak benar. Misalkan orang ingin memiliki sepeda, dari kerasnya keinginannya ia merasa “Benar-benar aku menderita bila tidak memiliki sepeda, kalau barang-barang lainnya tidak kuhiraukan.” Maka jika dijumpainya seorang mengendarai sepeda, apalagi jika pengendara itu tetangganya yang dibencinya dan hendak dilebihinya, dan justru dirinya kini jatuh dikalahkan maka begitu ia mendengar suara “kring” bel sepeda itu, terkejutlah ia serentak. Pulang rumah dengan gelisah tidak bisa tidur, hatinya penasaran dan dijelekkannya lawannya, “Tidak heran si Anu itu memiliki sepeda, karena hidupnya tidak lumrah (lazim), bermuka tebal. Lain dengan aku ini yang tidak tega hati menyikut orang.” Demikian pandangan orang terbalik-balik disebabkan rasa iri-sombong. Benarkah orang mengendarai sepeda itu sengaja membuatnya terkejut, gelisah? Tentu tidak!

Dari sangat hebatnya pandangan terbalik-balik itu sehingga membikin orang, sehabis memandang perempuan cantik atau laki-laki tampan, maka membenci suami/isterinya. Hatinya mengomel, “Bila kurasakan, suami/isteriku ini memang sungguh-sungguh jelek, ya rupanya, ya jelek hatinya. Kalau sampai menjadi jodohku ini pasti tidak melalui jalan sewajarnya. Dulunya pasti aku diguna-guna sehingga aku terpikat kepadanya.” Demikianlah terbalik-baliknya pandangan orang yang iri-sombong. Padahal wanita cantik atau laki-laki tampan pastilah tidak sengaja membikin ia benci pada suami/isterinya.

Tenteram

Apabila orang mengerti bahwa rasa orang sedunia sama saja, bebaslah ia dari penderitaan neraka irihati-sombong, kemudian bisa masuk sorga ketenteraman. Artinya dalam segala hal bertindak seenaknya, sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, semestinya dan sebenarnya. Ia akan dapat merasakan rasa hidup yang sebenar-benarnya, yaitu mesti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Sebab ketika dihinggapi iri-sombong, orang tidak dapat merasakan rasa hidup yang sebenarnya. Dalam hal makan misalnya, walaupun setiap hari makan, orang tidak merasakan makanannya, tetapi yang dirasakan hanyalah makanan tetangga-tetangganya. Kemudian mengeluhlah ia, “Kalau si Anu itu memang senang hidupnya, makannya terjamin tiga kali sehari, sepiring penuh, lauk-pauknya enak-enak; berganti-ganti telur daging. Lain dengan diriku ini serba celaka, makannya tidak menentu, lauk-pauknya tidak lain tidak hanya garam sambel, paling mujur tempe. Bila ingin daging ayam, hanya mendapat pekerjaan membubuti (mencabuti) bulunya dan membersihkan isi perutnya.”

Bilamana bebas dari siksaan neraka iri-sombong dan masuk ke dalam sorga ketenteraman, ia akan dapat menasihati dirinya sebagai berikut, “Lho, bagaimana ini, orang mau makan kok menggerutu. Makannya enak atau tidak, jika enak teruskanlah, jika tidak enak hentikanlah.” Teranglah pandangannya, maka mengerti mgksud tujuan orang makan yaitu enak (lezat) dan kenyang. Maksud tujuan ini sudah tercapai, karena tiap kali merasa Iapar, makanlah segala apa yang lazim dimakan orang, maka pasti enak, dan kalau banyak jumlahnya pasti kenyang. Maka tenaga kaki-tangan berkelebihan untuk mencari makanan yang enak serta mengenyangkan itu.

Jadi rasa hidup yang sebenarnya sebentar senang, sebentar susah, dalam hal makan pasti sebentar enak, sebentar tidak enak, sebentar kenyang, sebentar lapar. Tetapi bila dihinggapi iri-sombong, orang tidak memperdulikan enak atau kenyang, melainkan berusaha melebihi orang lain. Jika hendak mengetahui iri-sombong atau keinginannya sendiri untuk melebihi orang lain, yang jelas bila kebetulan sedang bersama orang banyak dalam kedai makanan. Baru saja datang orang segera berteriak “Godog!” (minta direbuskan suatu makanan). Kemudian baru saja masakan tadi disodorkan, ia sudah minta lagi “Goreng! Cabenya biar banyak!” Bila dilihatnya tamu lain memegang telur, ia pun mengambil ayam goreng, dipegangnya dengan kedua tangannya. Jika toh masih merasa kalah, hatinya penasaran diangkat kakinya keatas meja sembari bersiul, sekalipun tidak bersuara.

Oleh karena dihinggapi iri-sombong sehingga gelap pandangannya, maka walaupun sudah beranak-cucu, orang tidak dapat merasakan rasa bersuami/isteri. Setiap kali menjumpai suami/isterinya, yang dirasakan suami/isteri orang lain, “Si Anu itu hidupnya memang enak lantaran mempunyai suami/isteri yang menyenangkan, perhatiannya besar, lagi setia. Lain dengan diriku ini serba celaka, mempunyai suami/isteri rewel sekali, sedikit-dikit marah, sedikit-dikit marah.”

Bila sudah bebas dari siksaan neraka iri-sombong dan masuk sorga ketenteraman, orang lalu dapat menasihati dirinya: “O, bagaimana ini, orang bersuami/isteri kok mengomel. Sesungguhnya perkawinannya enak atau tidak, jika enak diteruskan, jika tidak enak ya diceraikan saja.” Maka tenanglah pandangannya dan mengerti bahwa rasa bersuami/isteri itu nikmat.

Bila ingin mengerti kenikmatan bersuami/isteri, ialah pada waktu malam hari udara dingin, lagi turun hujan, berdesak-desak dengan suami/isteri pun hangat. Bila pinggangnya kaku pun lantas lemas, tidurnya pulas, bangun pagi merasa segar, bekerja penuh semangat. Kebalikannya jika tidak bersuami/isteri tidak demikian nikmat. Pada malam yang dingin, apalagi turun hujan, badannya benar-benar dingin. berdesak-desak hanya dengan balai-balai, pinggangnya kaku tetap kaku, ingin tidur tidak dapat memejamkan mata, dari pukul sembilan hingga pukul tiga malam belum juga pulas karena memikirkan suami/isteri orang lain. Maka pada duda, janda, jejaka, gadis, bila dijangkiti iri-sombong, seringkali betah bergadang. Tetapi bila tidak, hanyalah sekali tempo saja.

Jadi rasa hidup yang sebenarnya ialah mesti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Dalam perkawinan tentu sebentar nikmat, sebentar tidak nikmat, sebentar nikmat, sebentar tidak nikmat. Bila keluar dari neraka iri-sombong dan masuk surga ketenteraman, orang akan bebas dari kewajiban yang berat-berat. Kebiasaan orang itu mewajibkan dirinya sendiri: “Orang hidup itu harus begini, makannya harus begini, pakaiannya harus begini, rumahnya harus begini, tindak tanduk terhadap tetangga, suami/isteri serta anak-anaknya harus begini.” Semua keharusan-keharusan itu adalah hal-hal yang berat sehingga tidak dapat dilaksanakan, karena bertentangan antara kewajiban yang satu dengan kewajiban yang lain.

Sebagai contoh, misalnya orang menerima undangan dari tetangganya yang punya hajat pesta mengawinkan anaknya. Ia akan mewajibkan dirinya untuk datang hadir dengan pakaian baru, serta membawa uang cukup untuk menyumbang dan main kartu domino. Tetapi keadaannya tidak memungkinkannya untuk mempunyai pakaian baru dan uang, oleh karena itu ia merasa susah. Hendak datang hadir takut, dan hendak tidak hadir pun takut.

Bila lepas dari neraka iri-sombong dan masuk surga ketenteraman ia akan dapat menasihati dirinya “Lho, bagaimana langkahku ini, mau datang takut, mau tidak datang pun takut. Apakah harus setengah datang dan setengah tidak datang? Lalu bagaimana wujud tindakan setengah datang dan setengah tidak datang itu? Apakah melongok-longok di depan pagar saja, ataukah terus menerobos masuk ke dapur, membantu cuci piring?” Dengan kesadaran di atas, pandangannya semakin terang: “Sudahlah, jika mau datang, ya datang saja, jika tidak mau datang, ya tidak usah datang. BiIa tidak punya pakaian baru, pakailah pakaian lama, hal itu sudah sebenarnya. Bila tidak punya uang, maka tidak dapat menyumbang dan main domino, pun sudah selayaknya.” Jadi rasa hidup yang benar adalah sebentar senang, sebentar susah, yang dalam hal menentukan kewajiban mesti suatu waktu begini, suatu waktu tidak begini.

Bila orang mengerti bahwa rasa hidup manusia sedunia sama saja, yakni pasti sebentar senang, sebentar susah, bebaslah ia dari neraka iri-sombong dan masuklah dalam surga ketenteraman. Kemudian dalam usahanya mencari kekayaan, kedudukan, kekuasaan, dengan cara seenaknya, sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, semestinya, sebenarnya, yaitu hidup tenteram.

Rasa Abadi

Keinginan itu bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret, rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Pada hakekatnya keinginan itu langgeng (abadi), artinya sejak dulu sudah ada, kini pun ada, kelak pun selalu ada.

Ketika orang masih dalam kandungan ibunya, keinginannya sudah ada, walaupun tidak disadarinya. Seperti halnya bayi menangis berkeinginan menyusu, Ketika masih sebagai darah pun sudah tumbuh keinginan yang menumbuhkan badan, kepala, tubuh, tangan, kaki dan sebagainya. Ketika belum ada dalam kandungan dan masih ada pada ayah dan ibunya pada waktu ayah dan ibunya saling mengungkapkan rasa suka sama suka, hal itu merupakan gejala keinginan manusia yang hendak lahir.

Demikian keinginan itu tidak berawal, ketika bumi dan langit belum ada, keinginan sudah ada. Demikian pula keinginan tidak berakhir, bila nanti orang sudah mati, badannya rusak, busuk, keinginan masih ada saja. Bila nanti bumi dan langit tidak ada, keinginan masih tetap ada. Jadi keinginan itu tanpa awal dan tanpa akhir. Oleh karenanya keinginan itu abadi, Sebab keinginan itu barang asal. Barang asal itu tidak ada asalnya, tetapi justru berupa asal, dari itu abadi. Keinginan ialah asal dari pada hidup, benih hidup, yang menyebabkan hidup, oleh karenanya abadi.

Seperti juga asal semua barang jadi itu bersifat abadi. Wujud barang jadi (bahasa Jawa: dumadi) itu seperti rokok, korek api, cangkir, piring, rumah, dunia, bintang, bulan, matahari dan sebagainya. Asal barang jadi misalnya rokok, adalah abadi, tidak berubah tidak berkurang atau bertambah. Bila rokok itu dibakar, rokok itu hanya menjadi abu; sedang asal dari pada rokok masih tetap ada, tidak kurang, hanya wujudnya kini abu. Bila abu itu nanti ditumbuk, hanyalah menjadi tumbukan abu, sedang asal rokok masih tetap, tidak kurang tidak lebih, yang kini berwujud tumbukan abu. Sekalipun tumbukan abu ini nanti dibuang ke luar dunia, asal rokok itu masih tetap ada tidak kurang tidak lebih, hanya kini ada di luar dunia.

Demikian pula keinginan, bagaimanapun dihancurkannya melalui kesusahan, penderitaan malu, tidak akan berubah bersama sifat-sifatnya. Sebab barang abadi itu pasti bersifat abadi pula. Keinginan itu bersifat sebentar mulur sebentar mungkret, sebentar mulur sebentar mungkret dan rasanya sebentar senang sebentar susah, sebentar senang sebentar susah. Sedang rasa manusia pun sebentar senang sebentar susah, sebentar senang sebentar susah. Jadi keinginan itu adalah manusia, maka manusia itu abadi (lestari), sebentar senang sebentar susah. Bila keabadian manusia ini dimengerti, orang akan bebas dari penderitaan neraka penyesalan dan kekhawatiran.

Sesal – Kuatir

Menyesal ialah takut akan pengalaman yang telah dialami. Khawatir ialah takut akan pengalaman yang belum dialami. Menyesal dan khawatir ini yang menyebabkan orang bersedih hati, prihatin, hingga merasa celaka.

Menyesal ini rasanya: “Andaikata dulu aku bertindak demikian, bahagialah sudah aku ini, tidaklah celaka begini.” Menyesal ini ialah takut akan pengalaman masa lampau yang menyebabkannya jatuh celaka, susah selamanya dalam keadaan miskin, hina, lemah.

Bila orang mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menasehati dirinya sebagai berikut: “Walaupun dulu bagaimana saja, pasti rasanya sebentar senang sebentar susah.” Kemudian lenyap penyesalan semacam tadi. Tetapi jika tidak dimengerti, penyesalan itu berlarut-larut hingga takut akan hal yang aneh-aneh, seperti takut terkutuk, takut durhaka, rasanya: “Dulu andaikata aku tidak terkutuk oleh si Anu, tidak durhaka, tentu aku sudah bahagia dan tidak celaka.” Kalau mengerti maka orang dapat menyadari, “Walaupun dulu terkutuk durhaka atau tidak durhaka, rasanya tentu sebentar senang sebentar susah,” dan lenyaplah penyesalan semacam itu tadi.

Berlarut-larutnya penyesalan ini sampai menimbulkan ketakutan pada hal yang makin aneh ialah takut hidupnya tersesat. “Andaikata dulu tidak menjadi anak ibu dan ayah ini, pasti aku bahagia, dan tidak celaka seperti ini.” Tetapi bila mengerti babwa manusia itu abadi, ia dapat menasehati dirinya sendiri: “Walaupun dulu menjadi anak ibu-ayah ini atau tidak, tentu rasanya sebentar senang sebentar susah”, maka lenyaplah penyesalan tadi.

Ketakutan hidup tersesat di atas perinciannya sampai pada takut tersesat mempunyai suami/isteri dan anak si Anu, rasanya: “Andaikata dulu aku tidak salah memperoleh suami/isteri dan anak si kunyuk (si dogol) itu, pastilah aku bahagia dan tidaklah celaka.” Tetapi bila ia mengerti bahwa orang itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Walaupun dulu aku mempunyai suami/isteri dan anak seperti kunyuk-kunyuk itu atau tidak, rasaku tentu sebentar senang, sebentar susah,” maka lenyaplah penyesalan tadi.

Demikian pula kekhawatiran yang berupa takut akan pengalaman yang belum dialami, kalau-kalau jatuh celaka, susah selamanya, dalam keadaan miskin, hina, lemah. Rasanya: “Bagaimanakah nanti akhirnya bila aku tidak mencapai kebahagiaan yang kucita-citakan, tetapi tetap celaka seperti sekarang ini?” Tetapi jika orang mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Walaupun kelak akan terjadi apa saja, misalkan bumi dan langit merapat, rasanya pasti sebentar senang sebentar susah,” maka lenyaplah kekhawatiran tadi.

Jika tidak dimengerti, kekhawatiran itu berlarut-larut sehingga takut akan hal yang aneh-aneh seperti takut kuwalat, takut durhaka. Padahal apakah kuwalat dan durhaka itu saja tidak dimengerti. Namun ditakuti juga, aneh bukan? Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Mana ada orang kuwalat atau durhaka? Kalau toh ada, rasanya pasti hanya sebentar senang sebentar susah. Katanya orang kuwalat itu kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Kalau begitu malah bisa merasakannya. Sebab yang sudah dialami berpuluh-puluh tahun hidup dengan kepala di atas dan kaki di bawah ternyata tidak enak. Seperti pada waktu cekcok dengan suami/isterinya atau tetangganya. Lihatlah orang-orang dengan kepala di atas, kaki di bawah itu.” Dan lenyaplah kekhawatiran di atas tadi.

Berlarut-larutnya kekhawatiran itu sehingga takut akan hal yang semakin aneh seperti mati tersesat. Alangkah anehnya orang mati bisa tersesat. Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, dapatlah ia menasehati dirinya: “Bagaimana mungkin orang mati itu tersesat. Kalau tersesat tentu ke arah hidup yang pernah dialami ini. Lagi pula jika ada mati tersesat tentu ada pula hidup tersesat. Padahal ketika hendak hidup tanpa bertanya kepada siapa pun, tanpa bekal apa-apa, ia menjelma tepat dengan hidung di atas mulut, kuping di kedua sisi, kepala di atas, kaki di bawah dan sebagainya, melalui jalan yang benar.” Kemudian lenyaplah kekhawatiran yang aneh tadi.

Khawatir takut mati tersesat ini perinciannya hingga takut setelah mati akan menjelma sebagai babi-hutan. Alangkah anehnya! Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, orang dapat menasehati dirinya: “Bagaimanakah orang mati dapat menjelma menjadi babi-hutan. Andaikatapun benar, maka orang justru dapat merasakan bagaimana hidup sebagai babi-hutan. Pasti hanya berdengus-dengus mencari ubi. Dan pastilah tidak takut dihentikan dari pekerjaan, melainkan takut di semak-semak hutan. Sedangkan yang dialami berpuluh-puluh tahun hidup sebagai manusia pun tidak enak. Misalnya ketika mencari pinjaman tidak berhasil, atau ditagih hutangnya tidak sanggup membayarnya. Enakkah hidup sebagai orang?” Kemudian lenyaplah kekhawatiran tadi.

Menyesal dan khawatir ini mengandung anggapan atau pendapat bahwa orang itu dapat memperoleh senang atau susah yang abadi. Maka dengan dikejar secara mati-matian rasa senang itu dan ditolaknya secara mati-matian rasa susah itu, menimbulkan ketahayulan pada dirinya yang mengakibatkan penderitaan. Tahayul itu ialah menghubung-hubungkan sebab dan akibat yang tidak ada sangkut-pautnya. Sebagai contoh, misalnya orang berdagang sedang sial, tidak berani dagang, maka berkatalah: “Kesialan ini tentu lantaran aku tidak membakar kemenyan dan tidak bersembahyang pada malam menjelang hari Jumat yang lalu, sehingga daganganku tidak laku.” Jelaslah membakar kemenyan dan bersembahyang itu tidak ada sangkut paut dengan kesialan dagangan tidak laku. Namun orang yang bertahayul itu menghubung-hubungkan juga.

Contoh lain yang lebih jelas, misalnya seorang anak tengah bermain, tiba-tiba sakit kejang-kejang, maka orang berkata: “Anak itu pasti dijegal oleh syaitan penunggu jalan perempatan itu, oleh karena itu kejang-kejang badannya.” Padahal jelas anak sakit kejang tidak bersangkut-paut dengan syaitan penunggu jalan. Untuk menerangkan syaitan itu apa, orang tidak tahu. Apakah syaitan itu berkaki dua atau empatkah, bertelur atau menyusuikah, orang tidak tahu. Namun orang bertahayul menganggapnya bisa menjegal.

Contoh yang lebih jelas lagi, tatkala gunung Merapi meletus, orang bertahayul menghubungkannya begini: “Peristiwa itu adalah pernyataan Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Laut Selatan) yang marah lantaran gagal dalam mencari korban untuk pesta perkawinan putra/putrinya, sehingga diletuskannya gunung Merapi, beledar-beledur-beledar-beledur.” Jelaslah Kanjeng Ratu Kidul tidak ada sangkut-paut dengan letusan gunung Merapi. Karena siapakah dan apakah Kanjeng Ratu Kidul itu saja, orang tidak tahu. Namun orang bertahayul memaksa menghubung-hubungkannya demikian.

Ketahayulan itu menyebabkan orang bertapa dan berpantang yang aneh-aneh, seperti merendam diri selama satu jam dalam tempo empat puluh hari, dengan pendapat bahwa: “Jika setiap malam merendam diri sambil mengucapkan mantera-mantera ini, daiam waktu empat puluh hari pasti aku akan memperoleh karunia dan senangiah aku selama-lamanya.” Tetapi bila mengerti bahwa manusia itu abadi, teranglah pandangannya dan tahulah bahwa hasil orang merendam diri selama itu, hanyalah menggigil kedinginan semata-mata. Bahkan isterinya terlanjur kesepian kedinginan tidak dapat tidur sebab menunggu-nunggunya. Dalam pada itu mertuanya pun membenci karena melihat anaknya tidak dilayani sewajarnya melainkan ditinggalkannya tiap malam hanya untuk merendam diri.

Tindakannya berpantang yang aneh-aneh itu seperti pantang makan dan pantang tidur. Padahal orang lapar itu enaknya kalau makan dan orang mengantuk itu enaknya kalau tidur. Jadi orang itu memantang hal-hal yang enak-enak, namun mengeluh bahwa tidak pernah mengalami keenakan dalam hidupnya. Tetapi jika mengerti bahwa manusia itu abadi, teranglah pandangannya, dan mengerti bahwa hasil berpantangan makan dan tidur itu lapar dan kantuk belaka.

Pantangan aneh-aneh itu kalau berlarut-larut sehingga berpantang berdekatan dengan suami/isteri sendiri, enakkah rasa yang berpantang dan yang dipantang itu? Pastilah tidak. Itu pun belum tentu ia dapat bertahan dalam pantangannya. Nanti baru berjalan seminggu saja, bila tidak diawasi, diam-diam, sudah menyerobot. Setelah itu saling menyesali: “Orang sudah dipesan sedemikian rupa! Orang sedang prihatin bertapa supaya memperoleh kurnia! Mengapa kamu pun masih mau saja dan kini semua usahaku batal, dan untuk mulai lagi aku tidak sanggup.”

Tetapi jika orang mengerti bahwa manusia itu abadi, teranglah pandangannya, dan mengerti bahwa hasil berpantang isteri sendiri adalah tidak betah. Demikian sifat katahayulan yang mendorong orang bertapa dan berpantang yang bukan-bukan, karena berpendapat bisa senang atau susah selama-lamanya.

T a b a h (Bhs.Jawa: Tatag)

Apabila kita mengerti bahwa menusia itu abadi, keluarlah orang dari neraka menyesal-khawatir dan masuk surga ketabahan. Ini berarti berani menghadapi segala hal. Berani menjadi orang kaya atau miskin, menjadi raja atau kuli, menjadi wali (orang suci) atau bajingan. Karena ia mengerti bahwa kesemuanya itu rasanya pasti sebentar senang, sebentar susah. Teranglah pandangannya dan mengerti bahwa semua pengalaman itu tidak ada; yang mengkhawatirkan atau yang sangat menarik hati.

Pada pokoknya yang ditakuti itu adalah kesusahan, padahal orang tentu mampu menderitanya. Sudah terbukti beribu-ribu kesusahan yang dialami, ia mampu menderitanya. Kesusahan yang paling hebat adalah merasa sangat malu atau menderita sakit sangat berat. Sedangkan jika hanya sangat malu dan sangat sakit saja, pasti orang mampu menderitanya. Walaupun ia selalu mengeluh: “Rasa malu kali ini benar-benar melukai hatiku, aku tidak kuat menanggungnya. Itu lain dengan pengalaman-pengalaman yang lampau!” Tetapi bila lepas dari neraka menyesal-khawatir dan masuk surga ketabahan, orang dapat menuntut bukti pada diri sendiri yang sering bohong. “Malu yang mana yang kau tidak kuat menanggungnya? Kenyataan yang tengah dialami ini, benar menimbulkan rasa malu, benar-benar menyebabkan kau meringis sehingga kau benar-benar tidak berani keluar rumah menemui orang. Namun meskipun demikian kau tetap kuat menanggungnya juga.”

Demikian pula di waktu sakit, orang mengeluh: “Sakitku kali ini benar-benar berat, benar-benar aku tidak kuat menanggungnya. Lain dengan sakit yang lampau!” Tetapi bila lepas dari sesal-khawatir serta masuk surga ketabahan, orang dapat menuntut bukti pada diri-sendiri yang biasa membohong: “Sakit yang manakah yang kau tidak kuat menderitanya? Kenyataan yang sedang dialami ini benar-benar sakit berat sehingga kau benar-benar merintih, namun meskipun demikian tetap kuat menanggungnya. Padahal betapapun hebatnya orang menderita sakit ia hanya berakhir dengan mati. Sedangkan kalau cuma mati saja ia mesti kuat menjalaninya, dan itu telah dialami oleh beribu-ribu orang yang mati. Kalau aku mati, pasti perjalananku sama dengan orang-osang yang telah mati itu.”

Oleh karena itu bila orang kuat menanggung semua pengalaman dan dapat mencukupi apa yang diperlukannya maka tumbuhlah rasa kaya. Tiap kali merasa malu, asal saja meringis sudah cukup. Artinya orang tidak kehabisan rasa meringis bila mendapat malu dan tidak kekurangan rintihan bila menderita sakit. Dan menjelang saat kematian, asal saja berdiam diri sudah cukup.

Pada pokoknya yang diinginkan adalah rasa senang dan rasa senang ini pasti tercapai. Di mana saja, kapan saja, bagaimana saja, arang mesti mengalami senang. Misalnya orang menderita susah karena terbakar habis rumahnya. Bila ia menemukan sebuah celananya saja yang tidak turut terbakar, ia tetap bisa merasa senang. “Wah, untunglah celanaku tidak terbakar.” Misalnya orang menderita susah karena terlindas mobil kakinya hingga putus. Pada waktu sadar dari pingsannya ia pun masih dapat merasa senang. “Wah, untunglah kepalaku tidak terlindas sekalian.” Bila kepalanya pun kelindas hingga mati, masih ia bisa senang, “Wah, untunglah isteriku tidak ikut terlindas.”

Apabila orang mengerti bahwa semua peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang mengkhawatirkan dan tidak ada pula yang sangat menarik hati, maka teranglah pandangannya, serta bebaslah ia dari barang-barang di atas bumi dan di kolong langit ini. Karena ia mengerti bahwa barang-barang di atas bumi di kolong langit itu tidak dapat menyebabkan orang bahagia atau celaka. Juga tidak dapat menyebabkan orang senang atau susah.

Karena pada hakekatnya, yang menyebabkan senang itu ialah keinginannya tercapai, dan yang menyebabkan susah itu ialah keinginannya tidak tercapai. Tetapi bukanlah barang-barang yang diinginkannya.

Misalnya bila hujan dianggap menyenangkan, maka tiap kali turun hujan orang mesti senang. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Bagi orang yang sedang menyelenggarakan pertunjukan ketoprak (sandiwara jawa), bila hujan turun maka ia merasa susah. Kebalikannya, bila hujan dianggap menyusahkan, tiap kali hujan turun orang mesti merasa susah. Kenyataannya pun tidak demikian. Bagi petani yang sedang menanam padi, bila hujan turun maka ia merasa senang.

Contoh lain yang lebih gamblang dan terang. Bila orang bersuami/isteri yang mempunyai anak dianggap senang, maka setiap orang yang bersuami/isteri dan beranak tentu tetap senang saja. Padahal yang sesungguhnya tidak demikian. Bila sedang bercekcok dengan suami/isterinya, dan anak-anaknya rewel, orang pasti merasa susah. Kebalikannya, jika bersuami/isteri dan beranak itu dianggap susah, maka setiap orang yang bersuami/isteri dan beranak tentu tetap susah saja. Padahal sesungguhnya tidak demikian. Bila sedang bercumbu-mesra dengan suami/isteri dan menimang-nimang anaknya, pasti orang merasa senang.

Jadi jelaslah bahwa barang-barang itu tidak menyebabkan orang senang atau susah. Oleh karena itu, di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang-barang yang pantas dicari, ditolaknya atau dihindari secara mati-matian.

Mengawasi Keinginan

Manusia itu semua sama yakni abadi, rasanya sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah, demikian seterusnya. Bila kebenaran itu dimengerti, keluarlah orang dari penderitaan neraka iri-sombong, sesal-khawatir yang menyebabkan prihatin, celaka, dan masuklah ia dalam surga tenteram dan tabah yang menyebabkan orang bersuka-cita, bahagia.

Setelah bersuka-cita dan bahagia, maka dapatlah orang menyadari dirinya sendiri sewaktu timbul keinginan apa-apa. Setiap keinginan itu pasti mengandung rasa takut kalau-kalau tidak tercapai. Keinginan inilah yang segera diyakinkannya: “Keinginan itu jika tercapai tidak menimbulkan bahagia, melainkan senang sebentar yang kemudian akan susah lagi. Dan bila tidak tercapai pun tidak menyebabkan celaka, hanyalah susah sebentar yang kemudian akan senang lagi.” Maka ia bisa menantangnya: “Silakan keinginan, berusahalah mati-matian mencari senang-senang abadi, dan berdayalah mati-matian menolak susah abadi, pastilah tidak berhasil. Kamu (keinginan) tidak mengkhawatirkan lagi”.

Bila orang dapat meyakinkan keinginannya sendiri demikian, lenyaplah rasa prihatin. Berbareng lenyapnya prihatin, tumbuhlah si pengawas keinginannya sendiri yang mengerti keinginannya sendiri.

Benih Pengetahuan

Si pengawas keinginannya sendiri ini ialah rasa aku, rasa ada. Orang itu tentu berasa aku, tidak bisa tidak berasa aku. Setiap berasa aku tentu berasa ada. Berasa aku tetapi tidak berasa ada, tidaklah demikian.

Si pengawas itu abadi karena ia itu barang asal. Barang asal itu tidak ada asalnya untuk membuatnya, tetapi malahan sebagai asal dari semua barang dan hal. Ia itu asalnya rasa aku-senang, aku-susah. Si pengawas ini abadi dalam mengawasi keinginannya sendiri yang bersifat sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret dengan rasa sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Rasa abadi yang mengawasi keinginannya sendiri itu, ialah abadi senang dan abadi bahagia.

Ketika si pengawas belum timbul, orang merasa “akulah berkeinginan, aku senang, aku susah.” Ia itu masih sebagai benih pengetahuan yang mengetahui tindak-tanduk manusia, serta belum timbul rasa senang dan bahagia. Wujudnya si pengawas ketika itu belum timbul, tetapi masih sebagai benih ialah seperti contoh berikut ini. Misalnya orang ingin buang air, dalam diri orang itu ada yang mengetahui dan mengerti “Aku ini tergesa-gesa menuju ke kakus, pastilah ingin buang-air.” Yang mengerti bahwa dirinya ingin buang air ini, tidaklah ikut berkeinginan buang air, akan tetapi hanya mengerti kehendaknya saja, yaitu si pengawas ketika belum tumbuh tetapi masih sebagai benih pengetahuan.

Contoh lain yang lebih jelas ialah orang yang makan cabe merasa pedas. Dalam diri orang itu ada yang mengetahui dan mengerti “Aku ini megap-megap mencari minuman, tentulah kepedasan.” Yang mengerti bahwa dirinya kepedasan ini tidaklah turut kepedasan, melainkan mengerti bahwa dirinya kepedasan, yaitu ketika si pengawas belum timbul tetapi masih sebagai benih pengetahuan.

Contoh lain yang lebih dekat, misalkan orang merasa malu, dalam diri orang itu tentu ada yang mengetahui dan mengerti: “Aku ini pasti mendapat malu, karena meringis-ringis dan tidak berani keluar rumah.” Yang mengerti dirinya memperoleh malu ini, tidaklah turut merasa malu, melainkan mengertinya saja, yaitu ketika si pengawas belum timbul, tetapi masih sebagai benih pengetahuan. Dan orang merasa “Akulah berkeinginan, yang senang, yang susah, yang malu, yang kepedasan, yang ingin buang air, adalah aku.”

Bila si pengawas sudah timbul, lenyaplah rasa prihatin, kemudian orang merasa “Aku bukanlah keinginan”, dari sini ia akan merasa “Yang senang dan susah bukanlah aku”, dari sini ia merasa “Yang malu, yang kepedasan, yang ingin buang air bukanlah aku.”

B a h a g i a

Maka orang akan merasa “Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia.” Bila orang sudah mempunyai rasa “Aku mengawasi keinginan, aku senang, aku bahagia”, maka dalam mengawasi keinginannya sendiri dan perjalanan hidupnya sendiri, ia merasa “Itu bukanlah aku.” Begitu juga dalam menanggapi dunia dengan segenap isinya dan semua kejadian-kejadian, orang pun merasa “Itu bukanlah aku.”

Demikian rasa aku itu bahagia dan abadi. Karena itu, di mana saja, kapan saja, bagaimana saja, bahagialah orang itu. Demikianlah pengetahuan orang hidup bahagia.

PENUTUP

Demikian keseluruhan rasa-rasa manusia. Rasa-rasa yang diterangkan di sini hanyalah yang pokok-pokok saja. Adapun kefaedahannya hanyalah sebagai batu loncatan untuk mempelajari perincian rasa-rasa sendiri.

Yang menjadi penghalang untuk mengetahui perincian rasanya sendiri ialah cita-cita dalam arti umum. Wujud cita-cita itu adalah: “Mencari senang abadi”, seperti yang telah dibahas dalam buku ini. Bila diteliti sampai benar-benar jelas cita-cita itu lenyap, artinya orang akan berasa bahwa “Cita-cita ini bukanlah aku.”

Bila cita-cita itu telah diketahui, dapatlah orang mengetahui perincian rasa-rasanya sendiri. Ternyata bekerjanya (prosesnya) rasa-rasa itu menurut hukum alam. Bila hukum alam itu diketahui, orang akan bertindak sesuai hukum alam itu dan merasa bahagia.

==SELESAI==

GATHOLOCO

SERAT GATHOLOCO
Diambil dari naskah asli bertuliskan huruf Jawa yang disimpan oleh
PRAWIRATARUNA.
Digubah ke aksara Latin oleh :
RADEN TANAYA
Diterjemahkan dan diulas oleh :
DAMAR SHASHANGKA
Purwaka

Pupuh I
———
Mijil
(Pembukaan, Kumpulan Syair I, Lagu ber-irama Mijil)
1. Prana putêk kapêtêk ngranuhi, wiyoganing batos, raosing tyas karaos kêkêse, têmah bangkit upami nyêlaki, rudah gung prihatin, nalangsa kalangkung.

Oleh sebab sesak yang semakin menjadi-jadi, yang muncul dalam hati, terasa bagai diiris-iris, bangkit semakin tak tertahan lagi, gelisah dan gundah, nelangsa berlebih-lebih.

2. Jroning kingkin sinalamur nulis, sêrat Gatholoco, cipteng nala ngupaya lêjare, tarlen muhung mrih ayêming galih, ywa kalatur sêdhih, minangka panglipur.

Ditengah keresahan sengaja aku menulis untuk menghibur, (menulis) sêrat Gatholoco, maksud hati mencari kejelasan, sehingga bisa menentramkan hati, supaya tidak sedih berlarut-larut, sebagai sarana menghibur diri.

3. Kang kinarya bebukaning rawi, Rêjasari pondhok, wontên Kyai jumênêng Gurune, tiga pisan wasis muruk ilmi, kathah para santri, kapencut maguru.

Sebagai cerita pembuka, (tersebutlah sebuah) pondok (pesantren) Rêjasari, ada Kyai berkedudukan sebagai guru, berjumlah tiga orang sangat pandai mengajarkan ilmu, banyak para santri, terpikat untuk berguru.

4. Bakda subuh wau tiga Kyai, rujuk tyasnya condhong, Guru tiga ngrasuk busanane, arsa linggar sadaya miranti, duk wanci byar enjing, sarêng angkatipun.

Seusai (shalat) Subuh ketiga Kyai (tersebut), sepakat bersama-sama, ketiga Guru berganti busana, hendak melakukan perjalanan semua (santri) telah menanti, tepat ketika pagi menjelang, berangkatlah bersama-sama.

5. Murid nênêm umiring tut wuri, samya anggêgendhong, kang ginendhong kitab sadayane, gunggung kitab kawan likur iji, ciptaning panggalih, tuwi mitranipun.

Diiringi enam orang murid mengikut dibelakang, masing-masing membawa, yang dibawa banyak kitab, jumlah kitab sebanyak dua puluh empat buah, tujuan perjalanan, hendak bertandang ke tempat seorang sahabat.

6. Ingkang ugi dadya Guru santri, ing Cêpêkan pondhok, Kyai Kasan Bêsari namane, wus misuwur yen limpad pribadi, putus sagung ilmi, pra Guru maguru.

Yang juga berkedudukan sebagai seorang Guru dari banyak para santri, di pondok (pesantren) Cêpêkan, bernama Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori), sudah terkenal akan kepandaiannya, menguasai segala macam ilmu, sehingga para Guru-pun berguru (kepadanya).

7. Datan wontên ingkang animbangi, pinunjul kinaot, langkung agêng pondhokan santrine, krana saking kathahipun murid, ujaring pawarti, pintên-pintên atus.

Tak ada yang mampu mengimbangi, terkenal dan dihormati, sangat besar pondok pesantrennya, karena memang muridnya-pun sangat banyak, menurut kabar, beratas-ratus (orang).

8. Amangsuli kang lagya lumaris, sadaya mangulon, sêpi mendhung sumilak langite, saya siyang lampahnya wus têbih, sunaring hyang rawi, sagêt bênteripun.

Kembali menceritakan mereka yang tengah berjalan, bergerak ke barat, tak ada mendung bergelayut sangat terang langit dikala itu, semakin siang perjalanan mereka semakin jauh, sinar hyang rawi (matahari), terasa menyengat panas.

9. Marma reren sapinggiring margi, ngandhap wringin ayom, ayêm samya anyêrêng kacune, tinamakkên ayoming waringin, pan kinarya linggih, jengkeng sêmu timpuh.

Oleh karenanya memutuskan untuk berhenti dipinggir jalan, tepat dibawah pohon beringin yang sejuk, segar terasa semua mengeluarkan sapu tangan ( pada jaman itu sapu tangan yang dipakai kebanyakan berukuran besar, seukuran handuk mini pada jaman sekarang), dibentangkan dibawah beringin, dipakai sebagai alas duduk, berjongkok setengah bersimpuh.

10. Êcisira cinublêskên siti, murid sami lunggoh, munggeng ngarsa ajejer lungguhe, kasiliring samirana ngidid, pating clumik muji, têsbehnya den etung.

Tongkat ditancapkan diatas tanah, para murid telah duduk semua, mengambil posisi duduk didepan ( dan menghadap Kyai Guru) berjajar-jajar, diterpa hembusan angin, bibir (ketiga Kyai Guru) berkomat-kamit melantunkan doa, sembari menghitung tasbih (masing-masing).

11. Murid nênêm ambelani muji, dikir lenggak-lenggok, manggut-manggut sirah gedheg-gedheg, dereng dangu nulya aningali, mring sajuga janmi, lir dandang lumaku.

Keenam murid mengikut berdoa, berdzikir kepalanya melenggak-lenggok, mengangguk-angguk kadang bergeleng-geleng pula, belum begitu lama lantas melihat, seorang manusia, (buruk rupa) bagaikan seekor burung gagak yang tengah berjalan.

Pupuh II
———–
Dandanggula
(Kumpulan Syair II, Lagu ber-irama Dandanggula)
1. Êndhek cilik remane barintik, tur aburik wau rainira, ciri kera ing mripate, alis barungut têpung, irung sunthi cangkême nguplik, waja gingsul tur pêthak, lambe kandêl biru, janggut goleng sêmu nyênthang, pipi klungsur kupingira anjêpiping, gulu panggêl tur cêndhak.

Berpostur pendek dan kecil dengan rambut keriting, kulit wajahnya kasar, bermata kera (arah pandang mata yang tidak normal), alisnya tebal dan bertemu ujung keduanya, hidung pesek mulut maju, gigi gingsul besar berwarna putih, bibirnya tebal berwarna biru, janggut tumpul (tidak runcing) dan melebar jelek, pipinya kempot bentuk daun telinga maju (seperti telinga gajah), sedangkan leher besar dan pendek.

2. Pundhak brojol sêmune angêmpis, punang asta cêndhak tur kuwaga, ting carênthik darijine, alêkik dhadhanipun, wêtêng bekel bokongnya canthik, sêmu ekor dhêngkulnya, lampahipun impur, kulit ambêsisik mangkak, ambêngkerok napasira kêmpas-kêmpis, sayak lêsu kewala.

Pundak turun seperti luruh kebawah, tangannya pendek dan besar, jari jemarinya tidak rapi jelek, dadanya kempis, perut buncit kecil pantat kecil, lututnya kecil, tidak rapi saat berjalan, kulit tubuh seolah bersisik dengan warna gelap, saat bernafas suaranya terdengar dan tersengal-sengal, bagaikan orang yang tengah kelelahan.

3. Bêdudane pring tutul kinisik, apan blorok kuninge sêmu bang, asungsun tiga ponthange, bongkot têngah lan pucuk, timah budhêng ingkang kinardi, cupak irêng tur tuwa, gripis nyênyêpipun, mêlêng-mêlêng sêmu nglênga, labêt saking kenging kukus sabên ari, pangoturik den asta.

Pipa rokok yang dibawa berasal dari pohon bambu berukuran kecil yang digosok, warnanya kuning bersemu merah, diberikan hiasan pada tiga tempat, dibagian pangkal tengah dan ujung, timah hitam yang dipakai hiasan, terlihat jelek berwarna hitam pekat, dibagian untuk menghisap telah gripis (sedikit rusak), berminyak kehitam-hitaman, karena setiap saat terkena asap, walaupun begitu tetap saja dipakai.

4. Kandhutane klelet gangsal glindhing, alon lenggah cakêt Guru tiga, sarwi angempos napase, kapyarsa sênguk-sênguk, gandanira prêngus asangit, tumanduk mring panggenan, santri ingkang lungguh, Gatholoco ngambil sigra, kandhutane têgêsan kang aneng kendhit, gya nitik karya brama.

Bekal yang dibawa adalah candu tiga gelintir, pelan mengambil duduk dekat dengan ketiga Guru, terdengar suara nafasnya, tercium bau badan yang tidak sedap, prengus (istilah Jawa untuk mendefinisikan jenis bau yang mirip dengan bau kambing) sangit (istilah Jawa untuk mendefinisikan bau dari sisa pembakaran), menebar ke sekeliling, ditempat mana para santri tengah duduk, Gatholoco segera mengambil, bekal yang tersimpan dalam buntalan yang terikat dipinggangnya, lantas memantik korek api.

5. Nulya udut kebulnya ngêbuli, para santri kawratan sêdaya, asêngak sanget sangite, murid nênêm tumungkul, mêrgo sarwi atutup rai, sawêneh mithes grana, kang sawêneh watuk, mingsêr saking palênggahan, samya pindhah neng wurine guruneki, nyingkiri punang ganda.

Seketika asap rokok menyebar, semua santri terganggu, sêngak (istilah Jawa untuk mendefinisikan bau dari benda yang kotor) sangat sangit (lihat keterangan di syair: 5 diatas), kontan keenam murid mengalihkan pandangan dari Gatholoco, sembari menutup wajah (karena terganggu asap berbau tidak sedap), seorang lagi memencet hidung, seorang lagi terbatuk-batuk, segera mereka bergeser, duduk dibelakang para guru mereka, menghindari bau yang tak sedap.

6. Guru tiga waspada ningali, mring Wajuja ingkang lagya prapta, kawuryan mêsum ulate, sareng denira nebut, astagapirullah-hal-ngadim, dubillah minas setan, ilaha lallahu, lah iku manusa apa, salawase urip aneng dunya iki, ingsun durung tumingal.

Ketiga guru memperhatikan dengan seksama, kepada Wajuja (diambil dari nama sekelompok makhuk bar-bar pengganggu yang tertulis dalam Al-Qur’an, yaitu Ya’juj wa Ma’juj) yang baru datang ini, terlihat tidak patut tingkahnya, hampir bersamaan mereka berucap, Astaghfirullahal ‘adzim (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung), Audzubillahiminassyaithon (Aku berlindung kepada Allah dari gangguan setan), Laillahailallahu (Tiada Tuhan selain Allah), Manusia apakan ini? selama hidupku didunia ini, aku belum pernah menjumpai.

7. Janma ingkang rupane kayeki, sarwi noleh ngandika mring sabat, Padha tingalana kuwe, manusa kurang wuruk, datan wêruh sakehing Nabi, neng dunya wus cilaka, iku durung besuk, siniksa aneng akherat, rikêl sewu siksane neng dunya kuwi, mulane wêkas ingwang.

Manusia yang berwujud seperti ini, sembari menoleh berkatalah kepada para sahabat (para santri), Lihatlah itu, manusia kurang pengajaran, tidak mengenal Para Nabi, didunia sudah celaka, belum kelak, disiksa di akherat, berlipat seribu siksaannya lebih dari siksaan didunianya kini, oleh karenanya aku berpesan.

8. Ingkang pêthel sinauwa ngaji, amrih wêruh sarak Rasulullah, slamêt dunya akherate, sapa kang nêja manut, ing saringat Andika Nabi, mêsthi oleh kamulyan, sapa kang tan manut, bakale nêmu cilaka, Ahmad Ngarip mangkana denira eling, Janma iku sun kira.

Yang rajin dalam mengaji, supaya mengetahui syari’at Rasulullah, akan selamat dunia akhirat, barangsiapa yang berkehendak menurut, kepada syari’at Baginda Nabi, pastilah akan mendapatkan kemuliaan, barangsiapa yang tak menurut, bakal menemukan celaka, begitulah pesan dari Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Manusia itu aku duga.

9. Dudu anak manusa sayêkti, anak Bêlis Setan Brêkasakan, turune Mêmêdi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Bêlis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawêtu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajêbug sigra ingambil, den untal babar pisan.

Bukan anak manusia sesungguhnya, akan tetapi anak Iblis Setan Brêkasakan (makhluk yang tidak karu-karuan hidupnya), keturunan Mêmêdi (makhluk yang menakutkan) atau Wewe (Jin perempuan yang berwujud jelek), Gatholoco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.

10. Pan sakala êndême mratani, mrasuk badan kulit dagingira, ludira otot bayune, balung kalawan sungsum, kêkiyatan sadaya pulih, kawistara njrêbabak, cahyanipun santun, Guru tiga wrin waspada, samya eram tyasnya ngungun tan andugi, pratingkah kang mangkana.

Seketika mabuklah dia, candu merasuk badan kulit dan dagingnya, darah otot dan kekuatannya, tulang dan sumsumnya, seluruh kekuatan terasa pulih, dapat dilihat dari wajahnya yang memerah, cahaya wajahnya kembali, ketiga Guru waspada mengamati, heran hati mereka tak bisa memahami, kelakuan yang seperti itu.

11. Abdul Jabar ngucap mring Mad Ngarip, Lah ta mara age takonana, apa kang den untal kuwe, lan sapa aranipun, sarta manêh wismane ngêndi, apa panggotanira, ing sadinanipun, lan apa tan adus toya, salawase dene awake mbasisik, janma iku sun kira.

Abdul Jabar berkata kepada (Ah)mad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Segeralah kamu tanyai, apa yang dimakannya barusan, dan siapa namanya, dan lagi rumahnya dimana, apa pekerjaannya, pekerjaan sehari-harinya, dan apakah tidak pernah mandi, sehingga kulitnya bersisik, manusia ini aku kira.

12. Ora ngrêti nyarak lawan sirik, najis mêkruh batal lawan karam, mung nganggo sênênge dhewe, sanajan iwak asu, daging celeng utawa babi, anggêr doyan pinangan, ora nduwe gigu, tan pisan wêdi duraka, Ahmad Ngarip mrêpeki gya muwus aris, Wong ala ingsun tannya.

Tidak mengetahui syari’at dan larangannya, najis makruh batal apalagi haram, hanya menuruti kesenangan sendiri, walaupun daging anjing, daging celeng maupun babi, kalau suka pasti dimakannya, tak memiliki rasa jijik, tak takut akan durhaka, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) mendekat dan segera berkata, Hai manusia jelek aku hendak bertanya.

13. Lah ta sapa aranira yêkti, sarta manêh ngêndi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad, Guru tiga ngrungu, sarêng denya latah-latah, Bêdhes buset aran nora lumrah janmi, jênêngmu iku karam.

Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!

14. Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggêguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun gêli, gumun mring jênêngira, Gatholoco muwus, Ing mangka jênêng utama, Gatho iku têgêse Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan.

Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan ( Gathel : Penis ), Loco artinya Dikocok.

15. Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yekti sun sauri bae, têtêlu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lêlima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya.

Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang Kinisik ( Barang yang sering digosok-gosokkan kepada lobang), satunya lagi Barang Panglusan (Barang yang sering dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan), akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.

16. Kyai Guru mangsuli Tan bêcik, jênêngira iku luwih ala, jalaran bangêt sarune, karam najis lan mêkruh, iku jênêng anyilakani, jênêng dadi duraka, jênêng ora patut, wus kasêbut jroning kitab, nyirik karam yen mati munggah suwargi, kang karam manjing nraka.

Kyai Guru menjawab Tidak patut, namamu itu sangat-sangat jelek, karena sangat tabunya, bukah hanya makruh tapi sudah najis bahkan haram! Itu nama yang mencelakakan, nama yang membuat orang menjadi durhaka, nama yang tidak patut, sudah disebutkan didalam kitab, apabila menghindari hal-hal yang haram jika meninggal kelak pasti akan naik ke surga, yang tidak menghindari hal-hal yang haram pasti kelak masuk neraka.

17. Gatholoco menjêp ngiwi-iwi, gya gumujêng nyawang Guru tiga, sarwi mangkana ujare, Sarak-ira kang kliru, sapa bisa angêlus wadi, yêkti janma utama, iku apêsipun, priyayi kang lungguh Dêmang, myang Panewu Wadana Kliwon Bupati, liyane ora bisa.

Gatholoco mencibir memperolok-olok, lantas tertawa memperhatikan ketiga Guru, sembari berkata demikian, Pemahamanmu atas syari’at salah! Siapa saja yang mampu mengerti rahasia (proses penciptaan melalui sexualitas), dialah manusia utama, hal inilah kelemahan, seluruh manusia walaupun berpangkat Dêmang, berpangkat Panêwu berpangkat Wadana berpangkat Kliwon maupun Bupati sekalipun, semuanya tidak ada yang memahami.

Sebelum melanjutkan ke-Pada (Syair) berikutnya (akan saya posting pada catatan bagian tiga), maka perlulah kiranya kita ulas beberapa Pada (Syair) yang telah saya posting pada catatan bagian pertama. Beberapa Pada (Syair) penting yang patut diulas agar tidak menimbulkan kesalah pemahaman adalah sebagai berikut :

1. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 9 :
Dudu anak manusa sayêkti, anak Bêlis Setan Brêkasakan, turune Mêmêdi Wewe, Gatholoco duk ngrungu, den wastani yen anak Bêlis, langkung sakit manahnya, nanging tan kawêtu, ngungkapi gembolanira, kleletipun sajêbug sigra ingambil, den untal babar pisan.

Bukan anak manusia sesungguhnya, akan tetapi anak Iblis Setan Brêkasakan (makhluk yang tidak karu-karuan hidupnya), keturunan Mêmêdi (makhluk yang menakutkan) atau Wewe (Jin perempuan yang berwujud jelek), Gatholoco mendengar akan hal itu, disebut sebagai anak Iblis, sangat-sangat sakit hatinya, akan tetapi didiamkan saja, membuka gembolannya kembali, diambilnya candu sekepal, dimakan sekaligus semuanya.

Penulis Gatholoco tampaknya mengambil pola pikir dari ajaran Shiwa Tantrayana yang sangat populer ditanah Jawa pada masa lampau. Dalam kitab Mahanirvana Tantra jelas disebutkan sebagai berikut :

“Pautvaa pitvaa punah pitvaa yaavat patati bhuutale, Punarutyaaya dyai potvaa punarjanma ga vidhate.”

“Minum, teruslah minum hingga kamu terjerembab ke tanah. Lantas berdirilah kembali dan minum lagi hingga sesudah itu kamu akan terbebas dari punarjanma (kelahiran kembali) dan mencapai kesempurnaan (Moksha).”

Maksud dari sutra ini, tak lain adalah meminum minuman spiritual, bukan minuman berwujud fisik yang mengandung alkhohol. Seseorang yang terus meminum anggur spiritualitas hingga jatuh bangun, dan tetap tidak jera untuk terus mereguknya, maka hanya dengan jalan seperti itu, dapat dipastikan, Kesadaran akan tertempa, terbangun dan terasah.
Meminum anggur spiritualitas sehingga mabuk, atau dalam syair diatas digambarkan memakan CANDU SPIRITUALITAS, sehingga terikat betul dengan Ke-Illahi-an, sehingga KECANDUAN betul dengan Kesempurnaan, adalah prasyarat mutlak bagi siapa saja yang ingin menggapai Kesadaran Purna.

2. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 11 :
Abdul Jabar ngucap mring Mad Ngarip, Lah ta mara age takonana, apa kang den untal kuwe, lan sapa aranipun, sarta maneh wismane ngêndi, apa panggotanira, ing sadinanipun, lan apa tan adus toya, salawase dene awake mbasisik, janma iku sun kira.

Abdul Jabar berkata kepada (Ah)mad Ngarip (Ahmad ‘Arif), Segeralah kamu tanyai, apa yang dimakannya barusan, dan siapa namanya, dan lagi rumahnya dimana, apa pekerjaannya, pekerjaan sehari-harinya, dan apakah tidak pernah mandi, sehingga kulitnya bersisik, manusia ini aku kira.

Masyarakat awan atau dalam istilah Tassawuf Islam disebut Mukmin ‘Am (seringkali ditulis dengan logat Mukmin Ngam dalam setiap sastra Jawa klasik) atau Walaka dalam istilah Shiwa Buddha, sudah barang tentu akan keheran melihat tingkah laku manusia-manusia aneh yang kecanduan spiritualitas seperti Gatholoco. Mereka akan bertanya-tanya, apa yang di-‘makan’-nya? Apa yang di-‘telan’-nya sehingga demikian ‘gila’-nya itu orang? Fenomena ini digambarkan secara konotatif dalam adegan diatas. Dimana sosok manusia Gatholoco menelan candu didepan para agamawan sehingga membuat keheranan mereka.
Manusia Gatholoco akan membuat logika spiritual orang awam terjungkir-balikkan, bahkan mereka yang mengaku agamawan sekalipun akan dibuat kalang-kabut olehnya. Manusia Gatholoco sangat unik karena benar-benar mabuk oleh candu Illahi. Siapapun yang mabuk candu Illahi, maka Kesadarannnya akan terayun kesegala arah bagai Palu Illahi yang tanpa ampun akan menggedor sekat-sekat sempit pemahaman awam tentang syari’at. Fenomena yang dialami oleh manusia Gatholoco, akan sulit dipahami oleh mereka yang tidak mau menikmati candu yang sama.

3. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 13 :
Lah ta sapa aranira yêkti, sarta maneh ngêndi wismanira, kang tinannya lon saure, Gatholoco aranku, ingsun janma Lanang Sujati, omahku têngah jagad, Guru tiga ngrungu, sarêng denya latah-latah, Bêdhes buset aran nora lumrah janmi, jênêngmu iku karam.
Siapakah namamu sesungguhnya? Dan lagi dimanakah rumahmu? Yang ditanya menjawab pelan, Gatholoco namaku, aku manusia Lanang Sujati ( Lelaki Sejati ), rumahku ditengah-tengah jagad, Ketiga Guru mendengar, bersamaan mereka tertawa terbahak-bahak, Monyet! Busyet! Nama tidak umum dipakai manusia, namamu saja itu sudah haram!

Manusia Gatholoco akan menyatakan dirinya sebagai Lanang Sujati (Hal ini akan diuraikan dalam syair ke-18 pada bagian tiga) yang bertempat tinggal di TENGAH-TENGAH DUNIA. Tengah-tengah dunia menyiratkan bahwa DIA TIDAK DITIMUR TIDAK DIBARAT TIDAK DIUTARA TIDAK DISELATAN TIDAK PULA DI ATAS, DITENGAH ATAU DIBAWAH. SEMUA ARAH ADALAH TEMPATNYA.
Dualitas duniawi, senang-sedih, panas-dingin, tinggi-rendah, nikmat-sakit, hidup-mati dan sebagainya akan menyeret manusia awam kearah salah satu kutub-nya. Namun bagi manusia Gatholoco, dia telah mampu berpijak ditengah-tengah keduanya. Berpijak dalam keadaan seimbang total! Manusia Gatholoco telah melampaui dualitas duniawi!
Manusia Gatholoco tidak condong ke kanan maupun kekiri. Manusia Gatholoco telah melampaui dualitas duniawi (Rwabhineda) sehingga tepatlah jika dikatakan KEDUDUKAN DIA BERADA DITENGAH-TENGAH JAGAD atau DUNIA!

4. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 14 :
Gatholoco ngucap tannya aris, Dene sira padha latah-latah, anggêguyu apa kuwe, Kyai Guru sumaur, Krana saking tyasingsun gêli, gumun mring jênêngira, Gatholoco muwus, Ing mangka jênêng utama, Gatho iku têgêse Sirah Kang Wadi, Loco Pranti Gosokan.
Gatholoco tenang bertanya, Kenapa kalian terbahak-bahak? Mentertawai apakah? Kyai Guru menjawab, Hatiku sangat geli, heran kepada namamu, Gatholoco berkata, Padahal itu adalah nama utama, Gatho itu artinya Kepala Yang Dirahasiakan ( Gathel : Penis ), Loco artinya Dikocok.

Inilah pernyataan Gatholoco yang sangat vulgar tentang arti namanya. Gatho atau GATHEL (maaf) dalam bahasa Jawa berarti PENIS, sedangkan LOCO artinya KOCOK. Gatholoco tak lebih berarti KOCOKAN DARI PENIS. Dan akibat dari aktifitas KOCOKAN ini, pada ujungnya memuncak pada fenomena TERPANCARNYA CAIRAN SPERMA. Arti nama Gatholoco sangatlah tabu jika hal ini dikaitkan dengan etika masyarakat pada umumnya. Namun bagaimana-pun juga, manusia yang terdiri dari tiga bentukan badan (sarira) sesuai dengan mantra-mantra yang ada dalam ATMOPANISHAD, yaitu Badan Fisik atau ‘STHULA SARIIRA’, Badan Halus atau ‘SUKSMA SARIIRA’ dan Badan Sejati atau ‘ATMA SARIIRA’, semua memang tercipta dari fenomena ‘PANCARAN’ ini.
Dalam istilah Tassawuf Islam, Badan Fisik (STHULA) disebut ‘JASAD’ dan dalam istilah Islam Kejawen, disebut ‘DHINDHING JALAL ARAN KIJAB (Dinding Agung Yang Disebut Hijab ; Penghalang/Tabir/Tirai)’.
Sedangkan Badan Halus (SUKSMA) dalam istilah Tassawuf Islam disebut ‘NAFS (Pribadi/personil)’ dan dalam Islam Kejawen disebut ROH ILAPI (Ruh Idlafi), DAMAR ARAN KANDHIL (Pelita bernama Kandil) dan SESOTYA ARAN DARAH (Cahaya bernama Darah)
Badan Sejati (ATMA) dalam istilah Tassawuf Islam disebut ‘RUH’ dan dalam Islam Kejawen disebut ‘KAYU SAJARATUL YAKIN (Hayyu Syajaratul Yaqin ; Hidup Sebagai Pohon/Akar Keyakinan Utama)’ , NUR MUHAMMAD (Cahaya Terpuji) dan KACA ARAN MIRATULKAYAI (Cermin bernama Mir’atul Haya’; Mir’ah = Cermin, Haya’ = Malu) atau cukup disebut ‘KANG NGURIPI (Yang membuat manusia hidup)’.
Dalam istilah Kristiani, Badan Fisik (STHULA) dan Badan Halus (SUKSMA) , keduanya di sebut tataran ‘DAGING’. Dan Badan Sejati (ATMA) disebut ‘ROH KUDUS’!
Dalam tataran materi (Skala), proses terbentuknya Badan Fisik dan Badan Halus tidak bisa lepas dari fenomena ‘TERPANCARNYA SPERMA KEDALAM RAHIM SEBAGAI PUNCAK DARI SEBUAH AKTIFITAS SEXUAL’. Tak jauh beda pula pada tataran Immateri (Niskala), terciptanya Atma dan seluruh semesta ini tak lepas pula dari fenomena dahsyat ‘PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA APA YANG DINAMAKAN PRAKRTI.
BRAHMAN yang mutlak atau PARAMASHIWA, yaitu SUMBER SEGALA SUMBER HIDUP INI atau HIDUP itu sendiri (Tassawuf Islam menyebutnya ‘ALLAH’, Kejawen menyebutnya ‘URIP’ yang artinya adalah ‘Hidup’, Kristiani menyebutnya ‘ALLAH BAPA’), Yang Melampaui Segalanya, Mengatasi Segalanya, Tidak diketahui apa sesungguhnya Dia, Mengatasi segala pribadi, Sempurna, Yang Murni dan sebagainya, pada suatu saat, berkehendak mempersempit ke-Mutlak-an-Nya.
Proses ini dinamakan DOSHA atau KESALAHAN. Sebuah DOSHA yang memang disengaja oleh-Nya. BRAHMAN atau PARAMASHIWA yang mempersempit ke-Mutlak-an-Nya ini lantas mengenakan sifat MAHA. MAHA ADA, MAHA KUASA, MAHA AGUNG, MAHA SUCI dan sebagainya. Dia lantas dikenal dengan nama PURUSHA yang artinya YANG BERKEHENDAK atau SADASHIWA (Tassawuf Islam menyebutnya ‘NURUN ‘ALA NUURIN’ yang artinya ‘Cahaya Diatas Cahaya’. Kejawen menyebutnya ‘KANG GAWE URIP’ yang artinya ‘Yang Menyebabkan adanya kehidupan material’. Kristiani menyebutnya ‘ALLAH PUTRA’).
Bersamaan proses mempersempit ke-Mutlak-an-Nya tersebut, tercipta bayangan BRAHMAN atau PARAMASHIWA yang disebut PRAKRTI. PRAKRTI inilah cikal-bakal bahan materi seluruh alam semesta. (PRA : Sebelum, KRTI : Membuat). PRAKRTI mengandung unsur negatif dan positif semesta, PRAKRTI inilah yang sesungguhnya dalam tradisi agama timur tengah disebut PENGHULU MALAIKAT dan IBLIS itu sendiri!
Bahan-bahan positif dari PRAKRTI yang kelak membentuk Badan Halus dan Badan Kasar manusia dengan unsur positif-nya, inilah yang disimbolkan sebagai MALAIKAT YANG MENJAGA MANUSIA. Sedangkan bahan-bahan negatif PRAKRTI yang kelak membentuk Badan Halus dan Badan Kasar manusia dengan unsur negatif-nya, inilah yang disimbolkan sebagai SETAN-SETAN YANG MENGGODA MANUSIA!
UNSUR POSITIF ALAM DIDALAM PRAKRTI ITULAH PARA PENGHULU MALAIKAT! UNSUR NEGATIF ALAM DIDALAM PRAKRTI ITULAH IBLIS.
SEGALA HAL YANG TERDAPAT DALAM BADAN HALUS DAN BADAN KASAR ANDA YANG MENUNJANG KEARAH KEBENARAN, ITULAH MALAIKAT PENDAMPING ANDA! SEGALA HAL YANG TERDAPAT DALAM BADAN HALUS MAUPUN BADAN KASAR ANDA YANG SENANTIASA MENGGANGGU ANDA BERJALAN DIJALAN KEBENARAN, ITULAH ANAK-ANAK IBLIS YANG DISEBUT SETAN! BUKALAH KESADARAN ANDA SAAT INI JUGA!
MALAIKAT tercipta dari CAHAYA. IBLIS tercipta dari API. CAHAYA dan API tidak bisa dipisahkan! Mengapa masih juga anda tidak mengerti dengan simbolisasi seperti ini?
Akibat PANCARAN ENERGI DARI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI, maka terperciklah tak terhitung ATMA-ATMA sebagai percikan PURUSHA. Bagai API dengan PERCIKANNYA. Bagai AIR dengan TETESANNYA.
Bahkan dari proses PANCARAN ENERGI ini, tercipta pula bahan-bahan material alam semesta sebagai bakal wadah bagi Atma-Atma.
Dari PURUSHA atau SADASHIWA terciptalah ATMA-ATMA, dan dari bahan-bahan material akibat PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI terciptalah kelak Badan Halus (SUKSMA) dan Badan Fisik (STHULA).
PRAKRTI HANYA SEKEDAR SEBAGAI TEMPAT PENAMPUNGAN SEMUA ITU. PRAKRTI IBARAT RAHIM SEMESTA!
Dan semua proses ini tak lain berawal dari PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEPADA PRAKRTI.
Dan proses ini diulang kembali, dalam bentuk aktifitas badaniah antara laki-laki dan wanita yang dinamakan sexualitas. Dimana penis makhluk jantan harus dikocok didalam vagina makhluk wanita (Gatholoco) agar memancarlah sperma yang penuh dengan berjuta-juta bibit kehidupan (Atma) kedalam rahim.
Proses sexualitas, adalah proses pematangan agar Atma benar-benar dibungkus oleh Badan Halus (Suksma) dan Badan Fisik (Sthula) didalam kandungan seorang wanita selama rentang waktu sembilan bulan sepuluh hari.
Nama Gatholoco sangat tabu, tapi dari Gatholoco-lah seluruh kehidupan tercipta. Maka sesungguhnya benar apa yang dikatakan Gatholoco, bahwa nama yang dipakainya adalah nama Rahasia Yang Mulia.

5. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 15 :
Marma kabeh padha sun lilani, sakarsane ngundang marang ingwang, yêkti sun sauri bae, têtêlu araningsun, kang sawiji Barang Kinisik, siji Barang Panglusan, nanging kang misuwur, manca pat manca lêlima, iya iku Gatholoco aran mami, prasaja tandha priya.

Maka aku rela jika kalian semua, mau memanggil aku apa, pasti aku akan terima, tiga namaku, yang pertama Barang Kinisik ( Barang yang sering digosok-gosokkan kepada lobang), satunya lagi Barang Panglusan (Barang yang sering dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan), akan tetapi yang terkenal, di empat penjuru angin bahkan di-lima penjuru angin, ialah Gatholoco, tanda seorang pria sejati.

Nama lain GATHOLOCO adalah BARANG KINISIK (Benda yang digosok-gosokkan didalam lobang) dan satunya lagi BARANG PANGLUSAN (Benda yang dihaluskan dengan cara dikeluar masukkan). Maknanya tiada beda, tak lain adalah PENIS YANG DIKOCOK.

KESADARAN MANUSIA GATHOLOCO MAMPU MEMAHAMI, bahwasanya cikal bakal kehidupan manusia dan beberapa makhluk yang mulai berkembang Kesadaranya, HARUS MELALUI PROSES PANCARAN SPERMA KEDALAM RAHIM.

Lebih tinggi dari itu, KESADARAN MANUSIA GATHOLOCO JUGA MEMAHAMI, bahwa SELURUH SEMESTA RAYA INI TERCIPTA JUGA AKIBAT PANCARAN ENERGI PURUSHA ATAU SADASHIWA KEDALAM KANDUNGAN PRAKRTI!

Proses ini adalah sebuah proses yang SAKRAL dan SUCI. Jadi sangat-sangat tidak patut jika aktifitas sexual hanya dipergunakan untuk sekedar mengejar sensasi kenikmatan belaka!

Manusia-manusia Gatholoco hanya akan MENGKOCOK PENIS MEREKA KEDALAM LIANG VAGINA sekedar untuk memberikan jalan bagi kelahiran kembali para Atma yang hendak melanjutkan proses evolusinya dialam manusia.

Manusia-manusia yang bukan manusia Gatholoco hanya akan melakukan PENGKOCOKAN PENIS MEREKA KEDALAM VAGINA sekedar untuk menikmati sensasi kenikmatannya belaka!

Laki-laki yang memahami hal ini, patut disebut PRIA SEJATI. Begitu juga wanita yang memahami akan hal ini, sepatutnya juga disebut WANITA SEJATI.

ITULAH BEDA MANUSIA GATHOLOCO DAN YANG BUKAN MANUSIA GATHOLOCO! SEMOGA ANDA SEMUA MEMAHAMI MAKSUD PENULIS GATHOLOCO DAN TIDAK SALAH MENGERTI KARENANYA!

18. Rehning ingsun tan dadi priyayi, mung jênêngku jênêng Wadi Mulya, supaya turunku têmbe, dadi priyayi agung, Abdul Jabar angucap bêngis, Dhapurmu kaya luwak, nganggo sira ngaku, lamun Sujatine Lanang, Gatholoco gumujêng alon nauri, Ucapku nora salah.

Walaupun aku bukan priyayi (bangsawan), akan tetapi namaku adalah Rahasia Mulia, supaya kelak para keturunanku, akan menjadi priyayi (bangsawan) besar (maksud Gatholoco, bangsawan spiritualitas), Abdul Jabar berkata bengis, Rupamu saja seperti Luwak (binatang sejenis musang yang berwujud jelek)! Bisa-bisanya mengaku, sebagai Sujatine Lanang (Sejatinya Lelaki), Gatholoco tertawa dan menjawab pelan, Ucapanku tidak salah.

19. Ingsun ngaku wong Lanang Sujati, basa Lanang Sujati têmênan, wadiku apa dhapure, Sujati têgêsipun, ‘ingSUn urip tan nêJA maTI’, Guru tiga angucap, Dhapurmu lir antu, sajêge tan kambon toya, Gatholoco macucu nulya mangsuli, Ewuh kinarya siram.

Aku mengaku sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati), arti dari Lanang Sujati (Lelaki Sejati) sesungguhnya adalah, aku disebut LANANG karena memahami Rahasia Mulia barang (penis)-ku, sedangkan SUJATI (Sejati) artinya ‘ingSUn urip tan nêJA ma TI’ (Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati Selamanya). Ketiga Guru berkata, Rupamu seperti hantu, tak pernah tersentuh air, Gatholoco cemberut lantas menjawab, Aku bingung hendak mandi dengan apa.

20. Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus gênine, jro badan isi latu, yen rêsika sun gosok siti, asline saking lêmah, sun dus-ana lesus, badanku sumbêr maruta, tuduhêna kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga.

Jikalau aku harus mandi menggunakan air, tubuhku sudah penuh dengan unsur air, jikalau harus mandi menggunakan api, didalam badan penuh unsur api, jikalau harus membersihkan diri dengan menggunakan tanah, sudah jelas daging ini berasal dari tanah, aku mandi menggunakan angin leysus, badanku sumber dari angin, beritahu kepadaku apa yang harus aku pakai untuk mandi? Ketiga Guru menjawab.

21. Asal banyu yêkti adus warih, dimen suci iku badanira, Gatholoco sru saure, Sira santri tan urus, yen suciya sarana warih, sun kungkum sangang wulan, ora kulak kawruh, satêmêne bae iya, ingsun adus Tirta Tekad Suci Êning, ing tyas datan kaworan.

Tubuhmu berasal dari cairan (sperma) sudah layak jika mandi menggunakan air, agar suci dirimu itu, Gatholoco lantang menjawab, Kalian santri bodoh! Jikalau bisa suci karena mandi dengan air, aku akan berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu (Ke-Tuhan-an), ketahuilah bahwa sesungguhnya, aku telah mandi Air Tekad Suci yang Jernih, yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh.

22. Bangsa salah kang kalêbu ciri, iya iku adusing manusa, ingkang sabênêr-bênêre, Kyai Guru sumaur, Wong dhapure lir kirik gêring, sapa ingkang pracaya, nduwe pikir jujur, sira iku ingsun duga, ora nduwe batal karam mêkruh najis, wêruhmu amung halal.

Segala macam perbuatan yang salah, itulah mandi yang sesungguhnya bagi manusia, mandi yang sebenar-benarnya mandi, Kyai Guru menyahut, Rupamu saja seperti kirik gêring (anjing penyakitan), siapa yang bakalan mempercayai, jika kamu memiliki kejujuran? Jika tak salah dugaanku, kamu pasti tidak mengenal peraturan tentang batal haram makruh najis, yang kamu ketahui hanya halal saja.

23. Najan arak iwak celeng babi, anggêr doyan mêsthi sira pangan, ora wedi durakane, Gatholoco sumaur, Iku bênêr tan nganggo sisip, kaya pambatangira, najan iwak asu, sun titik asale purwa, lamun bêcik tan dadi sêriking janmi, najan babi celenga.

Walaupun arak daging celeng dan babi, asal kamu doyan pasti kamu makan, tidak takut dosa, Gatholoco menyahut, Benarlah dan tidak salah, semua dugaanmu kepadaku itu, walaupun daging anjing, aku teliti asal usulnya, manakala diperoleh dengan jalan yang tidak menyakiti sesama manusia, begitupun juga walau daging babi dan celeng.

24. Ngingu dhewe awit saking cilik, sapa ingkang wani nggugat mring wang, halal-e ngungkuli cêmpe, sanajan iwak wêdhus, yen asale srana tan bêcik, karam lir iwak sona, najan babi iku, tinilik kawitanira, yen purwane ngingu dhewe awit gênjik, luwih saking maenda.

Apabila didapat dari hasil beternak sendiri (bukan hasil curian), siapa yang bakalan berani melarangku (untuk memakannya)? Halal-nya melebihi daging kambing, walaupun daging kambing, jika diperoleh dengan jalan tidak baik, itu haram melebihi daging anjing, telitilah asal usulnya, jika daging tersebut berasal dari binatang yang kita pelihara sendiri semenjak kecilnya, halal-nya melebihi kambing!

25. Najan wêdhus nanging nggonmu maling, luwih babi iku karam-ira, najan mangan iwak celeng, lamun asale jujur, mburu dhewe marang wanadri, dudu celeng colongan, halal-e kalangkung, sanajan iwak maesa, yen colongan luwih karam saking babi, ujarnya Guru tiga.

Walaupun kambing namun hasil dari mencuri, melebihi babi itu haram-nya, walaupun memakan daging celeng, tapi jika diperoleh dengan cara yang jujur, berburu sendiri dihutan, bukan celeng curian, halal-nya luar biasa, walaupun daging kerbau, namun hasil curian lebih haram dari babi, Ketiga Guru berkata.

26. Luwih halal padune si Bêlis, pantês têmên uripmu cilaka, kamlaratan salawase, tan duwe bêras pantun, sandhangane pating saluwir, kabeh amoh gombalan, sajêge tumuwuh, ora tau mangan enak, ora tau ngrasakake lêgi gurih, kuru tan darbe wisma.

Memang halal menurut Iblis! Pantas jika hidupmu celaka, melarat selamanya, tak memiliki makanan cukup, busana-pun compang camping, semua hanya gombal lusuh, selama hidup, tak pernah memakan makanan enak, tidak pernah menikmati rasa manis dan gurih, makanya kurus kering dan tak memiliki rumah.

27. Gatholoco ngucap anauri, Ingkang sugih sandhang lawan pangan, pirang kêthi momohane, kalawan pirang tumpuk, najis ingkang sira simpêni, Guru tiga duk myarsa, gumuyu angguguk, Sandhangan ingkang wus rusak, awor lêmah najisku kang tibeng bumi, kabeh wus awor kisma.

Gatholoco menjawab, Yang kaya akan busana dan makanan, berapa peti jumlah busananya, berapa tumpuk persediaan makanannya, itu najis jika cuma kamu simpan sendiri, Ketiga Guru begitu mendengar, seketika tertawa geli, Pakaian yang sudah kotor dan jelek, kami jadikan satu ditanah bersama kotoranku, semua sudah kubuang menjadi satu ke tanah! (Lantas mana yang disebut najis dalam hal semua pakaian yg kumiliki?)

28. Gatholoco anauri malih, Yen mangkono isih lumrah janma, ora kinaot arane, beda kalawan Ingsun, kabeh iki isining bumi, sakurêbing akasa, dadi darbek-Ingsun, kang anyar sarwa gumêbyar, Sun kon nganggo marang sanak-sanak mami, Ngong trima nganggo ala.

Gatholoco menyahuti lagi, Jikalau begitu jelas kalian hanya manusia lumrah, bukan manusia pilihan namanya, berbeda dengan-Ku, sesungguhnya semua yang ada dibumi, dan yang ada dibawah langit, adalah milik-Ku, yang baru dan gemerlap, sengaja Aku berikan kepada saudara-saudaraku (semua makhluk hidup), Aku rela memakai yang jelek-jelek saja.

29. Apan Ingsun trima nganggo iki, pêpanganan ingkang enak-enak, kang lêgi gurih rasane, pêdhês asin sadarum, Sun kon mangan mring sagung janmi, ingkang sinipat gêsang, dene Ingsun amung, ngawruhi sadina-dina, Sun tulisi sastrane salikur iji, Sun simpên jroning manah.

Cukuplah Aku memakan yang ini saja, segala makanan yang enak-enak, yang manis gurih rasanya, pedas dan asin semuanya, Aku berikan untuk dimakan oleh seluruh manusia, dan semua makhluk yang bersifat hidup, sedangkan Aku hanyalah, meneliti setiap hari, Ku catat dalam sebuah sastra sebanyak Duapuluh Satu buah (angka Dua melambangkan mereka yang masih terikat Dualitas duniawi, angka Satu melambangkan mereka yang telah lepas dari Dualitas duniawi. Manusia yang Kesadarannya tinggi, mampu meneliti dan mengamati kedua jenis tingkatan kesadaran para manusia tersebut. Inilah makna Sastra Salikur Iji atau Sastra Duapuluh Satu yang dimaksud Gatholoco), dan Aku simpan didalam hati.

30. Ingsun dhewe mangan sabên ari, Ingsun milih ingkang luwih panas, sarta ingkang pait dhewe, najise dadi gunung, kabeh gunung ingkang ka-eksi, mulane kang bawana, padha mêtu kukus, tumuse gêni Sun pangan, ingkang dadi padhas watu lawan curi, klelet ingkang sun pangan.

Yang Ku-makan setiap hari, Ku-pilih yang sangat panas, dan yang terlampau pahit (maksudnya semua unsur-unsur negatif Alam yang terlalu ekstrim), kotoran (batin)-Ku menjadi gunung, seluruh gunung yang terlihat, (maksudnya, semua unsur negatif yang terlalu ekstrim dari Alam, mampu didaur ulang menjadi unsur yang lebih positif melalui olah batin dari manusia-manusia yang berkesadaran tinggi. Dilambangkan dengan keberadaan sebuah gunung yang menyimpan api menakutkan, namun lava dari gunung berapi, sangat bermanfaat menyuburkan tanah, sehingga tanaman apapun akan gampang tumbuh disekeliling gunung berapi. Jelasnya, dari sesuatu yang menakutkan semacam gunung berapi, mampu didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi manusia. Begitu pula proses daur ulang yang secara tidak disadari telah dilakukan oleh manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco kepada semua unsur negatif alam yang terlalu ekstrim), apa sebabnya dunia diliputi asap saja (maksudnya, banyak unsur api terlampau ekstrim yang sesungguhnya melingkupi dunia ini, namun berkat manusia-manusia yang penuh kesadaran semacam Gatholoco, secara tidak sengaja, mereka-mereka ini menyerap unsur api yang terlalu ekstrim tersebut dan didaur ulang menjadi unsur api positif yang lebih bermanfaat. Jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco, dapat dipastikan, meteor-meteor raksasa dan hal-hal ekstrim lainnya, akan menghantam dan mengacaukan bumi tanpa ada penghalang lagi! Sadarilah ini!), sebab api telah Aku makan, kotoran (batin)-Ku menjadi batu cadas (seperti halnya dipilihnya ‘Gunung’ sebagai sebuah perumpamaan proses pendaur ulang-an unsur ektrim Alam agar menjadi lebih bermanfaat, ‘Batu Cadas’ dipilih pula karena identik dengan kekokohan, sesuatu yang kokoh kuat. Maksudnya jelas, unsur ekstrim alam, bisa diubah menjadi sesuatu yang stabil demi keberlangsungan semesta sebagai tempat berevolusi. Berterima kasihlah kepada manusia-manusia berkesadaran tinggi seperti Gatholoco!) Aku cukup memakan candu ini. (maksudnya candu spiritualitas)

31. Sadurunge Ingsun ngising najis, gunung iku yêkti durung ana, benjang bakal sirna maneh, lamun Ingsun wus mantun, ngising tai mêtu têka silit, titenana kewala, iki tutur-Ingsun, Guru tiga duk miyarsa, gya micara astane sarwi nudingi, Layak kuru tan pakra.

Sebelum Aku membuang kotoran (batin), seluruh gunung belumlah tercipta (maksudnya, dunia tidak akan stabil sebagai tempat yang sesuai bagi proses evolusi jiwa jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi yang mampu mendaur ulang unsur-unsur ekstrim Alam seperti Gatholoco), kelak akan sirna kembali, jika Aku sudah tidak lagi, membuang kotoran lewat dubur, nyatakanlah kelak, apa yang Aku katakan ini. (maksudnya jika manusia-manusia yang berkesadaran tinggi hilang dari muka bumi, dapat dipastikan kiamat dunia akan tercipta!). Ketiga Guru begitu mendengar, segera berkata sembari menuding, Makanya kurus kering tidak lumrah manusia (tubuhmu).

32. Gatholoco sigra anauri, Mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jêng Nabi Rasul, sabên ari ingsun turuti, tindak mênyang ngêpaken, awan sore esuk, mundhut candhu lawan madat, dipun dhahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan.

Gatholoco segera menjawab, Tubuhku kurus disebabkan, karena menuruti perintah, Gusti (Kang)jêng Nabi Rasul(lullah), setiap hari aku turuti, bertandang ke tempat madat, siang sore pagi, mengambil candu dan madat, dimakan langsung maupun dibakar lalu dihisap, Allah yang memberikan ijin. (Maksudnya Kangjêng Nabi Rasul dalam kesadaran Gatholoco, bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Ruh-nya sendiri, Atma-nya sendiri. Suara Atma, suara Ruh, yang sering diistilahkan dengan SUARA NURANI, memerintahkan manusia-manusia seperti Gatholoco untuk terus mabuk spiritual, agar terus ke-Candu-an dengan Ke-Illahi-an. Dan Allah-pun me-ridloi!)

33. Kangjêng Rasul yen tan den turuti, muring-muring bangêt nggone duka, sarta bangêt paniksane, ingsun tan bisa turu, Guru tiga samya nauri, Mung lagi tatanira, Kangjêng Nabi Rasul, karsa tindak mring ngêpaken, Kangjêng Rasul pêpundhene wong sabumi, aneng nagara Mekah.

Kangjêng Rasul(lullah) manakala tidak ditaati perintahnya, marah-marah sangat berang, dan kejam menyiksa, membuat aku tak bisa tidur. (Maksud Gatholoco, jika SUARA NURANI-nya yang berasal dari Ruh-nya sendiri, dari Atma-nya sendiri tidak dia dengarkan, dampaknya akan terjadi konflik batin yang berujung pada ketidaknyamanan diri, keresahan diri, sehingga membuat dia tidak bisa tidur!) Ketiga Guru segera menjawab, Ucapan tidak pantas, mengatakan Kangjêng Nabi Rasul(lullah), mengutus agar bertandang ketempat madat! Kangjêng Rasul(lullah) adalah sosok yang diagungkan oleh seluruh manusia, berada di negara Makkah!

34. Gatholoco anauri aris, Rasul Mêkah ingkang sira sêmbah, ora nana ing wujude, wus seda sewu taun, panggonane ing tanah Arbi, lêlakon pitung wulan, tur kadhangan laut, mung kari kubur kewala, sira sêmbah jungkar-jungkir sabên ari, apa bisa tumêka.

Gatholoco menjawab pelan, Rasul yang ada di Mekkah yang kamu agungkan, sudah tidak ada lagi wujudnya (Telah mencapai Kesempurnaan), sudah meninggal seribu tahun yang lalu, makamnya di tanah Arab, perjalanan selama tujuh bulan untuk kesana, harus menyeberangi lautan, sekarang hanya tinggal kuburannya saja, kamu agungkan setiap hari sembari berjungkir balik, tidak mungkin beliau menemuimu? (Nabi Muhammad telah mencapai Kesempurnaan. Sebelum mencapai tingkat ini, beliau telah meninggalkan PETUNJUK bagi para pengikutnya, yaitu Al-Qur’an dan Hadist demi pegangan sebagai acuan peningkatan Kesadaran mereka. Dari kedua petunjuk ini, para pengikut beliau harus mampu meneladani, mengamalkan dan HARUS MANDIRI! SEKALI LAGI, HARUS MANDIRI! KESADARAN TIDAK BISA DIBUAT OLEH ORANG LAIN! MAKA NABI MUHAMMAD TIDAK AKAN MUNGKIN TERUS HADIR MEMBERIKAN PETUNJUK, KARENA APA YANG TELAH BELIAU TINGGALKAN SUDAH CUKUP! BERSIKAPLAH DEWASA! JANGAN KAYAK ANAK KECIL YANG TERUS MEREPOTKAN ORANG TUA! MANDIRILAH! ITU MAKSUD GATHOLOCO! )

35. Sêmbahira dadi tanpa kardi, luwih siya marang raganira, tan nêmbah Rasule dhewe, siya marang uripmu, nêmbah Rasul jabaning dhiri, kabeh sabangsanira, iku nora urus, nêbut Allah siya-siya, pating brêngok Allah ora kober guling, kabrêbêgên suwara.

Pujianmu tiada guna, menyusahkan diri sendiri, tak mengagungkan Rasul (Utusan) sendiri ( Rasul sendiri, maksudnya adalah Atma, Ruh, Percikan Tuhan yang merupakan inti sari setiap makhluk! Ruh kita, Atma kita inilah UTUSAN YANG SESUNGGUHNYA), menyia-nyiakan hidupmu, mengagungkan Rasul diluar diri, semua orang yang sepertimu, tidak memahami yang sebenarnya (Disini sebenarnya sebuah rahasia Sahadat Sejati telah diuraikan oleh Gatholoco, YAITU…………………………………….-maaf saya belum berani menguraikan disini-…………………………………), menyebut nama Allah dengan sia-sia, teriak-teriak membuat Allah tidak sempat tidur, terganggu suara kalian yang sangat berisik (Ungkapan keprihatinan untuk mengkritik kebiasaan mukmin awam yang suka beribadah disertai rasa pamer, riya’. Ibadah tidak perlu ditunjuk-tunjukkan. Lakukan diam-diam. Tidak usah berteriak-teriak! Itu maksud Gatholoco!)

36. Rasulullah seda sewu warsi, sira bêngok saking wisma-nira, bok kongsi modot gulune, masa bisa karungu, tiwas kêsêl tur tanpa kasil, Guru tiga angucap, Ujare cocotmu, layak mêsum ora lumrah, anyampahi pêpundhene wong sabumi, Gatholoco manabda.

Rasulullah telah meninggal seribu tahun yang lalu, kamu teriaki dari rumahmu (dengan harapan ditemui oleh beliau), walaupun sampai melar lehermu, tidak akan berkenan hadir menemuimu? Hanya melelahkan diri sendiri tiada guna ( maksud Gatholoco hanya melelahkan diri sendiri dan tiada guna jika memuji nama beliau dengan harapan agar ditemui dan mendapat tuntunan. Al-Qur’an dan Hadist, itu sudah cukup beliau berikan bagi acuan peningkatan Kesadaran para pengikut beliau!), Ketiga Guru berkata, Ucapan yang keluar dari cocot (bacot)-mu, adalah ucapan orang bingung dan tidak sopan, menghina sesembahan manusia se-dunia! Gatholoco berkata.

37. Bênêr mêsum saking susah mami, kadunungan barang ingkang gêlap, awit cilik têkeng mangke, kewuhan jawab-ingsun, yen konangan ingkang darbeni, supaya bisa luwar, ingsun njaluk rêmbug, kapriye bisane jawab, aywa nganti kêna ukum awak mami, Guru tiga miyarsa.

Memang benar aku bingung disebabkan karena keprihatinanku, karena ketempatan barang yang bukan punyaku, semenjak aku kecil hingga sekarang ini, sulit aku memberikan jawaban, manakala nanti ditanya oleh yang punya, agar aku mampu terlepas dari masalah ini, bisakah aku meminta pendapat kalian, bagaimanakah jawabanku, jangan sampai aku terkena hukuman, Ketiga Guru begitu mendengar ucapan itu.

38. Asru ngucap Nyata sira maling, ora pantês rembugan lan ingwang, sira iku wong munapek, duraka ing Hyang Agung, lamun ingsun gêlêm mulangi, pakartine dursila, mring panjawabipun, ora wurung katularan, najan ingsun datan anglakoni maling, yen gêlêm mulangana.

Keras berkata Ternyata kamu maling! Tidak pantas meminta pendapat kami! Kamu orang munafik! Berdosa kepada Hyang Agung! Jika kami sampai bersedia memberikan pendapat, tidak urung bakal ketularan (dosanya)! Walaupun kami tidak ikut mencuri, manakala bersedia memberikan pendapat.

39. Nalar bangsat paturane maling, yêkti dadi melu kêna siksa, Gatholoco pamuwuse, Yen sireku tan purun, amulangi mring jawab maling, payo padha cangkriman, nanging pamintengsun, badhenên ingkang sanyata, lamun sira têlu pisan tan mangrêti, guru tanpa paedah.

Sama saja menyetujui perbuatan bangsat seorang maling! Pasti akan ikut terkena siksa! Gatholoco berkata, Apabila kalian tidak bersedia, memberikan pemecahan masalah yang dihadapi seorang maling, baiklah mari kita bermain teka-teki, akan tetapi permintaanku, jawablah sungguh-sungguh, jika kalian bertiga tidak mampu menjawab, nyata kalian adalah Guru yang tiada guna!

40. Kyai Guru samya anauri, Mara age saiki pasalna, cangkrimane kaya priye, manira arsa ngrungu, yen wus ngrungu sayêkti bangkit, masa bakal luputa, ucapna den gupuh, angajak cangkriman apa, sun batange dimen padha den sêkseni, santri murid nom noman.

Para Kyai Guru menyetujui, Baiklah sekarang berikan, teka-teki yang seperti apa, kami akan mendengarkan, manakala sudah mendengar pasti akan paham, dan tidak mungkin salah menjawab, cepat ucapkan, mengajak bermain teka-teki yang seperti apa? Akan kami jawab dengan disaksikan, para murid santri yang masih muda-muda (kata muda dlm bahasa Jawa adalah Anom, menandakan syair berikutnya harus dilagukan dengan irama Sinom).

Ada beberapa Pada (Syair) yang terdapat pada Pupuh II, Dandanggula, yang harus diulas. Seperti dibawah ini :

1. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 19 :

Ingsun ngaku wong Lanang Sujati, basa Lanang Sujati têmênan, wadiku apa dhapure, Sujati têgêsipun, ‘ingSUn urip tan nêJA maTI’, Guru tiga angucap, Dhapurmu lir antu, sajêge tan kambon toya, Gatholoco macucu nulya mangsuli, Ewuh kinarya siram.

Aku mengaku sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati), arti dari Lanang Sujati (Lelaki Sejati) sesungguhnya adalah, aku disebut LANANG karena memahami Rahasia Mulia barang (penis)-ku, sedangkan SUJATI (Sejati) artinya ‘ingSUn urip tan nêJA ma TI’ (Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati Selamanya). Ketiga Guru berkata, Rupamu seperti hantu, tak pernah tersentuh air, Gatholoco cemberut lantas menjawab, Aku bingung hendak mandi dengan apa.

Gatholoco menyadari bahwa siapapun yang meningkat Kesadarannya, berhak menyandang predikat sebagai Lanang Sujati (Lelaki Sejati) atau Wadon Sujati (Wanita Sejati). Pada ‘Pada’ (Syair) diatas, arti kata Lanang Sujati diuraikan oleh Gatholoco. Siapapun Lelaki yang memahami Kemuliaan Proses Penciptaan melalui Penis (Gathel)-nya, sebuah proses vital yang menjadi mata rantai sebuah perjalanan panjang evolusi jiwa, proses yang mampu ‘menarik’ kembali Atma atau Ruh dari ranah ‘kematian’ menuju ‘kehidupan kembali’ atau Reinkarnasi (dalam istilah Sanskerta disebut PUNARBHAWA : Kelahiran Kembali, atau PUNARJANMA : Manusia Yang Kembali hidup dari ranah kematian), proses berkesinambungan untuk menjadi penyebab ‘bangkitnya’ Atma atau Ruh agar kembali berjuang ditengah samudera kehidupan demi untuk melanjutkan peningkatan kembali KESADARAN mereka melalui tempaan badai dualitas duniawi (suka-duka, kaya-miskin, sakit-sehat, dll), maka siapapun mereka, kalau Lelaki berhak menyandang predikat LANANG. Kalau Wanita berhak menyandang predikat WADON! Selama anda belum memahami kemuliaan dan pentingnya proses ini, maka sesungguhnya anda belumlah pantas disebut LANANG atau WADON. Anda hanyalah sekedar spesies makhluk hidup yang melakukan sebuah aktifitas sexual tanpa kesadaran. Anda belumlah MANUSIA.

Kata ‘SUJATI’, Gatholoco mengartikan ‘ingSUn urip tan neJA maTI’ yang artinya ‘Aku Yang Hidup Tak Dapat Mati’. Siapakah itu? INGSUN (AHAM/AKU). Siapakah INGSUN (AHAM/AKU) tersebut? Tak lain adalah Atma atau Ruh kita!

Atma atau Ruh tidak diciptakan oleh siapapun! Atma atau Ruh adalah Percikan Brahman dalam definisi Weda atau Tiupan/Hembusan Nafas Allah dalam definisi Al-Qur’an atau Pencitraan/Duplicate Allah dalam definisi Injil dan Taurat!

Atma dan Ruh adalah bagian langsung dari BRAHMAN, dari ALLAH, dari BAPA itu sendiri! Tidak ada yang menciptakan Ruh atau Atma. Yang diciptakan adalah Badan Halus (Suksma Sariira/Nafs) dan Badan Kasar (Sthula Sariira/Jasad)! Sadarkah anda sekarang? Telitilah dengan seksama kitab suci anda, adakah firman yang menyatakan Ruh itu diciptakan?
LANANG SUJATI artinya, Manusia yang memahami kemuliaan proses penciptaan melalui penis/vagina-nya, yang merupakan lantaran untuk kelahiran kembali para Atma atau Ruh!

2. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 20 :

Upamane ingsun adus warih, badaningsun wus kaisen toya, kalamun adus gênine, jro badan isi latu, yen rêsika sun gosok siti, asline saking lêmah, sun dus-ana lesus, badanku sumbêr maruta, tuduhêna kinarya adus punapi, ujarnya Guru tiga.

Jikalau aku harus mandi menggunakan air, tubuhku sudah penuh dengan unsur air, jikalau harus mandi menggunakan api, didalam badan penuh unsur api, jikalau harus membersihkan diri dengan menggunakan tanah, sudah jelas daging ini berasal dari tanah, aku mandi menggunakan angin leysus, badanku sumber dari angin, beritahu kepadaku apa yang harus aku pakai untuk mandi? Ketiga Guru menjawab.

Ini adalah jawaban yang merupakan kritik kepada para agamawan yang terlampau mementingkan syari’at. Mereka-mereka yang terpaku pada tata lahir dan procedural belaka. Begitu sudah tunai, mereka merasa sudah cukup dan sempurna! Gatholoco menyengaja memberikan gambaran, bahwa AIR tidaklah cukup untuk mensucikan diri secara menyeluruh. AIR hanya mampu menggelontor kotoran LAHIR semata! Maka Gatholoco menyatakan, apa yang hendak aku gunakan untuk men-sucikan diri ini? Jikalau memakai AIR, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA ini berasal dari unsur AIR. Jikalau memakai API, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA ini juga berasal dari unsur API. Pun jikalau memakai ANGIN, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA inipun berasal dari unsur ANGIN? Begitu juga jika hendak disucikan dengan TANAH, bukankah JASAD FISIK atau STHULA SARIIRA inipun berasal dari unsur TANAH?

Keempat Unsur yang disebutkan Gatholoco, umum dipahami sebagai empat pembentuk JASAD FISIK manusia. Empat unsur Alam yang sangat vital, yaitu TANAH/LOGAM (PRTIWI), AIR (APAH), API/CAHAYA (TEJA) dan ANGIN (WAYU) .

Namun sesungguhnya ada satu unsur lagi yang juga sangat vital membentuk JASAD FISIK manusia, yaitu RUANG (AKASHA). Tanpa ada RUANG, maka tidak akan ada celah dan rongga dalam susunan anatomi JASAD FISIK. Sesungguhnya unsur RUANG menempati bagian yang penting. Dan RUANG menurut Weda, masih juga dikategorikan sebuah MATERI! Masih merupakan BENDA FISIK! Para saintis modern telah pula mulai melakukan pengujian untuk membuktikan hipotesa bahwa RUANG masih juga merupakan MATERI.

Semesta ini terus mengembang. Terus membentuk ciptaan-ciptaan baru. Kemanakah segala benda ciptaan itu mengembang kalau tidak menuju RUANG. Berarti, begitu Semesta ini mengembang, maka akan terus tercipta RUANG baru!

Jauh-jauh hari, sebelum manusia modern bisa membuktikan bahwa semesta ini terus mengembang, dalam Weda telah disebutkan secara jelas tanpa harus ditafsir-tafsirkan lagi :

“Semoga Brahman, yang bagaikan laba-laba dengan jejaringnya yang terus keluar dari dalam diri-Nya, yang dihasilkan oleh PRADHANA/PRAKRTI-Nya, sehingga terus tercipta Alam Semesta ini, berkenan memberikan berkah kepada kami, sehingga kami dapat kembali menyatu dengan-Nya.”
(Swetaswatara Upanishad:6:10)

Namun teori yang menyatakan bahwa RUANG termasuk dalam unsur vital pembentuk JASAD FISIK, tidak begitu bisa dipahami oleh masyarakat Jawa setelah ajaran Shiwa Buddha meninggalkan Pulau Jawa. Sampai detik ini, masyarakat Jawa sudah terbiasa meyakini hanya ada empat unsur vital pembentuk JASAD FISIK manusia yaitu, TANAH/LOGAM (Sanskerta : PRTIWI, Jawa : BUMI), AIR (Sanskerta : APAH, Jawa : BANYU), API/CAHAYA (Sanskerta : TEJA, Jawa : GENI), UDARA (Sanskerta WAYU, Jawa : ANGIN). Sedangkan RUANG (AKASHA), terlupakan.

Masyarakat Bali masih bisa memahami. Mereka mengenalnya dengan istilah PANCA MAHA BHUTA (LIMA MAHA UNSUR MAKHLUK)!

Dan Gatholoco, tidak menyinggung tentang unsur RUANG karena dia tengah berdialog dengan masyarakat Jawa pasca Majapahit runtuh! Bahkan mereka yang tengah berdialog dengan Gatholoco ini, hanya mengenal keyakinan bahwa manusia tercipta dari AIR dan TANAH saja!

3. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 21 :

Asal banyu yêkti adus warih, dimen suci iku badanira, Gatholoco sru saure, Sira santri tan urus, yen suciya sarana warih, sun kungkum sangang wulan, ora kulak kawruh, satêmêne bae iya, ingsun adus Tirta Tekad Suci Êning, ing tyas datan kaworan.

Tubuhmu berasal dari cairan (sperma) sudah layak jika mandi menggunakan air, agar suci dirimu itu, Gatholoco lantang menjawab, Kalian santri bodoh! Jikalau bisa suci karena mandi dengan air, aku akan berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu (Ke-Tuhan-an), ketahuilah bahwa sesungguhnya, aku telah mandi Air Tekad Suci yang Jernih, yaitu jernihnya hati tanpa dikotori oleh.

AIR masih juga dianggap sebagai sarana mutlak sebagai alat pensuci. Gatholoco tertawa dan menjawab dengan cerdas. Jikalau memang hanya dengan memakai AIR aku bisa menjadi suci, bukankah lebih baik aku berendam selama sembilan bulan saja, tidak perlu mencari ilmu Ke-Tuhan-an? Pensuci yang sesungguhnya, tak lain adalah TIRTA TEKAD SUCI ÊNING (AIR TEKAD SUCI JERNIH) . Sebuah AIR ABSTRAK YANG KELUAR DARI TEKAD UNTUK MENSUCIKAN DAN MENJERNIHKAN SEGALA KEKOTORAN BATIN MANUSIA! ITULAH AIR YANG BISA MENGGELONTOR SELURUH KEKOTORAN BATIN!

4. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 28 :

Gatholoco anauri malih, Yen mangkono isih lumrah janma, ora kinaot arane, beda kalawan Ingsun, kabeh iki isining bumi, sakurêbing akasa, dadi darbek-Ingsun, kang anyar sarwa gumêbyar, Sun kon nganggo marang sanak-sanak mami, Ngong trima nganggo ala.

Gatholoco menyahuti lagi, Jikalau begitu jelas kalian hanya manusia lumrah, bukan manusia pilihan namanya, berbeda dengan-Ku, sesungguhnya semua yang ada dibumi, dan yang ada dibawah langit, adalah milik-Ku, yang baru dan gemerlap, sengaja Aku berikan kepada saudara-saudaraku (semua makhluk hidup), Aku rela memakai yang jelek-jelek saja.

Atma adalah Percikan Brahman. Semesta ini adalah materi baru yang tercipta dari proses ‘Persempitan ke-Mutlak-an Brahman’.

Atma adalah percikan. Semesta adalah ciptaan. Atma tak berawal dan berakhir. Langgeng abadi. Semesta ini mempunyai awal dan akhir. Tiada abadi. Makanya Semesta ini disebut pula sebagai ALAM MAYA!

Jika Atma dan Brahman itu sesungguhnya adalah SATU KESATUAN TUNGGAL, maka seluruh benda ciptaan ini sesungguhnya adalah milik Sang Atma juga.

Manakala dalam kenyataannya, kini Sang Atma kadangkala tidak mampu menikmati apa yang sesungguhnya merupakan milik-nya sendiri diseluruh Semesta raya ini, hal itu dikarenakan Sang Atma tengah terikat oleh Buah Karma-nya! Buah Karma yang dibuat-nya dan harus dinikmati-nya sendiri! Jika Sang Atma telah lepas dari jeratan Buah Karma, maka Sang Atma akan kembali memperoleh KESADARAN PURNA-NYA, KESADARAN MUTLAK-NYA. Sang Atma akan mampu merengkuh kembali segala milik-nya tanpa harus dibatasi lagi oleh takdir. Takdir yang sesungguhnya dia buat sendiri tanpa disadari!

Seluruh PEMIKIRAN (MANASIKA) Sang Atma, seluruh UCAPAN (WACIKA) Sang Atma, seluruh TINDAKAN (KAYIKA) Sang Atma, sesungguhnya adalah aktifitas pembuatan sebuah takdir bagi diri Sang Atma sendiri. Jika seluruh PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN Sang Atma cenderung positif, Sang Atma sesungguhnya telah menguntai takdir positif bagi diri-nya. Jika seluruh PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN Sang Atma cenderung negatif, sesungguhnya Sang Atma telah menguntai takdir negatif pula bagi diri-nya sendiri. Takdir bukan dibuat oleh Tuhan dari atas langit sana! Tidak ada Malaikat yang bertugas mencatat takdir anda! Yang ada, seluruh aktifitas anda yang keluar dari PEMIKIRAN, UCAPAN dan PERBUATAN, secara otomatis terekam oleh PRAKRTI! Terekam oleh ALAM! Dan Alam yang akan menumbuhkan buahnya, BAIK maupun BURUK, tergantung apa yang anda tanam! MALAIKAT ITU TAK LAIN ADALAH ALAM ITU SENDIRI! Sadari itu!

Dan buah perbuatan anda (Karmaphala ; Karma : Perbuatan, Phala : Buah) tidak bisa tidak, harus kembali kepada anda! Siapa yang menanam akan memetik! Siapa yang menabur angin akan menui badai! Tidak ada orang yang akan menggantikan! Dalam ungkapan Al-Qur’an sangat indah dinyatakan : SETIAP ORANG AKAN MEMIKUL DOSANYA SENDIRI! WALAUPUN ITU SEKECIL DZARROH (DEBU)!

Dan jika Sang Atma telah mampu terlepas dari ikatan samsara, terlepas dari lingkaran ‘penanaman’ dan ‘penuaian’ hasil aktifitas yang terus menerus tiada henti tersebut, sesungguhnya Sang Atma akan kembali memiliki segala apa yang ada di seluruh semesta raya ini!

Inilah maksud Gatholoco! Dan manusia-manusia semacam Gatholoco, sesungguhnya telah mampu ‘memenuhi segala apa yang dikehendakinya’. Namun apalah arti dunia bagi manusia-manusia semacam dia! Karena KESADARAN PURNA yang telah dicapainya, tidak bisa dibandingkan dengan seluruh kenikmatan dan gemerlapnya duniawi! KESADARAN PURNA lebih GEMERLAP DAN NIKMAT daripada segala macam gemerlap dan kenikmatan duniawi yang gampang menguap bagai embun di pagi hari!

5. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 29 :

Apan Ingsun trima nganggo iki, pêpanganan ingkang enak-enak, kang lêgi gurih rasane, pêdhês asin sadarum, Sun kon mangan mring sagung janmi, ingkang sinipat gêsang, dene Ingsun amung, ngawruhi sadina-dina, Sun tulisi sastrane salikur iji, Sun simpên jroning manah.

Cukuplah Aku memakan yang ini saja, segala makanan yang enak-enak, yang manis gurih rasanya, pedas dan asin semuanya, Aku berikan untuk dimakan oleh seluruh manusia, dan semua makhluk yang bersifat hidup, sedangkan Aku hanyalah, meneliti setiap hari, Ku catat dalam sebuah sastra sebanyak Duapuluh Satu buah (angka Dua melambangkan mereka yang masih terikat Dualitas duniawi, angka Satu melambangkan mereka yang telah lepas dari Dualitas duniawi. Manusia yang Kesadarannya tinggi, mampu meneliti dan mengamati kedua jenis tingkatan kesadaran para manusia tersebut. Inilah makna Sastra Salikur Iji atau Sastra Duapuluh Satu yang dimaksud Gatholoco), dan Aku simpan didalam hati.

Manusia yang telah mencapai KESADARAN PURNA, maka KASIH yang ada didalam dirinya meluap-luap bagai gelombang samudera! Dia akan terus mendaur ulang segala unsur-unsur ekstrim Alam yang hendak mengacaukan ke-stabil-an semesta sebagai tempat yang masih harus ada.

Tempat yang masih harus ada sebagai media ber-evolusi bagi Atma-Atma yang masih belum mencapai KESADARAN PURNA!

Manusia-manusia yang telah mencapai KESADARAN PURNA, selain terus ‘membantu proses ke-stabil-an’ semesta, kadang pula mereka akan membimbing Atma-Atma lain, memandu secukupnya, dengan tidak meninggalkan kemandirian dari mereka yang tengah di bimbing! Nabi Khidir, Babaji Maha Avatar, Semar, dll adalah contoh-contoh dari sosok manusia-manusia suci pembimbing ini!

Mereka akan mengamati, mana saja para Atma yang mulai mampu lepas dari Dualitas Duniawi, dilambangkan dengan angka SATU, dan mana saja para Atma yang masih saja terus terikat dalam Dualitas Duniawi, dan dilambangkan dengan angka DUA.

Inilah makna ucapan Gathoooco yang selalu mengamati seluruh Atma, dicatat dalam Sastra yang disebut SASTRA SALIKUR IJI atau SASTRA DUA PULUH SATU. DUA melambangkan mereka-mereka yang masih terikat Dualitas Duniawi dan belum saatnya mendapat bimbingan dari Manusia-Manusia Berkesadaran Purna. SATU melambangkan mereka-mereka yang mulai bisa lepas dari Dualitas Duniawi dan sudah saatnya dibimbing oleh Manusia-Manusia Berkesadaran Purna seperti Gatholoco!

6. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 30 :

Ingsun dhewe mangan sabên ari, Ingsun milih ingkang luwih panas, sarta ingkang pait dhewe, najise dadi gunung, kabeh gunung ingkang ka-eksi, mulane kang bawana, padha mêtu kukus, tumuse gêni Sun pangan, ingkang dadi padhas watu lawan curi, klelet ingkang sun pangan.

Yang Ku-makan setiap hari, Ku-pilih yang sangat panas, dan yang terlampau pahit (maksudnya semua unsur-unsur negatif Alam yang terlalu ekstrim), kotoran (batin)-Ku menjadi gunung, seluruh gunung yang terlihat, (maksudnya, semua unsur negatif yang terlalu ekstrim dari Alam, mampu didaur ulang menjadi unsur yang lebih positif melalui olah batin dari manusia-manusia yang berkesadaran tinggi. Dilambangkan dengan keberadaan sebuah gunung yang menyimpan api menakutkan, namun lava dari gunung berapi, sangat bermanfaat menyuburkan tanah, sehingga tanaman apapun akan gampang tumbuh disekeliling gunung berapi. Jelasnya, dari sesuatu yang menakutkan semacam gunung berapi, mampu didaur ulang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi manusia. Begitu pula proses daur ulang yang secara tidak disadari telah dilakukan oleh manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco kepada semua unsur negatif alam yang terlalu ekstrim), apa sebabnya dunia diliputi asap saja (maksudnya, banyak unsur api terlampau ekstrim yang sesungguhnya melingkupi dunia ini, namun berkat manusia-manusia yang penuh kesadaran semacam Gatholoco, secara tidak sengaja, mereka-mereka ini menyerap unsur api yang terlalu ekstrim tersebut dan didaur ulang menjadi unsur api positif yang lebih bermanfaat. Jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi semacam Gatholoco, dapat dipastikan, meteor-meteor raksasa dan hal-hal ekstrim lainnya, akan menghantam dan mengacaukan bumi tanpa ada penghalang lagi! Sadarilah ini!), sebab api telah Aku makan, kotoran (batin)-Ku menjadi batu cadas (seperti halnya dipilihnya ‘Gunung’ sebagai sebuah perumpamaan proses pendaur ulang-an unsur ektrim Alam agar menjadi lebih bermanfaat, ‘Batu Cadas’ dipilih pula karena identik dengan kekokohan, sesuatu yang kokoh kuat. Maksudnya jelas, unsur ekstrim alam, bisa diubah menjadi sesuatu yang stabil demi keberlangsungan semesta sebagai tempat berevolusi. Berterima kasihlah kepada manusia-manusia berkesadaran tinggi seperti Gatholoco!) Aku cukup memakan candu ini. (maksudnya candu spiritualitas)

Uraian diatas saya kira sudah cukup jelas. Dengan penambahan sedikit. Sosok-sosok Manusia Berkesadaran Tinggi seperti Gatholoco, hingga detik ini, dan sampai nanti jika Para Atma masih banyak yang belum terseberangkan dari lautan Dualitas Duniawi, akan selalu ada dan hadir! Walau jumlah mereka akan berkurang dan bertambah, sesuai dengan siklus perputaran Jaman (Yuga). Dalam Jaman Kali Yuga ini, mereka akan semakin berkurang. Banyak dari mereka-mereka yang akan MELEBUR DENGAN SUMBER ABADI SEMESTA! Pada Jaman Satya Yuga kelak, jumlah mereka akan bertambah. Jumlah mereka bertambah karena banyak para Atma-Atma baru dari Jaman Kali Yuga yang meningkat KESADARANNYA!

Manusia-Manusia Suci seperti mereka bukanlah monopoli agama tertentu! Karena mereka telah lepas dari Dualitas Duniawi.

Status agama ‘A’atau ‘B’, adalah status DUNIAWI! Bagaimana bisa mereka membimbing kita melepaskan diri dari ikatan Dualitas Duniawi jikalau mereka sendiri masih terikat dengan status keduniawian?

SESUNGGUHNYA MEREKA-MEREKA TELAH TERLEPAS DARI SEGALA MACAM STATUS, ATRIBUT DAN TETEK BENGEK BENDERA DUNIAWI! JANGAN MENJADI BODOH DENGAN MEMPERCAYAI SEBUAH KEYAKINAN BAHWA MANUSIA YANG TELAH MENCAPAI KESEMPURNAAN SEPERTI GATHOLOCO MASIH JUGA MENJADI MILIK AGAMA ‘A’ ATAU ‘B’!

PARA MANUSIA ILLAHI SEMACAM GATHOLOCO AKAN TERTAWA MELIHAT KEKONYOLAN KEYAKINAN SEMACAM ITU!

7. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 31 :

Sadurunge Ingsun ngising najis, gunung iku yêkti durung ana, benjang bakal sirna maneh, lamun Ingsun wus mantun, ngising tai mêtu têka silit, titenana kewala, iki tutur-Ingsun, Guru tiga duk miyarsa, gya micara astane sarwi nudingi, Layak kuru tan pakra.

Sebelum Aku membuang kotoran (batin), seluruh gunung belumlah tercipta (maksudnya, dunia tidak akan stabil sebagai tempat yang sesuai bagi proses evolusi jiwa jika tidak ada manusia-manusia berkesadaran tinggi yang mampu mendaur ulang unsur-unsur ekstrim Alam seperti Gatholoco), kelak akan sirna kembali, jika Aku sudah tidak lagi, membuang kotoran lewat dubur, nyatakanlah kelak, apa yang Aku katakan ini. (maksudnya jika manusia-manusia yang berkesadaran tinggi hilang dari muka bumi, dapat dipastikan kiamat dunia akan tercipta!). Ketiga Guru begitu mendengar, segera berkata sembari menuding, Makanya kurus kering tidak lumrah manusia (tubuhmu).

Gatholoco hanya sekedar menegaskan, bahwa tanpa adanya Manusia-Manusia Berkesadaran Tinggi, Manusia-Manusia Illahi, yaitu Manusia-Manusia yang Merupakan Perwujudan Illahi, kestabilan semesta tidak akan tercipta. Jika Para Sadhu (Manusia Sempurna) seperti mereka mulai berkurang, maka dapat dipastikan, kekacauan semesta akan tercipta. Dan pada puncak chaos yang sedemikian, maka akan lahirlah seorang Buddha (Yang Tersadarkan) , seorang Awatara (Perwujudan Illahi) , seorang Mesias (Juru Selamat) , seorang Nabi (Manusia pilihan Tuhan) , yang akan kembali menstabilkan semesta diakhir Jaman Kali Yuga kelak!

Dalam Hindhuisme, Kalki Awatara kelak akan turun untuk menghancurkan Asura Kali dan mengakhiri Jaman Kali Yuga menuju ke Jaman Satya Yuga kembali. Dalam Buddhisme, Buddha Maitreya kelak akan turun manakala Dhamma sudah terlupakan! Dalam Kristianisme, Jesus akan turun untuk menghancurkan Lucifer dan mengakhiri dunia lama menuju dunia baru. Saat itulah Armagedon tengah tercipta! Dalam keyakinan Islam, Nabi Isa a.s. kelak akan turun untuk menghancurkan Dajjal!
Kalki, Maitreya, Jesus, Isa, apakah mereka pribadi yang beda? Mengapa masih ngotot menunjukkan keyakinannya sendiri yang paling benar? Sampai dibela-belain menumpahkan darah segala?

Sadarlah saudaraku!

8. Pupuh II, Dandanggula, Pada (Syair) 32 :

Gatholoco sigra anauri, Mila ingsun kurune kalintang, krana nurut mring karsane, Gusti Jêng Nabi Rasul, sabên ari ingsun turuti, tindak mênyang ngêpaken, awan sore esuk, mundhut candhu lawan madat, dipun dhahar kalawan dipun obongi, Allah kang paring wikan.

Gatholoco segera menjawab, Tubuhku kurus disebabkan, karena menuruti perintah, Gusti (Kang)jêng Nabi Rasul(lullah), setiap hari aku turuti, bertandang ke tempat madat, siang sore pagi, mengambil candu dan madat, dimakan langsung maupun dibakar lalu dihisap, Allah yang memberikan ijin. (Maksudnya Kangjêng Nabi Rasul dalam kesadaran Gatholoco, bukanlah Nabi Muhammad, melainkan Ruh-nya sendiri, Atma-nya sendiri. Suara Atma, suara Ruh, yang sering diistilahkan dengan SUARA NURANI, memerintahkan manusia-manusia seperti Gatholoco untuk terus mabuk spiritual, agar terus ke-Candu-an dengan Ke-Illahi-an. Dan Allah-pun me-ridloi!)

Ruh ini, Atma ini, adalah Utusan, adalah Rasul yang sesungguhnya! Sebejat apapun manusia, searogan apapun manusia, sekejam dan sejahat apapun manusia, se-psikopat apapun manusia, pasti masih memiliki rasa bersalah! Dan rasa bersalah itu berasal dari SUARA RUH KITA! INILAH YANG SERING DIISTILAHKAN DENGAN SUARA HATI NURANI!

Masih terngiangkah anda semua dengan teriakan Jesus bahwa Dia datang bukan dengan hukum Taurat Musa, tapi Dia datang dengan Hukum Roh? Apakah itu? Tak lain adalah HUKUM YANG BERASAL DARI SUARA ROH. SUARA HATI NURANI!

Masih ingatkah anda sabda Bhagawan Manu melalui Bhagawan Bregu yang menyatakan bahwa ATMANASTUTI (SUARA ATMA) adalah Hukum tertinggi, bahkan melebihi Weda sekalipun?

Lantas mengapakah anda memaksakan memberlakukan sebuah Hukum jika NURANI anda sendiri memberontak karenanya? Nurani anda adalah KEJUJURAN MURNI. Anda bisa menipu orang lain. Anda bisa menang berpekara dengan orang lain walau sebenarnya anda dipihak yang salah. Namun dalam kesendirian, pasti akan terdengar suara Ruh anda yang mengatakan bahwasanya sesungguhnya akulah yang salah. Ada sesal, ada kasihan dan ada rasa bersalah! Walaupun rasa itu kadang dengan mahirnya kita tepiskan melalui pembenaran-pembenaran dari Pikiran liar kita! Jika kita terbiasa menepis SUARA RUH, SUARA NURANI, anda akan menjadi orang MUNAFIK SEJATI! Manusia bisa membohongi manusia lain, tapi sesungguhnya tidak ada manusia yang bisa membohongi DIRINYA SENDIRI!

Dengan meditasi, volume SUARA NURANI ini akan semakin keras terdengar! Dengan membiasakan sikap KASIH kepada sesama, volume SUARA RUH ini-pun akan semakin nyaring! Dan dengan membiasakan mengikuti SUARA ini, dapat dipastikan anda telah berada dijalan yang benar!

Suara tersebut sebenarnya adalah SUARA ANDA YANG SEJATI. YAITU ANDA YANG LEPAS DARI KUNGKUNGAN KESADARAN RELATIF, PIKIRAN RELATIF, PERASAAN RELATIF DAN MEMORY RELATIF ANDA!

Sadarilah, selama ini anda hidup dengan Kesadaran, Pikiran, Perasaan dan Memory Relatif anda. Anda belum hidup dalam ROH!

Jesus Kristus, focus membahas tentang hal ini! Anda selama ini tengah hidup dalam DAGING!! Dan anda sesungguhnya bukanlah DAGING! Anda adalah ROH! Siapa yang mengikuti kemauan DAGING, dia akan hidup ditengah orang-orang mati! Yaitu kegelapan kesengsaraan duniawi. Terikat proses kelahiran dan kematian yang tiada henti. Dunia yang penuh gemeretak-nya gigi karena kesedihan! Dunia dibawah KUASA GELAP IBLIS yang tak lain sesungguhnya adalah KUASA DUALITAS DARI PRAKRTI! Siapa yang HIDUP DALAM ROH, dia patut bersuka cita. Karena pembebasan akhir menuju KEDIAMAN BAPA, yaitu KERAJAAN ALLAH, telah nyata! Inilah maksud Sang Mesias!

Weda jauh-jauh hari telah menegaskan bahwa ANDA SESUNGGUHNYA BUKANLAH KESADARAN RELATIF ITU, ANDA BUKANLAH PIKIRAN, ANDA BUKANLAH PERASAAN, ANDA BUKANLAH MEMORY, ANDA BUKANLAH TUBUH FISIK ITU. ANDA ADALAH ATMA!

Dan Gatholoco membahasakan bahwa Ruh-kita ini-lah, Atma-kita inilah Sang Utusan! Dan Sang Utusan memerintahkan dia untuk terus menikmati candu spiritualitas!

Pupuh III
———
Sinom

(Kumpulan lagu III, berirama Sinom)

1.Gatholoco nulya ngucap, Dhalang Wayang lawan Kêlir, Balencong êndi kang tuwa, badhenên cangkriman iki, yen sira nyata wasis, mêsthi wêruh ingkang sêpuh, Ahmad Ngarip ambatang, Kêlir kang tuwa pribadi, sadurunge ana Dhalang miwah Wayang.

Gatholoco lantas berkata, Dalang Wayang dan Kêlir (Layar), serta Balencong (pelita yang dinyalakan pada jaman dulu selama pertunjukan wayang kulit digelar) mana yang lebih tua, jawablah teka-teki ini, apabila kalian nyata pandai, pasti akan tahu mana yang lebih tua, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) menjawab, Kêlir (Layar) yang lebih tua sendiri, sebelum adanya Dalang dan Wayang.

2.Balencong durung pinasang, Kêlir ingkang wujud dhingin, wus jumênêng keblat-papat, ngisor têngah lawan nginggil, mila tuwa pribadi, Abdul Jabar asru muwus, Heh Ahmad Ngarip salah, pambatangmu iku sisip, panêmuku tuwa dhewe Kaki Dhalang.

Sebab sebelum Balencong dipasang, Kêlir (Layar)-lah yang ada dahulu, sebagai perlambang empat penjuru mata angin, arah bawah tengah dan atas, makanya lebih tua sendiri, Abdul Jabar berkata lantang, Hai Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) kamu salah, jawabanmu itu keliru, menurutku yang lebih tua adalah Ki Dalang.

3.Anane Kêlir lan Wayang, kang masang Balencong sami, Wayang gaweyane Dhalang, mulane tuwa pribadi, tan ana kang madhani, anane Dhalang puniku, ingkang karya lampahan, nyritakake ala bêcik, asor unggul tan liya saking Ki Dhalang.

Adanya Kêlir (Layar) dan Wayang, serta yang memasang Balencong, Wayang buatan Dalang, makanya lebih tua sendiri, tiada yang menyamai, keberadaan Dalang tersebut, bahkan yang menjalankan wayang, menceritakan hal yang buruk dan baik, kalah dan menang tak lain adalah Ki Dalang.

4.Nulya Kyai Abdul Manap, nambungi wacana aris, Karo pisan iki salah, padha uga durung ngêrti, datan bisa mrantasi, tur remeh kewala iku, mung nalar luwih gampang, ora susah nganggo mikir, sun ngarani tuwa dhewe Wayang-ira.

Lantas Kyai Abdul Manap (Abdul Manaf), menyahut dengan pelan, Jawaban kalian berdua itu salah, sama-sama tidak memahami, tidak bisa menjelaskan, padahal itu teka-teki yang remeh, gampang dijawab oleh akal, tidak perlu susah berfikir, aku menjawab yang paling tua sendiri adalah Wayang-nya.

5.Upama wong nanggap Wayang, isih kurang têlung sasi, Dhalange pan durung ana, panggonanane durung dadi, wus ngucap nanggap Ringgit, tutur mitra karuhipun, sun arsa nanggap Wayang, ora ngucap nanggap Kêlir, ora ngucap nanggap Balencong lan Dhalang.

Seumpama ada orang yang hendak mengundang hiburan Wayang kulit, masih dalam jangka waktu tiga bulan sebelumnya, Dalang belum ada, tempat pertunjukan belum dibuat, sudah diucapkan kemana-mana hendak mengundang hiburan Wayang kulit, diberitahukan ke teman dan keluarga, bahwa aku hendak mengundang hiburan Wayang kulit, tidak mengatakan hendak mengundang hiburan Kêlir (Layar), tidak mengucapkan hendak mengundang hiburan Balencong maupun mengundang hiburan Dalang.

6.Wus mupakat janma kathah, kang tinanggap apan Ringgit, durung paja-paja gatra, wus muni ananggap Ringgit, mila tuwa pribadi, Gatholoco alon muwus, Abdul Jabar Dul Manap, tanapi si Ahmad Ngarip, têlu pisan pambatange padha salah.

Sudah sepakat semua orang, yang hendak diundang adalah hiburan Wayang kulit, belum juga ada terlihat hadir, sudah dikabarkan hendak mengundang hiburan Wayang kulit, makanya Wayang itu tua sendiri, Gatholoco pelan berkata, Abdul Jabar (Ab)dul Manap (Abdul Manaf), apalagi si Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), jawaban kalian semua salah.

7.Yen mungguh pamêtêkingwang, Balencong tuwa pribadi, sanajan Kêlir pinasang, gamêlan wus miranti, Dhalang niyaga linggih, yen maksih pêtêng nggenipun, sayêkti durung bisa, Dhalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining Wayang.

Menurut aku, Balencong itu lebih tua, walaupun Kêlir (Layar) telah dipasang, gamelan sudah ditata, Dalang dan para niyaga (penabuh gamêlan beserta sindhen-nya) sudah duduk, akan tetapi jika masih gelap tempatnya, pasti tidak bisa, Dalang memilah dan memilih, untuk menceritakan cerita satu-persatu dari tiap jenis wayang.

8.Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira Ringgit, margane isih pêtêngan, ora kêna den tingali, yen Balencong wus urip, kanthar-kanthar katon murub, Kêlire kawistara, ing ngandhap miwah ing nginggil, kanan kering Pandhawa miwah Kurawa.

Yang menonton tak akan bisa melihat, kepada wujud setiap jenis Wayang, karena masih gelap gulita, tidak bisa dilihat mata, manakala Balencong sudah dinyalakan, menyala-nyala terlihat terang, Kêlir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri serta mana Pandhawa mana Kurawa.

9.Ki Dhalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gêdhe cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh Ringgit, pinatês pangucap-ipun, awit pituduhira, Balencong ingkang madhangi, pramilane Balencong kang luwih tuwa.

Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong yang menerangi, oleh karenanya Balencong yang lebih tua.

10.Dene unining gamêlan, Wayange kang den gamêli, Dhalange mung darma ngucap, si Wayang kang darbe uni, prayoga gêdhe cilik, manut marang Dhalangipun, sinigêg gangsa ika, Kaki Dhalang masesani, nanging darma ngucap molahake Wayang.

Sedangkan bunyi gamêlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak Dalang, berhentinya gamêlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang telah ditentukan.

11.Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sêpi, basa Sêpi Tanpa Ana, anane ginêlar yêkti, langgêng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe Wayang ucape Ki Dhalang.

Kisah yang dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Sêpi, kata Sêpi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.

12.Ingkang mêsthi nglakonana, ingkang ala ingkang bêcik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa.

Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik, dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.

13.Basa Kêlir iku Raga, Wayange Suksma Sujati, Dhalange Rasul Muhammad, Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba.

Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.

14.Yen Wayang mari tinanggap, Wayange kalawan Kêlir, sinimpên sajroning kothak, Balencong pisah lan Kêlir, Dhalang pisah lan Ringgit, marang ngêndi paranipun, sirnane Blencong Wayang, upayanên den kêpanggih, yen tan wêruh sira urip kaya rêca.

Jikalau pertunjukan Wayang telah selesai, Wayang beserta Kêlir (Layar), disimpan didalam kotak, Balencong berpisah dengan Kêlir (Layar), Dalang berpisah dengan Wayang, kemanakan perginya, sirnanya Balencong dan Wayang? Carilah hingga ketemu, apabila tidak mengetahui hal itu hidupmu bagaikan arca batu semata.

15.Benjang yen sira palastra, urip-mu ana ing ngêndi, saikine sira gêsang, pati-mu ana ing ngêndi, uripmu bakal mati, pati nggawa urip iku, ing ngêndi kuburira, sira-gawa wira-wiri, tuduhêna dununge panggonanira.

Kelak jika kalian meninggal dunia, hidup-mu berada dimana? Saat ini kalian hidup, mati-mu berada dimana? Hidup-mu bakal menemui mati, mati akan membawa pergi hidup-mu, dimanakah kematian itu berada? Sesungguhnya telah kalian bawa kesana-kemari, tunjukanlah tempat kediamannya.

16.Guru tiga duk miyarsa, anyêntak sarwi macicil, Rêmbug gunêm ujarira, iku ora lumrah janmi, Gatholoco nauri, Dhasar sun-karêpkên iku, aja lumrah wong kathah, ngungkulana mring sasami, ora trima duwe kawruh kaya sira.

Begitu mendengarnya ketiga Guru, membentak sembari melotot, Apa yang telah kamu katakan, tidak lumrah diucapkan manusia! Gatholoco menjawab, Memang aku sengaja demikian, jangan sampai lumrah seperti manusia kebanyakan, sebaiknya mengungguli pengetahuan sesama, aku tidak akan terima jika hanya memiliki pengetahuan seperti pengetahuan kalian!

17.Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.

Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.

18.Wêkasan kaliru tampa, tan wruh têmah ndurakani, manut kitab mêngkap-mêngkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa nikmating ilat, lan rasane langên rêsmi, rasanira ing kawruh ora rinasa.

Pada akhirnya salah terima, tidak memahami inti sari malah berbuat dosa tanpa disadari, menuruti kata-kata kitab begitu saja, menuruti dalil tanpa tahu makna sesungguhnya, hanya dibuat untuk memperoleh keuntungan duniawi, tersilap dengan keduniawian, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa lidah, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa bersenggama, makna sejati ilmu tidak dirasakan.

19.Têtêp urip tanpa mata, matamu mata soca pring, matamu tanpa paedah, matamu tan migunani, Kyai Guru mangsuli, muring-muring asru muwus, Apa sira tan wikan, mring mataku loro iki, Gatholoco sinaur Sireku bêja.

Kalian hidup tak memiliki mata! Matamu mata batang bambu! Matamu tak bermanfaat! Matamu tak berguna! Kyai Guru menjawab, marah-marah membentak keras, Apa kamu buta! Tidak melihat jikalau kami punya mata! Gatholoco menjawab, kalian sangat beruntung!

20.Dene padha duwe mata, loro-loro guru siji, apa sira wani sumpah, yen duwe mata kêkalih, Guru tiga nauri, Dhasar sayêktine ingsun, têtela duwe mata, têtêp loro mata-mami, Gatholoco gumujêng sarwi anyêntak.

Mempunyai biji mata, setiap orang dari kalian memiliki dua buah, apakah kalian berani bersumpah, benar-benar memiliki dua buah mata? Ketiga Guru menjawab, Benar-benar kami, nyata-nyata memiliki mata, berjumlah dua buah, Gatholoco tertawa sambil membentak.

21.Sireku wani gumampang, sayêkti balak bilahi, ngaku dudu matanira, sun-lapurkên pulisi, mêsthine den taleni, angaku loro matamu, yen nyata matanira, konên gilir gênti-gênti, prentahana siji mêlek siji nendra.

Kalian sangat berani menggampangkan sumpah, sungguh akan menuai balak dan celaka, mengaku memiliki mata yang jelas-jelas bukan mata kalian, sebenarnya bisa dilaporkan ke polisi (maksud Gatholoco adalah hukum alam semesta), pasti akan diikat tangan kalian, sebab mengaku memiliki dua buah mata, kalau memang benar demikian, coba suruh bergantian, perintahkan yang satu jaga dan yang satu tidur.

22.Dadi salawasmu gêsang, ora kêna dimalingi, Guru tiga samya ngucap, Êndi ana mata gilir, Gatholoco nauri, Tandhane nyata matamu, sira wênang masesa, saprentahmu den turuti, yen tan manut yêkti dudu matanira.

Sehingga selama kamu hidup, tidak bisa kecolongan oleh maling, Ketiga Guru berkata, Mana ada mata bergiliran? Gatholoco menjawab, Jika memang benar itu mata kalian, pastilah kalian berwenang menguasai, bisa diperintahkan sesuai keinginanmu, apabila tidak menurut nyata bukan mata kalian.

23.Guru tiga samya mojar, Aku wani sumpah yêkti, awit cilik prapteng tuwa, tan pisah lan rai-mami, Gatholoco mangsuli, Dene sira wani ngaku, matamu ora pisah, mata olehmu ing ngêndi, apa tuku apa gawe apa nyêlang.

Ketiga Guru berujar, Aku berani bersumpah, semenjak kecil hingga tua, tidak pernah terpisah dengan wajah kami, Gatholoco menjawab, Berani sekali kalian mengaku, bahwa mata kalian tidak pernah berpisah, mata dapat dari mana? Apakah beli apakah membuat sendiri ataukah meminjam?

24.Apa sira winewehan, iya sapa kang menehi, kalawan saksine sapa, dina apa aneng ngêndi, Guru tiga miyarsi, dhêlêg-dhêlêg datan muwus, wasana samya ngucap, Gaweyane bapa bibi, Gatholoco gumuyu alatah-latah.

Apakah kalian diberi? Lantas siapakah yang memberi? Dan lagi siapakah saksinya saat kalian diberi? Hari apa dimanakah tempatnya dan kapan waktu saat kalian diberi? Ketiga Guru mendengar akan hal itu, terbengong-bengong tanpa bisa menjawab, pada akhirnya berkatalah mereka, Buatan Bapak dan Ibu, Gatholoco tertawa terbahak-bahak.

25.Kiraku wong tuwanira, loro pisan padha mukir, karone ora rumasa, gawe irung mata kuping, lanang wadon mung sami, ngrasakake nikmatipun, iku daya jalaran, wujude ragamu kuwi, ora nêja gawe rambut kuping mata.

Aku yakin orang tua kalian, keduanya akan menolak (bila dikatakan telah membuat mata), kedua-duanya tidak pernah merasa, telah membuat hidung mata dan telinga, laki-laki dan perempuan hanyalah, sekedar menikmati nikmatnya (bersenggama) semata, (persetubuhan) mereka hanya sekedar lantaran, terwujudnya raga kalian, mereka tidak sengaja membuat rambut telinga dan mata.

26.Guru tiga nulya mojar, Allah Ingkang Maha Suci, ingkang karya raganingwang. Gatholoco anauri, Prênah apa sireki, kalawan Kang Maha Luhur, dene ta pinaringan, mata loro kanan-kering, têlu pisan pinaringan grana lesan.

Ketiga Guru lantas berkata, Allah Yang Maha Suci, yang telah membuat raga kami, Gatholoco menyahuti, Punya hubungan apa kalian, dengan Yang Maha Luhur? Sehingga kalian diberikan, kedua bola mata kanan dan kiri, yang ketiga bahkan diberikan hidung dan lesan.

27.Guru tiga saurira, Katrima pamuji-mami, Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap.

Ketiga Guru menjawab, Karena diterima doa kami, Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

28.Yen tan bisa ndunungêna, kajêdhêgan ingkang dhiri, mêsthine dadi sakitan, ora kêna sira mukir, mêloke wus pinanggih, têka ngêndi asalipun, yen asale tan wikan, matanira loro kuwi, ora kêna angukuhi matanira.

Jika tidak bisa menunjukkan asalnya dari mana, diri kalian patut dipersalahkan, pasti akan menjadi pesakitan, kalian tidak bisa memungkiri lagi, jelas-jelas telah nyata (kalian maling)! (Sekali lagi) darimanakah asalnya? Jika asalnya tidak tahu, asal mula pertama mata kalian, maka tidaklah pantas jika mengakuinya sebagai mata sendiri!

29.Sakehing reh lakonana, yen tan manut Sun gitiki, jalaran sira wus salah, kajêdhêgan sira maling, lah iku duwek Mami, sira anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk Jaman Gaib, Ingsun simpên ana satêngahing jagad.

Segala perintah-Ku laksanakan, jika tak menurut pasti Ku dera, sebab kalian telah salah, patut dipersalahkan karena maling, itu semua milik-Ku, kalian pakai dengan tidak benar, sekarang kembalikan, dulu hilang dikala Jaman Gaib, Aku simpan di tengah-tengah jagad.

30.Saksine si Wujud Makna, cirine rina lan wêngi, Ingsun rêbut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpêni, santri padha tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pêngadilan.

Saksinya adalah si Wujud Makna (Wujud dari segala inti sari makna kitab suci), bukti (dari keteledoran kalian memakai barang-Ku dengan tidak benar) telah dicatat oleh siang dan malam, Aku cari-cari tak ketemu, sekarang tengah Aku jumpai, ternyata kalian yang menyimpannya, para santri yang tidak benar! Jika tidak kalian kembalikan, Aku laporkan polisi (hukum alam), tak urung akan di naik perkara dipengadilan (semesta)!

31.Mêsthi sira kokum pêksa, yen wêngi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, sabên bêngi den kandhangi, beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar.

Pasti akan menerima hukuman, jika malam tidur didalam penjara (terkurung dalam kegelapan batin sehingga gelisah), jika siang kerja paksa (sengsara ditengah panasnya dualitas duniawi), tiap malam dikandangkan (terus terjerat dalam kegelapan batin), berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.

32.Murih aja dadi salah, Ahmad Ngarip anauri, Gunêman karo wong edan, Gatholoco amangsuli, Edanku awit cilik, kongsi mangke prapteng umur, ingsun tan bisa waras, sabên dina owah gingsir, nampik milih panganan kang enak-enak.

Agar jangan sampai salah langkah, Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif) menjawab, Berbicara dengan orang gila! Gatholoco menyahut, Gilaku memang semenjak kecil, hingga saat usiaku tua, aku tidak bisa sembuh, setiap hari pikiranku tidak waras, menolak makanan yang enak-enak.

33.Panganggo kang sarwa endah, ingsun edan urut margi, nurut margane kamulyan, Abdul Jabar muring-muring, astu sumaur bêngis, Rêmbugan lan asu buntung, Gatholoco angucap, Bênêr olehmu ngarani, sakrabatku bapa kaki buyut canggah.

(Menolak) busana yang indah-indah, aku gila disepanjang jalan, gila dijalan kemuliaan! Abdul Jabar marah-marah, lantas berkata bengis, Berbicara dengan anjing buntung! Gatholoco berkata, Memang benar apa yang kamu tuduhkan, seluruh keluargaku mulai bapak-ku kakek-ku buyut (ayahnya kakek)-ku sampai canggah (kakeknya kakek)-ku.

34.Dhasare buntung sadaya, tan ana buntut sawiji, basa Asu makna Asal, Buntung iku wus ngarani, ingsun jinising janmi, ora buntut lir awakmu, balik sira wong apa, sira gundhul anjêdhindhil, apa Landa apa Koja apa Cina.

Memang buntung semua, tidak ada ekornya, Asu artinya Asal, arti Buntung sudah kalian ketahui (maksud Gatholoco dia memang berasal dari makhluk yang tanpa ekor), aku ini manusia, tidak berekor seperti kalian, sebaliknya kalian itu orang apa? Kepala kalian gundul licin, apakah orang Belanda apakah Koja apakah Cina.

35.Apa sira wong Benggala, Guru tiga anauri, Ingsun iki bangsa Jawa, Muhammad agama-mami, Gatholoco nauri, Sira wong kapir satuhu, Kristên agamanira, lamun sira bangsa Jawi, dene sira tan nêbut Dewa Bathara.

Apakah kalian orang Benggala (maksudnya India), Ketiga Guru menjawab, Kami ini orang Jawa, (ajaran) Nabi Muhammad agama kami! Gatholoco menjawab, Kalian manusia ‘Penentang’ sesungguhnya, seperti halnya orang Kristen (dalam pandangan kalian, begitu juga pandanganku terhadap kalian)! Jika memang kalian orang Jawa, mengapa tidak menyebut (Nama Tuhan dengan sebutan) Dewa Bathara?

36.Agama Rasul Muhammad, agamane wong ing Arbi, sira nêbut liya bangsa, têgêse sinipat kapir, tan sêbutmu pribadi, anggawe rusak uripmu, mulane tanah Jawa, kabawah mring liya jinis, krana rusak agamane kuna-kuna.

Agama Rasul(lullah) Muhammad, sesungguhnya adalah agama suci bagi orang Arab! Kalian mengikuti bangsa lain (dan mengingkari agama suci yang diperuntukkan bagi kalian ditanah Jawa)! Oleh karenanya pantas juga disebut ‘Penentang’! Tidak mengingat kepada kepribadian sendiri, membuat rusaknya kehidupan (di Jawa), oleh karenanya tanah Jawa, dijajah terus menerus oleh bangsa lain, karena telah rusak agama yang lama!

37.Wiwit biyen jaman purwa, Pajajaran Majapahit, wong Jawa agama Buda, jaman Dêmak iku salin, nêbut Rasulullahi, sêbute wong Arab iku, saiki sira tular, anilar agama lami, têgêsira iku Kristên bangsa Arab.

Semenjak awal (di tanah Jawa) dulu, (saat jaman) Pajajaran Majapahit, orang Jawa ber-agama Buda (Shiwa Buddha), semenjak jaman Dêmak lantas berganti, mengikuti ajaran Rasulullah, (yang sesungguhnya adalah) ajaran suci bagi orang Arab, sekarang kalian terus mengikuti pula, meninggalkan agama lama, artinya kalian itu Kristen dari Arab (maksudnya, jika mengikuti pola pikir manusia-manusia Jawa pasca keruntuhan Majapahit semacam orang yang tengah berdialog dengan Gatholoco saat itu, yang menganggap manusia-manusia Jawa lain yang beragama Kristen adalah ‘manusia penentang’, maka dengan pola pikir yang sama, Gatholoco bisa juga menganggap manusia-manusia Jawa pasca keruntuhan Majapahit semacam orang yang tengah berdialog dengan Gatholoco, pantas juga dianggap ‘Penentang’ oleh orang Jawa yang beragama Shiwa Buda. Gatholoco hanya sekedar membalikkan logika berfikir mereka saja. Pada gilirannya, jikalau mereka tersinggung dianggap sosok manusia-manusia ‘Penentang’, maka begitu juga perasaan orang Kristen dan orang Shiwa Buddha manakala dianggap ‘Penentang’ oleh mereka. Sebuah bentuk keegoisan yang tidak mereka sadari!)

1. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 7-13

Yen mungguh pamêtêkingwang, Balencong tuwa pribadi, sanajan Kêlir pinasang, gamêlan wus miranti, Dhalang niyaga linggih, yen maksih pêtêng nggenipun, sayêkti durung bisa, Dhalange anampik milih, nyritakake sawiji-wijining Wayang.

Menurut aku, Balencong itu lebih tua, walaupun Kêlir (Layar) telah dipasang, gamelan sudah ditata, Dalang dan para niyaga (penabuh gamêlan beserta sindhen-nya) sudah duduk, akan tetapi jika masih gelap tempatnya, pasti tidak bisa, Dalang memilah dan memilih, untuk menceritakan cerita satu-persatu dari tiap jenis wayang.

Kang nonton tan ana wikan, marang warnanira Ringgit, margane isih pêtêngan, ora kêna den tingali, yen Balencong wus urip, kanthar-kanthar katon murub, Kêlire kawistara, ing ngandhap miwah ing nginggil, kanan kering Pandhawa miwah Kurawa.

Yang menonton tak akan bisa melihat, kepada wujud setiap jenis Wayang, karena masih gelap gulita, tidak bisa dilihat mata, manakala Balencong sudah dinyalakan, menyala-nyala terlihat terang, Kêlir (Layar) akan tampak, dimana arah bawah dan arah atas, dimana kanan dan dimana kiri serta mana Pandhawa mana Kurawa.

Ki Dhalang neng ngisor damar, bisa nampik lawan milih, nimbang gêdhe cilikira, tumrap marang siji-siji, watake kabeh Ringgit, pinatês pangucap-ipun, awit pituduhira, Balencong ingkang madhangi, pramilane Balencong kang luwih tuwa.

Ki Dalang duduk dibawah pelita, mampu memilah dan memilih, menimbang besar kecilnya, terhadap setiap jenis, dari perwatakan tiap Wayang, sehingga mampu menyesuaikan ucapannya (dengan tiap karakter wayang kulit), sebab mendapat petunjuk, dari Balencong yang menerangi, oleh karenanya Balencong yang lebih tua.

Dene unining gamêlan, Wayange kang den gamêli, Dhalange mung darma ngucap, si Wayang kang darbe uni, prayoga gêdhe cilik, manut marang Dhalangipun, sinigêg gangsa ika, Kaki Dhalang masesani, nanging darma ngucap molahake Wayang.

Sedangkan bunyi gamêlan, mengiringi gerakan Wayang, Dalang hanya sekedar mengucapkan, dari suara tiap jenis Wayang, sedang tinggi atau rendah, menurut kehendak Dalang, berhentinya gamêlan, Ki Dalang yang berkuasa, akan tetapi sesungguhnya Dalang hanya sekedar mengucapkan dan menggerakkan Wayang sesuai dengan kisah yang telah ditentukan.

Parentahe ingkang nanggap, ingkang aran Kyai Sêpi, basa Sêpi Tanpa Ana, anane ginêlar yêkti, langgêng tan owah gingsir, tanpa kurang tanpa wuwuh, tanpa reh tanpa guna, ingkang luwih masesani, ing solahe Wayang ucape Ki Dhalang.

Kisah yang dikehendaki oleh orang yang mengundang, yang dinamakan Kyai Sêpi, kata Sêpi berarti Tidak Ada, akan tetapi Keberadaan-Nya sesungguhnya tergelar, langgeng tak berubah, tak bisa berkurang dan tak bisa ditambah, tanpa kehendak tanpa sifat, akan tetapi ada yang lebih berkuasa, diatas gerakan Wayang dan ucapan Ki Dalang.

Ingkang mêsthi nglakonana, ingkang ala ingkang bêcik, kang nonton mung ingkang nanggap, yeku aran Kyai Urip, yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa.

Yang membuat semua bisa bergerak, bergerak melakukan perbuatan jelek maupun baik, dari yang melihat hingga yang mengundang, yaitu Kyai Urip (Kyai Hidup), manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.

Basa Kêlir iku Raga, Wayange Suksma Sujati, Dhalange Rasul Muhammad, Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi, Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba.

Layar itu sesungguhnya adalah Raga ini, Wayang sesungguhnya Suksma Sejati, Dalang sesungguhnya Rasul Muhammad, Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri, Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.

Gatholoco melontarkan teka-teki kepada ketiga orang Kyai Guru. Diantara empat hal ini, manakah yang lebih tua? WAYANG, DALANG, KÊLIR (Layar)atau BALENCONG? (Pelita yang dinyalakan sepanjang malam hingga pagi, khusus untuk mengiringi sebuah pertunjukan Wayang Kulit ). (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1)

Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, bahwa KÊLIR (Layar) jelas paling tua sendiri. Karena sebelum sebuah pertunjukan Wayang kulit dimulai, KÊLIR (Layar) harus terpasang lebih dahulu. KÊLIR (Layar) akan dibentangkan segera sebelum semuanya siap sedia. KÊLIR (Layar) mutlak harus ada terlebih dulu sebelum seluruh WAYANG ditata berjajar bahkan sebelum satu persatu karakter WAYANG dimainkan. Harus ada sebelum gamêlan dibunyikan. Harus ada sebelum DALANG duduk menuturkan kisah yang hendak dibawakan. Bahkan KÊLIR (Layar) juga ada lebih dahulu sebelum BALENCONG dinyalakan. Oleh karenanya, KÊLIR (Layar) pantas dinyatakan sebagai yang paling tua. Begitu pendapat Ahmad Ngarip (‘Arif). (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 1-2)

Lain lagi pendapat dari Abdul Jabar. Menurut dia, DALANG-lah yang pantas dianggap sebagai yang paling tua. Karena, baik KÊLIR (Layar), BALENCONG berikut pula seluruh piranti perlengkapan untuk sebuah pertunjukkan Wayang Kulit, bahkan WAYANG-nya itu sendiri-pun, yang berkuasa menata, mengatur juga menjalankan, adalah SANG DALANG. Oleh karenanya, DALANG patut dianggap lebih tua dari yang lain! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 2-3)

Abdul Manap (Manaf) memiliki jawaban sendiri. Dia menganggap WAYANG-lah yang pantas dianggap tua. Karena bagaimanapun juga, dalam sebuah pagelaran Wayang Kulit, dimanapun tempatnya dan kapan saja waktu pertunjukkan tersebut digelar, yang disebut-sebut orang banyak pastilah Pagelaran WAYANG. Bukan Pagelaran DALANG, atau Pagelaran KÊLIR (Layar) apalagi Pagelaran BALENCONG! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 4-6)

Gatholoco menyalahkan semua jawaban dari ketiga Kyai Guru. Dia menyatakan BALENCONG-lah yang paling tua. Tanpa adanya BALENCONG, tak akan dapat terlihat seluruh piranti pertunjukan yang sudah tersedia. Tanpa adanya BALENCONG, keberadaan KÊLIR (Layar), WAYANG bahkan SANG DALANG sendiri, tidak akan dapat diketahui karena semua dalam kondisi gelap gulita.

Gatholoco menyatakan lagi, bahwasanya yang dimaksudkannya dengan KÊLIR (LAYAR) tak lain adalah RAGA atau STHULA SARIIRA atau JASAD MANUSIA Sedangkan WAYANG tak lain adalah SUKSMA SEJATI atau SUKSMA SARIIRA atau NAFS MANUSIA. SANG DALANG adalah perumpamaan dari ATMA SARIIRA atau RUH. Dalam bahasa Gatholoco ATMA SARIIRA atau RUH disebut RASUL MUHAMMAD ( UTUSAN YANG TERPUJI).

BALENCONG tak lain adalah simbol PURUSHA. Simbol dari MANIFESTASI ILLAHI PERTAMA yang berkehendak meng-ada-kan seluruh ciptaan ini. Dari PURUSHA-lah KEHENDAK PENCIPTAAN MULA PERTAMA TERGELAR. Dari PURUSHA-lah seluruh MANIFESTASI ILLAHI KEDUA atau ATMA atau RUH terpancarkan kedalam BAYANGAN ILLAHI (PRAKRTI, ALAM) . Dan dari KEHENDAK PURUSHA-lah PRAKRTI terus mengembang menciptakan ciptaan-ciptaan baru

BALENCONG-lah yang memberikan TERANG kepada DALANG. Dan DALANG memberikan KESADARAN kepada WAYANG. Sedangkan KÊLIR (LAYAR) hanya sekedar menjadi wahana terjadinya seluruh cerita yang dikisahkan.

PURUSHA-lah yang memberikan KESADARAN kepada ATMA SARIIRA atau RUH. ATMA SARIIRA atau RUH yang memberikan KESADARAN kepada SUKSMA SARIIRA atau NAFS. Sedangkan STHULA SARIIRA atau JASAD, hanya sekedar menjadi ‘tempat’ ter-realisasi-nya seluruh aktifitas tersebut.

BALENCONG (PURUSHA) adalah PERCIKAN DARI SANG HIDUP atau BRAHMAN. BALENCONG (PURUSHA) adalah juga DUPLICATE dari SANG HYANG WIDDHI atau BRAHMAN (Balencong Wahyune Urip, iku upama Widdhi : Balencong adalah Percikan Hidup, bagaikan Hyang Widdhi sendiri)!

Sedangkan GAMÊLAN dan PARA NIYAGA (PENABUH GAMÊLAN) berikut PARA PENONTON ibarat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI yang akan selalu terus menghanyutkan tingkah polah WAYANG (SUKSMA SARIIRA). Tergantung KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) untuk memutuskan, apakah WAYANG (SUKSMA SARIIRA) yang ada dalam genggaman tangannya akan terus terpengaruh dan terlarut oleh BUNYI GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI) dan TEPUK SORAK PENONTON sehingga lupa memfokuskan diri kearah USAINYA PERTUNJUKAN KEHIDUPAN. Ataukah KESADARAN SANG DALANG (ATMA SARIIRA) akan mengolah pertunjukan secara apik dan tepat waktu sehingga segera USAI PULA SELURUH PERTUNJUKAN KEHIDUPAN yang tengah dikisahkannya.

Jika ATMA SARIIRA TELAH BANGKIT KESADARANNYA, segera Dia akan berusaha merampungkan KISAH KEHIDUPANNYA SECARA APIK. Jika ATMA SARIIRA TIADA KUNJUNG BANGKIT KESADARANNYA, maka KISAH KEHIDUPANNYA AKAN MENJADI PANJANG DAN TAK KUNJUNG USAI! ATMA SARIIRA YANG TIDAK SADAR-SADAR, akan terus asyik memainkan SUKSMA SARIIRA dan terus terlarut dalam GELIMANG OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI! ATMA SARIIRA yang semacam ini akan terus TERJERAT DALAM PROSES KELAHIRAN DAN KEMATIAN YANG BERULANG-ULANG TANPA BERKESUDAHAN! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 10)

ATMA SARIIRA sendiri terpaksa akan masih terikat oleh HUKUM ALAM. Sebuah HUKUM SEMESTA yang absolute. Sebuah HUKUM PENUH KENISCAYAAN yang mengatur seluruh jalannya cerita kehidupan ini. Sebuah HUKUM SEBAB-AKIBAT-AKSI-REAKSI. HUKUM KARMAPHALA. Selama ATMA SARIIRA masih terjerat OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI, TERJERAT DUALITAS DUNIAWI, selama itu pula ATMA SARIIRA masih akan terkena HUKUM SEBAB AKIBAT!

Gatholo mengumpamakan, bahwa DALANG -pun harus tunduk kepada ORANG YANG MENGUNDANG. YAITU ORANG YANG PUNYA HAJAT. APA KISAH YANG DIMINTA, ITU JUGA YANG HARUS DIMAINKAN. Dalam bahasa Gatholoco, ORANG YANG PUNYA HAJAT disebut KYAI SÊPI.

KYAI SÊPI tak lain adalah ALAM SEMESTA! Tak lain adalah PRAKRTI, BAYANGAN BRAHMAN! ALAM SEMESTA -lah yang mengarahkan jalannya cerita nasib manusia. ALAM SEMESTA -lah yang menumbuhkan BUAH KARMA. WALAUPUN SESUNGGUHNYA, NASIB SETIAP MANUSIA ITU YANG MERANGKAI DAN MENGUNTAINYA TAK LAIN ADALAH MANUSIANYA ITU SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYA SEKEDAR MEREKAM DAN MENUMBUHKANNYA SEMATA!

ALAM SEMESTA sesungguhnya TANPA KESADARAN. ALAM SEMSETA ibarat sebuah MESIN SUPER CANGGIH yang terus bekerja merekam seluruh aktifitas manusia. Aktifitas yang BAIK maupun yang BURUK. Dan pada ujungnya, menumbuhkan buah aktifitas tersebut dalam bentuk rangkaian TAKDIR bagi manusia itu sendiri! Oleh karenanya Gatholoco menggambarkan bahwasanya KYAI SÊPI itu seolah TIDAK ADA (Maksudnya SEOLAH TIDAK MELAKUKAN AKTIFITAS MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA). AKAN TETAPI KEBERADAANYA TERGELAR NYATA (Maksudnya ALAM SEMESTA INI NYATA BEKERJA MEREKAM DAN MENUMBUHKAN BUAH KARMA)! SESUNGGUHNYA DIA-PUN LANGGENG JUGA, DIA TAK BERUBAH, TAK BISA DITAMBAH DAN TAK BISA DIKURANGI. DIA TANPA KEHENDAK SENDIRI DAN TAK MEMILIKI KESADARAN SENDIRI. ALAM SEMESTA HANYALAH BAYANGAN BRAHMAN!

Diatas itu semua, ada yang lebih berkuasa. Gatholoco menyebutnya KYAI URIP atau HIDUP! KYAI URIP tak lain adalah BRAHMAN YANG MUTLAK! SUMBER ABADI KEHIDUPAN SEMESTA RAYA! INTI SEJATI SELURUH MAKHLUK! ASAL DAN TUJUAN SELURUH MAKHLUK! SUMBER MAHA ENERGI YANG TANPA PRIBADI! YANG MELAMPAUI SEGALANYA! YANG BERADA DIMANA-MANA! YANG ADALAH SEGALANYA! KEBERADAAN, KESADARAN, KEBAHAGIAAN SEJATI! KESEIMBANGAN MURNI! YANG ADALAH KEMUTLAKAN ABSOLUT!

DAN SEJATINYA, KÊLIR (STHULA SARIIRA), WAYANG (SUKSMA SARIIRA), DALANG (ATMA SARIIRA), YANG MENONTON BERIKUT YANG MENABUH GAMÊLAN (OBYEK-OBYEK KENIKMATAN DUNIAWI), KYAI SÊPI (ALAM SEMESTA/PRAKRTI BERIKUT HUKUM KARMAPHALA-NYA) DAN BALENCONG (PURUSHA), SEMUANYA ADALAH MANIFESTASI KYAI URIP (BRAHMAN) ITU SENDIRI! (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 5-6)

Gatholoco sesungguhnya hendak mengajarkan RAHASIA ILMU SEJATI kepada mereka-mereka yang masih juga terjerat konsep keber-agama-an kulit! Mereka-mereka yang terbiasa membedakan mana SAKRAL dan mana PROFAN berlebihan! Mereka-mereka yang berputar-putar pada keyakinan bahwa TUHAN tercerabut dari MANUSIA. Keyakinan bahwa TUHAN dan MANUSIA adalah dua sosok pribadi berbeda. Yang satu dilangit nan jauh disana, yang satu berdiam dibumi dengan kenelangsaan sebagai budak yang siap dimainkan dan diatur-atur sekehendak hati oleh Dia yang ada diatas langit itu! Budak yang setiap saat bisa diangkat derajatnya ataupun diperhinakan tanpa ada alasan yang jelas! Budak yang harus terus taat dan manut nurut. Budak yang akan diiming-imingi Surga jika patuh dan akan diancam dengan siksaan Neraka jika tidak patuh! Konsep ke-Tuhan-an yang sangat membelenggu dan tradisional (walau diklaim paling modern) semacam ini, dikritik secara berani oleh seorang filsuf Eksistensialisme, Friedrich W. Nietzsche dalam karyanya ZARATUSTRA, bahwa SOSOK TUHAN YANG SEMACAM INILAH PENGHALANG MANUSIA MENCAPAI TINGKATAN UEBERMENCH atau Manusia Agung. Sosok Tuhan semacam ini, menurut Nietzsche SUDAH MATI ! Lantang dia meneriakkan GOTT IST TOT (TUHAN TELAH MATI) !

Nietzsche berteriak beberapa puluh tahun lalu tentang UEBERMENCH. Gatholoco berteriak empat ratus tahun lalu tentang LANANG SUJATI. Syeh Siti Jenar berteriak enam ratus tahun lalu tentang INGSUN PANGERAN SEJATI, JATINING PANGERAN MULYA. Sidharta Gautama berteriak dua ribu lima ratus tahun yang lalu tentang BUDDHA dan Rsi Wyaasa berteriak lima ribu tahun yang lalu dalam Brahmasutra tentang AHAM BRAHMASMI. Teriakan mereka tiada beda walaupun masa kehidupan mereka terpaut rentang waktu yang jauh! Tapi mengapa masih juga tidak ada yang mendengar? Mengapa darah masih saja terus tumpah?

Gatholoco hendak mengajarkan kepada mereka-mereka yang terus menerus tercekam ketakutaan tak beralasan (Phobia) akan KUASA TANDINGAN TUHAN YANG BERNAMA IBLIS. Sehingga sering disibukkan dengan pemilahan INI DARI TUHAN, INI DARI IBLIS. INI AJARAN TUHAN, INI AJARAN IBLIS. INI SURGA TUHAN, INI SURGA IBLIS. INI UMAT TUHAN, INI UMAT IBLIS, bahkan membedakan INI AGAMA TUHAN, INI AGAMA IBLIS. (Walau diperhalus dengan ungkapan INI AGAMA LANGIT DAN INI AGAMA BUMI)!

KETAHUILAH! TIDAK ADA AJARAN DARI IBLIS, YANG ADA ADALAH AJARAN YANG BERASAL DARI EGOISME DAN KESERAKAHAN MANUSIA! ITULAH AJARAN SESAT DAN MENYESATKAN!

Gatholoco hendak mengajarkan bahwa seluruh semesta ini BERASAL DARI YANG SATU. BAHKAN BUKAN HANYA ITU SAJA, GATHOLOCO HENDAK MENGAJARKAN PULA BAHWA SESUNGGUHNYA SELURUH SEMESTA INI BERIKUT MAKHLUK YANG BERKERIAPAN DIDALAMNYA ADALAH SATU KESATUAN YANG TAK TERPISAHKAN! TAT TWAM ASI (ENGKAU ADALAH AKU JUGA)! TUNGGAL ADANYA!

Hal ini ditegaskan dalam syair ke-13 diatas.

Cahyane Urip puniku, nyrambahi badanira, jaba jêro ngandhap nginggil, Wujudira Wujude Allah Kang Murba. (Cahaya Hidup tersebut, merata didalam tubuhmu, diluar didalam diatas dan dibawah, Wujudmu tak lain adalah Wujud Allah Yang Kuasa.)!

TAK HARUS ADA SEKUMPULAN SPESIES MAKHLUK HIDUP YANG PATUT DIMUSUHI! TUHAN TAK PERNAH MENGAJARKAN PERMUSUHAN DAN KEBENCIAN KEPADA MAKHLUK LAIN! TUHAN HANYA MENGAJARKAN KASIH! KASIH YANG TANPA PANDANG BULU! BUKAN KASIH YANG PILIH-PILIH ALIAS PILIH KASIH!

Yang patut diwaspadai adalah SUKSMA SARIIRA ini. Karena didalam SUKSMA SARIIRA ini, terdapat AHAMKARA (EMOSI NEGATIF), MANAH (PIKIRAN LIAR) dan CITTA (MEMORI-MEMORI TRAUMATIK) . Namun ada pula yang dinamakan BUDDHI (KESADARAN RELATIF). BUDDHI adalah KESADARAN ATMA yang tinggal sedikit karena terbelenggu oleh AHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Perkuat BUDDHI ini, agar tidak terpengaruh oleh AHAMKARA, MANAH DAN CITTA. Jadikan BUDDHI sebagai pengendali ketiga unsur SUKSMA SARIIRA yang lain tersebut!

AHAMKARA, MANAH DAN CITTA, ITULAH SETAN YANG SESUNGGUHNYA!

Keempat unsur SUKSMA SARIIRA inilah sesungguhnya yang dimaksud oleh leluhur Jawa jaman Shiwa Buddha dengan istilah SADULUR PAPAT KALIMA PANCÊR (SAUDARA EMPAT KELIMA PUSAT), yaitu KAKANG KAWAH (BUDDHI), ADHI ARI-ARI (MANAH), GÊTIH (AHAMKARA) dan PUSÊR (CITTA) . Sedangkan PANCÊR (PUSAT) tak lain adalah ATMA SARIIRA kita!

Konsep ini dikembangkan dalam ajaran Islam Kejawen seiring keruntuhan Majapahit, dengan mengambil kosa kata Arab, untuk menggantikan kosa kata yang berbau Weda dan berbau Jawa asli, yaitu MUTMAINAH (untuk menggantikan kosa kata KAKANG KAWAH/BUDDHI), SUFIYYAH (untuk menggantikan kosa kata ADHI ARI-ARI/MANAH), AMARAH (untuk menggantikan kosa kata GÊTIH/AHAMKARA) dan LUWWAMAH (untuk menggantikan kosa kata PUSÊR/CITTA). Lantas dikenalah istilah NAPSU PATANG PRAKARA (PRIBADI EMPAT MACAM).

Kosa kata Jawa masih tetap bertahan, tapi kosa kata Weda, sudah dikikis habis dan tidak lagi dikenal oleh masyarakat Jawa pada umumnya hingga detik ini.

Pelampauan AHAMKARA, MANAH dan CITTA , mutlak diperlukan. Manakala sudah mampu kita lampaui, BUDDHI akan bersinar terang! Begitu BUDDHI telah termurnikan, maka KESADARAN akan meningkat pesat. Dan dalam proses lompatan peningkatan KESADARAN ini, BUDDHI itu sendiri, KESADARAN RELATIF itu sendiri, akan lenyap dalam ATMA SARIIRA . Dan ATMA SARIIRA akan memperoleh kembali KESADARAN MURNI-NYA !

ATMA SARIIRA yang telah TERJAGA TOTAL ini, sebenarnya sudah bukan lagi bisa disebut ATMA. ATMA SARIIRA yang sudah MELEK SEMPURNA ini, sesungguhnya tak lain adalah BRAHMAN itu sendiri! SIDHARTA GAUTAMA, KRISHNA dan JESUS sudah mengalaminya. Lantas mengapa anda mempermasalahkan jika ada yang menyembah SIDHARTA, KRISHNA atau JESUS ?

Tinggal selangkah lagi. Manakala ATMA SARIIRA sudah lenyap dalam SAMUDERA ENERGI PURNA , manunggal total dengan BRAHMAN , maka tiada lagi terbedakan mana ATMA mana BRAHMAN. TUNGGAL ADANYA . Gatholoco menggambarkan : ………..yen damare wus mati, kabeh iku dadi suwung, tan ana apa-apa, lir Ingsun duk durung lair, têtêp suwung ora ana siji apa. (manakala pelita telah padam, semua jadi kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan Ingsun (Aku) ketika belum terlahirkan, tetap kosong tidak ada apapun juga.)

Dan yang ‘ada’ hanyalah ‘YANG ADA’ itu sendiri. Tiada lagi ‘ada’ yang lain!

2. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 17-18 :

Santri padha ambêk lintah, ora duwe mata kuping, anggêre amis kewala, cinucup nganti malênthing, ora ngrêti yen gêtih, gandane amis tur arus, kinira madumangsa, yen wus warêg mangan gêtih, amalêngkêr tan mêtu nganti sawarsa.

Santri yang berperilaku seperti lintah, tidak memiliki mata dan telinga, asalkan mencium bau amis, dihisap hingga perutnya menggelembung, tidak tahu kalau itu darah, baunya amis dan arus (padanan kata amis), dikira madu, jika sudah kenyang meminum darah, meringkuk tak keluar-keluar lagi hingga setahun.

Wêkasan kaliru tampa, tan wruh têmah ndurakani, manut kitab mêngkap-mêngkap, manut dalil tanpa misil, amung ginawe kasil, sinisil ing rasanipun, rasa nikmating ilat, lan rasane langên rêsmi, rasanira ing kawruh ora rinasa.

Pada akhirnya salah terima, tidak memahami inti sari malah berbuat dosa tanpa disadari, menuruti kata-kata kitab begitu saja, menuruti dalil tanpa tahu makna sesungguhnya, hanya dibuat untuk memperoleh keuntungan duniawi, tersilap dengan keduniawian, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa lidah, dibuat untuk memenuhi nikmatnya rasa bersenggama, makna sejati ilmu tidak dirasakan.

Gatholoco tajam mengingatkan, bahwasanya manusia-manusia yang terjebak ‘keberagamaan kulit’ seperti yang tengah berdialog dengannya, tak ubahnya bagaikan Lintah semata. Yang tak memiliki mata dan tak memiliki telinga. Pekerjaan mereka hanya menghisap darah sesama. Pekerjaan mereka hanya membuat harmonisasi kehidupan timpang.

Mereka mengira, dengan menghisap darah, mereka telah melakukan sebuah pekerjaan besar dan benar dimata Tuhan! Mereka mengira telah menghisap madu yang manis. Mengira telah melakukan sebuah pekerjaan agung yang sudah sepatutnya, walau harus menumpahkan darah!

Begitu telah kenyang menumpahkan darah, mereka akan puas dan tiada lagi tergerak untuk menelaah, apakah yang sudah dilakukan ini memang benar dimata Tuhan? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 17)

Mereka telah membuat dosa tanpa disadari. Menelan mentah-mentah kata-kata kitab suci tanpa dikupas lagi. Menuruti segala dalil tanpa mendalami inti sarinya. Padahal SUARA NURANI mereka terus berontak untuk mengabarkan arti dan makna yang sesungguhnya!

Kesadaran mereka tentang spiritualitas, tak lebih sebatas pencapaian Kenikmatan Keduniawian semata. Kenikmatan yang konon juga ada di Surga sana. Kenikmatan yang mirip dan serupa dengan Kenikmatan Dunia. Benarkah itu semua? Jika memang demikian, mengapa harus berlama-lama menunggu nanti, toh sekarang Kenikmatan serupa juga ada disini. Sudah nyata dan didepan mata malah. Lantas mengapa harus menunggu sesuatu yang masih dijanjikan nanti jika memang esensinya serupa dan itu-itu juga? (Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) : 18)

Kesadaran Spiritual-kah yang semacam ini? Jesus Kristus, Rabi’ah Al Adawiyyah, Jallaluddin Rumi, Al-Junaid, Ibnu Al-Araby, Ibnu Manshur Al-Hallaj, Abu Yazid Al-Bistami, Hamzah Fanshuri, Syeh Siti Jenar dan seluruh manusia illahi semacam mereka malah dipangkas habis manakala meneriakkan kebenaran sebuah makna hakiki.

Berbeda dengan manusia illahi yang turun ditanah India, keberadaan mereka masih mendapat sambutan hangat hingga kini. Adakah yang berbeda dari pesan-pesan mereka? Tidak ada! Yang berbeda adalah medan dan tempat dimana mereka turun.

Terpujilah manusia-manusia illahi yang berani meneriakkan kebenaran dimedan yang penuh dengan manusia-manusia berkesadaran rendah! Sembah sujud saya kepada manusia-manusia illahi yang semacam ini!

3. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair) 27 :

Guru tiga saurira, Katrima pamuji-mami, Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap.

Ketiga Guru menjawab, Karena diterima doa kami, Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

Sekali lagi Gatholoco hendak menghancurkan dinding kesadaran sempit dari mereka yang tengah diajaknya berdialog. Gatholoco tengah memberikan letupan bagi peningkatan kesadaran mereka. Gatholoco hendak membangun kesadaran baru, bahwasanya semua yang ada didalam semesta ini tak ada yang lain selain MANIFESTASI HYANG WIDDHI atau BRAHMAN! atau ALLAH!

PURUSHA adalah MANIFESTASI PERTAMA dari BRAHMAN manakala BRAHMAN tengah berkehendak untuk melakukan sebuah LILAA atau PERMAINAN ILLAHI-NYA. BRAHMAN YANG MELAMPAUI SEGALANYA, YANG TANPA PRIBADI. MEMPERSEMPIT DIRI-NYA DALAM KONDISI SUPER PERSONALITY. INILAH PURUSHA!

Bersamaan dengan proses ini, muncullah BAYANGAN BRAHMAN yang lantas dikenal dengan nama PRAKRTI. Inilah CIKAL BAKAL SELURUH UNSUR MATERIAL YANG ADA DI SEMESTA RAYA.

Dari PURUSHA memerciklah ATMA-ATMA atau RUH-RUH yang tiada terhitung.

Lantas, manakah yang bukan BRAHMAN atau ALLAH?

Manusia-manusia yang merasa dirinya berbeda dengan BRAHMAN, dengan TUHAN. Manusia-manusia yang merasa memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan, SESUNGGUHNYA MEREKA ADALAH PENCURI. Begitu Gatholoco menyatakan!

PENCURI? Yap! Karena mereka mengklaim memiliki pribadi sendiri yang terpisah dengan Kepribadian Tuhan. Mereka tengah bermain-main dengan illusi! Dalam keyakinan mereka, pribadi mereka ini diciptakan oleh Tuhan. Mereka meyakini, Tuhan menciptakan mereka. Dan mereka berbeda dengan Sang Pencipta. Mereka punya hak pribadi. Memiliki asset sendiri. Walau menurut mereka, asset yang mereka miliki tersebut adalah pinjaman dari Tuhan.

Gatholoco menegaskan, diri kita semua ini, mulai dari ATMA SARIIRA (RUH), SUKSMA SARIIRA (NAFS), STHULA SARIIRA (JASAD) termasuk seluruh piranti indrawi (mata, telinga, hidung,dsb), berikut fungsi-fungsi inderawi (penglihatan, pendengaran, ucapan, dsb) adalah MANIFESTASI TUHAN! Bukan sesuatu yang terpisah dari-Nya. Ini semua bukan milik otonom seorang makhluk ciptaan yang disebut ‘manusia’. Jika ‘manusia’ mengklaim ini mataku, ini telingaku, ini badanku, ini penglihatanku, ini pendengaranku, ini ucapanku dsb, jelas mereka telah melakukan KLAIM PALSU! DAN ORANG YANG MENGAKUI SESUATU YANG BUKAN MILIKNYA, JELAS ADALAH SEORANG PENCURI!

Bagaimana dia bisa mengakui ini milik ‘saya’, jika sosok ‘saya’ itu sendiri sesungguhnya ‘tidak ada’? Jika sosok ‘saya’ itu sendiri sebenarnya adalah bagian Tuhan juga? Terngiangkah anda dengan kata-kata Sidharta Buddha Gautama tentang Annata (Tanpa Aku/Tanpa Saya/Kosong) ?

Dalam Pupuh III, Sinom, Syair 27 diatas bagian akhir, Gatholoco berkata keras :

……………..Gatholoco asru nyêntak, Pujimu pujining Widdhi, sira ora nduweni, marang pangucap sadarum, iku ucaping Allah, yen mangkono sira maling, wani-wani kadunungan barang gêlap. (…………………,Gatholoco keras membentak, Bahkan doamu-pun adalah milik (Hyang) Widdhi! Kalian tidak punya hak untuk mengakui! Karena pengucapan kalian itu semua, itu ucapan Allah! Jikalau demikian kalian adalah maling! Telah berani ketempatan barang yang bukan milik kalian (namun kalian akui sebagai milik sendiri)!

Coba renungkan sekali lagi!

4. Pupuh III, Sinom, Pada (Syair ) 29-31 ;

Sakehing reh lakonana, yen tan manut Sun gitiki, jalaran sira wus salah, kajêdhêgan sira maling, lah iku duwek Mami, sira anggo tanpa urus, saikine balekna, ilange duk Jaman Gaib, Ingsun simpên ana satêngahing jagad.

Segala perintah-Ku laksanakan, jika tak menurut pasti Ku dera, sebab kalian telah salah, patut dipersalahkan karena maling, itu semua milik-Ku, kalian pakai dengan tidak benar, sekarang kembalikan, dulu hilang dikala Jaman Gaib, Aku simpan di tengah-tengah jagad.

Saksine si Wujud Makna, cirine rina lan wêngi, Ingsun rêbut tanpa ana, saiki lagya pinanggih, sira ingkang nyimpêni, santri padha tanpa urus, yen sira tan ngulungna, sun lapurake pulisi, ora wurung munggah ing rad pêngadilan.

Saksinya adalah si Wujud Makna (Wujud dari segala inti sari makna kitab suci), bukti (dari keteledoran kalian memakai barang-Ku dengan tidak benar) telah dicatat oleh siang dan malam, Aku cari-cari tak ketemu, sekarang tengah Aku jumpai, ternyata kalian yang menyimpannya, para santri yang tidak benar! Jika tidak kalian kembalikan, Aku laporkan polisi (hukum alam), tak urung akan naik perkara dipengadilan (semesta)!

Mêsthi sira kokum pêksa, yen wêngi turu ning buwi, lamun rina nambut karya, sabên bêngi den kandhangi, beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar.

Pasti akan menerima hukuman, jika malam tidur didalam penjara (terkurung dalam kegelapan batin sehingga gelisah), jika siang kerja paksa (sengsara ditengah panasnya dualitas duniawi), tiap malam dikandangkan (terus terjerat dalam kegelapan batin), berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.

Illusi manusia layak dihancurkan. Walaupun illusi itu juga Manifestasi Brahman, tapi jelas, segala macam illusi, kebodohan (awidya), ketidak murnian, keangkuhan, keserakahan dan semua yang menelikung KESADARAN SEJATI ATMA, adalah Manifestari Brahman dalam level rendah.
Semua ketidak murnian muncul dari PRAKRTI. Dan PRAKRTI hanyalah BAYANGAN BRAHMAN. DAN SEBUAH BAYANGAN, BUKANLAH YANG SEJATI. SEBUAH BAYANGAN HANYALAH ILLUSI (MAYA)!.

Sekali lagi saya tegaskan, SEGALA MACAM KETIDAK MURNIAN ADALAH BERASAL DARI PRAKRTI. DAN PRAKRTI ADALAH MANIFESTASI BRAHMAN DALAM LEVEL BAWAH! JADI JANGAN HANTAM RATA DENGAN MENYATAKAN BAIK DAN BURUK ITU SEIMBANG! HITAM DAN PUTIH ITU SELEVEL! TIDAK!

BAIK DAN BURUK, HITAM DAN PUTIH MEMANG SAMA-SAMA PERWUJUDAN BRAHMAN, MEMANG ADA DALAM SATU KESATUAN TUNGGAL. TAPI DALAM JENJANG YANG BERBEDA!

Dalam Bhagawad Gita, jelas Shrii Krishna menyatakan :

“Sifat-sifat Illahi (Daiva Sampad) adalah jalan KELEPASAN (MOKSHA), sedangkan sifat-sifat Jahat (Asura Sampad) adalah jalan menuju KETERIKATAN (LAHIR BERULANG-ULANG DIDALAM ALAM MATERIAL). Janganlah bersedih, oh Pandhawa (Putra Pandhu/ Arjuna), dirimu (karena buah karma masa lalumu), terlahir dalam sifat-sifat Illahi!” (Bhagawad Gita : 16 : 5)

Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN dan KETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa anda mempelajari KESUCIAN jika toh dalam kondisi KOTOR -pun anda sama saja dalam kondisi BERSIH? Jika BAIK dan BURUK, HITAM dan PUTIH, KESADARAN dan KETIDAK SADARAN itu sama, lantas mengapa sosok semacam SHIWA, KRISHNA, RSI VYAASA, SIDHARTA BUDDHA GAUTAMA, JESUS, SYEH SITI JENAR, GATHOLOCO dan Manusia-Manusia Illahi lainnya harus berteriak-teriak untuk membebaskan KESADARAN KITA dari jerat KETIDAK MURNIAN SEBUAH ILLUSI (MAYA) ?

Jangan bermain-main dengan kata-kata. Anda akan terjebak sendiri. Pada ujungnya, anda sendiri yang akan kebingungan untuk menentukan sikap dalam menyikapi realita kehidupan ini!

ATMA telah terjebak dalam BAYANGAN BRAHMAN ! KETERJEBAKAN PADA ILLUSI (MAYA) BRAHMAN inilah yang memunculkan adanya kehidupan material. Selama keterjebakan ini terus terjadi, maka ATMA akan terus tergerus proses kehidupan material! Dia akan lahir dan mati, lahir dan mati, lahir dan mati, tanpa ada kesudahan! Jika ATMA bisa membebaskan diri dari BAYANGAN BRAHMAN, maka ATMA akan MENYATU DENGAN INTI BRAHMAN ITU SENDIRI! ATMA tidak perlu terlahirkan kedunia material kembali! Inilah MOKSHA. Inilah NIRWANA. Inilah KERAJAAN ALLAH. Inilah JANNATUN FIRDAUS!

Dalam syair 29, Pupuh III diatas, Gatholoco sengaja berkata dengan MEMPERGUNAKAN KESADARAN TERTINGGINYA! Jika mereka-mereka yang tengah diajaknya berdialog tetap meyakini keterpisahan pribadinya dengan Kepribadian Brahman, berarti mereka tidak mengikuti ‘PERINTAH ATAU PETUNJUK SEJATI BRAHMAN’ yang tertuang dalam intisari seluruh Kitab Suci! Jika illusi mereka tetap sulit disingkap, maka terpaksa HUKUM ALAM yang akan bekerja! Ini yang dimaksud ucapan Gatholoco dengan : ……..yen tan manut Sun gitiki,….(….jika tidak menurut pasti Ku dera…). Karena selain telah berillusi memiliki asset badan sendiri, mereka juga telah mempergunakan seluruh ‘barang klaim palsu’ tersebut dijalan ketidak murnian! Oleh karenanya, hilangkanlah illusi kalian. Hilangkanlah anggapan bahwa kalian itu berbeda dengan DIA! Kembalikan seluruh barang pengakuan itu kepada yang punya! Kembalikan KESADARAN kalian dari mengklaim memiliki asset sendiri menjadi SEMUA INI ADALAH BRAHMAN SEMATA!

Dalam syair 31, Pupuh III bagian terakhir, Gatholoco menurunkan kembali KESADARAN-NYA : ………..beda kalawan mami, salawase ngong tumuwuh, sadurunge tumindak, ingkang daya sêja-mami, agal alus kasar lêmbut ingsun nalar. (…………berbeda dengan aku, selama aku hidup, sebelum bertindak, untuk memenuhi keinginanku, kasar maupun halus pasti aku pikirkan terlebih dahulu.)

38.Guru tiga duk miyarsa, sru nyêntak sarwi nudingi, Gatholoco sira gila, Gatholoco anauri, Ingsun gila sayêkti, yen wêruh kaya dhapurmu, wêdi bok katularan, ora duwe mata kuping, kawruhira amung jakat lawan pitrah.

Ketiga Guru begitu mendengarnya, keras membentak sembari menuding, Gatholoco kamu gila! Gatholoco menjawab, Aku memang gila, jika bertemu orang sepertimu, aku takut ketularan, tidak memiliki mata dan telinga, pengetahuan kalian hanya melulu berkisar tentang jakat pitrah (zakat fitrah) saja.

39.Kyai Guru tiga pisan, tyasnya runtik anauri, Nyata sira anak Jalang, Gatholoco amangsuli, Iku bênêr tan sisip, bapa biyung kaki buyut, kabeh kêna ing pêjah, lamun wis tumêkeng jangji, yêkti mulih mring asale padha Ilang.

Ketiga Guru semua, dengan hati panas menyahuti, Nyata kamu anak Jalang! Gatholoco menjawab seenaknya, Ucapanmu benar tidak keliru, bapak ibu kakek dan buyut-ku, semua terkena mati, jika sudah sampai pada saatnya mati, pasti pulang keasalnya semua meng-Hilang! (Inilah sikap bijak seorang yang tercerahkan. Manakala dia dihina, maka dia akan merespon dan memaknai hinaan itu dengan makna positif. Gatholoco di caci sebagai anak Jalang, tapi Gatholoco seolah tak mendengar kata Jalang tapi malah mendengar kata Hilang. Contohlah sikap seperti ini.)

40.Kiraku manawa sira, mêtu saking rêca wêsi, dene wujud tanpa nyawa, sira ora duwe budi, Kyai Guru nauri, samya misuh Truk biyangmu, Gatholoco angucap, Iku bangêt trima-mami, krana sira têlu pisan misuh mring wang.

Kukira mungkin kalian, lahir dari arca besi, berwujud tapi tanpa nyawa, karena terlihat kalian tidak mempunyai budi (buddhi : kesadaran), Kyai Guru menjawab, dengan mengumpat Turuk biyang-mu (Dasar terlahir dari Vagina)! Gatholoco berkata, Sangat berterima kasih aku, karena kalian bertiga mengumpati aku (dan ibuku).

41.Sira nuduhake biyang, ingsun iki tan udani, duk lair saking wadonan, amung ingkang sun-gugoni, wong tangga kanan kering, bapa biyang ingkang ngaku, nganakake maring wang, iku ingkang sun-sungkêmi, nanging batin ingsun ora wani sumpah.

Kalian telah berani menunjukkan darimana Aku telah terlahirkan, akan tetapi Aku sendiri tidak yakin pasti, apakah benar aku terlahirkan dari vagina, hanya yang Aku jadikan pegangan, kesaksian tetangga kiri kanan, berikut bapak dan ibu yang mengakui, telah memperanakkan Aku, keduanya Aku junjung tinggi, akan tetapi didalam hati sesungguhnya Aku tidak berani bersumpah (telah terlahir dari sebuah vagina!)

42.Iya iku bapa biyang, ingkang wêruh lair-mami, saikine sira bisa, nuduhake biyang-mami, wismane ana ngêndi, lawan sapa aranipun, amba-ciyute pira, duweke wong tuwa-mami, yen tau wêruh iku ujar ambêlasar.

(Mungkin) hanya bapak dan ibu-ku, yang mengetahui dengan pasti darimana Aku terlahirkan, akan tetapi sekarang kalian (yang baru bertemu denganku saat ini saja), telah berani menyatakan bahwa Aku terlahir dari vagina ibu, jika memang benar kalian tahu pasti, dimanakah rumah ibu-Ku, lantas siapakah namanya, serta seberapa ukuran, milik (vagina) ibu-Ku? Jika tidak bisa menjawab nyata kalian telah bersaksi palsu!

43.Krana ingsun nora wikan, wujude Ingsun saiki, mujud dhewe tanpa lawan, Allah ora karya mami, anane raga-mami, gaweyanira Hyang Agung, duk aneng alam dunya, ana satêngahing bumi, lawan sira kala karya raganira.

(Ketahuilah) sesungguhnya Aku tidak ragu bahwa, wujud(Atma)-Ku ini, berwujud dengan sendirinya (bukan dilahirkan oleh vagina) dan tiada tandingan, Allah tidak menciptakan Aku (Maksudnya Allah saja tidak menciptakan Atma atau Ruh: Atma atau Ruh tidak diciptakan, tidak ada yang menciptakan Atma atau Ruh. Atma dan Ruh adalah percikan-Nya), (sedangkan) adanya Raga(Tubuh Fisik)-Ku, (memang) buatan Hyang Agung (Maksudnya Hyang Agung/Allah hanya menciptakan Raga atau Tubuh Fisik semata), (diciptakan) saat ada di alam dunia, ada ditengah-tengah bumi, manakala membuat raga kalian (Maksudnya dicipta ditengah ruang dan waktu relatif semesta raya).

44.Sawindu lawan sawarsa, rolas wulan pitung ari, pêndhak pasar ratri siyang, saêjam sawidak mênit, ora kurang tan luwih, wukune mung têlung puluh, raganingsun duk daya, sarta wus wani nyampahi, wruhaningsun sanajan saiki uga.

Sawindu (siklus delapan tahunan) serta Setahun, Dua belas bulan Tujuh hari, Pêndhak Sêpasar (siklus hari dalam jumlah lima : Kliwon, Lêgi, Pahing, Pon dan Wage) Malam dan Siang, Satu jam Enam puluh menit, tak lebih dan tak kurang dari itu, Wuku-nya hanya tiga puluh (Wuku adalah perhitungan siklus tujuh harian/seminggu. Ada tiga puluh Wuku. Setiap Wuku berumur tujuh hari. Total tiga puluh Wuku memakan waktu 210 hari), (Didalam ukuran ruang dan waktu relatif duniawi seperti contoh diatas) Raga(Tubuh Fisik)-Ku memiliki bentuk (maksudnya tercipta), serta sudah berani menghina (maksudnya juga tercipta Tubuh Halus/Suksma Sariira yang menyelimuti kesadaran Atma sehingga berubah menjadi sosok makhluk yang tidak murni), ketahuilah hal ini sekarang juga.

45.Badanku kêna ing rusak, urip-mami wangawuhi, saobah-osiking badan, Rasulullah andandani, krana ingsun kêkasih, kinarya Pangeraningsun, marang sagunging sipat, nggêsangakên saliring tunggil, iya Ingsun iya Allah ya Muhammad.

Badanku bisa rusak, (akan tetapi) Hidup (Atma)-ku abadi, seluruh keberadaan tubuh ini, Rasulullah (Atma/Ruh)-lah yang menghiasi, karena Aku (Hidup/Atma/Ruh/Rasulullah
) adalah kekasih(-Nya), dianggap sebagai Tempat untuk Mengabdi (bagi Tubuh Fisik/Sthula Sariira dan Tubuh Halus/Suksma Sariira), Tempat untuk Mengabdi bagi seluruh sipat (maksudnya segala sifat yang baik maupun yang buruk dari Suksma Sariira), menghidupi segalanya dalam satu kesatuan, (sesungguhnya) Aku (Ruh/Atma) adalah juga Allah adalah juga Muhammad.

46.Guru tiga asru mojar, Sira wani angakoni, tunggal wujud lan Pangeran, apa kuwasamu kuwi, Gatholoco nauri, Ngawruhi dadine lêbur, kalawan pêparêngan, karsane Kang Maha Suci, ingsun dhewe tan kuwasa apa-apa.

Ketiga Guru keras berkata, Kamu berani mengakui, satu kesatuan wujud dengan Tuhan, apa kekuasaanmu? Gatholoco menjawab, Menyadari menjadi dan leburnya (maksudnya menyadari sepenuhnya sepanjang kelahiran dan kematian saat terlahirkan sebagai Gatholoco saja), dengan ijin, dan kehendak Yang Maha Suci, aku sendiri tak berkuasa apa-apa. (Maksud Gatholoco, dalam kondisi Atma masih terikat oleh Suksma Sariira/Tubuh Halus dan Sthula Sariira/Tubuh Fisik, Atma hanya mampu mengetahui kelahiran dan kematiannya dalam satu siklus kehidupannya ini saja, sedangkan diluar itu, Atma belum mampu menyadari).

47.Ragengsun wujuding Suksma, angawruhi ing Hyang Widdhi, tumindak karsanira Hyang, aweh mosik liya mami, Muhammad kang nduweni, pangucap paningalingsun, pangganda pamiyarsa, dene lesan lawan dhiri, kabeh iku kagungane Rasulullah.

Ragaku adalah wujud Suksma (kata Suksma disini yang dimaksud adalah Hyang Suksma, yang artinya Tuhan. Bukan Suksma Sariira/Tubuh Halus), jelas-jelas adalah Hyang Widdhi yang terlihat, mampu eksis atas kehendak Hyang (Widdhi) sendiri, mampu pula beraktifitas (atas kehendak-Nya juga), Muhammad (Atma/Ruh juga adalah wujud Hyang Widdhi) yang memiliki, pengucapan penglihatanku, penciuman dan pendengaranku, lesan dan pribadi ini, semua itu milik Rasulullah (Atma/Ruh). (Maksudnya baik Raga/Sthula Sariira hingga Atma – dalam bahasa Gatholoco adalah Muhammad atau Rasulullah- semua adalah perwujudan Hyang Suksma atau Hyang Widdhi atau Tuhan. Atma ini tiada beda dengan Hyang Widdhi. Maka tepatlah jika dinyatakan, seluruh pengucapan, penglihatan, penciuman, pendengaran dan sebagainya sesungguhnya adalah milik Atma.)

48.Ingsun ora apa-apa, mung pangrasa duwek-mami, iku yen ana sihing Hyang, yen tan ana sihing Widdhi, duwekingsun mung sêpi, basa sêpi iku suwung, tan ana apa-apa, lir ingsun duk durung dadi, têtêp suwung ora wêruh siji apa.

Aku ini tidak memiliki apa-apa, hanya perasaan (merasa memiliki) saja yang menjadi miliku, itu saja jika mendapatkan kasih dari Hyang (Widdhi), jika tak mendapatkan kasih (Hyang) Widdhi, milikku hanyalah sêpi, arti kata sêpi adalah kosong, tidak ada apa-apa, bagaikan aku saat belum menjadi, tetap kosong tak mengetahui apa-apa. (Maksudnya wujud manusia ini sesungguhnya adalah perwujudan Tuhan juga. Manusia itu ‘tidak ada’. Yang ada hanya ‘perasaan merasa ada dan memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’. Jika ‘illusi merasa ada dan merasa memiliki pribadi yang terpisah dengan Tuhan’ ini tersingkap, maka yang ada hanyalah KOSONG. KOSONG itulah KEABADIAN DAN KEBAHAGIAAN MILIK KITA DULU. KOSONG ITULAH TUHAN!)

49.Abdul Jabar nulya mojar, Sira iku angakoni, wujudmu wujuding Suksma, ing mangka ragamu kuwi, kêna rusak bilahi, ora langgêng sira wutuh, Gatholoco angucap, Ingkang rusak iku bumi, kalimputan wujud-mami lan Pangeran.

Abdul Jabar lantas berkata, Kamu mengakui, wujudmu adalah wujud (Hyang) Suksma, padahal ragamu itu, bisa terkena rusak dan celaka, tidak utuh abadi selamanya, Gatholoco berkata, Yang bisa rusak itu badan yang berasal dari bumi (kata bumi hanya mewakili segala unsur alam semesta), yang terselimuti wujud-Ku (Atma) dan Tuhan (Brahman).

50.Ingsun Ingkang Maha Mulya, tan kêna rusak bilahi, ingkang langgêng swarga mulya, Kyai Guru anauri, Yen mangkono sireki, wêruh pêsthine Hyang Agung, kang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Wêruh pisan pêsthine mring raganingwang.

Aku Yang Maha Mulia, tak bisa rusak dan celaka, yang langgeng dan sesungguhnya surga mulia (Jannatun Firdaus, Moksha, Nirwana, Kerajaan Allah) itu sendiri, Kyai Guru menyahut, Jikalau demikian kamu ini, mengetahui takdir Hyang Agung yang belum terjadi? Gatholoco menjawab, Bahkan aku bisa membuat takdir yang bakal terjadi pada diriku.

51.Ingsun pêsthi awakingwang, wayah iki dina iki, jêjagongan lawan sira, mêngko gawe pêsthi maning, kang durung den lakoni, kanggone mêngko lan besuk, supaya aja salah, dadi ora kurang luwih, lamun salah ngrusak buku sastra angka.

Telah aku tetapkan sendiri, pada saat ini hari ini, duduk bertemu dengan kalian semua, nanti aku akan membuat takdir lagi, yang belum terjadi, untuk hari esok dan kelak, harus hati-hati dalam membuatnya, sehingga tidak kurang dan tidak lebih (tetap dalam keseimbangan), jika salah bisa merusak kitab sastra angka. (Gatholoco sebenarnya hendak menjelaskan tentang hukum sebab akibat, dimana takdir itu yang membuat adalah kita sendiri)

52.Kalawan ngrusak gulungan, iku bangêt wêdi-mami, wêdi manawa dinukan, marang ingkang juru-tulis, mulane ngati-ati, gawe pêsthi aja kliru, Kyai Guru angucap, Kang durung sira lakoni, bêja sarta cilakamu besuk apa.

Jika sampai merusak gulungan kitab (maksudnya melakukan perbuatan buruk sehingga merangkai takdir buruk pula bagi diri kita), itu sangat kutakutkan, takut jika sampai dimarahi, oleh juru tulis (maksudnya alam semesta, yang merekam dan mencatat segala perbuatan dan aktifitas kita), makanya aku hati-hati, membuat takdir jangan sampai keliru, Kyai Guru berkata, Yang belum kamu jalani, untung dan celakamu besok bagaimana?

53.Aneng ngêndi kuburira, Gatholoco anauri, Kuburan wus ingsun-gawa, sabên dina urip-mami, kalawan ngudanêni, ning sawatês umuringsun, kalamun parêk ajal, sajroning rolas dina mami, lagya milih jam sarta wayahira.

Dimanakah kuburmu? Gatholoco menjawab, Kuburku telah aku bawa, setiap saat dalam kehidupanku, serta aku tahu, pada batas usiaku, jika sudah dekat ajal, dalam dua belas hari, baru memilih jam dan saatnya. (Gatholoco berkata benar. Manusia yang kesadarannya tinggi, mampu memilih hari, jam dan saat kematiannya sendiri!)

54.Yen gawe pêsthi samangkya, papêsthene awak-mami, bokmanawa luwih kurang, susah anggoleki pêsthi, bêcike sabên lawan ari, anggawe papêsthen iku, manut sênênging driya, dadi ora kurang luwih, ora angel ora cidra ing sêmaya.

Membuat takdir itu, takdir untuk diriku sendiri, sangat sulit membuat yang seimbang (maksudnya membuat takdir yang menghasilkan keseimbangan sehingga menunjang lepas dari dualitas duniawi), sangat sulit mencari takdir (yang menunjang pelampauan dualitas tersebut), lebih baik setiap hari, dalam membuat takdir, dibuat dalam keadaan pikiran yang bahagia (pikiran positif), sehingga hasilnya kelak tidak akan lebih dan kurang (seimbang), tidak membuat kesukaran (dalam proses evolusi Atma) dan tidak membuat ingkar janji (mengingkari tujuan hidup yang sejati yaitu menyatu dengan SUMBER ABADI SEMESTA).

55.Kyai Abdul Jabar ngucap, Pêsthine marang Hyang Widdhi, ingkang durung kalampahan, Gatholoco anauri, Iku pêsthening Widdhi, dudu pêsthi saking ingsun, Allahku sabên dina, anggawe papêsthen mami, anuruti marang kabeh karsaningwang.

Kyai Abdul Jabar berkata, (Bagaimana dengan) ketetapan Hyang Widdhi, yang belum terlaksana, Gatholoco menyahut, Itu ketetapan (Hyang) Widdhi, bukan ketetapan dari-(Atma)ku, Allah-ku setiap hari, membuat ketetapan bagiku, menuruti kepada semua kehendak-ku. (Disini jelas harus dibedakan, mana takdir yang dibuat oleh manusia untuk dirinya sendiri melalui pikiran, perkataan dan perbuatannya, dengan takdir jalannya siklus semesta raya. Jelas, takdir bagi diri sendiri kitalah yang membuat, tapi takdir jalannya siklus semesta raya, manusia tidak bisa membuatnya.)

56.Guru tiga sarêng ngucap, Gatholoco sira iki, nyata kasurupan setan, Gatholoco anauri, Bênêr pan ora sisip, kala ingsun dereng wujud, ana ing alam samar, tumêka ing jaman mangkin, setaningsun durung pisah saking raga.

Ketiga Guru sama-sama berkata, Gatholoco kamu ini, nyata-nyata kesurupan setan! Gatholoco menjawab, Benar memang tidak salah, saat aku belum lahir, didalam alam yang samar, hingga pada jaman aku lahir (kembali sekarang), setanku belum bisa aku pisahkan dari diriku!

57.Basa setan iku seta, asaling bibit sakalir, wujudingsun duk ing kuna, punika asale putih, lamun durung mangrêti, iya iku asal ingsun, purwa saking sudarma, tumêka kalamullahi, sayêktine ingsun asal Kama Pêthak.

Setan itu berasal dari (air) putih (sperma), bibit semua manusia, wujudnya pertama kali, berwarna putih, maka ketahuilah, itulah asal-ku, berasal dari orang tua laki-laki, hingga aku harus lebur (moksa, maka setan akan tetap ada didalam diriku), sesungguhnya aku (Tubuh fisik ini beserta setannya) berasal dari Kama Pêthak (sperma berwarna putih)!

58.Mênêk Guru têlu sira, Kama Irêng ingkang dadi, dene buntêt tanpa nalar, Abdul Manap duk miyarsi, mojar mring Ahmad Ngarip, Abdul Jabar Yen sarujuk, wong iki pinatenan, lamun maksih awet urip, ora wurung ngrusak sarak Rasulullah.

Akan tetapi kalian ketiga Guru, Kama Irêng (sperma hitam) asal kalian (sperma yang berisi roh-roh terikat) sehingga bodoh tanpa nalar! Abdul Manap (Abdul Manaf) begitu mendengar, berkata kepada Ahmad Ngarip (Ahmad ‘Arif), serta kepada Abdul Jabar Jika kalian setuju, kita bunuh saja orang ini! Jika masih tetap hidup, tidak urung akan merusak syari’at Rasulullah!

59.Iku wong mbubrah agama, akarya sêpining masjid. Gatholoco asru ngucap, Den enggal nyuduk mring mami, sapisan nyuduk jisim, pindho bathang sira suduk, ya ingsun utang apa, arsa mateni mring mami, saurira Mung lêga rasaning driya.

Orang ini merusak agama, bakal membuat sepinya masjid, Gatholoco keras berkata, Segeralah tusuk Aku, pertama kamu hanya akan mampu menusuk tubuh fana ini saja, kedua kamu hanya akan mampu menusuk bangkai (tidak bakalan kalian mampu menusuk yang namanya ‘Aku’)! Berhutang apakah Aku pada kalian? Sehingga kalian hendak membunuh ‘Aku’? (sesungguhnya kalianlah yang telah banyak berhutang pada-Ku)! Terdengar jawaban, Agar puas rasa hati kami!

60.Krana sira ngrusak sarak, Gatholoco anauri, sarak tan kêna rinusak, pinêsthi dening Hyang Widdhi, …………………………, ………………………, …………………….., iku têtêp aran janma ngrusak sarak.

Karena kamu telah merusak syari’at! Gatholoco menyahuti, Syari’at (hukum yang sesungguhnya alias hukum alam) tidak bisa dirusak! Sudah ditetapkan demikian oleh Hyang Widdhi, (belum saatnya saya terjemahkan……………….), Itulah sesungguhnya yang dinamakan manusia perusak syari’at!!

61.Dene bangsane agama, sasênêngne wong ngaurip, sanajan agama Cina, lamun têrus lair batin, yêkti katrima ugi, Guru têlu agamamu, iku agama kopar, agamaku ingkang suci, iya iku kang aran Agama Rasa.

Semua agama, terserah kepada pribadi masing-masing, walaupun agama berasal dari Cina, apabila mantap lahir batin, pasti diterima (oleh Tuhan), agama kalian, itu agama sombong, agamaku yang suci, inilah yang disebut Agama Rasa.

62.Têgêse Agama Rasa, nuruti rasaning ati, rasaning badan lan lesan, iku kabeh sun-turuti, rasaning lêgi gurih, pêdhês asin sêpêt kêcut, pait gêtir sadaya, sira agama punapi, saurira Agamaku Rasulullah.

Maksud dari Agama Rasa, mengamati rasa hati, rasa badan dan rasa lidah, itu semua aku amati, rasa manis gurih, pedas asin sepat kecut, pahit dan getir semuanya (Gatholoco tengah menguraikan meditasi Vipassana, yaitu melatih Kesadaran agar senantiasa awas dengan segala gejolak pikiran dan segala sensasi tubuh), sedangkan kalian agama apakah, Mereka menjawab Agamaku agama Rasulullah!

63.Gatholoco asru ngucap, Patut sira tanpa budi, aran ra punika raras, sul usul raras kang sêpi, sul asal têgêsneki, mulane sireku kumprung, Guru tiga miyarsa, sigra kesah tanpa pamit, sakancane garundêlan urut marga.

Gatholoco keras menyahuti, Pantas kalian tanpa buddhi (kesadaran), tidak bisa mengamati rasa diri, mengamati asal usul rasa yang sepi (dari segala rasa), makanya kalian bingung, Mendengar kata-kata itu ketiga Guru, segera pergi tanpa pamit, seluruh yang bersama mereka menggerutu sepanjang jalan.

64.Sangêt dennya nguman-uman, Ahmad Ngarip muwus aris, Abdul Jabar Abdul Manap, salawasku urip iki, aja pisan pisan panggih, kalawan wong ora urus, manusa tan wruh tata, jroning ngimpi ingsun sêngit, yen kapêthuk sun mingkar tan sudi panggya.

Sangat-sangat sakit hati, Ahmad Ngarip (Ahad ‘Arif) berkata pelan, Abdul Jabar Abdul Manap (Abdul Manaf), selama hidupku ini, jangan sekali-kali lagi bertemu lagi, dengan orang yang tidak benar, manusia yang tidak mengetahui etika (seperti Gatholoco), bahkan didalam mimpi sekalipun, jika bertemu aku akan menghindar tidak sudi bertemu!

65.Gatholoco kang tinilar, aneng ngisoring waringin, rumasa yen mênang bantah, mangkana osiking galih, bangêt kêpati-pati, angêkul sameng tumuwuh, Sun-kira luwih manah, pangawruhe Guru santri, dene iku isih bodho kurang nalar.

Gatholoco yang ditinggal, dibawah pohon beringin, merasa jika telah menang dalam berdebat, begini kata hatinya, Sangat-sangat prihatin aku, betapa banyak manusia yang tidak sadar seperti kul (keong), aku kira sangat luas, wawasan Guru para sanri (tadi), ternyata masih bodoh kurang nalar.

66.Durung padha durung timbang, yen tinandhing kawruh-mami, durung nganti ingsun-gêlar, kawruhku kang luwih edi, prandene anglangani, kalah tan bisa samaur, yen mangkono sun-kira, ingkang muruk tanpa budi, iku nyata setan ingkang menda janma.

Sangat-sangat tidak seimbang, apabila diukur dengan wawasan-ku, belum juga aku wedarkan, pengetahuanku yang lebih unggul, tapi pada kenyataannya, kalah tak bisa menjawab, jika demikian kesimpulanku, siapa saja yang mengajarkan ilmu tanpa buddhi (kesadaran), itu nyata-nyata setan yang menjelma sebagai manusia.

67.Lamun wulange manusa, mêsthine pada mangrêti, mring duga lawan prayoga, aywa karêm karya sêrik, mulane kudu eling, eling marang Ingkang Asung, asung urip kamulyan, upayanên den kapanggih, yen pinanggih padhang têrang sagung nalar.

Jika benar-benar manusia, pastilah akan memahami, akan baik dan buruk, tidak suka gampang menghakimi sesama, oleh karenanya harus ingat, ingat kepada yang Maha Pemberi, yang memberikan kemuliaan hidup, carilah (Dia) hingga ketemu, jika telah ketemu akan terang benerang kesadaran ini.

68.Yen padhang têgêse gêsang, lamun pêtêng iku mati, janma ingkang duwe nalar, aran manusa sujati yen luwih wus ngarani, agal myang alus cinakup, tan kaya Guru tiga, bodhone kêpati-pati, cupêt kawruh pêtêng nalar maknanira.

Terang itu hidup, sedangkan gelap itu mati, manusia yang mempunyai kesadaran, itulah manusia sejati, manusia yang unggul, melampaui yang kasar dan halus (dualitas duniawi), tidak seperti ketiga Guru tadi, sangat-sangat bodoh, sempit wawasan gelap kesadarannya.

69.Gatholoco gya lumampah, têtêmbangan urut margi, kêbo bang kagok (sapi) upama, ‘sapi-san’ maning pinanggih, bibis alit ing tasik (undur-undur), ora ‘mun-dur’ bantah kawruh, pêlêm gung mawa ganda (kuweni), kawuk ingkang menda warni (slira), bêcik ingsun ‘ngênte-ni’ lan ‘ura-ura’.

Gatholoco segera beranjak, melantunkan tembang sepanjang jalan, Kerbau berwarna merah keputihan (SAPI maksudnya), ‘SAPI-san’ (sekali lagi) bertemu, binatang bibis yang hidup diatas pasir (binatang UNDUR-UNDUR), tidak akan ‘mun-DUR’ jika harus berdebat lagi, mangga besar dengan baunya yang harum (mangga KWENI), binatang kawuk yang berganti rupa (binatang SLIRA), lebih baik aku ‘ngente-NI’ (menanti) sembari ‘u-RA-u-RA’ (berdendang).

70.Gude rambat (kara) puspa krêsna (tlasih), ‘mani-ra’ pan ‘i-sih’ wani, witing pari (dami) enthong palwa (wêlah), ora nêja ‘ka-lah ma-mi’, araning wisma paksi (susuh), ‘mung-suh’ sira guru pêngung, parikan ulêr kambang (lintah), ingsun sênêng ‘ban-tah’ ilmi, wêlut wisa (ula) tininggal atiku ‘gê-la’.

Tumbuhan Gude yang merambat (tumbuhan KARA) daun hitam (daun TLASIH), mani-RA (diriku) sungguh ‘ma-SIH’ berani, batang padi (DAMI) centhong perahu (dayung atau WÊLAH), tidak akan ‘ka-LAH ma-MI (diriku)’, nama rumah burung (SUSUH), ‘bermu-SUH-an’ dengan kalian guru bodoh, ulat yang mengambang diair (LINTAH), aku sangat suka ‘berban-TAH-an’ ilmu, belut yang berbisa (ular atau ULA) ditinggal hatiku ‘gê-LA (kecewa)’.

71.Mendhung pêthak (mega) kunir pita (têmu), ‘muga-muga têmu’ maning, têpi wastra rinumpaka (kêmadha), banjur ‘pa-dha’ maring ngêndi, kayu rineka janmi (golek), apa ‘golek’ guru jamhur, sarkara munggeng tala (madu), arsa den ‘a-du’ lan mami, wadhung rêma (cukur) malah ‘so-kur’ yen mangkana.

Mendung berwarna putih (MEGA) kunyit merah (TÊMU), ‘semo-GA bertê-MU’ lagi, pinggir kemben yang dirias (KÊMADHA), lantas ‘pa-DHA (sama)’ kemana semua? Kayu yang dibuat seperti wujud manusia (GOLEKAN), apa mau ‘GOLEK (mencari)’ Guru terkenal? Cairan manis diatas pohon (MADU), hendak ‘di-ADU’ dengan aku, cangkulnya rambut (alat CUKUR) malah ‘syu-KUR’ jika memang begitu.

72.Jangkrik gung wismeng kêbonan (gangsir), manira ora ‘guming-sir’, bêbasan putrane menda (cêmpe), ‘sakarê-pe’ sun-ladeni, jamang wakul (wêngku) upami, angajak apa ‘sire-ku’, duh lae putêr wisma (dara), nganggo ‘si-ra’ mêjanani, kênthang rambat (katela) sanajan rupaku ‘a-la’.

Jangkrik bertubuh besar berumah dikebun (binatang GANGSIR), diriku tidak akan ‘guming-SIR (mundur)’, anak kambing (CÊMPE), ‘sakare-PE (semaunya)’ aku layani, mahkota tempat nasi (WÊNGKU), mau mengajak apa ‘sire-KU (dirimu)’, burung Puter yang suka dipelihara (burung merpati atau DARA), sehingga ‘si-RA (kamu)’ menghinaku, buah kentang yang merambat (KÊTELA) walaupun wajahku ‘a-LA (jelek)’.

73.Mênyawak kang sabeng toya (slira), ‘praka-ra’ mung bantah ilmi, wulu bauning kukila (êlar), kabeh ‘na-lar’ sun tan wêdi, sayêkti pintêr mami, tinimbang lan sira guru, kaca tumraping netra (têsmak), ora ‘ja-mak’ mejanani, mulwa rêngka (srikaya) yen sira luru ‘sara-ya’.

Biawak yang suka di-air (binatang SLIRA), ‘perka-RA’ tentang berdebat ilmu, bulu punggungnya burung (ÊLAR), segala ‘na-LAR’ (pengetahuan) aku tidak takut, pasti lebih pintar aku, daripada kalian para guru, kaca untuk mata (kaca mata atau TÊSMAK), ‘ora ja-MAK (tidak lumrah, sudah melampaui batas)’ penghinaan kalian, buah nangka yang gampang terbelah (buah SRIKAYA), jika kalian mencari ‘sara-YA (cara)’.

74.Kêmadhuh rujit godhongnya (rawe), aywa suwe sun-anteni, guru ngêndi srayanira, najan jamhur luwih wasis, ingsun wani nandhingi, angayoni bantah kawruh, masa ingsun mundura, yeku karsane Hyang Widdhi, raganingsun yêktine darma kewala.

Daun kemadhuh bergerigi (RAWE), jangan ‘su-WE (lama)’ aku nantikan, guru mana yang kamu andalkan, walaupun tersohor dan pintar, aku berani menandingi, melayani berbantah ilmu, tidak akan aku mundur, karena ini semua kehendak Hyang Widdhi, diriku hanya sekedar menjalani.

75.Gatholoco sukeng driya, rêrêpen alon lumaris, miling-miling mung priyangga, dumugi patopan mampir, manjing mring bambon linggih, ngambil klelet kang kinandhut, saglindhing dipun untal, ngrasuk badan anyêgêri, kraos gatêl astane ngukur sarira

Gatholoco suka dihati, berdendang sembari berjalan pelan, hanya sendirian saja, sampai disebuah tempat lantas mampir, masuk kedalam tempat madat dan duduk, mengambil candu yang di bawa, segelintir langsung dimakan, merasuk badan menyegarkan, terasa gatal tangannya menggaruk tubuh.

PUPUH IV
———-
Pangkur

(Kumpulan syair IV, Lagu ber-irama Pangkur)

1. Kacarita ing Cêpêkan, pondhok agêng panggenan santri ngaji, punika sampun misuwur, kawêntar manca praja, wontên Kyai pinunjul jumênêng Guru, alim jamhur tanpa sama, kang nama Kasan Bêsari.

Diceritakan di Cêpêkan, pondok (pesantren) besar tempat para santri belajar mengaji, sudah terkenal, tersohor keluar daerah, terdapat seorang Kyai berkedudukan sebagai Guru, sangat alim tersohor tiada tandingan, yang bernama Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

2. Kajuwara yen ulama, mila unggul ginuron para santri, muridipun tigang atus, ing wanci bakda isak, wus salat neng langgar ngaji sadarum, Kyai Guru arsa mulang, kitab Pêkih miwah Tapsir.

Unggul diantara para ulama, maka banyak didatangi para santri, muridnya berjumlah tiga ratus orang, dikala bakda isya’, selesai bersembahyang di-Langgar (Musholla), Kyai Guru hendak mengajar, kitab Pêkih (Fiqih) dan Tapsir (Tafsir Al-Qur’an).

3. Undha usuk warna-warna, wontên santri ingkang lagya niteni, makna lapal Kuran-ipun, ngasil-ingasil ika, samya taken-tinaken mring kancanipun, wontên ingkang sampun paham, ngapalakên kitab Sitin.

Tingkah para santri bermacam-macam, ada yang tengah serius memperhatikan, makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), apa yang dapat mereka pahami, beberapa orang tengah saling tanya dengan temannya, ada yang sudah paham (ada yang belum), lantas menghafalkan Kitab Sittin.

4. Tanapi sagunging kitab, sasênênge santri sawiji-wiji, santri ingkang sampun putus, ing makna lapal Kuran, mêncil mêncul madoni mring Kyai Guru, maknanira lapal Kuran, angambil sagunging misil.

Serta beberapa Kitab lagi, sesuai keinginan para santri sendiri-sendiri, santri yang sudah berhasil, menghafal makna lapal Kuran (lafadz Al-Qur’an), segera mencoba mendebat Kyai Guru, untuk semakin memahami maknanya, mencari arti yang sesungguhnya.

5. Ingkang sampun kinawuhan, kang sawêneh ana santri pradondi, ing lapal makna puniku, udrêg paben grêjêgan, santri kalih mara mêrak marang Guru, gya kasaru tamu prapta, Abdul Jabar Ahmad Ngarip.

Makna yang bisa mereka tangkap, ada juga beberapa santri yang tengah bertengkar, mengenai sedikit makna yang berhasil mereka mengerti, bertengkar rame saling ngotot, dua orang santri mendekat kehadapan (Sang) Guru, berbarengan dengan kedatangan para tamu, Abdul Jabar Ahmad Ngarip (‘Arif).

6. Miwah Kyai Abdul Manap, sabat nênêm datan pisah tut wuri, sinauran salamipun, kang ngaji tutub kitab, tamu wau nulya minggah nglanggar gupuh, apan samya sêsalaman, jawat tangan gênti-gênti.

Berikut Kyai Abdul Manap (Manaf), enam sahabat terlihat mengikut dibelakang, telah dijawab salam yang mereka ucapkan, seluruh yang tengah mengaji segera menutup kitab (masing-masing), para tamu naik keatas Langggar (Musholla) segera, sebentar kemudian saling bersalaman, mempertemukan tangan dengan tangan berganti-gantian.

7. Sawustru sêsalaman, sampun warata sadaya para santri, munggeng langgar tata lungguh, Kasan Bêsari mojar, Dene gati kados wontên karsanipun, pukul pintên mangkatira, saking pondhok Rêjasari.

Setelah bersalaman, merata kepada seluruh santri, masing-masing para tamu segera bersila, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Sepertinya ada hal yang sangat penting, pukul berapa tadi berangkat, dari pondhok (pesantren) Rêjasari?

8. Angling Kyai Abdul Jabar, Bakda subuh mangkat wanci byar enjing, milahipun ngantos dalu, kêdangon wontên marga, mandhêg bantah kawon mêngsah tiyang kupur, Gatholoco namanira, dhapure mbotên mêjaji.

Menjawab Kyai Abdul Jabar, Selepas Subuh tepat pagi menjelang (kami) berangkat, tiba disini hingga malam, (sebab) terlalu lama, berhenti dijalan berbantahan ilmu dengan manusia Kupur (Kufur) dan (kami) kalah, Gatholoco namanya, orangnya sangat jelek.

9. Punika setan katingal, anak Bêlis ambêgta wadhung linggis, pan kinarya ngrusak ngrêmuk, ing sarak Rasulullah , ingkang lêrês dipun wadhung lêmah putung, yen pokah rêbah binubrah, agami den obrak-abrik.

Orang ini adalah Setan yang mewujud, anak Iblis yang tengah membawa pedang dan linggis, yang hendak dipergunakan untuk merusak dan meremukkan, syari’at Rasulullah, yang sudah lurus hendak ditebas dengan pedang, yang sudah benar hendak dirusak, agama diobrak-abrik!

10. Sadaya sarak tinêrak, morak-marik sirik den orak-arik, amung nekad gasruh rusuh, jinawab mung sakêcap, gulagêpan kula tan bangkit sumaur, sagung karam rinampasan, ambubrah sarak lan sirik.

Seluruh syari’at (peraturan) diterjang, kacau balau larangan dijungkir-balikkan, niatnya memang hendak membikin rusuh, satu ucapan dari mulutnya, membikin hamba gelagepan tak bisa menjawab, segala yang haram dipakainya, membuat bubrah syari’at (peraturan) dan larangannya!

11. Wungkul akal mokal nakal, sangêt ngrengkel ngungkil nyrekal mêthakil, sakeh kawruh kabarubuh, sagung pasal kasingsal, dalil-dalil katail ing misilipun, kula mapan mung kasoran, kula nyingkring botên mlangkring.

Sangat pintar dan cerdik, sangat alot tajam (kritis) seenaknya dan semaunya, seluruh ilmu kami tertindih (oleh ilmu)nya, seluruh jawaban (kami) tiada berguna, dalil-dalil (kami) mentah maknanya (dihadapan dia), kami semua menerima kalah, kami kejarpun tak mampu kami memegang (ilmu)nya.

12. Panggah bantah mêksa kalah, boten bêtah isin den iwi-iwi, sakeh padu dipun buru, sakeh jawab tan mênang, salin pisuh botên pasah saya rusuh, malah munggah ngarah sirah, lir maling nêja anjiling.

Memaksakan terus berdebat tetap juga kami kalah, (kami) tak bisa menahan malu manakala dicemooh, segala debat mampu dijawabnya, segala bantahan kami tiada menang, hingga kami maki-pun tetap saja kami kalah, malahan semakin lancang menginjak kepala, bagai maling yang kurang ajar (kepada pemilik barang yang dimalinginya).

13. Kula tansah kaungkulan, pijêr kojur botên sagêd ngungkuli, kula suwun mring Hyang Agung, salami-kula gêsang, sampun ngantos kêpranggul tiyang kayeku, yen kapêthuk kula nyimpang, jejera kula sumingkir.

Kami selalu diunggulinya, senantiasa kalah tak dapat mengungguli, kami meminta kepada Hyang Agung (Tuhan), semoga selama hidup, jangan sampai bertemu lagi dengan manusia seperti itu, apabila berpapasan kami akan menghindar, jika bersebelahan kami akan menyingkir!

14. Manah kula sampun jinja, krana saking kapok den iwi-iwi, Kasan Bêsari duk ngrungu, mring nalar kang mangkana, sanalika dennya ngontor asru bêndu, jaja bang mawinga-winga, muring-muring waja gathik.

Hati kami sudah enggan, sebab kapok terus dicemooh, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) manakala mendengarnya, akan kelakuan manusia semacam itu, seketika murka, dada bergemuruh wajah memerah, marah-marah gigi bergemeletukan!

15. Netra andik angatirah, Kyai Kasan Bêsari ngucap bêngis, Patut kang kaya dhapurmu, santri remeh kewala, bênêr sira mantholos êndhasmu gundhul, buntu buntêt tanpa nalar, mung jakat kang sira-incih.

Mata melotot tajam, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata kasar, Pantas jika seperti kalian (kalah), para santri bodoh, memang benar kepala kalian pelontos gundhul, tapi otak kalian buntu tanpa kepintaran, hanya Jakat (Zakat Fitrah) semata yang kalian ketahui!

16. Durung patut ginuronan, guru bodho kawruhmu mung sanyari, ora liya kabisanmu, marani anggêr wisma, kang ginawa kasang wadhah karag sêkul, bisane Ndonga Kabula, ngaji kulhu lamyakunil.

Belum pantas digurui (oleh para murid), guru bodoh ilmumu hanya sejengkal jari, tiada lain yang kalian bisa, keluar masuk rumah, sembari membawa bakul nasi (maksudnya untuk memimpin acara tahlilan atau selamatan saja dan pulang-pulang membawa makanan dari acara tersebut), bisanya hanya membaca Doa Kabula (Do’a Qabul : Do’a agar niat tuan rumah yang mengadakan acara tahlilan atau selamatan terlaksana), hanya bisa membaca Kulhu lamyakunil (Kulhu Allahu Ahad, Allahu Shomad…dst. Maksudnya, doa yang umum diketahui semua orang!)

17. Ora padha kaya ingwang, marma gun-DHUL kasun-DHUL ing agami, mila pu-TIH surbaningsun, ti-TIH te-TEH micara, kalah iki mêsti ngambil saking biku, mila kêthu taranca-NGAN, panja-LIN ingkang kinardi.

Tidak seperti aku, ‘gun-DUL’ kepalaku karena ‘sun-DHUL’ (menggapai langit) ilmu agamaku! ‘Pu-TIH’ sorbanku, karena mulutku ‘ti-TIH te-THE’ (jelas dan lugas) menyampaikan ilmu, memakai kethu (kopiah/songkok model kuno) berbentuk ‘têranca-NGAN’ (bersusun indah) terbuat dari jalinan ‘pênja-LIN’
.
18. Keri-NGAN santri ulama, ora kewran kawruhku saLIN-saLIN, nrawang putus ngisor dhuwur, mila klambi kêba-YAK, bisa mi-YAK marang kawruh agal alus, sabuk poleng MANCA WARNA, kawruh ingsun WARNI-WARNI.

(Karena aku) ‘Keri-NGAN’ (Terkenal) diantara para santri dan ulama, bahkan tidak hanya itu ilmuku bisa ‘sa-LIN sa-LIN’ (Berganti-ganti karena saking banyaknya ilmu), jelas dan terang mulai hal yang rendah hingga yang tinggi, aku memakai busana ‘kêba-YAK’ (kebayak model untuk pakaian santri), karena aku bisa ‘mi-YAK’ (membuka) rahasia ilmu yang kasar dan ilmu yang halus (maksudnya dari ilmu yang tergampang hingga ilmu yang tersulit), berikat pinggang model Poleng (berbelang-belang) ‘BERANEKA WARNA’, karena ilmu-ku pun ‘ber-WARNA-WARNI’

19. Ilmu Jawa Landa Cina, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, kabeh iku wus kacakup, sun-simpên aneng kasang, kawruh Arab awit timur nganti lamur, kawruh Jawa tan kuciwa, dhasar ingsun bangsa Jawi.

Ilmu Jawa Belanda China, Turki Koja Hindhu Bênggala Kêling, semua sudah aku kuasai, aku simpan dalam penyimpanan yang rapi, ilmu Arab aku kuasai semenjak muda hingga mataku mulai kabur, ilmu Jawa-pun tak mengecewakan, karena dasarnya aku memang orang Jawa!

20. Mila bêbêd sarung amba, omber jêmbar ngungkuli ingkang dakik, kabeh ilmu ingsun wêruh, nganggo tês-BEH sanyata, ka-BEH kawruh ingkang luwih saking alus, ora nana bisa mada, amadani marang mami.

Makanya aku memakai sarung yang lebar, karena ilmuku lebar dan luas melebihi semua orang yang ahli ilmu, segala ilmu aku ketahui, akupun memegang ‘tas-BEH’ (tasbih), karena ‘ka-BEH’ (semua) ilmu yang terhalus sekalipun (aku kuasai), tak ada yang bisa menghina, mencemooh kepada diriku.

21. Mulane nganggo gam-PARAN, sa-PARAN-ku angungkuli sasami, mulane CIS têkêningsun, kumê-CIS nora cidra, anêrawang jaba jero ngisor dhuwur, upamane ingsun kalah, mungsuh janma tanpa budi.

Oleh karenanya pula aku memakai ‘gam-PARAN’ (terompah), (karena) ‘sa-PARAN-ku’ (dimanapun diriku) akan melebihi sesama, oleh karenanya ‘CIS’ (tongkat) tongkatku (Cis itu padanan kata Tongkat), ‘kumê-CIS’ (berani) tak akan mundur, ku ketahui segala hal mulai bagian luar dalam bawah hingga atas, seumpama aku sampai kalah, melawan manusia tanpa Budi (Buddhi ; Kesadaran).

22. Sayêktine ingsun wirang, golekana saiki ana ngêndi, si Gatholoco wong kumprung, ingsun arsa uninga, mring warnane janma ingkang kurang urus, Ahmad Ngarip ujarira, Duk wau sapungkur mami.

Aku akan sangat-sangat malu, carilah sekarang dimana, si Gatholoco manusia tidak tahu aturan itu, aku ingin melihat, (bagaimana) wujud manusia yang kurang ajar tersebut, Ahmad Ngarip (‘Arif) menjawab, Sepeninggal kami tadi.

23. Tut wingking lampah kawula, kintên-kintên dalu punika ugi, nyipêng wontên kitha Pungkur, Kasan Bêsari ngucap, Lamun mrene sun jewere kupingipun, mungsuh janma ngrusak sarak, kalah lambene sun juwing.

Sepertinya berjalan mengikuti langkah kami, kira-kira malam ini juga, tengah bermalam di kota Pungkur, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Jika ada disini akan aku jewer telinganya! Berdebat dengan manusia perusak syari’at seperti dia, jika nanti sampai dia kalah akan aku cincang mulutnya!

24. Sun karya pangewan-ewan, Duk samana dupi sampun byar enjing, wanci bakda salat subuh, prentah mring santri tiga, Golekana Gatholoco den katêmu, têkakna mring ngarsaningwang, Santri tiga gya lumaris.

Benar-benar aku berjanji, Bersamaan dengan datangnya pagi, seusai shalat subuh, (Kyai Hassan Bashori) memberikan perintah kepada ketiga santri, Carilah Gatholoco hingga ketemu, bawa kehadapanku, Ketiga santri segera berangkat.

25. Datan winarna ing marga, santri tiga lampahnya sampun prapti, ing pacandhon kutha Pungkur, nulya manjing ngêpakan, santri tiga pramana samya andulu, ing pacandhon wonten janma, êndhek cilik bokong canthik.

Tidak diceritakan dalam perjalanan, ketiga santri akhirnya sampai, ditempat madat kota Pungkur, langsung masuk ke-tempat madat tersebut, ketiga santri awas melihat-lihat, didalam tempat madat terdapat manusia, (berpostur) pendek pantat tepos.

26. Tinakenan namanira, gya sumaur Yen sira takon mami, Gatholoco araningsun, santri tiga tuturnya, Katimbalan sireku mring ngarsanipun, Guruning santri Cêpêkan, Kiyai Kasan Bêsari.

Manakala ditanya siapa namanya, segera dijawab Jika kalian bertanya siapa namaku, Gatholoco namaku, Ketiga santri berujar, Kamu dipanggil untuk menghadap, Guru para santri di (pondok pesantren) Cêpêkan, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

27. Kinen sareng lampah kula, Gatholoco maleleng ngiwi-iwi, gela-gelo manggut-manggut, nanging kendêl kewala, cangkêmipun macucu boten sumaur, nulya nêmbang ura-ura, larase mung anggêr muni.

Menghadap bersama dengan kami sekarang, Gatholoco acuh sembari mencibir, mempermainkan kepala manggut-manggut, akan tetapi tak bersuara, mulutnya dimonyongkan tak ada jawaban, lantas menyanyikan tembang, iramanya asal bunyi.

28. Piyik anak manuk Dara, Pêdhet iku jarene anak sapi, Cêmpe cilik anak Wêdhus, Gudel anak Maesa, Kirik cilik iku jare anak Asu, Belo kêpêl anak jaran, Gênjik cilik anak Babi.

Anak burung Dara (Merpati) namanya Piyik, anak Sapi namanya Pêdhet, anak Wêdhus (Kambing) namanya Cêmpe, anak Maesa (Kerbau) namanya Gudel, anak Asu (Anjing) namanya Kirik, anak Jaran (Kuda) namanya Bêlo, anak Babi namanya Gênjik.

29. Sêkar Pucang jare Mayang, sêkar Mlathi jarene sêkar Mlathi, kêmbang Gêdhang jare Jantung, yen kêmbang Klapa Manggar, dhuh lae dhuh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sruni kêmbang Sruni.

Kêmbang pohon Pucang namanya Mayang, kêmbang pohon Melathi katanya kêmbang Melathi, kêmbang Gêdhang (Pisang) namanya Jantung, kalau kêmbang Klapa (Kelapa) namanya Manggar, aduh aduh kêmbang Mênur kêmbang Mênur, kêmbang Pacar kêmbang Pacar, kêmbang Sêruni kêmbang Sêruni.

30. Santri murid kang dinuta, samya eram sadaya tyasnya gêli, kapingkêl-pingkêl gumuyu, wacana jroning driya, apa baya pancen duwe lara gêmblung, dene pijêr ura-ura, bêcik kudu diasori.

Para murid santri yang diutus, keheranan melihat tingkah Gatholoco dan geli, terpingkal-pingkal ketawa, membatin dalam hati, apa memang memiliki sakit gila, ditanya kok malah bernyanyi tidak karuan nadanya, lebih baik diambil hatinya agar menurut.

31. Murid tiga angrêrêpa, sanjang malih sarana ngarih-arih, ingarah mung murih purun, Mangga tumuntên mangkat, mring Cêpêkan manggihana Kyai Guru, manawi den arsa-arsa, kedangon kula ngêntosi.

Ketiga murid memohon, kembali meminta dengan mengharap-harap, agar supaya bersedia, Mohon bersedia menghadap, ke (pondok pesantren) Cêpêkan bertemu Kyai Guru, siapa tahu sudah ditungggu-tunggu, kami kelamaan menanti jawaban (anda).

32. Gatholoco klewa-klewa, sarwi ngucap Apa sira tan uning, ingsun iki lagya ewuh, lan bangêt kêtagihan, lamun sira paripaksa ngundang mring sun, kêthumu bae sun-sêlang, prêlu kanggo gadhen dhingin.

Acuh tak acuh Gatholoco, sembari berkata Apa kalian tak melihat, aku ini sedang kebingungan, dan sangat ketagihan, apabila kalian memaksa aku, kêthu (kopiah) kalian saja aku pinjam, perlunya untuk aku gadaikan.

33. Candu rong timbang kewala, nanging jangji sira têbus pribadi, mêngko yen wus mêndêm ingsun, tumuli mangkat mrana, lamun sira ora lila kêthu iku, ingsun wêgah lunga-lunga, moh nêmoni Kyai Kaji.

Aku tukarkan candu sebanyak dua timbangan saja, akan tetapi harus berjanji kalian yang menebus sendiri nanti, jika aku sudah mabuk, baru berangkat kesana, apabila kalian tidak rela meminjamkan kêthu (kopiah) kalian, aku tidak sudi pergi, menemui Kyai Kaji (Kyai Haji).

34. Santri tiga duk miyarsa, rêrêmbugan lawan rowange sami, lamun ora sinung kêthu, sayêkti tan lumampah, ora wurung Kyai Guru mêngko bêndu, upama ingsun wenehna, luwih bêcik den turuti.

Mendengar hal itu maka ketiga santri, saling berembug, apabila tidak diberikan kêthu, pasti tak mau beranjak pergi, ujung-ujungnya nanti Kyai Guru akan marah, lebih baik di berikan dan lebih baik dituruti.

35. Santri duta kang satunggal, amangsuli mangkana dennya angling, wus têtela nalar kojur, iku padha kewala, kêthu mami uga anyar oleh tuku, lawase satêngah wulan, rêgane srupiyah putih.

Salah seorang santri, menjawab beginilah katanya, Sudah terlanjur memang nasib kita, semua sama saja, kêthu-ku juga masih baru beli, setengah bulan yang lalu, harganya satu rupiah perak.

36. Kang satunggal tumut ngucap, ora beda anyare kêthu mami, lagi nganggo patang taun, mangka utang pitung wang, bayar nicil setheng setheng sabên esuk, sun-lowongi durung êsah, isih kurang limang kêthip.

Yang seorang berkata, Sama juga milikku juga masih baru, ku pakai empat tahun, padahal aku berhutang 7 Wang, menyicil 1 Setheng tiap pagi, belum juga lunas. Masih kurang 5 Kêthip. (Nilai 12 Wang sama dengan 1 Rupiah. Nilai 1 Setheng sama dengan 1/2Sen. Nilai 1 Kêthip sama dengan 5 Sen, sedangkan nilai 1 Sen sama dengan Seperseratus rupiah.)

37. Najan camah awakingwang, waton oleh alême guru mami, santri tiga samya muwus, niki kêthu kawula, tampenana Gus Nganten sampeyan pundhut, gadhekna kula sumangga, sakmana dipun tampeni.

Walau harus rugi, asal dapat pujian Guru, Ketiga santri lantas sepakat, Ini kêthu kami, terimalah manusia bagus, silakan digadaikan, Segeralah diterima.

38. Wusnya kêthu tinampenan, santri duta malah den iwi-iwi, ngisin-isin sarwi muwus, Sireku ngêntenana, kêthu tiga dipun gantosakên candu, rong timbang cinukit ngingkrang, sinêrêt bantalan dingklik.

Setelah kêthu diterima, para santri utusan malah diejek, diperpermalukan sembari berkata, Kalian semua tunggulah. Tiga kethu ditukar candu, sebanyak dua timbangan segera diungkit, lantas dihisap (oleh Gatholoco) sembari berbantalkan kursi kecil.

39. Wus tuwuk panyêrêtira, bêdudane nulya dipun sangkêlit, Gatholoco gya lumaku, den iring santri tiga, sadangune lumampah urut dalanggung, ngupaya sênênging driya, rêrêpen sinawung gêndhing.

Setelah puas menghisap (candu), pipa pun lantas ditaruh dipinggang, Gatholoco segera berjalan diiringi ketiga santri, sepanjang jalan, mencari senangnya hati, dengan bernyanyi dan menembang.

40. Bismillah sun-ura-ura, sun-wangsalan Pêtis apyun (CANDU) upami, ana kêthu dadi CANDU, candu dadi gêlêngan, Patek tungkak (BUBUL) gêlêngane dadi kê-BUL, kêbule mrasuk mring badan, sumrambah dadi nyêgêri.

Bismillah aku hendak bernyanyi, bersyair ‘wangsalan’ (kata-kata yang vocal-nya berupa sandi) ‘Pêtis apyun’ (CANDU) seumpama, ada kêthu (kopiah) menjadi ‘CANDU’, candu menjadi gelintiran, ‘Patek (penyakit kulit) di telapak kaki’ (BUBUL) gelintiran menjadi ‘ke-BUL’ (Asap), asapnya merasuk badan, menyebar membuat segar.

41. Jênang sobrah (AGÊR-AGÊR) Ancur kaca (RASA), Balung tipis munggeng pucuk dariji (KUKU), sê-GÊR dadi ro-SA mla-KU, nanging ingkang kelangan, paribasan Sabêt kuda (CÊMÊTHI) mês-THI gêtun, aranira Tirta maya (WISUHAN), mi-SUH-mi-SUH jroning batin.

‘Bubur sobrah’ (AGER-AGER) ‘Ancur (bubuk) dari pecahan kaca’ (RASA), ‘Tulang kecil berada diujung jemari’ (KUKU) ‘se-GER’ (Segar) jadi ‘ro-SA’ (Kuat) ‘luma-KU’ (berjalan), akan tetapi yang kehilangan, bagaikan ‘Alat pemukul untuk kuda’ (CEMETHI) ‘mes-THI’ (Pasti) merasa sayang, disebut ‘Air berwarna’ (WISUHAN/AIR PEMBASUH), ‘mi-SUH mi-SUH’ (Memaki-maki) didalam hati.

42. Dhuh bakul Sotya kêncana (PARA), Sela ingkang kinarya ngasah lading (WUNGKAL), mani-RA bakal katêmu Guru santri Cêpêkan, Paksi alit kang dadya sasmiteng tamu (PRÊNJAK), Pêthel panjang tanpa sangkal (TATAH), nêja nga-JAK ban-TAH ilmi.

Wahai ‘Penjual perhiasan’ (PARA), ‘Batu yang dipakai untuk menajamkan besi’ (UNGKAL). ‘mani-RA’ (Aku) ‘ba-KAL’ (Hendak) bertemu dengan Guru para santri di Cêpêkan, ‘Burung mungil yang sering dipakai pertanda jika hendak ada tamu datang’ (burung PRÊNJAK), ‘Palu panjang’ (TATAH), hendak ‘menga-JAK’ ‘ban-TAH’ ilmu.

43. Kadhal gung wismeng bangawan (BAJUL), Jambu ingkang isi lir mirah edi (DLIMA), sanajan guru pinun-JUL, alim jamhur ula-MA, Wadhung pari (ANI-ANI) ingsun uga wa-NI mungsuh, mrica kêcut dedompolan (WUNI), sagêndhinge sun lade-NI.

‘Kadal bertubuh besar yang tinggal disungai’ (BAJUL/Buaya), ‘Buah jambu yang bijinya bagai batu mirah’ (DLIMA/Delima), walaupun Guru ‘pinun-JUL’ (Terkenal), alim pandai dan berstatus ‘ula-MA’, ‘Cangkul padi’ (ANI-ANI) aku tetap ‘wa-NI’(Berani), ‘Merica bergerombol yang rasanya kecut’ (WUNI), apa yang diminta akan aku ‘lade-NI’ (Layani).

44. Dumugi pondhok Cêpêkan, kacarita ing pondhok para santri, miwah sagung para guru, mulat kang lagya prapta, maksih wontên plataran ngandhap wit jêruk, Kyai Abdul Jabar ngucap, mring Kyai Kasan Bêsari.

Sesampainya di pondok (pesantren) Cêpêkan, tampaklah para santri, berikut para guru, melihat siapa yang baru datang, masih berada di pelataran tepat dibawah pohon jeruk, Kyai Abdul Jabar berkata, kepada Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori).

45. Tiyang makaten punika, najis mêkruh tan pantês minggah mriki, Kasan Bêsari sumaur, najan mêkruh najisa, nanging iku têkane saking karêpmu, bêcik kinen munggah langgar, dimene tumuli linggih.

Manusia seperti itu, najis tak pantas naik ke (atas musholla) ini, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Walaupun najis, akan tetapi yang menyebabkan dia hadir disini juga kamu, lebih baik suruh naik ke Langgar (Musholla), agar supaya bisa duduk.

46. Rêgêd ora dadi ngapa, yen wus lunga tilase disirami, Kasan Bêsari gya dhawuh, Uwong ala lungguha, kono bae ing jrambah lor wetan iku, Gatholoco sigra minggah, marang langgar mapan linggih.

Kotor-pun tak menjadi masalah, manakala sudah pergi nanti bekas dimana dia duduk disiram dengan air, (Kyai)Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Manusia jelek duduklah, disitu saja diteras (mushola) sebelah timur laut, Gatholoco segera naik, ke atas Langgar (Musholla) dan duduk.

47. Sendheyan prênah lor wetan, bêdudane maksih dipun sangkêlit, nulya nitik karya latu, ngakêp rokok têgêsan, têgêsane sadriji kêbule mabul, mratani sajroning langgar, ambêtipun sêngak sangit.

Duduk disebelah timur laut dan bersandar, pipa masih di selipkan dipinggang, lantas menyalakan api, rokok candu disulut, rokok candu sebesar jemari tangan asapnya menyebar, merata memenuhi Langgar (Musholla), baunya sêngak (tidak enak) sangit (bau barang terbakar).

48. Para santri tutup grana, wontên ingkang ngalih denira linggih, Kasan Bêsari amuwus, Sira jênêngmu sapa, wangsulane Gatholoco araningsun, Kasan Bêsari têtanya, Apa kang sira-sangkêlit.

Seluruh santri menutup hidung, bahkan ada yang pindah tempat duduk (menjauh), (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) bertanya, Siapa namamu? Menjawab yang ditanya Gatholoco namaku, (Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) kembali bertanya, Apa yang kamu selipkan dipinggang (itu)?

49. Sumaur iki watangan, watangane cipta pikir kang êning, ana dene pêntholipun, iki arane cupak, prêlu kanggo mapak kawruh ingkang luput, obate candu lan bakal, ron awar-awar kinardi.

Menjawab (Gatholoco) Ini lambang dari batang, batang kesadaran yang jernih, sedangkan bulatannya, namanya CUPAK, lambang dari pucuk kesadaran yang berguna untuk MAPAK (MEMOTONG) kesadaran yang salah (rendah), ramuan yang terdiri dari candu dan, calon daun awar-awar (daun awar-awar sangat gatal).

50. Dadi arang ingkang tawar, yen kacampuh obat kalawan mimis, ora wurung kêna bêndu, mimis glintiran madat, yen wus awas patitise damar murub, lesane pucuking ilat, sênthile napas kang lungid.

Jarang manusia yang tawar, menikmati candu yang sudah dibuat bagai mimis (mimis adalah peluru kuno, berwujud bulatan. Candu yang sudah dibuat bagai mimis maksudnya dibentuk bulatan siap untuk dinikmat), jika tidak kuat hidup bagai terkena kutuk (disudutkan dan dihakimi oleh manusia-manusia yang rendah kesadarannya), jika sudah dinikmati akan awas kesadaran ini kepada Damar Murub (Pelita Yang Menyala, maksudnya Cahaya Kebenaran Sejati), lesannya puncak lidah (ini bahasa simbolik, maksudnya suara yang sejati untuk mencari Tuhan adalah puncak Rasa. Lidah symbol Rasa. Puncak Lidah berarti Puncak Rasa. Suara sejati dari puncak rasa untuk mencari Tuhan berarti suara yang tak terbahasakan, melampaui segala suara, melampaui segala bahasa. Itulah suara Ruh), yang menggetarkan (suara tersebut) adalah Nafas Yang Misterius (Maksudnya Dia Yang Hidup Tanpa Nafas, Brahman, Sumber Semesta).

51. Cêthute aran Dzatullah, rasa awor ngumpul dadi sawiji, manjing marang cêthutipun, rumasuk jroning badan, sumarambah kulit daging balung sungsum, tyasingsun padhang nêrawang, ora kewran kabeh pikir.

Tempat hisapnya lambang Dzatullah (Dzat Allah, Inti Allah), (Puncak) Rasa bercampur dan menyatu menjadi satu, manunggal kedalam Tempat hisap (Dzatullah), menjadi satu kesatuan dalam satu badan, menyatu pada kulit daging tulang dan sumsum, Kesadaran-pun terang benerang, tak ada lagi illusi.

Pada (Syair) 49-51, maksudnya adalah sebagai berikut : Pipa hisap yang dibawa Gatholoco adalah lambang Kesadaran (Buddhi), hiasan bulatan pada batang pipa adalah lambng Awasnya Kesadaran untuk memilah mana yang patut dipakai demi peningkatan Kesadaran itu sendiri atau tidak (Wiweka), Candu yang dicampur bakal daun Awar-Awar, lambang begitu memabukkannya spiritualitas itu bila seorang manusia telah menyelaminya. Tapi jarang yang sanggup bertahan, karena spiritualitas menuntut keteguhan dan kekuatan yang luar biasa. Godaan dari dalam diri maupun penghakiman dari manusia lain, sangat sukar untuk dilampaui. Namun jika telah merasakan mabuk spiritual, maka kecenderungan Kesadaran akan terus lekat pada Damar Murub atau Cahaya Kebenaran Sejati.

Kompas spiritualitas, bukan teks-teks kitab suci, tapi LESANE PUCUKING ILAT. LESAN berguna untuk mengeluarkan suara, PUCUKING ILAT (PUNCAK LIDAH) adalah symbol Puncak Rasa. Puncak Rasa adalah ATMA/RUH.

SUARA DARI PUNCAK RASA berarti SUARA RUH. Inilah Radar sejati penuntun kita dijalan spiritualitas. Karena SENTHILE NAPAS KANG LUNGID (Yang menggetarkan suara itu adalah NAPAS YANG MAHA GAIB). Jelas sudah, yang membuat SUARA RUH itu tak lain adalah DIA YANG HIDUP TANPA NAFAS atau BRAHMAN itu sendiri.

Pangkal pipa ditempat penghisapan adalah lambing Dzatullah (Dzat Allah, Inti Brahman), Puncak Rasa (Ruh/Atma) apabila telah menyatu dengan Pangkal pipa (Brahman), maka menyatulah dalam satu kesatuan Wujud.

Disaat itulah semua illusi akan lenyap dan KESADARAN TOTAL PARIPURNA telah kita capai lagi.

52. Kasan Bêsari ngandika, Sira wani mapaki kawruh mami, nganggo sira wani nglêbur, mring sarak Rasulullah, apa sira nampik urip dhêmên lampus, ora wêdi manjing nraka, ora melik munggah swargi.

(Kyai) Kasan Besari (Hassan Bashori) berkata, Kamu bernai menantang ilmuku, dengan mencoba melebur, segala syari’at Rasulullah, apa kamu menolak hidup dan pilih mati? Tidak takutkah kamu masuk neraka? Tidak inginkah kamu naik surga?

53. Gatholoco alon ngucap, Kaya apa bisane nampik milih, wus pinêsthi mring Hyang Agung, sakehing kasusahan, iku dadi duweke marang wong lampus, dene sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.

Gatholoco pelan menjawab, Bagaimana bisa aku mau menolak (kehidupan)? Sudah menjadi kehendak Hyang Agung, (ketahuilah sesungguhnya apa yang dimaksud hidup dan mati itu), segala ‘kesedihan dan kesusahan’ (lahir berulang-ulang didunia) itulah yang disebut ‘kematian’, sedangkan segala ‘kemuliaan’ (lepas dari rantai kelahiran dan kematian), itulah yang disebut ‘kehidupan’.

54. Yen wong urip iku susah, mêtu saking takdirira pribadi, ingkang gawe susah iku, dene Kang Maha Mulya, sipat murah puniku kagunganipun, nanging kabeh sipat samar, ora keno tinon lair.

Pun sesungguhnya jika manusia yang hidup didunia ini terus dilanda kesusahan, sesungguhnya itu juga karena hasil perbuatan pribadinya sendiri (karmaphala), itulah yang membuat kesedihan, sedangkan Yang Maha Mulia, sifat KASIH itulah sifat-Nya, akan tetapi semua tersamarkan, tak bisa dilihat oleh mata lahir. (Maksudnya ‘mata lahir’ adalah tak bisa disadari oleh mereka yang ‘mata’ kesadarannya belum melek, belum terbuka!)

55. Sira ingkang tanpa nalar, endah-endah ingkang sira rasani, suwarga naraka iku, mangka katon wus cêtha, sapa-sapa ingkang mulya uripipun, iku ingkang manjing swarga, sapa mlarat manjing gêni.

Dirimu yang tak punya nalar, muluk-muluk yang kamu bicarakan, Surga dan Neraka itu, sesungguhnya telah terlihat nyata, siapa saja yang mulia hidupnya didunia ini, dialah yang masuk Surga, siapa yang melarat dialah yang masuk api.

56. Ya iku manjing naraka, Kyai Kasan Bêsari amangsuli, Suwarga naraka iku, besuk aneng akerat, Gatholoco sumaur sarwi gumuyu, Lamun besuk ora nana, anane namung saiki.

Yaitu masuk (api) Neraka, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Surga dan Neraka itu, (adanya) tergelar besok diakherat! Gatholoco menjawab sembari tertawa, Kelak tidak ada, yang ada sekarang ini!

57. Kyai Guru saurira, Nyata nakal rêmbuge janma iki, maido marang Hyang Agung, lan sarak Rasulullah, pancen wajib pinatenan dimen lampus, lamun maksih awet gêsang akarya sêpining masjid.

Kyai Guru (Hassan Bashori) berkata, Benar-benar kurang ajar ucapan manusia ini, menghujat Hyang Agung, dan syari’at Rasulullah, wajib dibunuh agar mampus, jika masih awet hidup, akan membuat semua masjid sepi.

58. Gatholoco alon ngucap, Ora susah sira mateni mami, nganggo gaman tumbak dhuwung, saiki ingsun pêjah, Kyai Kasan Bêsari asru sumaur, Iku lagi tatanira, wong mati cangkême criwis.

Gatholoco pelan menjawab, Tidak perlu repot membunuhku, dengan senjata tombak atau keris, saat inipun aku sudah mati, Kyai Kasan Bêsari (Hassan Bashori) keras membentak, Dasar tak tahu diri, mati kok mulutnya ceriwis!

59. Awake wutuh lir rêca, Gatholoco alon dennya nauri, Yen patine kewan iku, nganti gograge badan, mati aking ya iku patining kayu, yen ilang patining setan, ingkang kaya awak-mami.

Dan badanmu masih tegak bagai arca, Gatholoco pelan menjawab, Hewan disebut mati, jika tubuhnya hancur lebur, tumbuhan disebut mati jika sudah kering, jika setan mati hilang tak diketahui jejaknya, tapi kematian manusia sesungguhnya.

60. Ora mujud ora ilang, mangka iku ingsun uga wus mati, kang mati iku nêpsuku, mulane kabeh salah, ingkang urip budi pikir nalar jujur, pisahe raga lan nyawa, kinarya tundhaning lair.

Tidak bisa dilihat secara fisik juga tidak hilang (wujud) manusianya, ketahuilah sesungguhnya aku ini sudah mati, yang mati nafsuku, makanya aku mampu melihat kesalahan kalian, yang hidup adalah Budi (Buddhi:Kesadaran) dan menyisakan pikiran dan nalar yang jujur, terpisahnya Raga dan Nyawa, (itu bukan kematian) itu hanya proses menuju kelahiran kembali.

61. Iku ingkang aran Sadat, pisahira Kawula lawan Gusti, lunga pisah têgêsipun, dadi Roh Rasulullah, yen wis pisah Ragane lan Suksma iku, Rasa Pangrasa lan Cahya, panggonane ana ngêndi.

Itulah yang disebut Sahadat (Kesaksian) yang sesungguhnya (Dalam kondisi seperti ini, dimana kita telah mampu terpisah dari Badan Fana dan murni menjadi Badan Sejati, disaat seperti inilah kita akan mengetahui apa itu makna Sahadat yang Sejati), pisahnya Kawula (Hamba : Badan Maya/Fana yang berasal dari alam) dengan Gusti (Tuhan: Badan Sejati/Brahman yang berwujud Atma yang selama ini terjebak Maya), murni menjadi Roh Rasulullah (Roh Utusan Allah/Atma yang suci kembali), manakala telah berpisah Raga/Badan Fisik dan Suksma/Badan Halus, Rasa berikut Perasaan (maksudnya juga Suksma/Badan Halus) dan Cahaya (maksudnya Atma atau Badan Sejati), lantas kemanakah perginya semua itu?

62. Kyai Guru saurira, Bênêr ingsun luluh awor lan siti, Rasa lan Pangrasa iku, kalawan Cahya Gêsang, pan kagawa iya marang Suksmanipun, kabeh munggah mring suwarga, Sang Ijrail ingkang ngirid.

Kyai Guru (Hassan Bashori), Yang benar aku (Badan Fana) hancur menjadi tanah, sedangkan Rasa berikut Perasaan (Badan Halus) beserta Cahaya Hidup (Badan Sejati), dibawa oleh (Hyang) Suksma (Tuhan), semua naik ke Surga, Sang (Malaikat) Ijrail yang mengiringi.

63. Lamun Suksmane wong Islam, kang nêtêpi salat limang prakawis, sarta akeh pujinipun, rina wêngi tan owah, anêtêpi jakat salat pasanipun, pitrah ing dina riyaya, yen katrima ing Hyang Widdhi.

Jika Badan Halus orang Islam, yang menjalani shalat lima waktu, serta banyak beribadah, siang malam tiada goyah, memenuhi zakat shalat dan puasa, zakat fitrah menjelang hari raya, jika diterima oleh Hyang Widdhi.

64. Kaunggahaken suwarga, krana manut parentahe Jêng Nabi, kabeh oleh-olehingsun, kang wus kasêbut sarak, yen Suksmane wong kapir ingkang tan manut, dhawuhe Jêng Rasulullah, pinanjingakên yumani.

Akan naik ke Surga, karena menuruti perintah (Kang)jêng Nabi, yaitu semua yang aku jalani ini yang disebut syari’at, tapi Badan Halus manusia kafir yang tidak menuruti, perintah (Kang)jêng Rasulullah, dimasukkan tempat siksaan (Neraka).

65. Awit mukir mring Panutan, yen wong kapir dadi satruning Widdhi, Gatholoco asru muwus, dene Ingkang Kuwasa, nganggo nyatru marang wong kapir sadarum, lamun sira tan pracaya, maring kudrating Hyang Widdhi.

Sebab telah melawan Panutan, manusia kafir itu menjadi musuh (Hyang) Widdhi, Gatholoco keras berkata, Sangat konyol jika Yang Maha Kuasa, memusuhi manusia kafir, kamu nyata tidak mempercayai, kepada Kekuasaan (Kasih) Hyang Widdhi.

66. Maido kuwasaning Hyang, dennya karya warnane umat Nabi, anane kapir punika, sapa kang gawe kopar, lawan maneh ingkang karya uripipun, akarya bêja cilaka, tan liya Hyang Maha Suci.

Kamulah sesungguhnya yang menghujat Hyang (Widdhi)! Membagi-bagi manusia menjadi umat Nabi (dan yang bukan umat Nabi), adanya sebutan kafir itu, siapa yang membuat? Lantas pula siapa yang menciptakan mereka, yang memberikan kemuliaan dan celaka, tiada lain juga Hyang Maha Suci.

67. Upama Allah duweya, satru kapir murtad marang Hyang Widdhi, bêcik sadurunge wujud, tinitah aneng dunya, dadi ora duwe satru ing Hyang Agung, yen mêngkono Allahira, iku ora duwe budi.

Jikalau Allah mempunyai, musuh yang disebut kafir yang katanya murtad kepada Hyang Widdhi, sebaiknya Dia tidak usah menciptakan, dan mentitahkan (orang kafir) hidup didunia, sehingga Hyang Agung (tidak repot-repot) mempunyai musuh (yang membuat Dia marah-marah), jikalau memang demikian Allah-mu, tidak mempunyai Budi (Buddhi :Kesadaran)!

68. Dhêmên karya kasusahan, adu-adu wong Islam lawan kapir, beda kalawan Allahku, mêpêki ing aguna, anuruti sakarepe umatipun, ora ana kapir Islam, beda-beda kang agami.

Hanya membuat pekerjaan tak berguna, mengadu orang Islam dengan orang kafir, berbeda dengan Allah-ku, penuh kebijaksanaan, memberikan kebebasan bagi manusia, tiada yang disebut kafir dan Islam, manusia diberi kebebasan memeluk agama!

69. Têgêse aran agama, panggonane ngabêkti mring Hyang Widdhi, ing sasêbut-sêbutipun, waton têrus kewala, tanpa salin agamane langgêng têrus, sapa kang salin agama, anampik agama lami.

Yang dinamakan agama itu, sekedar wadah yang mengatur tata cara untuk menyembah Hyang Widdhi, apapun sebutan (nama agama maupun menyebut Tuhan)-nya, asal terus memantapkan diri dalam satu jalan, tiada bersalin agama dan terus mantap (pasti akan diterima), (ketahuilah) sesungguhnya siapa yang berpindah agama, menolak agama lama (yang sudah ditetapkan Hyang Widdhi bagi dia).

70. Iku kapir aranira, krana nampik papêsthene Hyang Widdhi, agamamu iku kupur, nampik leluhurira, sasat nampik papêsthenira Hyang Agung, panyêbutmu siya-siya, anêbut namaning Widdhi.

Itulah manusia kafir, karena menolak kepastian Hyang Widdhi, dirimu itu kufur, menolak (agama) leluhur, jelas menolak kepastian Hyang Agung (yang telah menetapkan bahwa agama leluhur Jawa adalah agama yang pas bagi orang Jawa), doamu seolah sia-sia, saat kamu menyebut nama (Hyang) Widdhi (dengan bahasa asing)

71. Sira iku bisa kandha, lamun kapir Suksmane manjing gêni, Suksmane wong Islam iku, kabeh manjing suwarga, apa sira wis tau nglakoni lampus, wêruh suwarga naraka, panggonane aneng ngêndi.

Dan lagi kamu bisa mengatakan, apabila manusia kafir Badan Halusnya masuk kedalam api (Neraka), (sedangkan) Badan Halus manusia Islam, semua naik Surga, apakah kamu sudah pernah mati, sehingga tahu Surga dan Neraka? Dimanakah tempatnya?

72. Kasan Bêsari angucap, kang kasêbut sajroning kitab mami, Gatholoco sru gumuyu, sira santri kêparat, ngandêl marang daluwang mangsi bukumu, nurun bukune wong sabrang, dudu tinggalan naluri.

(Kyai) Kasan Bêsari (Hassan Bashori) menjawab, Itulah yang disebutkan dalam kitab! Gatholoco tertawa keras. Kamu santri bodoh, mempercayai begitu saja kepada kertas dan tulisan yang kamu sebut kitab, kitab yang kamu sadur begitu saja dari kitab milik orang seberang, bukan (kitab suci) yang sudah melekat semenjak dulu (dalam dirimu).

73. Buku têmbung cara Arab, tan ngopeni buku saking naluri, sayêktine kabisanmu, mung kitab sembarangan, sira gawa oleh-oleh lamun lampus, katur marang Gusti Allah, bali ingkang duwe maning.

Kitab yang berbahasa Arab (saja yang kamu agungkan), tidak mempelajari kitab (suci) yang sesungguhnya (yaitu Suara Ruh/Nurani), sesungguhnya wawasanmu, kamu peroleh dari kitab sembarangan, (segala kesadaran dangkalmu hasil mempelajari kitab Arab) kamu bawa sebagai oleh-oleh saat kamu mati kelak, kamu haturkan (kesadaran semacam itu) kepada Gisti Allah, kepada yang mempunyai.

74. Bakale apa katrima, krana iku kagungane pribadi, sakehe puji dikirmu, kabeh pangucapira, iku uga kagunganira Hyang Agung, mangka sira aturêna, bali marang kang ndarbeni.

(Kesadaran) semacam itu mana mungkin diterima? Karena semua ini adalah milik-Nya, seluruh puji dan dzikir-mu, seluruh ucapanmu, itu semua milik Hyang Agung, tapi kamu malah bermaksud mengembalikan, kepada yang mempunyai (maksudnya pemahaman merasa terpisah dengan Tuhan, terpisah dengan Sumber Semesta dan merasa bahwa manusia ini eksis sendiri, bukan wujud Tuhan, adalah pemahaman konyol menurut Gatholoco. Manusia itu nisbi, manusia itu tidak ada, semua ini adalah wujud Tuhan. Lantas jika ada yang meyakini, tubuh fisik ini milik kita yang dipinjamkan oleh Tuhan, dan nanti akan kita kembalikan kepada-Nya, pemahaman semacam itu masih kurang tepat menurut Gatholoco. Tidak ada pihak yang meminjamkan atau yang dipinjami. Yang ada hanyalah TUHAN. Yang meminjamkan dan yang dipinjami, hanyalah illusi. Illusi dari hasil mempelajari kitab-kitab seberang tersebut)

75. Apa ora nêmu dosa, iku kabeh kagungane Hyang Widdhi, kêpriye olehmu matur, Kyai Guru saurnya, Sira iku maido kitabing Rasul, Gatholoco alon ngucap, Tan pisan maido mami.

Sangat berdosa dirimu, karena ini semua adalah wujud Hyang Widdhi, bagaimana kamu hendak menghaturkan (kembali), Kyai Guru menjawab, Kamu menghina kitab Rasul, Gatholoco pelan menjawab, Bukan sekali ini aku menghina.

76. Sawuse sira tumingal, mring unine buku daluwang mangsi, landhatên kanyatahanmu, rasane saking sastra, sarta maneh sira iku mau ngaku, besuk lamun sira pêjah, anggawa sanguning brangti.

(Dengarkan) setelah dirimu membaca, segala yang tercantum dalam kertas bertuliskan tinta yang kamu sebut kitab suci itu, nyatakan dalam dirimu sendiri (jangan hanya meyakini secara buta), intisari dari sastra (ayat) yang sudah kamu pelajari. Dan lagi kamu tadi mengaku, kelak jika kamu meninggal, kamu membawa oleh-oleh yang sangat kamu cintai. (cinta dalam bahasa Jawa adalah BRANGTA/BRANGTI atau ASMARADANA. Menyiratkan pupuh selanjutnya adalah pupuh ASMARADANA).

PUPUH V
——-
Asmaradana

1.Rehning sira wis ngakoni, benjang lamun sira pêjah, rasakna badanmu kuwe, kalawan cahyamu gêsang, obah-osiking manah, anggawa lapal Suksmamu, munggah mring suwarga loka.

Karena kamu sudah mengakui, kelak manakala kamu meninggal, Rasa badanmu (Sthula Sariira/Jasad), berikut Cahaya Hidup (Atma Sariira/Ruh), serta segala sensasi pikiranmu, terbawa pula Suksma (Suksma Sariira/Nafs)mu, naik ke Surga.

2.Sang Ijaril ingkang ngirid, sowan ngarsane Hyang Suksma, yen mangkono sira kuwe, ora ngamungna neng dunya, olehmu dadi bangsat, aneng akherat dadi pandung, anggawa dudu duweknya.

Sang (Malaikat) Izrail yang mengiringi, menghadap kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib), jika memang begitu dirimu, tidak hanya didunia saja, dirimu menjadi maling, diakherat-pun kamu menjadi maling, karena mengakui menghadapkan sesuatu yang bukan milikmu (tapi kamu akui sebagai hak milik). (Maksudnya makhluk ini semua adalah ‘nihil’ alias ‘tidak ada’. Karena semua ini adalah perwujudan Tuhan. Lantas jika merasa memiliki personalitas terpisah dengan Tuhan, bukankah itu illusi? Seseorang yang mengaku memiliki personalitas sendiri yang terpisah dengan Tuhan, mengklaim punya asset pribadi, berarti sama saja dengan seorang maling, yang mengklaim sesuatu yang bukan miliknya. Dan lagi bagaimana bisa meng-klaim jika ‘diri-nya’ itu sendiri ‘tidak ada’?)

3.Sira aneng dunya iki, kadunungan barang gêlap, ora tuku ora nyileh, sira anggo sabên dina, ing mangka aneng akherat, anggawa dudu duwekmu, dunya-kherat dadi bangsat.

Didunia ini dirimu, ketempatan barang gelap, tidak beli tidak pinjam, kamu pakai tiap hari, sedangkan diakherat nanti, tetep kamu merasa memiliki yang bukan milikmu, dunia akherat kamu maling!

4.Tanpa gawe jungkar-jungkir, nêmbah salat madhep keblat, clumak-clumik kumêcape, angapalake alip lam, têgêse iku lapal, angawruhana asalmu, urip prapteng kailangan.

Tak ada guna jumpalitan (dalam sembahyang), mendirikan shalat menghadap kiblat, komat-kamit bibirnya, menghafalkan alif lam (maksudnya doa-doa), sesungguhnya makna dari ayat-ayat yang kamu baca (itulah yang harus kamu resapi, bukan hanya sehedar dihafal dan dibaca), karena dari ayat-ayat tersebut kamu akan mengetahui asal, dan tujuan hidup-mu.

5.Sireku kaliru tampi, ngawruhi asale wayah, subuh luhur myang asare, mahrib lawan bakda isak, sayêkti tanpa guna, sipat urip duwe irung, padha wêruh marang wayah.

Dirimu salah mengerti, sangat-sangat mematuhi waktu-waktu shalat, mulai subuh dzuhur hingga ashar, maghrib dan isya’, sungguh tanpa guna, selayaknya hidup memiliki hidung (maksudnya kepekaan Kesadaran), untuk memahami makna shalat.

6.Yen mangkono sira kuwi, mung mangeran marang wayah, tan mangeran Ingkang Gawe, lamun bêngi sarta awan, pijêr kêtungkul wayah, ora mikir mring awakmu, urip prapteng kailangan.

Jikalau demikian dirimu (yang hanya sekedar mematuhi waktu shalat dan tidak memahami makna dari shalat itu sendiri), hanya ber-tuhan-kan saat-saat shalat semata, tidak ber-Tuhan-kan yang membuat waktu, siang dan malam hanya, berfokus mematuhi waktu-waktu shalat semata, tidak meniti ke dalam diri, untuk memahami asal kehidupan dan tujuannya.

7.Rasane badanmu kuwi, kagungane Rasulullah, cahyane uripmu kuwe, kagunganira Pangeran, obah-osiking manah, Muhammad kang nggawa iku, duwekmu amung pangrasa.

Rasa badanmu itu (Sthula Sariira/Jasad), milik/perwujudan Rasulullah (maksudnya Ruh atau Atma), Cahaya hidup (Atma Sariira/Ruh)-mu itu, milik/perwujudan Pangeran (Tuhan/Brahman/Allah), segala gerak-gerik batinmu (maksudnya Suksma Sariira/Nafs), Muhammad yang menggenggam (Muhammad maksudnya juga Ruh atau Atma), milikmu hanya ‘Perasaan memiliki/Illusi’ saja!

(Jika Jasad ini milik/perwujudan Rasulullah (Ruh), Ruh milik/perwujudan Allah, Nafs milik/perwujudan Muhammad (maksudnya Ruh juga), sedangkan Allah, Muhammad dan Rasul itu tak lain adalah Allah juga, lantas apa yang hendak kita anggap sebagai personalitas makhluk jikalau semua ini adalah PERWUJUDAN ALLAH? Hanya Illusi saja yang menjadi milik para makhluk. ILLUSI MERASA DIRINYA ADALAH ENTITAS YANG TERPISAH DENGAN SEMESTA BAHKAN DENGAN TUHAN ITU SENDIRI!)

8.Mangka sira gawa kuwi, ora sira ulihêna, balekna marang Kang Duwe, yen sira maksih anggawa, titipan tri prakara, apa sira ora lampus, Kyai Guru duk miyarsa.

Sedangkan apa yang kamu akui itu (bahwa memiliki personalitas tersendiri dengan Tuhan), tetap juga tidak kamu kembalikan (maksudnya tetap ber-Kesadaran seperti itu), kepada Dia Yang Memiliki, jika kamu masih juga memegang (maksudnya tetap tidak mau membuka Kesadaran) dan masih juga mengaku memiliki Triprakara (Tiga Unsur ~ Ruh/Atma, Nafs/Suksma dan Jasad/Sthula) sendiri, akan abadikah dirimu kelak? Kyai Guru begitu mendengar (semua yang diuraikan Gatholoco).

9.Kethune binanting siti, muring-muring ngucap sora, Mring ngêndi nggonku ngulihke, ingsun tan rumasa nyêlang, titipan tri prakara, Gatholoco gya gumuyu, Sira urip tanpa mata.

(Kyai Guru) seketika membanting kethu (kopiah)-nya ke tanah! Marah-marah dan berkata kasar, Kemana aku mau mengembalikan!! Aku tidak merasa telah meminjam, titipan Triprakara tadi, Gatholoco tertawa geli (mendapati yang diajak dialog tidak memahami maksudnya namun malah marah-marah), Kamu memang hidup tanpa mata (maksudnya Kesadarannya buta)!

10.Upama Padhanging Rawi, asalira saking Surya, sirna kalawan Srêngenge, kalamun Padhange Wulan, asale saking Rembulan, sirnane kalawan Santun, bali maneh asalira.

Seandainya Cahaya Matahari, yang berasal dari Surya, akan terserap musnah hilang kedalam Matahari kembali, seandainya Cahaya Rembulan, yang berasal dari Rembulan, akan terserap musna hilang kedalam Rembulan, kembali keasalnya lagi!

11.Kasan Bêsari nauri, Krana ngapa Rasanira, lan Cahyamu Urip kuwe, myang obah-osiking manah, tan sira ulihêna, marang Kang Kagungan iku, Gatholoco asru nyêntak.

Kasan Bêsari (Hassan Bashori) berkata, Lantas sekarang mengapa Rasa Badanmu (Jasad/Sthula Sariira), beserta Cahaya Hidup (Ruh/Atma Sariira)-mu, berikut Gerak batin (Nafs/Suksma Sariira)-mu, tidak kamu kembalikan (maksudnya masih terlihat nyata dan belum musnah) kepada Yang Mempunyai ? Gatholoco keras membentak.

12.Ingsun iki ora wani, ngulihake durung masa, yen tan ana pamundhute, ingsun wêdi bok kinira, anampik sihireng Hyang, manawa nêmu sêsiku, sireku kaliru tampa.

Aku tidak berani, memusnahkan ini semua karena belum saatnya, jika tanpa ada permintaan (dari Yang Mempunyai Perwujudan), aku takut nanti dianggap, menolak kasih Hyang (Tuhan), dan akan mendapatkan balak, sungguh kamu yang sebenarnya tidak paham! (Tidak paham akan maksud Gatholoco akan makna ‘Mengembalikan’ seperti yang telah diuraikannya diatas).

13.Kang kasêbut kitab mami, pan saking Nabi Muhammad, Kyai Guru pangucape, Salat witri iku iya, salat sakobêrira, Gatholoco alon muwus, sireku kaliru tampa.

Menurut Kitab-ku, yang berasal dari Nabi Muhammad, Kyai Guru berkata lagi, Shalat witir adalah, shalat yang tidak terikat waktu (maksud Kyai Hassan Bashori ada juga shalat yang tidak harus berfokus pada waktu, yaitu shalat witir. Jadi salah jika Gatholoco menganggap dirinya terlau mengagung-agungkan waktu), Gatholoco menjawab, Sekali lagi dirimu tidak paham!

14.Yen mangkono sira kuwi, dudu umat Rasulullah, dene sira ngestokake, sarengate Nabi lima, êndi panêmbahira, mring Nabi Muhammad iku, Kyai Guru saurira.

Bahkan lagi dirimu, bukanlah ummat Rasulullah, karena dirimu meyakini, dan mengikuti tingkah laku lima Nabi, mana shalat yang kamu jadikan untuk mengingat-ingat akan keagungan, dari Nabi Muhammad? (Ada keyakinan beberapa aliran agama Islam, bahwasanya shalat Subuh itu meniru Nabi Adam, manakala diturunkan di dunia, belum tahu mana arah mata angin, lantas ketika matahari terbit, Nabi Adam bersujud syukur karena tahu mana arah Timur. Lantas shalat Dzuhur, meniru Nabi Nuh, shalat Ashar meniru Nabi Ibrahim, shalat Maghrib, meniru Nabi Musa dan Shalat Isya’, meniru Nabi Isa, dan rupanya keyakinan inilah yang dianut oleh Kyai Hassan Bashori, lawan debat Gatholoco), Kyai Guru menjawab.

15.Sêmbahingsun salat witri, iya ing samasa-masa, Gatholoco pamuwuse, Sira iku santri blasar, mangka Nabi Muhammad, têtela Nabi Panutup, tunggule nabi sadaya.

Untuk mengingat Nabi Muhammad adalah shalat Witir, tidak terikat waktu! Gatholoco berkata, Kamu santri tersesat, padahal Nabi Muhammad, jelas-jelas Nabi Penutup, penutup seluruh Nabi.

16.Parentahe ora sisip, wus kapacak aneng kitab, ingkang salah sira dhewe, kinen sujud kaping lima, rina wêngi mangkana, esuk-esuk wayah Subuh, sujud tumrap maring Adam.

Setiap perintahnya tidak keliru, sudah jelas didalam semua kitab, yang salah memaknai adalah dirimu sendiri, diperintahkan sujud lima kali sehari, siang dan malam, pada saat pagi hari waktu Subuh, sujud kepada Adam.

17.Iku dudu Adam Nabi, adam suwung sujudana, kang suwung langgêng anane, marmanira sinujudan, dene luwih kuwasa, ngilangake pêtêng iku, kagênten padhanging surya.

Sesungguhnya bukan Adam Nabi, Adam berarti ‘Kosong’ dan sujudlah, kepada Yang Maha Kosong dan Yang Abadi Ada-Nya (tersebut), oleh sebab mengapa wajib untuk bersujud, karena Yang Maha Kosong sungguh berkuasa, menghilangkan kegelapan, dan menggantikannya dengan terang. (Maksudnya Yang Maha Kosong mampu memberikan terang kepada Kesadaran semua makhluk dan mampu mengusir semua kegelapan batin).

18.Panase saya ngluwihi, saking kuwasaning Allah, surya iku darma bae, sakehe manusa dunya, samya susah sadaya, krana saking panasipun, Nabi Muhammad parentah.

Menjelang tengah hari (maksudnya dalam pengembaraan Ruh didunia fana) panasnya sangat-sangat menyiksa (maksudnya dualitas dunawi sangat membelenggu Ruh), karena kuasa Allah, Matahari hanya sarana semata (maksudnya dualitas hanya sarana menggembleng Kesadaran Ruh saja), seluruh manusia/makhluk didunia, sangat menderita (terombang-ambing dualitas dunia), karena sangat-sangat panasnya, Nabi Muhammad memerintahkan.

19.Marang umatira sami, supaya padha sujuda, marang Kang Murbeng alame, tatkala patang rakangat, kabeh padha nuwuna, mring sudane panas iku, lan sudane dosanira.

Kepada seluruh ummatnya, agar ditengah hari bersujud, kepada Yang Menguasai Alam (Dualitas), sebanyak empat raka’at, seluruh ummat diperintahkan untuk memohon, agar mengurangi panas (penderitaan) duniawi, berikut memohon agar dilebur segala dosa-dosa (seluruh karma buruk)-nya.

20.Lan padha nuwuna maning, linanggêngna kaluhuran, kaya luhure srêngenge, pramilane lama-lama, tumurun saya andhap, daya asrêp panasipun, wong akeh ngarani Ngasar.

Dan juga agar memohon, tetap mendapat keluhuran (Tingginya Kesadaran), bagaikan luhur (tinggi)-nya matahari kala tengah hari, lantas sedikit demi sedikit, matahari turun semakin rendah, panasnya mulai berkurang (lambang penderitaan berganti dengan kesenangan), semua orang menamakan waktu Ashar.

21.Nabi Muhammad ningali, parentah mring umatira, supayane sujud maneh, sarta padha nênuwuna, langgêng ananing Suksma, lan padha nuwuna iku, linanggêngna kaluhuran.

Nabi Muhammad melihat, lantas memerintahkan kepada ummatnya, agar kembali bersujud, dan agar memohon, kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib), agar tetap langgeng (Ketinggian Kesadarannya walau penderitaan tengah berganti dengan kegembiraan).

22.Pangeran Kang Maha Luwih, angganjar ing asorira, linanggêngna kamulyane, dadine bisa kalakyan, tumurun saya andhap, mulane ngaranan surup, sira padha sumurupa.

Tuhan Yang Maha Kuasa, mampu menganugerahkan kemuliaan dan kehinaan (Kesadaran), semoga senantiasa langgeng kemuliaan Kesadaran, agar bisa selamat sampai tujuan (Moksha/Jannatun Firdaus), semakin turun matahari, dinamakan ‘surup’ (sore), karena maksudnya ‘sumurupa’ (ketahuilah)!

23.Kuwasanira Hyang Widdhi, bisa gawe pêtêng padhang, gawe unggul lan asore, kang padhang têgêse gêsang, kang pêtêng iku pêjah, Nabi Muhammad andulu, parentah mring umatira.

Akan kekuasaan Hyang Widdhi, yang mampu membuat gelap dan terang, mampu membuat tinggi dan rendah, yang ‘terang’ maksudnya ‘Hidup’, yang ‘gelap’ maksudnya ‘Mati’, (Manusia disebut Hidup manakala telah mencapai Terang Sejati, dan manusia disebut ‘Mati’ manakala masih terikat jerat duniawi dan lahir berulang-ulang di alam fisik ini), Nabi Muhammad melihat, lantas kembali memerintahkan kepada ummatnya.

24.Den purih sujuda maning, marang Ingkang Murbeng alam, dene luwih kuwasane, bisa gawe pêtêng padhang, lan gawe pêjah gêsang, bilahi asor lan unggul, lama-lama kang baskara.

Agar kembali bersujud, kepada Yang Menguasai Alam (Dualitas), karena kuasa-Nya, mampu membuat gelap dan terang, membuat mati dan hidup, hina dan mulia (Dualitas duniawi), lama-lama matahari.

25.Jagade datan kaeksi, pêtênge saya katara, amratani jagad kabeh, manusane alam dunya, rumasa kasusahan, krana saking pêtêngipun, amarga suruping surya.

Dunia tak terlihat, kegelapan semakin merebak, merata diseluruh jagad, seluruh makhluk, merasa sedih, disebabkan karena kegelapan tersebut, gelap karena hilangnya matahari. (Lambang dari kegelapan Kesadaran karena pengaruh dualitas duniawi).

26.Sagunge umat nuruti, nênuwun marang Pangeran, kanthi nangis panuwune, mulane ngaranan Ngisa, tegese Anangisa, marang Ingkang Murbeng Luhur, Nênuwun supaya padhang.

Seluruh ummat menurut, memohon kepada Tuhan, dengan isak tangis, makanya (bagi orang Jawa) menyebut waktu shalat sehabis mahgrib adalah Ngisa, karena saat kegelapan Kesadaran adalah saat untuk ‘Anangisa’ (Menangislah), kepada Yang Menguasai Keluhuran (Ketinggian), memohon supaya agar tetap diberikan terang (Kesadaran).

27.Kagênten padhanging sasi, sakehe manusa suka, uninga wulan cahyane, padhang sarta ora panas, cacade mung pisahan, mulane ingaran santun, santun warna sabên dina.

Terang yang digantikan oleh terangnya Rembulan (maksudnya dalam kegelapan Kesadaran, terang yang reduppun sudah cukup daripada gelap gulita tanpa cahaya Kesadaran), seluruh makhluk bisa sedikit bersuka cita, melihat Rembulan dan cahayanya, walau terang tiada panas, walaupun tidak stabil, makanya disebut ‘santun’ (Berubah), karena cahaya Rembulan (cahaya Kesadaran yang redup ditengah kegelapan), berubah-rubah setiap hari. (Tidak stabil).

(Rembulan disebut juga ‘Santun’ yang artinya ‘Berubah-rubah/Tidak stabil’ oleh orang Jawa, maksudnya Rembulan dilambangkan sebagai Kesadaran yang redup. Dan Kesadaran yang redup sangat tidak stabil).

28.Têgêse sasi samya sih, Kyai Guru aris mojar, kitab apa pathokane, Gatholoco angandika, Barulkalbi arannya, mangrêtine Barul: Laut, dene Kalbi iku Manah.

Arti ‘Sasi’ (padanan kata Rembulan/Santun) adalah ‘SA-mya SI-h’ (Semua Kasih ~ maksudnya walaupun ditengah kegelapan sekalipun, tetaplah menebarkan Kasih. Walaupun ditengah Kesadaran redup karena pengaruh penderitaan duniawi, tetaplah mengedepankan Kasih), Kyai Guru pelan bertanya, Dari Kitab apa semua yang kamu uraikan tadi? Gatholoco menjawab, (Kitab) Barulkalbi (Bahri Al-Qalbi), Bahri artinya Samudera, sedangkan Qalbi artinya Hati/Kesadaran.

29.Ati kang kaya jaladri, tanpa watês jero jêmbar, lan maneh akeh isine, Kasan Bêsari têtannya, sira ora sêmbahyang, Gatholoco aris muwus, sêmbahyang langgêng tan pêgat.

Hati/Kesadaran yang luas seluas Samudera, tiada batas tiada terukur dalam dan luasnya, dan sangat-sangat banyak terkadung isi mutiara, Kasan Besari (Hassan Bashori) bertanya, Kamu menjalankan shalat? Gatholoco pelan menjawab, Shalatku langgeng tiada terputus.

30.Sujud-mami sujud eling, keblatku têngahing jagad, barêng napasku sujude, napasku mêtu mbun-mbunan, salatku mring Pangeran, mêtu saking utêkingsung, sêmbahyangku mring Hyang Suksma.

Sujud-ku Sujud Ingat (Maksudnya Kesadaran yang terus stabil), Kiblat-ku Pusat Semesta (Maksudnya focus penyembahan adalah Inti Dunia dan Inti Makhluk, tak lain adalah Brahman/Tuhan), Sujud-ku diiringi dengan Nafas (Maksudnya Kesadaran ini saat Ruh terikat badan materi, sangat terkait dengan nafas. Pengendalian nafas mampu mengendalikan Kesadaran juga. Nafas dan Kesadaran, saat badan materi masih membelenggu Ruh, tidak bisa dipisahkan), Nafas-ku keluar dari ubun-ubun (Nafas yang dikendalikan seolah bukan keluar masuk dari hidung lagi, tapi seolah-olah keluar masuk dari ubhun-ubun, menyatu dengan Kesadaran), shalatku menghadap kepada Tuhan, keluar dari otakku (Shalat yang terus menerus dilaksanakan keluar dari Kesadaran), shalatku menghadap kepada Hyang Suksma (Tuhan Maha Gaib).

31.Ingkang mêtu lesan-mami, sêmbahyang mring Rasulullah, kang mêtu irungku kiye, ingkang Dzat pratandhanira, iku taline gêsang, kabeh saking napasingsun, sêbutku Allahu Allah.

Pujian yang keluar dari lidahku, pujian kepada Rasulullah (Ruh), sama dengan pujian yang keluar dari hidungku (nafas) ini, sesungguhnya semua perwujudan Dzat (Hidup/Tuhan), nafas adalah pengikat Hidup (selama ada nafas, selama itu pula Hidup/Tuhan/Dzat masih ada didalam badan materi), bisa dilihat dari adanya nafas, pujian nafasku berbunyi Allahu Allah.

32.Sira padha ora ngrêti, Rasulullah sabatira, iku durung linairke, lintang wulan lawan surya, alam dunya wus ana, yêkti tuwa suryanipun, iku kang kitab Ambiya.

Kalian semua tidak mengetahui, Rasulullah (maksudnya Nabi Muhammad) panutan kalian, saat belum dilahirkan, seandainya diibaratkan dengan bintang rembulan dan matahari, beserta bumi ini, jelaslah lebih tua matahari, hal ini tercatat dalam Kitab Anbiya’.

33.Kang tinitahake dhingin, dening Hyang Cahya Muhammad, iku lawan sakabate, nanging wujud êRoh samya, neng jroning Lintang Johar, mangka Lintang Johar iku, wawadhahe Roh sadaya.

(Sebelum Nabi Muhammad lahir) yang ada dahulu, adalah Hyang Cahya Muhammad (Nur Muhammad ~ Cahaya Terpuji/Cahaya Perwujudan Tuhan pertama kali yang merupakan cikal-bakal semesta raya ~ Purusha dalam istilah Weda), beserta seluruh para sahabatnya (maksudnya seluruh Atma-Atma semua), akan tetapi masih berwujud Ruh, berada didalam kandungan Lintang Johar (Lintang ~ Bintang, Johar/Jauhar ~ Mutiara, maksudnya juga Nur Muhammad tersebut), ketahuilah Lintang Johar itu, sumber segala Ruh makhluk.

34.Babonira saking Urip, dadi saking Nur Muhammad, lintang rêmbulan srêngenge, ora liya asalira, pan saking Nur Muhammad, mangka Lintang Johar iku, dadi pusêre Muhammad.

(Nur Muhammad atau Lintang Johar) adalah perwujudan Hidup (Allah), semesta raya ini berasal dari Nur Muhammad, bintang rembulan matahari, tiada lain sumbernya dari sana, berasal dari Nur Muhammad, sedangkan Lintang Johar, ibarat pusar (tempat keluarnya) seluruh semesta.

35.Yen sira maido mami, dadi nampikakên sira, mring Kuran sêsêbutane, Kasan Beêari miyarsa, rumaos kaungkulan, mangkana denira muwus, Wis Gatholoco minggata.

Jikalau kamu membantahku, sungguh sama saja kamu menolak, kepada ajaran Al-Qur’an, Kasan Besari (Hassan Bashori) mendengarnya, merasa kalah, beginilah dia akhirnya berkata, Sudah Gatholoco minggatlah kamu dari sini!

36.Gatoloco anauri, sun linggih langgare Allah, kabênêran panggonane, iki aneng têngah jagad, ingsun sênêng kapenak, linggih langgar karo udut, ngênteni prentahing Allah.

Gatholoco menjawab, Aku duduk di musholla Allah, sangat nyaman tempatnya, aku merasa dipusat semesta, aku merasa nyaman, duduk didalam musholla sembari menghisap candu (spiritualitas), sembari menunggu perintah Allah.

37.Sakala Kasan Bêsari, sidhakep kendêl kewala, puwara alon wuwuse, wus dadi prasêtyaningwang, kalamun bantah kalah, kabeh iki darbekingsun, sira wajib mengkonana.

Seketika Kasan Besari (Hassan Bashori), bersendekap sembari diam, lantas terdengar suaranya, Sudah menjadi janjiku, jikalau aku kalah berdebat, maka semua ini akan menjadi milikmu, dirimu wajib memilikinya.

38.Ingsun rila lair batin, langgar wisma barang-barang, pasrah sah duwekmu kabeh, santri murid ing Cêpêkan, ingkang sênêng ngawula, mara sira anggêguru, wulangên ilmu utama.

Aku rela lahir batin, musholla rumah berikut seluruh perabotan, aku berikan kepadamu semua, para santri murid Cepekan, jika memang hendak tetap berguru, silakah berguru kepadamu, ajarilah ajaran utama.

39.Para Kyai mitra mami, ingsun sumarah kewala, apa kang dadi karsane, manira saiki uga, nêja lunga lêlana, kabeh keriya rahayu, Kasan Bêsari gya mangkat.

Para Kyai sahabatku semua, aku sudah pasrah, apa yang menjadi kehendak-Nya, diriku sekarang juga, hendak berkelana, semoga yang aku tinggalkan disini mendapat keselamatan, Kasan Besari (Hassan Bashori) segera berangkat.

40.Nalangsa rumasa isin, saparan kalunta-lunta, katiwang-tiwang lampahe, ingkang kantun ing Cêpêkan, Gatholoco sineba, para murid tigang atus, andêr samya munggeng ngarsa.

Sangat-sangat malu, terlunta-lunta dalam perjalanan, sedih dalam pengembaraan, yang ditinggalkan di Cepekan, Gatholoco dihadap, seluruh murid sebanyak tiga ratus orang, bersila rapi berada dihadapan.

NB :

URIP ~ KANG NGURIPI ~ KANG GAWE URIP

PARAMASHIWA ~ SADASHIWA ~ ATMA

BRAHMAN ~ PURUSHA ~ ATMAN

ALLAH ~ (NUR) MUHAMMAD ~ RASUL (MUHAMMAD)

ALLAH BAPA ~ ALLAH PUTRA ~ ROH KUDUS

Mohon direnungkan…..

41. Gatholoco sukeng galih, angandika mring sakabat, Sanak-sanakingsun kabeh, yen sira arsa raharja, poma-poma elinga, aywa tiru lir gurumu, anggêpe sawênang-wênang.

Gatholoco gembira dalam hati, berkata kepada seluruh sahabat (murid), Wahai saudaraku semua, apabila dirimu ingin mendapat ketentraman, ingat-ingatlah kata-kataku, jangan meniru tingkah laku gurumu (Kyai Hassan Bashori), sewenang-wenang kepada sesama.

42. Kang mangkono ora bêcik, ngina-ina mring sasama, umat iku padha bae, pintêr bodho bêcik ala, bêja lawan cilaka, wong kuli tani priyantun, lanang wadon ora beda.

Tingkah yang demikian tidaklah patut, menghina sesama manusia, seluruh umat itu sama, pintar bodoh tampan buruk, yang beruntung dan yang sengsara, kuli petani priyayi (bangsawan), lelaki maupun perempuan tiada beda.

43. Wus pinêsthi mring Hyang Widdhi, tan kêna ingowahana, papêsthene dhewe-dhewe, mulane bêcik narima, aywa katungkul sira, urip iku bakal lampus, aneng dunya ngelingana.

Sudah menjadi ketetapan Hyang Widdhi, tak bisa dirubah, takdir dari setiap makhluk, oleh karenanya terimalah, jangan terus merasa tidak puas, hidup ini pasti bakal mati, hidup didunia selalu ingat.

44. Aja jubriya lan kibir, sumêngah nggunggung sarira, open dahwen panastene, karêm dora pitênahan, jail silib melikan, angapusi agal alus, anggluweh dhêmên sikara.

Jangan Jubriya (Riya : Suka pamer) dan Kibir (Takabbur : Sombong), senantiasa menganggap diri yang paling unggul, suka mencampuri urusan orang suka sirik dan gampang tersinggung, suka berbohong dan memfitnah, jahil suka selintutan dan gampang mengingini milik orang lain, suka menipu baik secara kasar maupun halus, seenaknya dan suka bertengkar.

45. Aja pisan ladak êdir, watak angkuh nguja hawa, aja warêg mangan sare, nglakonana sawatara, ingkang sabar tawakal, ingkang sumeh aja nepsu, ngajeni marang sasama.

Jangan sesekali berlebihan, angkuh dan suka menuruti keinginan badani, jangan suka banyak makan dan banyak tidur, jalanilah secukupnya, sabarlah dan tawakallah, yang ramah dan jangan jadi pemarah, hargailah sesama manusia.

46. Aja sira gawe sêrik, aja sira gawe gêla, aja gawe wêdi kaget, iku aran najis karam, nyandhang mangan ingkang sah, iku lakune wong ilmu, tan kêna kanthi sêmbrana.

Jangan membuat sakit hati sesame, jangan membuat kecewa sesame, jangan suka menakut-nakuti dan mengagetkan sesame, semua itu najis dan haram yang sesungguhnya! Itulah sesungguhnya yang disebut memakai pakaian dan memakan makanan sah (halal), dan itu pula jalan yang harus ditempuh oleh pelaku spiritual, tidak bisa dibuat sembarangan.

PUPUH VI
——–
Kinanti

1. Kudu ingkang nrimeng pandum, sumarah karsaning Widdhi, manusa darma kewala, saikine sun takoni, apa mantêp trusing driya, ngaku bapa marang mami.

Harus menerima kepada ketentuan hidup (karma yang kita terima), pasrah kepada Hyang Widdhi, manusia sekedar menjalani, sekarang aku hendak bertanya, apakah kalian benar-benar telah mantap lahir batin, mengakui aku sebagai bapa kalian?

2. Lamun sira wus tuwajuh, gugunên pitutur iki, nanging sira aja samar, tan kêna maido ilmi, yen maido kêna cêndhak, uripe kamulyanneki.

Jika memang telah mantap lahir batin, ikutilah nasehatku ini, akan tetapi janganlah gampang meremehkan ilmu orang, jika gampang meremehkan ilmu orang maka akan mendapat kesempitan, sempit kemuliaan diri.

3. Kabeh sira anakingsun, badhenên pasemon iki, Lamun bêngi ana apa, Yen awan ingkang ngêbêki, Apa ingkang ora nana, Satuhune iya êndi.

Semua anak-anakku, jawablah perlambang yang aku uraikan ini, Ada apakah ‘ditengah keheningan malam’? Apakah ‘yang meliputi terangnya siang hari’? Apakah sesuatu yang ‘tidak ada’ itu ? Sesungguhnya dimanakah (‘yang ada ditengah keheningan malam’, ‘yang meliputi terangnya siang’ dan ‘yang tidak ada’ tersebut?)

4. Doh tanpa wangên iku, Cêdhak tan senggolan iki, Yen adoh katon gumawang, Yen cêdhak datan kaeksi, Lamun isi ana apa, Yen suwung luwih mratani.

Sangatlah jauh tanpa batasan pasti, Sangatlah dekat namun tak bersentuhan, Jikalau jauh terlihat berpendar, Jikalau dekat tiada terlihat, Jika diumpamakan sebuah ‘isi sesuatu’ apakah itu? Jika diumpamakan ‘kosong’ lebih dari kekosongan dan meliputi semuanya.

5. Lêmbut tan kêna jinumput, Agal tan kêna tinapsir, Ingkang amba langkung rupak, Kang ciyut wiyar nglangkungi, Bumbung wungwang isi apa, Sapa neng ngarêpmu kuwi.

Sangat halus hingga tak bisa dijumput (dijumput ~ diambil dengan dua jari dengan sangat hati-hati karena sangat kecilnya), Sangat nyata tapi tak bisa dinyatakan, Sangat lebar namun juga sempit, Sangat sempit tapi lebarnya melebihi semua yang lebar, Sitengah bilah bambu apa ‘isi’-nya? Bahkan dihadapanmu sekarang (siapakah Dia?)

6. Yen lanang tan nduwe jalu, Yen wadon tan duwe bêlik, Iya kene iya kana, Iya ngarêp iya buri, Iya kering iya kanan, Iya ngandhap iya nginggil.

Jika lelaki tapi tak memililiki kelamin laki-laki, Jika perempuan tak memiliki kelamin perempuan, Ada disini dan ada disana, Ada di depan juga ada dibelakang, Ada dikiri juga ada dikanan, Ada di bawah juga ada diatas.

7. Baitane ngêmot laut, Kuda ngrap pandhêgan nênggih, Tapaking kuntul ngalayang, Pambarêp adhine ragil, si Wêlut ngêleng ing parang, Kodhok ngêmuli lengneki.

Perahu memuat seluruh samudera, Kuda berlari kencang ditempat pemberhentiannya (banyak yang salah tulis dalam setiap primbon ungkapan ini, yaitu KUDA NGÊRAP ING PANDÊNGAN, padahal yang benar KUDA NGÊRAP ING PANDHÊGAN (Kuda berlari kencang ditempat pemberhentiannya/kandangnya. PANDHÊGAN ~ TEMPAT BERHENTI = GÊDHOGAN), Jejaknya burung bangau yang tengah terbang melayang, Yang sulung juga yang bungsu, Belut mempunyai rumah didalam batu cadas, Katak menyelimuti rumahnya sendiri.

8. Wong bisu asru calathu, Jago kluruk jro ndogneki, Wong picak amilang lintang, Wong cebol anggayuh langit, Wong lumpuh ngidêri jagad, Aneng ngêndi susuh angin.

Orang bisu tapi keras suaranya, Ayam jago berkokok didalam telurnya, Manusia buta menghitung bintang dilangit, Manusia cebol menggapai langit, Manusia lumpuh berkeliling dunia, Dimanakah kediaman angin?

9. Aneng ngêndi wohing banyu, Myang atine kangkung kuwi, Golek gêni nggawa diyan, wong ngangsu pikulan warih, Kampuh putih tumpal pêthak, Kampuh irêng tumpal langking.

Dimanakah inti air, Dimanakah pusatnya tumbuhan kangkung, Mencari api membawa pelita, Mencari air memikul air, Kemben putih tertutup warna putih, Kemben hitam tertutup warna hitam.

10. Tumbar isi tompo iku, Randhu alas angrambati, mring uwit sêmbukan ika, Sagara kang tanpa têpi, Rambut irêng dadi pêthak, ingkang pêthak saking ngêndi.

Biji ketumbar berisi wadhahnya, Pohon randhu hutan merambat, kepada tumbuhan simbukan (simbukan adalah jenis tumbuhan rambat, tapi malah dirambati pohon randhu hutan), Lautan yang tak bertepi, Rambut hitam berubah putih, warna putih darimana datangnya?

11. Irênge mring ngêndi iku, Kalawan kang diyan mati, urube mring ngêndi ika, golekana kang pinanggih, yen tan wêruh siya-siya, durung sampurna kang ilmi.

Dan kemanakah hilangnya warna hitam tadi? Dan lagi jika pelita padam, kemanakah perginya nyala api? Carilah hingga ketemu, manakala tidak bisa mengetahui akan sia-sia, tidak sempurna ilmu kalian.

12. Ingkang sarah munggeng laut, gagak kuntul saba sami, duk mencok si kuntul ika, si gagak ana ing ngêndi, gagak iku nulya têka, si kuntul mibêr mring ngêndi.
Benda padat memenuhi samudera, burung gagak dan burung bangau ikut datang, manakala bangau bertengger diatas benda padat, burung gagak tiada kelihatan, manakala burung gagak yang datang, burung bangau terbang kemana? (Benda padat ~ Jasad materi. Samudera ~ Dunia materi. Burung gagak ~ Suksma Sariira/Nafs. Burung Bangau ~ Atma Sariira/Ruh)

13. Prayoga kudu sumurup, kabeh sira anak mami, pralambang iku rasakna, kang katêmu padha jati, sajatining rasa ika, rasa jroning jalanidi.
Oleh karenanya harus bisa memahami, wahai kalian semua anak-anakku, seluruh perlambang ilmu sejati ini renungkanlah, jika bisa memahami akan menemukan kesejatian, sejatinya rasa, rasa sejati didalam samudera (hidup).

14. Sasmitanên ingkang wimbuh, kawruhana ucap iki, kalawan pangrungunira, sarta paningalmu ugi, tan ana ucap dwi ika, dadi solah tingkahneki.
Segala rahasia akan cepat tersingkapkan, benar-benar perhatikan ucapanku ini, dengan sepenuh pendengaran, serta sepenuh penglihatan kamu, tiada lagi kebenaran kedua yang menjadi sifatnya (sifat kebenaran sejati itu tunggal, tak mendua).

15. Ora sak tan sêrik iku, tan têsbehmu Dzatullahi, kang krasa yen datan mangan, den krasa yen minum nênggih, sêmbahyanga den karasa, den krasa Dzatullah kuwi.
Jangan ragu jangan bimbang, bahkan pujianmu itu Dzatullah, rasakan benar-benar saat kamu tengah kelaparan (tak makan ~ ditengah penderitaan), juga rasakan benar-benar saat kamu meminum air (saat gembira), ditengah bersembahyang-pun rasakanlah, rasakanlah bahwa semua ini Perwujudan Dzatullah!

16. Kang wus sawural Allahu, iku aran Salat Daim, ana maneh ingaranan, Martabate Kasdu kuwi, lawan Takrul Takyin ika, mangrêtine Kasdu kuwi.

Yang sudah mampu melihat semua ini adalah Allah, itu yang dinamakan Sholat Da’im (Da’iman ~ Abadi/Tak terputus/Tak terbatas oleh waktu), ada lagi yang disebut martabat/uraian/tingkatan tentang Kasdu, dan Takrul serta Takyin, yang disebut Kasdu adalah.

17. Pikarêpe niyat iku, ciptane ingkang dumadi, dene Takrul têgêsira, pamêkasing niyat nênggih, dumadine panggraita, mangrêteni ingkang Takyin.
Maksud/fokus dari niyat, kesadaran yang menjadi pegangan, sedangkan Takrul artinya, akhir dari niyat tersebut, tercapainya kesadaran sejati, sedangkan Takyin.

18. Iku nyata yen satuhu, wasesane niyat kuwi, dumadine ingkang cipta, cêthane iku sayêkti, ingkang Kasdu kuwi Iman, ingkang Takrul iku Tohid.

Sungguh-sungguh melihat bukti, kuasa dari niyat, tercapainya puncak kesadaran, sesungguhnya, yang disebut Kasdu adalah Iman (Keyakinan), yang disebut Takrul adalah Tokid (Tauhid ~ Kesatuan Tunggal).

19. Kang Takyin Makrifat iku, kang Iman yen ana kuwi, ing niyat ingkang gumlethak, yêkti iku ora serik, tansah ningali ing Allah, kang Tohid nênge myang osik.

Yang disebut Takyin adalah Ma’rifat (Menyaksikan Kesejatian), iman yang ada, harus dibuat niyat penuh kepasrahan, hilangkan segala kebimbangan, hanya melihat kepada Allah semata, Tauhid adalah menyadari Kesatuan gerak dan diam (makhluk dengan gerak dan diam Tuhan).

20. Gletheke paningal iku, pamyarsa pangucapneki, nyata angên-angênira, ingkang ngglethakakên Widdhi, myarsa ngucapkên pêsthinya, Allah tangala ngimbuhi.

Menyadari dengan penuh kesadaran bahwa semua penglihatan ini, pendengaran ini berikut pengucapan ini, serta seluruh gerak pikiran-pikiran ini, semua adalah perwujudan Hyang Widdhi, mendengar hingga berkata, Allah yang menggerakkannya.

21. Dadi aja sak srik iku, tingalira mring Hyang Widdhi, ana dene kang Makrifat, iku nênge lawan mosik, anênggih paningalira, pangrungu pangucapneki.

Jangan ragu-ragu lagi, fokuskan kesadaran bahwa semua ini adalah Hyang Widdhi, sedangkan Ma’rifat, diam serta gerak kalian, penglihatan, pendengaran pengucapan.

22. Dadi lan ing dhewekipun, têgêse iku sayêkti, Bila têsbeh lire ika, tan loro kahanan-neki, apan mung Allah kewala, ingkang mosik mênêng kuwi.

Wujud dan kepribadian kalian, sesungguhnya nyata adalah, Bila tesbeh (billa tasbih : tak ada yang dipuji lagi), sesunguhnya tak ada dua, hanya Allah saja, yang diam dan bergerak ini.

23. Pamiyarsa lan pandulu, nyatane kahanan iki, poma aja sêrik lan sak, sasmita sariraneki, kang den ucap ingkang ngucap, tan liya Kang Maha Suci.

(Berikut) pendengaran dan penglihatan kita semua, sangat nyata keadaann ini semua (adalah perwujudan Allah semata)! Jangan ragu dan bimbang lagi, akan rahasia dirimu, apa yang kamu ucapkan dan yang mengucapkan, tak lain adalah Yang Maha Suci itu sendiri!

24. Kudu ingkang awas emut, ora nana liya maning, lamun sira tinakonan, apa pangajape Widdhi, mangkene wangsulanira, Pangawruhingsun mring Widdhi.

Senantiasa waspada dan ingat dalam kesadaran, bahwasanya tiada lain lagi (semua ini kecuali Allah). Apabila kamu ditanya Apa yang Hyang Widdhi kehendaki darimu? Jawablah, Menyadari Hyang Widdhi itu sendiri.

25. Kawimbuhan ilmunipun, Pangeran Kang Maha Suci, ana maneh soalira, apa ingkang den arani, sakêcap sarta satindhak, mênêng mung sagokan kuwi.

Sehingga tercurahkan ilmu, (Kesejatian akan hakikat) Tuhan Yang Maha Suci, ada lagi pertanyaan, siapakah yang, Mengucap dan Melangkah, Berdiam dan Bergerak ini semua?

26. Nulya saurana gupuh, ujar sakêcap puniki, kang ngucap nênggih Hyang Suksma, kang mlaku satindhak Widdhi, kang mênêng sagokan ika, ingkang wus angel nggoleki.

Jawablah, Yang Mengucap, adalah Hyang Suksma (Tuhan), yang Melangkah adalah Hyang Widdhi (Tuhan), yang Berdiam dan Bergerak, adalah Dia Yang Sulit Dicari.

27. Hyang Suksma ya dhirinipun, sarta lamun den takoni, pira Martabating Tingal, saurana tri prakawis, Tasnip ingkang kaping pisan, Insan Kamil kaping kalih.

Tak lain adalah Hyang Suksma sendiri, manakala ditanya, berapakah Martabat/tingkatan/uraian Penglihatan (Ruh)? Jawablah tiga perkara, Tasnip (Tasnif : Penilaian) yang pertama, Insan Kamil (Insanulkamil : Manusia Sempurna) yang kedua.

28. Kadil Kapri kaping têlu, Tasnip: Idhêp têgêsneki, Insan Kamil: Kang Sampurna, iku kaya Roh Ilapi, utawa Tasnip sêmunya, tingal luluh sampurnaning.

Kadil Kapri (Khadil : Mengecewakan, Qafri : Gurun, gurun yang mengecewakan~maksudnya penglihatan yang palsu) yang ketiga, Tasnip (Tasnif) artinya Idhep (Penilaian Kesadaran untuk melihat), Insan Kamil adalah (penglihatan) Yang Sempurna, sudah menjadi Ruh ilapi (Ruh Idhofi : Ruh penambah kesempurnaan), atau Tasnip maksudnya, penglihatan telah luluh sempurna (kepada Yang Dilihat).

29. Wahyu iku têgêsipun, ingkang paningale sidik, iku têtêp wahyunira, pramilane samya wajib, den wêninga prabedanya, anggenira aningali.

(Mendapat) wahyu (penglihatan sejati) maksudnya, bagi mereka yang penglihatan Ruh-nya jernih, maka disebut tetap mendapatkan wahyu, oleh karenanya wajib bagi kalian, mengetahui perbedaan (penglihatan Ruh diatas), disaat kalian hendak melihat Kesejatian.

30. Mring Nabi Wali Mukminu, Nabi têtêp tingalneki, dene para mundur ika, ing tingale Wali Mukmin, pira Martabating Lampah, wangsulana dwi prakawis.

Perbedaan (penglihatan) Nabi Wali maupun Para Mukmin, bagi yang sudah mencapai tingkat ke-Nabi-an akan stabil penglihatannya, sedangkan dibawah tingkatan itu masih labil, yaitu penglihatan Wali dan Mukmin, berapakah martabat/tingkatan/uraian dari Lelaku (Riyadloh/Sadhana/Pencarian spiritualitas) itu? Jawablah ada dua perkara.

31. Dhingin kaya gêni iku, kaping kalih kaya angin, sêmune kang kaya brama, pênêt panase pribadi, têgêse sira mrih enggal, panrima kasuwen dening.

Yang pertama bagaikan api, yang kedua bagaikan angin, yang dimaksud bagaikan api, mencari inti panasnya diri pribadi (berjuang membasmi panasnya kegelapan batin), dengan cara tersebut akan membuat diri kalian cepat, mencapai tingkat kepasrahan.

32. Ingkang angin têgêsipun, pênêt tan kêna pinurih, têgêse wus ora pisan, susah angulati malih, pira Martabating Badan, saurana tri prakawis.

Bagaikan angin maksudnya mencari sesuatu yang ‘Tak dapat dicari’, dimana ‘Yang tak tak dapat dicari’ tersebut sesungguhnya sekali-sekali, tidak perlu dicari jauh-jauh, berapakah martabat/tingkatan/uraian tentang Badan?

33. Wondene ingkang rumuhun, kaya tanggal ping Pat nênggih, ping dwi kaya tanggal Sanga, tanggal ping Patbelas ping tri, têgêse tanggal kaping Pat, tulis lair tulis batin.

Yang pertama-tama, bagaikan bulan muncul ditanggal Empat (memakai perhitungan sonar system), yang kedua bagaikan bulan muncul ditanggal Sembilan, yang ketiga bagaikan bulan yang muncul ditanggal Empat belas, maksud bagaikan bulan tanggal empat ( tangal empat jawa atau perhitungan kalender menggunakan sonar system, bulan tidak akan kelihatan) berarti lahir batin masih nampak tersirat (masih benar-benar tenggelam pada material dunia, masih diliputi kegelapan illusi)

34. Kaya tanggal Sanga iku, luluh sirna têgêsneki, kahananira Pangeran, tanggal ping Patbelas kuwi, dene sasêjane sama, kaya Kang Ndadekkên nênggih.

Yang dimaksud bagaikan tanggal Sembilan (tanggal Sembilan jawa atau menggunakan perhitungan kalender sonar system, bulan mulai muncul walau berbentuk sabit), yang material mulai luluh dan sirna oleh karena, keberadaan Tuhan (mulai nyata), bagaikan tanggal Empat belas (tanggal Empat belas jawa atau menggunakan perhitungan kalender sonar system), seluruh kehendak telah sama, manunggal sama dengan Yang Menciptakan Alam! (Illusi telah tersingkap, bagaikan Bulan Purnama. Tuhan telah mewujud nyata!)

35. Wus tumêka wangênipun, têkane kawula kuwi, ora nêja yen dadiya, dadi Gusti kang sayêkti, nanging yêkti dadi uga, pira Martabat Pamanggih.

Sudah mencapai tingkatan tertinggi, keberadaan Kawula (hamba), tak disengaja telah menjadi, keberadaan Gusti Yang Sejati, dan benar-benar terjadi, berapakah martabat/tingkatan/uraian dari Etika Tingkah Laku.

36. Saurana lima iku, kang dhingin Klêthêking ati, ingkang kaping kalihira, Katêpêking lampah nênggih, Panjriting tangis ping tiga, Kêthuk nutu ping pat nênggih.

Jawablah terdiri dari lima perkara, yang pertama bagaikan Kegelapan hati, yang kedua bagaikan Suara langkah kaki, yang ketiga bagaikan Jerit tangis, yang keempat bagaikan Suara ketukan orang menumbuk padi (jaman dahulu untuk memisahkan padi dengan kulitnya, harus ditumbuk disebuah tempat yang namanya Lesung. Menumbuk padi dalam istilah orang Jawa disebut Nutu. Disaat aktifitas menumbuk padi ini, suara ketukannya akan terdengar indah berirama. Apalagi jika yang melakukan aktifitas lebih dari satu orang. Suara yang terdengar sangat khas. Suara ketukan menumbuk padi ini dikenal dengan sebutan gamelan Lesung.)

37. Cleret Ngantih ping limeku, dene Panjriting wong nangis, lawan Klêthêking wardaya, myang Têpêking wong lumaris, tuhune iku pangucap, martanipun akir kadi.

Dan bagaikan Pelangi yang kelima, maksud dari Jerit tangis, dan juga Kekotoran hati, serta Suara langkah kaki, sesungguhnya adalah lambang dari kegelisahan batin yang tak terucapkan, jika mampu menyadari hal ini maka pada akhirnya.

38. Kaya Kapilaku iku, ing tekade kang wus tampi, Calereting Ngantih ika, lir Sipat Jamalullahi, Kêethuking nutu upama, wêdale pangucapneki.

(Harus dijadikan) Kaya Kapilaku (Haya’ alkafiilah : Untuk memastikan rasa malu ~ maksudnya segala kekotoran hati, jerit tangis/ketidak terimaan dan suara langkah kaki/degub gemuruh ketidak tenangan adalah hal-hal yang patut dijadikan obyek perasaan malu bagi yang ingin meningkatkan kejernihan diri. Kekotoran hati, Jerit Tangis/ketidak puasan dan Suara Langkah Kaki/degup ketidak tenangan adalah rintangan mencapai tingkat kesucian, seharusnya kita malu jika tetap memelihara hal-hal semacam itu), itulah ketetapan diri bagi yang hendak belajar berserah total, Pelangi maksudnya, bagaikan sifat Jamalullah (Jamil : Cantik ~ Jamalullah : Kecantikan Allah), Suara ketukan orang menumbuk padi, lambang dari Ucapan yang telah keluar.

(Maksudnya, tiga perlambang awal, 1. Kletheking Ati : Kekotoran Hati, 2. Katepeking Lampah : Suara Langkah/degup ketidak tenangan, 3. Panjriting Tangis : Jerit Tangis/ketidak puasan, adalah lambang ketidak murnian diri yang seharusnya sangat memalukan bagi manusia yang sadar. Ketidak murnian ini ada didalam diri yang berputar-putar bagai awan panas menggelora. Lambang ke empat yaitu Kethuking Nutu adalah Ucapan yang keluar dari orang yang sadar yang bisa menetralisir segala hal-hal negative yang bergelayut didalam diri, sehingga ucapan yang keluar terdengar positif dan indah, bagai suara orang menumbuk padi yang merdu. Dan jika hal ini bisa dibiasakan, maka diri kita nyata telah menjadi perwujudan Pelangi atau Jamalullah : Kecantikan Allah bagi sesama).

39. Nyata ora mamang iku, ora susah angulati, Hyang Agung Kang Maha Mulya, kang ngucap iku Allahi, poma aja pindho karya, puniku ingkang sajati.

Nyata tidak diragukan lagi, tidak usah susah-susah mencari, Hyang Agung Yang Maha Mulia, karena ucapan positif yang keluar dari manusia yang sadar semacam itu adalah ucapan Allah, jangan meragukan lagi, inilah yang sesungguhnya!

40. Martabate bumi iku, saurana tri prakawis, Dzating Roh Ilapi ika, kaping pindho Roh Jasmani, kaping têlu Tanpa Prenah, Tanpa Tuduh Tanpa Yekti.

Martabat/tingkatan/uraian dari bumi (maksudnya bumi adalah manusia ini), jawablah tiga perkara, yang pertama Dzat Roh Ilapi (Dzat dari Ruh Yang Menguatkan, maksudnya perwujudan dari Ruh Yang Menguatkan, tak lain adalah Nafs/Suksma Sariira. Nafs atau Suksma Sariira adalah perwujudan Atma juga sesungguhnya.) Yang kedua Roh Jasmani (Maksudnya adalah Jasad/Sthula Sariira, disini diistilahkan sebagai Ruhul Jasmani) dan yang ketiga Tanpa Tempat, Tanpa Arah dan Tanpa Ada (Maksudnya Ruh/Atma).

41. Kang aran Muhammad iku, kang Kakiki kang Majaji, iku nuli saurana, kang aran Muhammad Nabi, dene kang Kakiki iku, iya Dzatullah Ilapi.

Yang disebut Muhammad itu, apakah Kakiki (Hakiki : Intisari Gaib) atau yang Majaji (Maujudi : yang berwujud nyata), maka jawablah, yang dinamakan Muhammad itu adalah nama seorang Nabi, tapi hakekatnya yang disebut Muhammad itu, tak lain adalah Dzatullah Ilapi (Dzatullahi Al-idhofi : Dzat Allah Yang Menambah Kekuatan bagi semesta atau Energi Illahi).

42. Nabi Muhammad puniku, anênggih ingkang Majaji, Dzatullah Jasadi ika, kang Kakiki kang Majaji, loro-loroning atunggal, nyatane yen sira kuwi.

Nabi Muhammad itu, adalah yang berwujud sebagai manusia (ditanah arab), perwujudan Dzatullah, sedangkan Muhammad yang Hakiki dan Maujud, kedua-duanya adalah tunggal juga, semuanya ada didiri kalian (seluruh makhluk).
(Maksudnya Muhammad itu sesungguhnya adalah nama dari cahaya Allah, yaitu Nur Muhammad (Nur : Cahaya, Muhammad : Terpuji). Inilah inti sari setiap makhluk. Hakikat setiap makhluk. Secara hakikat dia melampaui segalanya, secara wujud nyata, berwujud seluruh material semesta termasuk jasad fisik manusia. Maka benarlah jika kita ini disebut perwujudan Nur Muhammad. Karena Nur Muhammad itu tak lain adalah Allah juga. Dan Ruh kita ini disebut Rasul Muhammad (Rasul : Utusan, Muhammad : Terpuji), percikan dari Allah juga. Oleh karenanya Allah, (Nur) Muhammad dan Rasul (Muhammad) adalah satu kesatuan tunggal, dalam Ajaran Syeh Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga, sering hanya disebut ALLAH, MUHAMMAD, RASUL saja. Ada lagi yang disebut Muhammad, yaitu seorang Nabi yang pernah hidup ditanah Arab dan yang mengajarkan agama Islam)

43. Ingkang Tanpa Prênah iku, lawan Tanpa Tuduh kuwi, ing Kakekate Dzatu’llah, tan liya pêsthi sireki, krana sajatine sira, poma aja pindho kardi.

(Kalianlah) perwujudan Yang Tanpa Tempat, Yang Tanpa Arah, kalian adalah perwujudan kesejatian Dzatullah, tiada lain kalian semua ini, itulah sesungguhnya kalian, jangan ragu-ragu lagi.

44. Martabat Nugrahan iku, lamun sira den takoni, pira nugrahaning Sadat, saurana tri prakawis, iku ingkang ping sapisan, Ngêningake Iman-neki.

Martabat/tingkatan/uraian Anugerah itu, manakala kalian ditanya, ada berapa Anugerah Sahadat, jawablah tiga macam, yang pertama Menjernihkan Iman.

45. Ping dwi Ngeningken Tyasipun, ana dene kang kaping tri, Nglampahake Panggaotan, Nugrahaning Salat nênggih, saurana tri prakara, Mêgat Karsa ingkang dhingin.

Yang kedua Menjernihkan Hati/Kesadaran, dan yang ketiga Menjalankan/mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. (Sahadat adalah kesaksian diri, dimana sahadat sejati adalah Tiada Yang Lain di Alam ini kecuali Allah, dan Ruh-ku ini adalah Utusan Allah. Kesaksian ini harus diimplementasikan kedalam kehidupan sehari-hari, dengan jalan, pertama Menjernihkan Keyakinan bahwasanya semua makhluk ini adalah perwujudan Allah dan utusan Allah, maka semua tiada beda, kedua menjernihkan Kesadaran, dimana kita harus benar-benar melihat aku adalah kamu kamu adalah aku, tak ada beda dan yang ketiga harus benar-benar dipraktekkan didalam kehidupan sehari-hari dengan jalan menebarkan Kasih tiada henti. Jika bisa melaksanakan hal ini, jelas bisa disebut Mendapat Anugerah dari memahami Sahadat Sejati), Anugerah Shalat sekarang jika ada yang bertanya, jawablah tiga macam, Mengontrol keinginan duniawi yang pertama.

46. Tinggal Cipta kalihipun, Amadhêp ingkang kaping tri, Nugrahaning Takbir pira, saurana tri prakawis, dhingin Kawruh dwi Kawruhnya, Jatining Wêruh kaping tri.

Meningalkan segala Kesadaran rendah yang kedua, dan yang ketiga Mantap lahir batin, Anugerah Takbir (Mengagungkan Allah) ada berapakah, jawablah tiga macam, pertama Pengetahuan yang kedua Yang Mengetahui, Yang ketiga Hakikat Yang Hendak Diketahui. (Maksudnya, manusia bisa disebut menerima Anugerah dalam memahami Cara Pengagungan Allah jika bisa menyadari Pengetahuan yang benar, memahami hakikat dirinya sebagai Yang Mencari Tahu, dan yang ketiga memahami siapa hakikat Yang Hendak Diketahui itu)

47. Pituturku durung rampung, nanging iku bae dhisik, krana ingsun arsa lunga, ora lawas ingsun bali, mrene maneh mulang sira, dimene imbuh mangrêti.

Wejanganku belum selesai, akan tetapi ini dulu, sebab aku hendak pergi, tidak akan lama aku akan kembali, kembali ke sini untuk mengajar kalian lagi, agar semakin bertambah kesadaran kalian.

PUPUH VII
———
Gambuh

1. Anak murid sireku, kabeh padha keriya rahayu, lilanana saiki manira pamit, Gatholoco mangkat gupuh, lumampah ijen kemawon.

Wahai semua anak muridku, semoga keselamatan ada padamu saat aku tinggal, sekarang relakanlah aku pamit, Gatholoco segera berangkat, berjalan pergi sendirian saja.

2. Midêr-midêr ngêlantur, sêjanira angupaya mungsuh, sagung pondhok guru santri den lurugi, binantah ing kawruhipun, yen kalah dipun pepoyok.

Berkeliling kemana-mana, niatnya hendak mencari musuh berdebat, seluruh pondhok pesantren didatangi, diajak berdebat tentang ilmu sejati, jika kalah diperolok-olok olehnya.

3. Ana ingkang gumuyu, kapok kawus santri kang tan urus, wus dilalah karsaning Kang Maha Luwih, Gatholoco tyas kalimput, mêngku takabur ing batos.

Ada yang ditertawakan, mentertawakan para santri yang kalah debat, sudah menjadi kehendak Yang Maha Lebih, Gatholoco hatinya terliputi, perasaan takabbur (sombong).

4. Pangrasanira iku, sapa mênang padon karo aku, padu kawruh ingsun punjul sasami, marmane manggih sêsiku, kasiku dening Hyang Manon.

Menurut anggapan dirinya, siapa yang bakal menang berdebat denganku, jika berdebat aku lebih unggul dari semua manusia, oleh karenanya mendapatkan balak, mendapatkan balak dari Hyang Manon (Tuhan)

5. Kang sipat samar iku, Gatholoco tan rumasa luput, yen andulu ingkang bangsa lair batin, kaelokaning Hyang Agung, karya lakon langkung elok.

Yang Bersifat Maha Samar, tapi Gatholoco tidak merasa salah, senantiasa merasa benar akan segala pemahamannya tentang ilmu lahir dan bathin, kebesaran Hyang Agung (Tuhan), membuat jalan hidup Gatholoco semakin mengherankan.

6. Gatholoco andarung, lampahipun têrus minggah gunung, Endragiri wastanira ingkang wukir, sadaya santri ing gunung, binantah kawruhnya kawon.

Langkah Gatholoco semakin jauh, berjalan terus mendaki sebuah gunung, Endragiri nama gunung tersebut, seluruh santri yang tinggal disana, berdebat dengannya dan kalah.

7. Jêjanggan para Wiku, Rêsi Buyut Wasi lan Manguyu, den lurugi bantah kawruh sarak ilmi, ingkang kawon den gêguyu, Gatholoco asru moyok.

Jejanggan dan Para Wiku (Bhikku), Resi Buyut Wasi dan Manguyu, semua didatangi diajak berbantah ilmu sejati, yang kalah ditertawakan, oleh Gatholoco tanpa segan-segan lagi.

(Cantrik, Cethi, Cekel, Jejanggan, Buyut, Wasi, Manguyu dan Resi adalah istilah tingkatan siswa dalam pendidikan spiritual di sebuah Padhepokan Jawa jaman Kabuddhan/Shiwa Buddha. Kedudukan tertinggi adalah Resi atau Wiku/Bhikku. Sekarang, sebutan ‘Cantrik’ dipakai oleh Padhepokan Islam untuk menamai siswa nya yang belajar, yaitu ‘Santri’. Sedangkan istilah ‘Padhepokan’ sendiri diubah menjadi ‘Pe-Santri-an/Pesantren’)

8. Solah tingkah kumlungkung, ngrengkel nakal rêmên nyrekal digung, watak edir ilmu sarak den pabêni, mila saya camahipun, ya ta gênti winiraos.

Kelakuannya telah berlebihan, ulet nakal suka menyangkal diagungkan, terjerat kesombongan semua aturan syari’at dikritik, sehingga jatuhlah kesadarannya, lantas kemudian diceritakan.

9. Ing Endragiri gunung, wontên endhang gentur tapanipun, apêparab Rêtna Dewi Lupitwati, sadaya punggawanipun, samya estri maksih anom.

Tersebutlah di Gunung Endragiri, berdiam seorang wanita pertapa, bergelar Retna Dewi Lupitwati (Lupit : barang untuk menjepit, Wati : wanita ~ barang milik wanita yang fungsinya untuk menjepit), semua muridnya, terdiri dari gadis-gadis belia.

10. Satunggal wastanipun, apêparab Dewi Mlênuk Gêmbuk, nama Dewi Dudul Mêndut kang satunggil, mêrak ati dhasar ayu, cantrik kalih ugi wadon.

Yang seorang bernama, Dewi Mlenuk Gembuk (Mlenuk : Barang kecil yang menonjol dan montok, Gembuk : empuk ~ barang kecil yang menonjol montok dan empuk), yang lain bernama Dewi Dudul Mendut (Dudul : Disogok, Mendut : Terayun ~ yang disogok bisa terayun-ayun), sangat cantik memikat hati, keduanya perempuan semua.

11. Satunggal namanipun, akêkasih Dewi Rara Bawuk, kang satunggal Dewi Bleweh kang wêwangi, grapyak sumeh kaduk cucut, neng ngarsa gusti tan adoh.

Yang lain bernama, Dewi Rara Bawuk (Rara : Gadis belia, Bawuk : Vagina ~ vagina gadis belia), dan yang lainnya bernama Dewi Bleweh (Bleweh : Berlobang dan berlendir), semuanya sangat gembira dan rukun hidup bersama, saat itu mereka tengah berada didekat gurunya.

12. Sang Rêtna dhepokipun, yeku dhepok ing Cêmarajamus, pratapane ing guwa Seluman wêrit, angkêr sinêngkêr barukut, botên sêmbarangan uwong.

Nama dari Padhepokan Sang Retna (Dewi Lupitwati), adalah Padepokan Cemarajamus, tempat tapanya berada di gua siluman yang gelap, angker rahasia dan tersembunyi, tidak sembarang manusia.

13. Bangkit uningen ngriku, yen tan antuk lilane Sang Ayu, dene lamun wus kêparêng den ideni, kaiden ingkang amêngku, sinome guwa katongton.

Boleh melihat tempat tersebut, jikalau tidak mendapatkan ijin Sang Ayu (Dewi Lupitwati), namun bila sudah diijinkan, diperbolehkan oleh yang punya, ‘sinom’-nya gua bisa dilihat. (Sinom ~ bisa berarti muda bisa berarti rambut tipis dipelipis. Jika sebuah gua rahasia mempunyai sinom/rambut tipis, maka bisa anda tebak sendiri apa maksudnya. Selain itu, menandakan pupuh selanjutnya adalah pupuh Sinom. Beginilah sastra kuno Jawa, ambiguitas-nya sangat indah sekali.)

PUPUH VIII
———–
Sinom

1. Ingkang samnya neng asrama, Rêtna Dewi Lupitwati, lagya sakeca ngandikan, lawan cêthi emban cantrik, kaget dupi umeksi, dhumatêng wau kang rawuh, sajuga janma priya, lênggah sandhing para estri, Mlênuk Gêmbuk sigra nabda atêtannya.

Yang tengah ada didalam asrama, Retna Dewi Lupitwati, tengah menikmati perbincangan, dengan Cethi Emban dan Cantrik-nya (maksudnya semua muridnya), terkejut semua begitu melihat, kepada seseorang yang tiba-tiba datang, nyata seorang lelaki, langsung duduk didekat para wanita, Mlenuk Gembuk segera bertanya.

2. Lah sira iku wong apa, wani malbeng Endragiri, rupamu ala tur kiwa, pinangkanira ing ngêndi, lan sapa kang wêwangi, angakuwa mumpung durung, cilaka siya-siya, apa tan kulak pawarti, lamun kene larangan katêkan priya.

Kamu itu manusia apa? Berani masuk ke Endragiri tanpa permisi. Wajahmu jelek dan buruk, darimanakah asalmu? Siapakah namamu? Jawablah sebelum, dirimu sia-sia celaka, apakah tidak pernah mendengar kabar, jika tempat ini tempat larangan bagi lelaki?

3. Gatholoco tansah nyawang, botên pisan amangsuli, mêndongong kendêl kewala, lir bisu mung clumak-clumik, malah angiwi-iwi, lingak-linguk kukur-kukur, dereng purun cantênan, nudingi mring cantrik estri, dangu-dangu sumaur ngucap mangkana.

Gatholoco hanya terpaku melihat (wanita-wanita cantik tersebut), tak sepatah katapun jawaban keluar dari mulutnya, termangu-mangu diam, bagai orang bisu hanya bibirnya berdecak-decak kagum, lantas bukannya menjawab tapi malah mencibir, duduk seenaknya dan menggaruk-garuk, tidak mau buka suara, namun kemudian dia menunjuk kepada Mlenuk Gembuk, dan menjawab begini.

4. Sun iki janma utama, nyata yen lanang sajati, kêkasih Barang Panglusan, lan aran Barang Kinisik, têtêlu jênêng mami, ananging ingkang misuwur, manca pat manca lima, tanapi manca nagari, Gatholoco puniku aran manira.

Aku ini manusia utama, nyata seorang lelaki sejati, namaku Barang Panglusan, nama lainku Barang Kinisik, ada tiga namaku, yang sangat dikenal, diseluruh empat penjuru mata angin bahkan lima penjuru mata angin, hingga ke mancanegara, Gatholoco itu namaku.

5. Omahku ing têngah jagad, pinangkane saking wuri, nuruti sêjaning karsa, pramilane prapteng ngriki, prêlu arsa pinangggih, marang sireku wong ayu, dhuh mirah pujaningwang, lamun condhong sun rabeni, Mlênuk Gêmbuk muring-muring asru sabda.

Rumahku dipusat semesta, aku datang dari belakang (tiba-tiba ada maksudnya ~ tidak ada yang menciptakan), menuruti kehendak, sehingga aku sampai juga disini, perlu untuk bertemu, dengan dirimu duh cantik, duh berlian merah pujaanku, jika mau aku nikahi dirimu, Mlenuk Gembuk marah-marah dan berbicara keras.

6. Gumêndhung si asu ala, lancang pangucap kumaki, dêksura tindak sêmbrana, adol bagus marang mami, ingsun tan pisan sudi, andêlêng marang dhapurmu, bêcik sira minggata, aja katon aneng ngriki, eman-eman panggonan den ambah sira.

Gila kamu anjing jelek, lancang ucapanmu dan sombong, seenaknya dan sembrono, menawarkan kebaikan kepadaku, diriku sekali-kali tak sudi, melihat wujudmu, lebih baik minggatlah, jangan terlihat disini, sayang tempat seindah ini kamu jejaki.

7. Wangsulane gêmang lunga, malah sira mirah nuli, nurutana karsaningwang, dhuh wong ayu sun rabeni, mangsuli manas ati, wuwuse saya dalurung, si anjing kêna sibat, tan kêna ginawe becik, Mara age tutugna dak kêpruk bata.

Gatholoco (menjawab) enggan pergi, malah jika mau, dirimu turutilah kehendakku, duh cantik aku akan menikahimu, (Mlenuk Gembuk) menjawab dengan kata-kata memanaskan hati, namun ucapaan (Gatholoco) semakin keterlaluan, si anjing dicaci maki, karena tidak bisa diberi sopan santun, Lanjutkan ucapanmu kalau ingin aku pukul dengan batu bata (kata Mlenuk Gembuk)!

8. Gatholoco saurira, wideng galêng (yuyu) dhuh maskwari, wong ayu bok aja duka, kuwuk mangsa kolang-kaling (luwak), ron kang kinarya kikir (rêmpêlas), wêlasana awakingsun, parikan jênang sela (apu), apuranên sisip mami, jalak pita (kapodhang) sun cadhang dadiya garwa.

Gatholoco menjawab (tapi dengan berpantun ‘wangsalan’ ~ wangsalan adalah pantun teka-teki kata khas Jawa), ‘wideng’ (atau gangsing, yaitu mainan kuno berbentuk bulat dan dimainkan dengan dihentakkan ditanah hingga berputar) yang ada di selokan sawah (binatang YUYU) duh intan adikku, wong ‘a-YU (cantik)’ janganlah marah, ‘kuwuk’ (kerang laut) yang suka makan buah kolang-kaling (binatang LUWAK), daun yang dibuat untuk menghaluskan sesuatu (REMPELAS), ‘we-LAS- ana (kasihanilah) a-WAK ingsun (diriku ini)’, tersebutlah bubur dari batu (APU ~ Kapur Sirih), ‘APU-ranen (maafkanlah)’ kelancanganku, burung Jalak berwarna kuning (burung KEPODHANG) aku ‘ca-DHANG (harap)’ berkenanlah menjadi istriku.

9. Baita kandhêg samudra (labuh), lara wirang sun labuhi, terong alit dhêdhompolan (ranti), bok iya nganti sawarsi, bibis kulineng tasik (undur-undur), sayêkti tan nêja mundur, isih cuwa atiku pan durung lêga.

Perahu berhenti diatas samudera (ber-LABUH), walaupun harus malu aku ‘LABUH-i (Jalani)’, buah terong kecil bergerombol (buah RANTI), walaupun ‘ngan-TI (hingga)’ setahun, burung bibis yang suka bermain dipasir (binatang UNDUR-UNDUR), sungguh-sungguh aku tak akan ‘mun-DUR’, masih akan kecewa hatiku dan belum akan lega (jika belum terlaksana keinginanku).

10. Lan maneh ngong ngrungu warta, gustimu Sang Lupitwati, misuwur lamun waskitha, pintêr mring sabarang ilmi, tan ana kang ngungkuli, sarta wus jumênêng Wiku, lamun kapara nyata, manira arsa nandhingi, bantah kawruh sakarsane ilmu apa.

Dan lagi aku mendengar kabar berita, gusti-mu Sang Lupitwati, sangat terkenal waskitha, menguasai segala ilmu, tak ada yang mampu mengunggulinya, serta sudah mencapai taraf Wiku/Bhikku, jika memang benar demikian, aku hendak menandingi, mengajak debat ilmu sejati sekehendak dia ilmu yang mana.

11. Mlênuk Gêmbuk saurira, Badhenên cangkriman mami, lan soale gustiningwang, Rêtna Dewi Lupitwati, soale êmban cantrik, yen sira ngrêti sadarum, najan rupamu ala, gustiku Sang Lupitwati, apa dene para cêthi cantrikira.

Mlenuk Gembuk menjawab, Tebaklah teka-tekiku, serta teka-teki gustiku, Retna Dewi Lupitwati, serta teka-teki seluruh emban dan cantrik beliau, jika dirimu mampu menjawab, walau buruk rupamu, gustiku Sang Lupitwati, berikut seluruh cethi dan cantrik beliau.

12. Mêsthine nurut kewala, kabeh gêlêm anglakoni, Gatholoco alon mojar, Apa têmên tan nyidrani, upamane ngapusi, apa sira wani tanggung, yen sira ora dora, sun jawabe ing samangkin, lah ucapna cangkrimane kaya apa.

Pasti akan menuruti kehendakmu, semua akan mau menjalani sebagai istrimu, Gatholoco pelan berkata, Benarkah tidak ingkar janji? Jika nanti ingkar, apakah kamu mau bertangggung jawab? Jika kamu tidak berbohong, akan aku jawab segera semua teka-teki kalian, segera ucapkanlah teka-tekinya seperti apa.

13. Mlênuk Gêmbuk alon mojar, Ana wit agung siji, pang papat godhonge rolas, kêmbange tanpa winilis, wohe amung kêkalih, mung sawiji trubusipun, mubêng wolu pangira, puniku ingkang sawiji, pan ana dene ingkang salah satunggal.

Mlenuk Gembuk pelan berkata, Tersebutlah sebuah pohon besar, berdahan empat dan berdaun dua belas, bunganya tak terhitung, buahnya hanya dua biji, hanya satu akarnya, tapi tumbuh bercabang delapan, itu teka-teki pertama, sedangkan teka-teki lainnya adalah.

14. Ingsun ningali maesa, kathahe amung kêkalih, nanging têlu sirahira, badhenên cangkriman kuwi, Gatholoco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, kêcap-kêcap kêthip-kêthip, Mlênuk Gêmbuk gumujêng alatah-latah.

Aku melihat kerbau, berjumlah dua ekor, akan tetapi mempunyai kepala tiga buah, jawablah teka-teki ini, Gatholoco mendengarkan, pura-pura tidak paham, terbengong-bengong celingukan, bibirnya komat-kamit dan matanya ketap-ketip, Mlenuk Gembuk tertawa terbahak-bahak.

15. Kowe maneh yen bisaa, ambatang cangkriman iki, dhapurmu ala tur kiwa, Gatholoco anauri, Mêngko dhisik pinikir, supaya bisa katêmu, mara padha rungokna, wong kabeh aneng ngriki, sun badhene bênêr luput saksenana.

Mana mungkin kamu bisa memahami, bahkan menjawab teka-teki ini, rupamu buruk dan cacat, Gatholoco berkata, Sabar aku tengah berfikir, agar menemukan jawabannya, sekarang dengarkanlah, semua yang ada disini, aku akan menebak teka-teki itu salah maupun benar saksikanlah.

16. Ananging kalamun salah, aja padha ngisin-isin, bismillah mbadhe cangkriman, cangkrimane wong mrak ati, wit agung mung sawiji, iku jagad têgêsipun, pang papat iku keblat, godhong rolas iku sasi, trubus siji êpang wolu iku warsa.

Jika nanti salah, jangan mengolok-olok, bismillah hendak menjawab teka-teki, teka-teki dari manusia yang memikat hati, sebatang pohon besar, itu lambang dari dunia, dahan empat itu lambang dari arah mata angin, daun dua belas itu lambang bulan, akar satu bercabang delapan lambang tahun (tahun hakekatnya terulang satu kali, tapi dinamakan berbeda-beda setiap tahun hingga berjumlah delapan tahun yang disebut satu windu ~ tahun alip, ehe, jimawal, je, dal, be , wawu, jimakir ~ lantas berputar ke tahun alip lagi)

17. Kêmbang tanpa wilang lintang, minangka woh loro kuwi, anane surya rêmbulan, lan maneh ingkang sawiji, sira niku ningali, kêbo loro ndhase têlu, iku wus dadi lumrah, kêbo alam dunya iki, lanang wadon kêtêl wulu sirahira.

Bunga yang tak terhitung adalah lambang bintang, sedangkan buahnya hanya dua itu tak lain adalah matahari dan rembulan, sedangkan teka-teki satunya lagi, kamu melihat kerbau, dua ekor berkepala tiga, itu sudah lumrah didunia, kerbau yang ada di dunia ini, kepala ketiga adalah kepala yang juga ditumbuhi bulu.
(jika dua ekor kerbau jantan dan betina ada dalam satu tempat, maka kepala mereka jika dihitung ada tiga, yang satunya adalah kepala ‘penis’ kerbau jantan yang ditumbuhi bulu).

18. Gatholoco alon ngucap, Apa bênêr apa sisip, mangkono pambatangingwang, mring cangkriman iki, Mlênuk Gêmbuk miyarsi, wus kabatang soalipun, rumasa yen kasoran, sedhot mundur sarwi nglirik, alon ngucap saiki narima kalah.

Gatholoco pelan berkata, Apakah benar atau salah, begitulah jawabanku, untuk menjawab teka-teki ini, Mlenuk Gembuk mendengar, sudah terjawab teka-tekinya, merasa terkalahkan, seketika mundur sembari melirik, dan berkata sekarang mengaku kalah.

19. Dudul Mêndut sigra mapan, mesam-mesêm angesêmi, wus ayun-ayunan lênggah, Gatholoco nulya angling, Soal apa sireki, sun badhene cangkrimanmu, Dudul Mêndut angucap, Mangkene cangkriman mami, mara age badhenên ingkang pratela.

Dudul Mendut segera maju, tersenyum-senyum memikat, sudah berhadap-hadapan dengan Gatholoco, Gatholoco lantas berkata, Teka-teki apa darimu, akan aku jawab juga, Dudul Mendut berkata, Beginilah teka-teki dariku, segera tebaklah dengan benar.

20. Ing ngêndi prênahe Iman, ing ngêndi prênahe Buddhi, ing ngêndi prênahe Kuwat, apa Kang Luwih Pait, lan Ingkang Luwih Manis, Luwih Atos saking watu, apa kang Luwih Jêmbar ngungkuli jêmbaring bumi, apa ingkang Luwih Dhuwur saking wiyat.

Dimanakah kedudukan Iman? Dimanakah kedudukan Buddhi? Dimanakah kedudukan Kuat? Apa yang Lebih Pahit dari semua yang pahit? Apa yang Lebih Manis dari semua yang manis? Apa yang Lebih Keras dari batu? Apa yang Lebih Luas melebihi luasnya bumi? Dan Lebih Tinggi dari langit?

21. Apa ingkang Luwih Panas, ngungkuli panasing gêni, Luwih Adhêm saking toya, Luwih Pêtêng saking wêngi, êndi aran Ningali, lan êndi Kang Luwih Dhuwur, êndi Kang Luwih Andhap, apa ingkang Luwih Gêlis, akeh êndi Wong Gêsang karo Wong Pêjah.

Apa yang Lebih Panas, melebihi panasnya api? Yang Lebih Dingin dari air? Lebih gelap dari malam? Mana yang Melihat? Dan mana Yang Lebih Tinggi? Dan mana Yang Lebih Rendah? Apa yang Lebih Cepat? Banyak mana manusia Hidup dan manusia Mati?

22. Wong Sugih lawan Wong Nistha, Wong Jalu lawan Wong Estri, Wong Kapir lawan Wong Islam, mara badhenên saiki, Gatholoco nauri, Prênahe Iman puniku, aneng Jantung nggonira, ing Utêk prênahe Buddhi, Otot Balung prênah panggonane Kuwat.

(Banyak mana) yang Kaya dan yang Miskin, yang Laki-laki dan yang Wanita, yang Kafir dan yang Islam, segera jawablah sekarang. Gatholoco menjawab, Kedudukan Iman (Keyakinan) ada di Jantung, di Otak kedudukan Buddhi, Otot dan Tulang tempat kedudukan Kekuatan.

23. Prênahe Wirang ing Mata, Ing Dunya Kang Luwih Pait, batine wong malarat, dene Ingkang Luwih Manis, batine wong kang sugih, lamun Wong Kang Luwih Lumuh, Kang Blilu tan wêruh Sastra, ingkang aran Aningali, iku Janma Ingkang Wruh Ilmuning Allah.

Tempat Malu ada di Mata, tempat yang Lebih Pahit adalah di Dunia, menurut mereka yang melarat, sedangkan yang Lebih Manis, menurut mereka yang kaya, yang Lebih Bebal, adalah mereka yang bodoh tak memahami sastra suci, yang disebut Melihat, adalah manusia yang memahami ilmu Allah.

24. Ing ngêndi Kang Luwih Pêrak, Ing Dunya Kang Luwih Gêlis, ingkang Luwih Bungahira, iku Marmaning Hyang Widdhi, kang Amba Luwih bumi, yêkti Pandêlêng puniku, Landhêp Luwih Kang braja, iku Nalare Wong Lantip, Ingkang Adhêm Luwih toya Ati Sabar.

Dimanakan yang Lebih Dekat (kebahagiaan dan kesengsaraan ~ dualitas), di dunia ini juga yang Lebih Cepat, yang Lebih Bergembira (dan yang Lebih Sengsara), itu semua kehendak Hyang Widdhi, yang Luas melebihi bumi, adalah Penglihatan ini, yang Tajam melebihi besi, adalah Kesadaran manusia yang sudah terjaga, yang Dingin melebihi air adalah Hati yang Sabar.

25. Luwih Atos saking sela, Atine Wong Dhangkal pikir, Atine Wong Kang Brangasan, Panase Ngungkuli gêni, Wong Jalu lan Wong Estri, yêkti akeh Wadonipun, sanajan wujud lanang, tan wêruh tegese estri, kêna uga sinêbut sasat wanita.

Lebih Keras dari batu, adalah Hati manusia yang Kesadarannya sempit, Hati manusia yang penuh keinginan, panasnya melebihi Panas Api, Laki-laki dan Wanita, jelas banyak Wanita-nya, walau berwujud laki-laki, jika tidak memahami makna wanita sejati, bisa disebut juga wanita.

26. Wong Urip lan Wong Palastra, têmêne akeh kang Mati, sanajan wujude Gêsang, kalamun wong tanpa Buddhi, iku prasasat Mati, Wong Sugih lan Wong Nistheku, mêsti akeh kang Nistha, sanajan Sugih mas picis, lamun bodho tanpa Buddhi tanpa nalar.

Yang Hidup dan yang Mati, sungguh lebih banyak yang Mati, walau terlihat hidup, namun jika tanpa Buddhi (Kesadaran), sungguh dia Mati, yang Kaya dan yang Melarat, banyak yang Melarat, walau kaya harta benda, manakala bodoh tanpa Kesadaran dan tanpa kecerdasan.

27. Kêna sinêbut Wong Nistha, tan duwe pakarti benjing, kalamun ing rahmatullah, Wong Islam lawan Wong Kapir, Islam Kapir mung lair, yen tan ana anggitipun, mênawa datan wikan, pranatanira Agami, têtêp Kapir yêktine janma punika.

Bisa disebut manusia Melarat, tidak memiliki aktifitas lebih, untuk memahami kasih Allah, yang Islam dan yang Kafir, Islam dan Kafir hanya bisa dibedakan, manakala tidak mampu membangun Kesadaran, manakala tidak memahami, intisari Agama, tetap Kafir manusia yang seperti itu.

28. Wong iku nyata pintêran, tan kêna den mêjanani, Dudul Mêndut mundur sigra, sarwi awacana aris, Wus bênêr ora sisip, saikine ingsun têluk, Rara Bawuk gya mapan, mangkana denira angling, Ndika-bêdhek Gus Nganten cangkriman kula.

Orang ini memang pintar, tak bisa dikalahkan, Dudul Mendut segera undur, sembari berkata pelan, Benar jawabanmu, sekarang aku mengaku kalah, Rara Bawuk segera maju, begini katanya, Sekarang tebaklah teka-tekiku manusia Bagus.

29.Kabeh ingkang sipat gêsang, kang ana ing dunya iki, Pangucape Pirang Kêcap, mangka Leklu iku Klimis, Gatholoco miyarsi, reka-reka tan sumurup, malenggong palingukan, gedheg-gedheg angucemil, Rara Bawuk gumujêng alatah-latah.

Semua manusia yang hidup, yang ada didunia ini, berapakah banyak ucapan yang keluar dari mulut mereka? Sedangkan Leklu pasti Klimis, Gatholoco mendengar, pura-pura tidak memahami, terlolong celingukan, menggelengkan kepala kebingungan, Rara Bawuk tertawa terbahak-bahak.

30.Sarwi kêplok bokongira, angencêpi ngisin-ngisin, Sira maneh yen bisaa, anjawab cangkriman mami, dhapurmu anjêjinggis, kaya antu lara ngêlu, Gatholoco angucap, Mbuh bênêr mbuh luput iki, sun badhenên dhiajêng cangkrimanira.

Sembari menepuk pantatnya, mencibir dan mengolok-olok, Mana mungkin kamu bisa, menjawab teka-tekiku, wujudmu saja jelek sekali, mirip hantu sakit kepala, Gatholoco berkata, Entah benar entah salah, akan aku jawab diajeng teka-tekimu ini.

31.Ucape kang sipat gêsang, kang ana ing dunya iki, Pan Amung Salikur Kêcap, nora kurang nora luwih, dene sastra kang muni, pan iya amung salikur, kabeh ucaping jalma, kang ana ing dunya iki, Leklu Klimis iya iku tegesira.

Ucapan yang keluar dari mulut manusia yang hidup, yang ada disunia ini, hanya ada Duapuluh satu macam, tidak lebih dan tidak kurang, sedangkan seluruh catatan tentang mereka, juga hanya terdiri dari Dua puluh satu buah, itulah jumlah ucapan manusia, yang hidup didunia ini, Leklu Klimis itu artinya. (Maksud Gatholoco, seperti yang pernah diterangkannya pada bagian tiga, pupuh Dandanggula II, pada (syair) 29, bahwasanya seluruh manusia didunia ini berjumlah Duapuluh Satu. Maksudnya, Angka Dua melambangkan mereka yang masih terjerat dualitas duniawi (suka-duka, sedih-senang, kaya-miskin dll), sedangkan angka Satu melambangkan mereka yang telah mampu lepas dari jeratan dualitas duniawi. Maka begitu pula ucapan yang keluar dari mulut mereka, pastinya juga cuma ada Dua puluh satu buah. Angka Dua melambangkan ucapan mereka yang masih terjerak dualitas, dan angka Satu melambangkan ucapan mereka yang telah lepas dari jeratan dualitas. : Damar Shashangka)

32.Têlek neng Alu lêsungan, yen Dicêkêl yêkti Amis, salawase durung ana, têlek ingkang mambu wangi, Rara Bawuk miyarsi, yen kajawab soalipun, rumasa katiwasan, ora wurung dirabeni, sêntot mundur sumingkir sêmu kisinan.

TeLEK neng aLU lesungan, yen di ceKeLI yekti aMIS (Tahi yang ada di alat penumbuk padi, manakala dipegang pasti berbau amis), selamanya belum ada, tahi yang berbau wangi, Rara Bawuk mendengar, dan menyadari teka-tekinya telah terjawab, merasa kalah dan pasrah, sudah pasti akan dinikahi (oleh Gatholoco), seketika undur menyingkir sembari malu. (LEKLU KLIMIS ~ teLEK neng Alu lesungan yen diceKeLI yekti Amis (Tahi yang ada dialat penumbuk padi, manakala dipegang pasti berbau amis, maksudnya sesuai dengan yang pernah diwejangkan Gatholoco pada bagian 12, pupuh Kinanthi VI, pada (syair) 35-38. Disana diterangkan tentang Martabating Pamanggih (Uraian tentang etika tingkah laku) yang terdiri dari lima hal, yaitu : 1. Kletheking Ati (Kekotoran Hati), 2. Katepeking Lampah : Suara Langkah/degup ketidak tenangan, 3. Panjriting Tangis : Jerit Tangis/ketidak puasan, adalah lambang ketidak murnian diri yang seharusnya sangat memalukan bagi manusia yang sadar. Ketidak murnian ini ada didalam diri yang berputar-putar bagai awan panas menggelora. 4. Kethuking Nutu adalah Ucapan yang keluar dari orang yang sadar yang bisa menetralisir segala hal-hal negative yang bergelayut didalam diri, sehingga ucapan yang keluar terdengar positif dan indah, bagai suara orang menumbuk padi yang merdu. Dan jika hal ini bisa dibiasakan, maka diri kita nyata telah menjadi 5. Cleret Ngantih : Perwujudan Pelangi atau Jamalullah : Kecantikan Allah bagi sesama. Tahi yang ada dialat penumbuk padi, adalah lambang dari kekotoran batin. Dalam menumbuk padi, pasti terdengar suara, ini lambang dari ucapan yang keluar. Jika alat menumbuknya sudah kotor, maka suara yang keluar juga akan kotor. Itu maksud simbolisasi TAHI YANG ADA DIALAT PENUMBUK PADI, MANAKALA DIPEGANG PASTI BERBAU AMIS : Damar Shashangka).

33.Angucap Ingsun wus kalah, saprentahmu sun lakoni, gantya Dewi Bleweh mapan, lênggah nêja bantah ilmi, Sang Dewi Bleweh angling, Badhenên cangkrimaningsun, Isine alam dunya, kabeh Ana Pirang Warni, lawan Pira Rasane lamun Pinangan.

Berkata Aku sudah kalah, apapun keinginanmu aku jalankan, kini ganti Dewi Bleweh maju kemuka, duduk hendak berbantahan ilmu, Sang Dewi Bleweh berkata, Jawablah teka-tekiku ini, Berapakah jumlah isi alam dunia ini? Dan berapakah jumlah rasa seluruh isi alam dunia ini jika dimakan?

34.Sun andulu Wujudira, adêge Wolung Prakawis, Pikukuhe Raga Tunggal, Sipat Papat Keblat Kalih, Patbêlas Ingkang Keri, Kang Loro Tutup-tinutup, samya Manjêr Bandera, Kêkalih pating karingkih, lan badhenên, mangrêtine dadi paran.

Aku menatap Wujudmu, terlihat Delapan Macam, Mewujud dalam Satu Raga, Mempunyai Empat Keblat (mata angin) dan, ditambah Empat Belas macam yang sangat penting, Yang Dua sangat dirahasiakan, Karena keduanya tempat mengibarkan Bendera, Keduanya sangat sensitif, nah tebaklah, bagaimana maksudnya?

35.Gatholoco duk miyarsa, reka-reka tan mangrêti, mung dhêlêg-dhêlêg kewala, Dewi Bleweh ngisin-isin, lenggak-lenggok nudingi, malerok sarwi gumuyu, Sira masa bisaa, ambatang cangkriman mami, wong dhapurmu saru kiwa irêng mangkak.

Gatholoco begitu mendengarnya, pura-pura tak mengerti, hanya terdiam saja, Dewi Bleweh mengolok-olok, melenggak-lenggokkan kepala dan menuding, menatap dengan tatapan menghina serta tertawa, Mana mungkin kamu bisa, menjawab teka-tekiku, wujudmu saja memalukan cacat hitam jelek bagai kain yang warnanya luntur.

36.Gatholoco saurira, Mêngko sun pikire dhisik, bismillah mbadhe cangkriman, cangkrimane gêndhuk kuwi, Isine Dunya Amung Sanga Kathahipun, ingkang kinarya ngetang, angkane mung Sangang Iji, ora nana ingkang luwih saking sanga.

Gatholoco menjawab, Sabarlah aku tengah berfikir, bismillah menjawab teka-teki, teka-teki gadis ini, Isi dunia hanya ada sembilan buah jumlahnya, sebab jelas angka yang dibuat untuk menghitung, Cuma ada sembilan buah, tidak ada angka yang melebihi dari angka sembilan.

37.Sawuse jangkêp sadasa, bali marang siji maning, iku tandhane mung sanga, isine dunya iki, kabeh mung sanga kuwi, Kahanane Rupa iku, yêktine Nem Prakara, wijange sawiji-wiji, Ireng Biru Putih Kuning Ijo Abang.

Manakala jumlah sudah genap sepuluh, maka angkanya akan kembali ke angka satu lagi, itu bukti bahwa seluruh dunia ini, hanya berjumlah sembilan buah, semua hanya sembilan jumlahnya, Keberadan wujud itu, hanya ada Enam Macam, uraiannya satu persatu adalah, Hitam Biru Putih Kuning Hijau Merah.

38.Liya iku ora nana, rupa ingkang manca warni, iku Padha Ngêmu Rasa, dene kabeh kang binukti, ing alam dunya iki, Rasane Mung Ana Wolu, Lêgi Gurih kalawan, Pait Gêtir Pêdhês Asin, Sêpêt Kêcut ganêpe wolung prakara.

Selain daripada warna itu tidak ada lagi, semua yang berwarna warni adalah campuran dari keenam warna dasar tersebut, seluruh Wujud memiliki Rasa, buktinya, didunia ini, Rasa hanya ada Delapan, Manis Gurih serta, Pahit Getir Pedas Asin, Sepat Kecut jumlah totalnya ada Delapan.

39.Adu Bokong têgêsira, gênah lamun Asu Ganjing, padha adu bokongira, Ngadêg Suku Wolung Iji, Keblatira Kêkalih, Madhêp Ngalor lawan Ngidul, Sipate iku Papat, Matanira Patang Iji, lawangane Bolongan Ana Patbêlas.

Beradu pantat maksudnya, jelas adalah Anjing yang tengah Kawin, mereka akan beradu pantat (Menyindir isi dunia yang suka bentrok karena keyakinan. Selaras dengan pepatah Jawa REBUT BALUNG TANPA ISI (Berebut tulang tanpa guna ~ merebutkan sesuatu yang kosong tak berisi. Yang suka bentrok karena keyakinan berbeda, Gatholoco mengatakan bagaikan Anjing Kawin, ribut melulu), berkaki empat tapi berjumlah delapan buah (karena ada dua ekor anjing ~ maksudnya walau memiliki Kesadaran, Perasaan, Pikiran dan Memori yang sama, tapi seolah mereka yang sedang bentrok memiliki Kesadaran, Perasaan, Pikiran dan Memori lain dan berbeda karena masing-masing sudah terdoktrin sedemikian kuatnya.) Arah mata angin hanya dua, hanya Utara atau Selatan ( Maksudnya, walau sebenarnya arah mata angin itu ada empat, bahkan bisa dikatakan delapan, bahkan sembilan jika dihitung arah tengah, bahkan sebelas jika mau dihitung arah bawah ditambah arah atas, namun bagi mereka yang punya doktrin fanatis semacam itu, arah mata angin bagi mereka hanya dua saja, utara atau selatan. Kafir atau non kafir. Golonganku atau diluar golonganku : Damar Shashangka), padahal mereka sama-sama memiliki Empat Belas Lobang kehidupan yang tiada beda.

40.Cangkêm Irung miwah Karna, Silite kalawan Prêji, gung-gunge kabeh Patbêlas, kang Tutup-tinutup sami, Panjine Dakar Prêji, pating krêngih êndêmipun, dene Umbul Pulêtan, Bandera Buntute Kalih, ting Jalênthir lir Bandera Karo pisah.

(Satu lobang) Mulut (Dua lobang) Hidung serta (Dua lobang) Telinga, (Satu lobang) Kemaluan dan (Satu lobang) Anus, total jumlahnya Empat Belas (ditambah Kesadaran, Pikiran, Perasaan, Memori dan yang Keempat Belas adalah Ruh/Atma : Damar Shashangka). Yang senantiasa Dirahasiakan, adalah Kemaluan dan Anus, sangat sensitif memabukkan, sedangkan maksud Bendera dikibarkan, adalah sama dengan sebuah tiang bendera yang dipasangi dua macam bendera sekaligus, sehingga berkelebat tidak karuan kekanan dan kekiri manakala terhembus angin. (maksudnya adalah, pada masa dulu, jika tengah menantang perang atau menyatakan kalah perang, diisyaratkan dengan mengibarkan bendera merah atau putih. Ini adalah isyarat menyampaikan maksud/hasrat untuk berperang atau menyerah kalah. Jika kemaluan dilambangkan tempat mengibarkan bendera, artinya kemaluan adalah tempat mengibarkan hasrat sexual, mengibarkan hasrat keinginan untuk bersetubuh dan bersenggama. Gatholoco menambahkan, kemaluan itu ibarat tiang untuk mengibarkan bukan hanya satu buah bendera hasrat, tapi dua buah, karena hasrat sexual manusia kadang sangat tidak karu-karuan berkelebat tak tentu arah bagai dua buah bendera yang dikibarkan sekaligus dalam satu tiang dan terkena angin dalam saat bersamaan. : Damar Shashangka)

41.Apa bênêr apa ora, mangkono pambatang mami, mara age wangsulana, Dewi Bleweh duk miyarsi, kajawab soalneki, sakalangkung gêtun ngungun, nggarjita jroning nala, pinasthi kalawan takdir, awakingsun kinanti wong kaya sira.

Apakah benar atau salah, begitulah jawaban dariku, nyatakanlah sekarang, Dewi Bleweh begitu mendengar, bahwasanya telah terjawab teka-tekinya, seketika kecewa bercampur heran, berkata didalam hati, sudah menjadi takdir hidupnya, harus ‘Kinanthi’ (Digandeng ~ maksudnya diperistri, selain itu juga menyatakan secara tersirat bahwa pupuh selanjutnya adalah Pupuh Kinanthi : Damar Shashangka) oleh manusa jelek seperti dia.

PUPUH IX
——–
Kinanti

1.Dewi Bleweh nulya mundur, sarwi awacana manis, Ingsun wus rumasa kalah, sakarêpmu sun-lakoni, manira manut kewala, ora sumêja nyêlaki.

Dewi Bleweh lantas undur, sembari berkata manis, Diriku mengaku kalah, sekehendak hatimu akan aku turuti, aku akan menueut saja, tidak akan membantah lagi.

2.Namung kantun kusuma yu, Rêtna Dewi Lupitwati, mapan lênggah arsa bantah, Gatholoco nabda aris, Sireku keri priyangga, êmbane kalawan cantrik.

Tinggal sang bunga yang canti, Retna Dewi Lupitwati, segera mempersiapkan diri hendak berbantahan, Gatholoco berkata, Hanya tinggal kamu seorang, emban dan cantrikmu.

3.Kalah bantah padha mundur, sira Dewi Lupitwati, apa nutut apa berani, sa-buddhi-mu sun kêmbari, Rêtna Dewi angandika, Apa saujarmu kuwi.

Telah kalah dan mundur, kamu Dewi Lupitwati, apakah mampu apakah mundur, sampai dimana kesadaranmu akan aku imbangi, Retna Dewi berkata, Apa yang kamu ucapkan?

4.Yen sira ngarani têluk, yêktine têluk wak mami, yen sira ngarani bangga, sabênêre ingsun wani, mung iki cangkrimaning-wang, kathahe têlung prakawis.

Jika kamu mengatakan aku telah tunduk, benar aku hampir kamu tundukkan, tapi jika kamu mengatakan apakah aku berani, sungguh aku masih bernai, hanya ini teka-teki dariku, jumlahnya tiga macam.

5.Badhenên ingkang dumunung, têgêse Wong Laki Rabi, lan têgêse Wadon Lanang, tegese Sajodho kuwi, Gatholoco saurira, Ora susah nganggo mikir.

Jawablah dengan tepat, apa maksud dari Pernikahan, dan apa maksud Wanita dan Lelaki, apa maksud Jodoh itu? Gatholoco menjawab, Tidak usah berfikir diriku.

6.Prakara cangkriman iku, tegese Wong Laki Rabi, ingkang aran Wadon Lanang, ingsun uga wus mangrêti, mung remeh gampang kewala, rungokna pambatang mami.

Untuk menjawab teka-teki ini, arti dari Pernikahan, yang dimaksud Wanita dan Lelaki, aku sudah memahami dari dulu, hal yang remeh belaka, dengarkan jawaban dariku.

7.Têgêse Wong Lanang iku, Ala kang têmênan kuwi, iya iku ananingwang, rupane Ala ngluwihi, Wadon iku têgêsira, gênah Panggonane Wadi.

Arti dari LA-nang (Lelaki) itu, adalah ciptaan yang sangat a-LA (Buruk), dilambangkan dengan wujudku ini, seperti wujudku inilah wujud lelaki itu, WA-don (Wanita) itu adalah tempat WA-di (Rahasia). (Maksud Gatholoco, lelaki atau Lanang, adalah sebuah ciptaan yang buruk. Karena makhluk yang bernama lelaki diliputi oleh watak keras dan egoisme. Dilambangkan secara nyata dengan rupa Gatholoco sendiri. Seperti itulah sebenarnya makhluk yang dinamakan lelaki. Sedangkan wanita atau Wadon adalah makhluk yang diliputi dengan kerahasiaan dan ketidak jelasan, terlalu mempergunakan perasaan. Walau terlihat lembut, tapi sama juga jeleknya dengan keegoisan seorang laki-laki. Yang satu egois secara keras, yang satu egois secara lembut : Damar Shashangka)

8.Wadine Wong Wadon iku, Wujude Wujudmu kuwi, sabênêre Luwih Ala, dunung sarta asalneki, acampur kalawan priya, tuduhna kang ala iki.

Rahasia wanita itu, wujudnya seperti wujudmu itu (cantik), akan tetapi tetap juga buruk sebenarnya, asal dan keberadaanya sekarang ini, jika bercampur (bertemu/menikah) antara lelaki, maka akan terlihat keburukan ini semua.

9.Mula Rabi aranipun, Wong Lanang Amêngku Estri, rahab ngrahabi sadaya, kang ala lawan kang bêcik, mula lanang aranira, aja nglendhot marang estri.

Maka dinamakan RA-BI (Nikah), Lelaki menikahi Wanita, saling RA-hab ngraha-BI (saling ber-interaksi) dari semua watak yang ada, baik watak yang buruk maupun watak yang jelek, dan bisa dikatakan Jodoh manakala lelaki, tidak memaksakan kehendaknya kepada wanita (maksudnya saling mengingatkan untuk mengikis watak dasar yang buruk dari kedua makhluk ciptaan ini : Damar Shashangka)

10.Mung iku pambatangingsun, apa bênêr apa sisip, Lupitwati aturira, Pukulun pêpundhen mami, saestu lêrês sadaya, marmane amba samangkin.

Hanya itu jawaban dariku, apakah benar atau salah? Lupitwati menjawab, Duh yang mulia sesembahan hamba, sungguh benar semua, oleh karenanya hamba sekarang.

11.Nrimah kawon sampun têluk, sumanggêng karsa nglampahi, muhung asrah jiwa raga, tan pisan nêja gumingsir, ing dunya prapteng dêlahan, têtêp mantêp lair batin.

Menerima kalah dan tunduk, bersedia menjalani, memasrahkan jiwa raga, tidak akan tergoyahkan lagi, mulai dunia hingga mati, akan mantap lahir batin.

12.Gatholoco sukeng kalbu, gumujêng sarwi mangsuli, Tuturira sun tarima, lan maneh wiwit saiki, sireku kabeh kewala, têtêp dadi garwa-mami.

Gatholoco gembira dalam hati, tertawa sembari berkata, Aku terima janjimu, dan mulai dari sekarang, kalian semuanya, akan ku ambil sebagai istriku.

13.Mulane sira sadarum, kudu manut gurulaki, sabarang parentahingwang, abot entheng aywa nampik, lamun nampik siya-siya, tan wurung sida bilahi.

Oleh karenanya kalian semua, harus menurut kepada suami, semua yang diperintahkan, berat maupun ringan jangan membantah, manakala membantah, akan mendapatkan kecemaran.

14.Wus lumrah wong lanang iku, wajibe mêngkoni rabi, sanajan rupane ala, nanging pantês den ajeni, sinêmbah mring garwanira, krana aran gurulaki.

Sudah lumrah seorang lelaki, harus menikah, walaupun buruk rupa, akan tetapi sebagai seorang suami patut dihargai, dipatuhi oleh istrinya, oleh karenanya disebut Gurulaki (Seorang suami dalam tradisi Jawa disebut Gurulaki. Artinya selain Guru umum yang pernah atau telah memberikan pelajaran ilmu pengetahuan maupun spiritual kepada seorang wanita, sang suami-pun wajib pula disebut guru baginya jika dia kelak sudah menikah : Damar Shashangka).

15.Solah tingkah murih patut, satiti angati-ati, tan kêna kanthi sêmbrana, yen sêmbrana ora bêcik, sanajan lunga sadhela, kudu pamit marang mami.

Harus belajar beretika, berhati-hati, tidak boleh seenaknya, jika seenaknya itu tidak baik, walaupun keluar rumah sebentar, harus memberitahu kepada suami.

16.Kajaba kang kadi iku, rungokna pitutur mami, amurih salamêtira, aywa karêm karya sêrik, den sabar aywa brangasan, ngajenana mring sêsami.

Selain daripada itu, dengarkan nasehatku, agar diri kalian mendapatkan keselamatan, jangan suka membuat kebencian, belajarlah sabar dan jangan berangasan, hargailah semua manusia.

17.Upama sira katêmu, marang pamitranmu yayi, kalamun sira micara, kudu ingkang sarwa manis, dimene rêna kang myarsa, aywa nganti den ewani.

Manakala diri kalian bertemu, dengan sanabat-sahabatmu duh adikku semua, jika berbicara, harus yang sopan dan manis, agar senang yang mendengarkannya, jangan sampai mengucapkan kata-kata yang membuat kecewa orang lain.

18.Yen sira micara saru, utawa dhêmên ngrasani, mring alane liyan janma, sayêkti akeh kang sêngit, datan sênêng malah ewa, sinêbut wong kurang buddhi.

Jika kalian berkata tidak sopan, atau suka bergunjing, membicarakan kejelekan orang lain, bakalan banyak yang membenci, tidak ada yang menyukai kalian, kalian akan disebut manusia kurang budi (kesadaran).

19.Upamane ana tamu, den enggal sira nêmoni, kang sreseh nuli bagekna, linggihane ingkang rêsik, sireku kang lêmbah manah, sokur bisa nyugatani.

Jikalau ada tamu datang, bersegeralah menemui, yang sopan dan sambutlah, berikan tempat duduk yang bersih, harus sabar dan merendahkan diri, sukur-sukur jika bisa memberikan hidangan.

20.Sanajan tan bisa nyuguh, nanging sumeh ulat manis, têmbunge grapyak sumanak, rumakêt sajak ngrêsêpi, supaya tamune suka, sênêng ora gêlis mulih.

Walaupun tidak mampu memberikan suguhan, akan tetapi jika sopan dan berwajah manis, ucapannya bersahabat dan menyenangkan, tidak mengambil jarak dan menyenangkan hati, (lakukanlah itu) agar sang tamu bergembira, dan betah.

21.Yen sira sêmu marêngut, kang mradayoh yekti wêdi, kinira kalamun ladak, utawa kinira êdir, den arani ora lumrah, datan kurmat mring sêsami.

Jikalau dirimu berwajah judes, yang bertamu akan takut, dikira kalian sombong, atau dikira pemarah, akan dikatakan wanita tidak lumrah, tidak bisa menghormati sesama.

22.Watak andhap asor iku, wêkasane nêmu bêcik, raharja sugih têpungan, kineringan mring sêsami, linulutan pawong mitra, akeh ingkang trêsna asih.

Watak merendahkan diri itu, akan menemukan kebaikan, tentram dan kaya teman, dihormati oleh sesama, dihargai oleh teman-teman semua, akan banyak yang menyayangi.

23.Kang garwa samya tumungkul, sadaya matur wot sari, Dhuh pukulun kasinggihan, wulangipun gurulaki, saliring dhawuh paduka, sayêkti kawula pundhi.

Seluruh istri (Gatholoco) menunduk, semua berkata hendak menjalani, Duh yang mulia, nasehat dari seorang Gurulaki (suami), segala yang telah terucapkan, sungguh kami semua akan menjalani.

24.Gatholoco alon muwus, Rehning sira wus ngantêpi, darma saking karsaningwang, kepengin arsa udani, pratandhane kang sanyata, apa bênêr sira estri.

Gatholoco pelan berkata, Dikarenakan kalian semua sudah mantap, setia bakti karena kehendak kalian sendiri sekarang aku ingin, hendak melihat, bukti nyata, apakah benar-benar kalian semua ini seorang wanita?

25.Samengko mrih gênahipun, manira arsa nontoni, mring prenah têtêngerira, wujude ingkang sajati, sireku pada lukara, supaya cêtha kaeksi.

Sekarang agar nyata, aku hendak melihat dengan mata kepalaku sendiri, kepada tempat tanda seorang wanita, wujudnya yang sesungguhnya, kalian semua bukalah busana kalian, agar jelas terlihat.

26.Para garwa alon matur, Dhuh pukulun kadi pundi, dene paring dhawuh lukar, kawula lumuh nglampahi, krana saking botên limrah, nalar saru tan prayogi.

Seluruh istri pelan berkata, Duh yang mulia bagaimana maksudnya? Memberikan perintah agar kami telanjang, kami malu menjalani, karena tidak lumrah hal itu dilakukan, sangat saru dan tidak baik.

27.Gatholoco asru bêndu, Tuturmu padha ngantêpi, mantêp lair batinira, mituhu mring gurulaki, kaya paran ing samangkya, tan miturut prentah mami.

Gatholoco berkata, Bukankah kalian tadis udah mantap, lahir hingga batin, menuruti perintah Gurulaki, sekarang bagaimana, kok membantah perintahku?

28.Lamun rewel datan manut, sireku bakal bilahi, sidane nêmu cilaka, katiban gitik panjalin, wong siji kaping limalas, lan maneh sun sêpatani.

Jika rewel tidak menurut, kalian bakal cemar, mendapatkan kecelakaan, tertimpa pukulan penjalin, setiap orang lima belas kali, dan akan aku kutuk nanti.

29.Ananging yen padha manut, nurut marang karêp mami, sawuse lukar busana, nuli marang tilam sari, awakingsun pijêtana, supaya kêsêle mari.

Akan tetapi manakala semua menurut, menuruti keinginanku, setelah bertelanjang bulat, seterusnya menuju ke peraduan, pijitlah diriku ini, agar hilang rasa lelah yang kurasakan.

30.Para garwa samya manut, tyas ajrih den supatani, sadaya lukar busana, Gatholoco dhuk umeksi, gumujêng alatah-latah, sarwi ngingkrang munggeng kursi.

Seluruh istri menuruti, dalam hati takut kalau dikutuk, semua membuka busananya, Gatholoco begitu melihat, tertawa terbahak-bakak, sembari duduk diatas kursi.

31.Mangkana denira muwus, Saiki katon sajati, wus cêtha nyata wanita, têngêre wadon kaeksi, warna-warna datan padha, ana gêdhê ana cilik.

Beginilah dia berkata kemudian, Sekarang sudah terlihat yang sesungguhnya, benar-benar jelas kalian seorang wanita, bentuk kewanitaan kalian sudah terlihat, beraneka bentuknya tidak sama, ada yang besar ada pula yang kecil.

32.Rehning cêtha wus kadulu, wujudnya sawiji-wiji, akarya rênaning driya, ing samêngko sun lilani, kabeh padha tutupana, ngagêma busana maning.

Karena aku sudah melihatnya, bentuk satu persatu milik kalian, membuat diriku senang, sekarang aku mengijinkan, tutupilah lagi, pakailah busana kalian kembali.

33.Yen sireku arsa wêruh, marang sajatining laki, duwekingsun tingalana, becike apa saiki, utawa mêngko kewala, sakarêpmu sun turuti.

Jikalau kalian ingin melihat, kepada bentuk milikku, lihatlah kemari, sekarang juga, atau nanti, terserah kalian.

34.Lamun sira ngajak ngadu, duwekmu lan duwek mami, manira manut sakarsa, gêlêm bae ingsun wani, sira ngajak kaping pira, manira saguh ngladeni.

Jika kalian semua mengajak untuk mengadu, milik kalian semua dengan milikku, aku akan menuruti, aku berani walau kalian semua mengajak berapa kali, aku sanggup melayani.

35.Rêtna Dewi alon matur, Pukulun pêpundhen mami, prakawis nalar punika, amba tan kapengin uning, dhumatêng wujuding priya, nuwun gunging pangaksami.

Retna Dewi pelan berkata, yang mulia sesembahan hamba, masalah itu, kami tidak ingin melihat, kepada bentuk barang milik lelaki, kami memohon maaf.

36.Kang awit pamanggih ulun, kirang prêlu angingali, kawula datan mêntala, lan malih botên prayogi, pramilane botên susah, paduka paring udani.

Sebab menurut kami, kurang perlu untuk melihat hal itu, kami sangat malu, dan lagi tidak baik, oleh karenanya tidak usah saja, jika yang mulia hendak menunjukkannya.

37.Gatholoco alon muwus, Dhuh wong ayu mêrak ati, sumeh sêmune prasaja, susileng solah rêspati, wangsalan iki rungokna, wulang mring sira wong manis.

Gatholoco pelan berkata, Duh cantik yang menawan hati, yang manis dan sangat sopan, yang beretika dan menyenangkan hati, pantun ini dengarkanlah, ini wejanganku kepada kalian semua.

PUPUH X
——–
Dandanggula

1. Jayengsastra êmpaning lêlungid (carik), sirik agêng jênênging wanudya, luput barangreh wurine, wruh ing wêkasanipun, teja panjang kang ngêmu warih (kluwung),sinjang agêming priya (bêbêd), kang kêdah sinawung, pawestri kathah rubêdnya,taji sawung (jalu) ganda pangusaping lathi (lênga krawang), kaluputekawangwang.

Mahir dalam tulis menulisdan memegang rahasia (CARIK), ‘si-RIK’ (Larangan) besar bagi seorang wanita,tidak memikirkan hasil akhirnya, tidak memperhitungkan untung ruginya (hanyamemperturutkan kesenangan atau foya-foya), cahaya panjang yang mengandung air(KLUWUNG/PELANGI), sinjang (kêmben) yang dipakai pria (BEBED), yang harus ‘sina-WUNG'(Diingat), seorang wanita banyak ‘ru-BED’ (batasan secara kodrati), taji(senjata) milik ayam (JALU) bau yang diusapkan dilidah (Lênga KRAWANG), batasankodrati itu jelas ‘kawang-WANG’ (terlihat).

2. Putran-dhênta(pratima) ron aglar ing siti (uwuh), pêlêm agung kang galak gandanya (kuweni),ewuh aya pratikêle, wanita tindak dudu, kuda mijil ing Tamansari (Kalisahak),piring siti (pinggan) upama, dadyan dhewekipun, angrusak badan priyanggan, saritala (malam) dhadhaking ron (talutuh) sun wastani, nalutuh alam dunya.

Boneka indah (PRATIMA)daun yang berguguran menumpuk ditanah (UWUH/SAMPAH), mangga besar yang kerasbaunya (KWENI), ‘e-WUH’ (susah) ‘PRA-tikele’ (pemikirannya), bagi wanita yang telah melakukan kesalahan(karena sebuah kesalahan yang dilakukan seorang wanita sangat dipandang tidakpatut dalam tatanan masyarakat), Kuda disebuah taman sari (KALISAHAK), piringdari tanah (PINGGAN) seandainya, maka jadilah wanita tersebut, ‘angru-SAK'(merusak) badan ‘priyang-GAN'(diri sendiri), sari tala (MALAM yang dibuatmembathik) kotoran daun (TLUTUH/GETAH) aku katakan yang demikian itu, akanmenjadi ‘nalu-TUH’ (jatuh kehormatannya) ‘al-AM’ (dialam) dunia.

3. Kismarêmpu (lêbu) atmaja Jumiril (Umarmaya), marma estri tan kalêbu wêca, Nata Prabuing Tasmitên (Gêniyara), kaca kang tanpa ancur (ram), gawe eram ingkangningali, pantês yen piniyara, talatahing laut (muwara), ing tekad angayawara,jamang wastra (têpi) ojating wong awêwarti (kaloka), nêtêpi ing saloka.

Tanah yang hancur(LEBU/DEBU) putra Raja Jumiril (UMARMAYA), ‘ MARMA’ (Oleh karenanya) seorangwanita yang buruk tidak akan jadi pilihan, Raja diraja dinegara Tasmiten(GENIYARA), kaca yang tidak tajam (RAM), membuat ‘e-RAM’ (kagum) bagi yangmelihatnya, sungguh patut untuk diambil istri (wanita yang tidndak-tanduknyasenantiasa waspada), wilayah tengah lautan (MUWARA/MUARA), membuat lelaki yangmelihat dalam hati jadi ‘ngaya-WARA’ (tidak karu-karuan karena sangat memikat),hiasan kemben (TEPI) suara orang yang memberikan kabar (KALOKA/BERKUMANDANG),sungguh seorang wanita yang ‘nete-PI’ (mematuhi) ‘salo-KA’ (SLOKA/ sastrasuci).

4. Gingsiringwulan purnama siddhi (grahana), bêbayi sah kang saking tuntunan (puput),graitanên sauntase, ingkang tumibeng luput, tambang palwa (wêlah) ingsun wastani,parikan jênu tawa (tungkul), pan aja katungkul, ing solah kang tanpa karya, mênyankuning (wêlirang) kang toya saking jasmani (kringêt), engêta kawirangan.

Hilangnya bulan purnama(GRAHANA/GERHANA), bayi yang telah lepas dari tangan (PUPUT/mulai bisaberjalan), ‘GRA-itanen’ (renungkanlah) seluruhnya, apa saja yang akan membuatkamu jatuh pada ‘lu-PUT’ (kesalahan), tambang perahu (WELAH) aku sebut, syairjenu tawa (TUNGKUL), jangan sampai ‘ketung-KUL’ (lalai), pada ‘so-LAH'(perbuatan) yang sia-sia, kemenyan berwarna kuning (WELIRANG/BELERANG) air yangkeluar dari badan (KRINGET/KERINGAT), ‘e-NGET-a’ (Ingat-ingatlah) akan ‘kawi-RANG-an'(malu).

5. Ing NgajêrakPapatih Nata Jin (Sannasil), pulas langking kang kinarya sastra (mangsi),keksi-eksi wêkasane, tanpa asil ing laku, sêmbahyange janma minta sih (salathajat), katrapaning manusa (dhêndha), dhêndhaning Hyang Agung, tanpa kajatingpanyipta, yasa ranu (bale kambang) Narendra Bojanagari (Suryawisesa), kumambanging wisesa.

Patih Jin di negaraNgajerak (SANNASIL), cairan hitam yang bisa dibuat menulis sastra (MANGSI/TINTA),’kek-SI ek-SI’ (terlihat jelas) juga akhirnya, tiada ‘a-SIL’ (hasilnya/sia-sia)bagi diri sendiri, sembahyang manusia meminta anugerah (SALAT KAJAT/HAJAT),hukuman uang bagi manusia (DHENDHA/DENDA), ‘DHENDHA’ (Hukuman) Hyang Agung,tiada ‘ka-JAT’ (diingini/dikehendaki) akan nyata datang, membuat tempatditengah danau (BALE KAMBANG) Raja Bojanegara (SURYAWISESA) ‘kumam-BANG'(terkatung-katung) ditengah ‘wi-SESA’ (Kuasa : maksudnya Kuasa Tuhan yangmenjatuhkan hukuman)

6. Janmawirya (mukti) salendro jroning pring (suling), dipun eling-eling wong ngagêsang,aja manggung mukti bae, dhuh babo jamang wakul (wêngku), sêkar pandhan mawurkasilir (pudhak), najan têdhaking Nata, sajagad winêngku, barat gung mrataweng wrêksa(prahara), jarot pisang (sêrat) ana mlarat ana sugih, wus kaprah alam dunya.

Manusia yang berkecukupan(MUKTI/KAYA) senandung didalam bilah bambu (SULING/SERULING), harus di-‘Eling-Eling'(diingat) manusia hidup, jangan hanya mengejar ‘MUKTI’ (kekayaan) saja, duh ibumahkota tempat nasi (WENGKU), bunga pandhan yang beterbangan jika tertiup(PUDHAK), walaupun ‘te-DHAK’ (keturunan) bangsawan, seluruh dunia ‘wineng-KU'(dimiliki), angin besar merobohkan pepohonan (PRAHARA), serat pada buah pisang(SERAT) ada yang mela-RAT ada yang kaya, sudah ‘ka-PRA-h’ (lumrah) dialam duniaini.

7. PutriMandura (Sumbadra) kang nyamang kudi (karah), najan trahing janma sudra papa,lamun bêcik pamarahe, Aji Nata Salyeku (Candrabhirawa), putêr alit ginantang nginggil(prêkutut), patut sira anggowa, candhongna ing kalbu, Wiku Raja ing Kusniya(Bawadiman), Sarkap putra (Samardikaran) den gêmi simpên wêwadi, ywa kongsikasamaran.

Putri dari negara Mandura(SUMBADRA), mahkota kampak (KARAH), walaupun keturunan orang ‘SU-DRA’ papa,jika baik ‘pama-RAH-e’ (kelakuannya), Aji (kesaktian) Raja Salya(CANDRABHIRAWA), burung puter kecil yang ditaruh diatas (burung PREKUTUT), ‘pa-TUT'(layak) dijadikan tauladan, ‘CAN-dhongna’ (ikatkan) dalam hatimu, Raja Wiku dinegara Kusniya (BAWADIMAN), putra Sarkap (SAMARDIKARAN) harus bisa menyimpan ‘we-WADI'(rahasia rumah tangga), jangan sampai ‘kasama-RAN’ (terlena).

8. Tawonagung kang atala siti (tutur), wikan nugraha wulang akherat (swarga), yen siranggotutur kiye, nyuwargakkên bapa biyung, nyarambahi mring kaki nini, salawase raharja,mitra karuh lulut, yen kêna godhaning setan, sapu gamping (usar) garwa HyangGuru Pramesthi (Bathari Durga), durgama karya sasar.

Tawon besar yang berumahdidalam tanah (TUTUR), anugerah dari Yang Maha Berwenang diakherat(SWARGA/SURGA), jikalau kalian pakai ‘TUTUR'(Nasehat) ini, bakal ‘nyu-WARGA-aken’ (membuat surga) bagi ayah dan ibu, bahkan kepada kakek dan nenekkalian, selamanya sejahtera, seluruh teman segan, tapi manakala tergoda setan,sapu batu kapur (USAR) istri Hyang Guru Pramesthi (BATHARI DURGA), ‘DURGA-ma'(membuat halangan) hingga akhirnya ‘sa-SAR’ (sesat).

9. Widenggalêng (yuyu) Kumbayana siwi (Aswatama), têgêse estri ayu utama, pratandha sêratpangrêmbe (pengêt), cipta tyas tan kawêtu (graita), kang wus lêpas graitalantip, nget-engêt ing kawignyan, pangumbaring puyuh (jajah), anjajah saruningbadan, jala panjang (krakad) suluke wayang kalithik (sêndon), yen kalêdon ingtekad.

Mainan gangsing yang adadipematang (YUYU) putra Kumbayana (ASWATAMA), seorang wanita harus ‘a-YU u-TAMA'(cantik lahir batin), surat pangrembe (surat berisi peringatan/PENGET), katahati yang belum keluar (GRAITA), yaitu merekalah yang sudah mampu ‘GRAITA'(berfikir) dewasa, ‘NGET e-NGET’ (senantiasa mengingat) kepada keutamaan, arealterbang burung puyuh yang dilepaskan (JAJAH), ‘an-JAJAH’ (memenuhi) seluruhbadan (lahir batin), jala ikan yang panjang (KRAKAD) suluk/nyanyian jeda padapertunjukan wayang klithik (SENDON), jika ‘kale-DON’ (terlena) pada ‘te-KAD’ (kehendak~ maksudnya watak yang buruk akan menjajah lahir batin jika terlena tekadnya)

10. Kênthangrambat (katela) gancaring wong ngringgit (lakon), têtuladha estri kang utama,kang prayoga lêlakone, singa lit munggeng kasur (kucing), kenya putri Kartanêgari(Susilawati), yen tan susileng priya, pan kuciweng sêmu, dêkunging sabda tanaga(taklim), gugur parlu (batal) nora batal ing wêwadi, wong taklim sapadanya.

Tanaman kentang yangmerambat (KETELA) jalan cerita orang yang memainkan wayang (LAKON), akanmenjadi ‘TE-tu-LA-dha’ (suri tauladan) seorang wanita yang utama, yang baik ‘le-LAKON-e'(perbuatannya), singa kecil yang suka tidur di kasur (KUCING), seorang permausuriraja Kertanegari (SUSILAWATI), jikalau tidak ‘SUSI-leng’ (menghormati) suami,akan membuat ‘KUCI-weng’ (kecewa), luruhnya tenaga suara (TAKLIM/SALAM HORMAT),gugurnya yang fardlu’ (BATAL) jika tidak ‘BATAL’ (gugur) menyimpan rahasia,semua orang akan ‘TAKLIM’ (menaruh hormat) kepadanya.

11. RêtnaDewi matur awot sari, saking dhawuh piwulang paduka, muhung nuwun pangestune,mugi-mugi jinurung, badan kula bangkit nglampahi, Gatholoco ngandika, dhuh sirawong ayu, ayune ayu têmênan, aywa kaget ingsun lilanana pamit, saiki ingsunlunga.

Retna Dewi berkata “Hendakmenjalani, segala nasehat dan petunjuk paduka, mohon restu, agar semogamendapat tambahan kekuatan, bagi saya untuk kuat menjalani”, Gatholoco berkata,”Dhuh kalian semua yang cantik, benar-benar cantik lahir batin, jangan terkejutaku relakan pamit sekarang, aku hendak pergi.”

12. Kranaprêlu kangên arsa tilik, anak murid ing pondhok Cêpêkan, besuk bali mrenemaneh, sira keri rahayu, Gatholoco mangkat pribadi, ing marga tan winarna,kacarita sampun, dumugi pondhok Cêpêkan, para murid dupi miyat ingkang prapti,sukeng tyas kanthi kurmat.

Karena ada keperluankangen dan hendak menjenguk, anak muridku yang ada di pondok Cepekan, kelak akuakan pulang lagi kemari, tinggallah dengan selamat.” Gatholoco berangkatsendirian, dijalan tidak diceritakan, sudah sampai, di pondok Cepekan, paramurid begitu melihat siapa yang datang, gembira hati dan memberikan hormat.

PUPUH XI
——–
Kinanti

1. Gatholoco praptanipun, ing Cepekan pondhok santri, langkung sukaning wardaya, aningali para murid, samya sanget kurmatira, dhumateng Sang Gurunadi.

Kedatangan Gatholoco, dipondok pesantren Cepekan, sangat suka didalam hati, begitu melihat para murid,sangat patuh menghormati, kepada Sang Gurunadi (Guru Kehidupan).

2. Nulya minggah langgar gupuh, sesalaman genti-genti, riwusnya samya salaman, para murid nilakrami, wilujeng rawuh paduka, Gatholoco anauri.

Segera naik keataslanggar, bersalaman berganti-ganti, selesai bersalaman, seluruh murid menanyakankabar, keselamatan atas kedatangan (Gatholoco), Gatholoco menjawab.

3. Iyasaking pandongamu, ingsun ginanjar basuki, sasuwene ingsun tilar, sira kabehanak murid, apa padha kawarasan, santri murid awot sari.

Atas doa kalian semua, aku dianugerahi keselamatan, selama aku tinggal pergi, kalian semua anak muridku,apakah selamat juga, seluruh santri menjawab mengiyakan.

4. Pangestu brekah pukulun, palimarmaning Hyang Widdhi, sadaya kawilujengan, maksih langgeng kados lami, Gatholoco angandika, Kapriye wulangku nguni.

Atas restu dan berkah paduka, sehingga anugerahHyang Widdhi, membuat kami semua disini selamat sejahtera, tetap tidak berubahseperti dulu, Gatholoco berkata, Bagaimana dengan yang aku ajarkan dulu?

5. Apasira isih emut, sokur lamun ora lali, aturnya maksih kemutan, Kawula sanget kapengin, nuwun mugi kasambungan, lajengipun kados pundi.

Apakah kalian semua masih mengingatnya? Sukurlah jika tidak lupa. Semua menjawab masih ingat, Kami bahkan ingin, agar ditambah wejangan, wejangan selanjutnya bagaimanakah?

6. Gatholoco alon muwus, Panjalukmu sun turuti, sireku aywa sumelang, uga bakal sun sambungi, lah mara padha rungokna, manira tutur saiki.

Gatholoco pelan menjawab, Permintaan kalian akan aku turuti, jangan khawatir, akan aku tambah wejanganku, nah sekarang dengarkanlah, aku hendak memberikan wejangan.

7. Nugrahaning Buddhi iku, saurana Tri Prakawis, Cipta Ning kang kaping pisan, Panggraita kaping kalih, Sang Panyipta kaping tiga, Kanugrahaning Roh kuwi.

Anugerah Buddhi(Kesadaran), ada tiga macam, Cipta Ning (Pikiran menjadi hening) yang pertama, Panggraita (Perasaan murni) yang kedua, Sang Panyipta (Yang Mencipta) ketiga (maksudnya siapa saja yang Kesadarannya meningkat, maka dapat ditandai dengan tiga hal, Pikiran liar menjadi hening, Perasaan menjadi murni dan Kesadaran hanya akan menjadi perwujudan Sang Pencipta yang murni, tidak neko-neko, tidakcemas, tidak khawatir hanya menjadi perwujudan Kesadaran murni Sang Pencipta/Tuhan: Damar Shashangka), Anugerah Roh itu.

8. Sauranaiku Telu, ana dene ingkang dhingin, Urip Tan Kalawan Nyawa, ingkang kaping kalih kuwi, Ora Angen-Angen liyan, Allah Kewala kaping tri.

Ada tiga juga, yangpertama, Hidup tanpa nyawa (maksudnya hidup tanpa kehidupan selayaknya makhluk biasa. Makhluk biasa hidup ditandai dengan adanya nafas, yang telah mendapat anugerah kembalinya kemurnian Roh, maka dia telah hidup tanpa nafas, hidup tanpa darah, hidup tanpa detak jantung, hidup tanpa pergerakan paru-paru, dll.Nafas, pergerakan paru-paru, detak jantung, mengalirnya darah, adalah tanda-tanda makhluk BERNYAWA, namun siapa saja yang telah murni Roh-nya, maka dia telah HIDUP TANPA MEMBUTUHKAN SARANA-SARANA PENUNJANG ITU SEMUA, dan bisa disebut TELAH HIDUP TANPA NYAWA : Damar Shashangka), yang kedua, tak ada yang disadarinya lagi, kecuali hanya ALLAH saja dan yang ketiga.

9. Tan ana woworanipun, ingkang Wahdatilwujudi, Nugrahan Sakarat pira, saurana Tri prakawis, kang dhingin Adhepanira, Idhep ingkang kaping kalih.

Tak bisa dibedakan lagi, yang disebut Wahdatulwujud (Kesatuan Wujud ~ Wujud Allah dan wujud Roh telah melebur jadi satu : Damar Shashangka), Anugerah Sekarat ada tiga, yang pertama Arah Hadapmu (Adhep), Pikiran yang bulat (Idhep) yang kedua.

10. Madhep ingkang kaping telu, lamun sira den takoni, Nugrahaning Iman pira, saurana TriPrakawis, Sokur ingkang kaping pisan, Tawakal ingkang ping kalih.

Niat yang mantap (Madhep) yang ketiga (maksudnya manusia bisa dikatakan mendapatkan anugerah disaat kematian jika saat itu tiba Arah Hadap jiwa hanya satu kepada SUMBER ABADI,Pikiran hanya bulat kuat kepada SUMBER ABADI, dan Niat hanya satu terarah kepada SUMBER ABADI ~ Adhep, Idhep, Madhep, jika tidak maka dia akan kembali jatuh kedunia, akan terlahirkan kembali karena pikirnnya dipenuhi keduniawian : DamarShashangka), Anugerah Iman, ada tiga macam, Bersyukur yang pertama, Tawakkal (Pasrah) yang kedua.

11. Sabar ingkang kaping telu, pira Nugrahaning Tokid, saurana Dwi Prakara, krana Tetep ingkang dhingin, Wadi kaping kalihira, Nugrahan Makrifat Jati.

Sabar yang ketiga (manusiabisa disebut mendapatkan anugerah keimanan jika sudah mampu bersikap Sukur, Pasrah dan Sabar : Damar Shashangka), Anugerah Tokid (Tauhid), ada dua macam, Krana Tetep (Tetap Tunggal Adanya) yang pertama, dan Wadi (Rahasia) yang kedua (maksudnya manusia bisa disebut mendapat anugerah akan Tauhid jika memahami bahwa semua ini TETAP DALAM SATU KESATUAN TAK TERPISAHKAN dan memahami RAHASIA BAHWA TIADA YANG LAIN SELAIN TUHAN DISELURUH ALAM INI : Damar Shashangka), Anugerah Makrifat Sejati.

12. Sira sumaura gupuh, iku namun saprakawis, Ana Ing Kahananira, Anenggih Karsa:Rasaning, Rasa Wisesa Prayoga, Martabate Kramat kuwi.

Jawablah dengan cepat, hanya ada satu macam, Berada Pada Keberadaan-Nya, dan kehendak makhluk, menjadi rasa sejati yang berwenang dalam kemurnian sempurna, Martabat/Tingkatan/Uraian Kramat (Karomah/Kemuliaan) itu.

13. Mangretine ana Telu, Karem Apngal Para Mukmin, Para Wali Karem Sipat, a-Karem Dzat Para Nabi, lire Karem Ing Dzatullah, ya sok ana asihaning.

Sungguh ada tiga tingkat, Lebur dalam Apngal (Af-‘al : Perbuatan/Aktifitas Tuhan) bagi para mukmin, bagi para Wali lebur dalam Sipat (Sifat : Watak Tuhan), sedangkan para Nabi lebur kedalam Dzat ( Dzat : Keberadaan Sejati Tuhan). Yang dimaksud dengan lebur kedalam Dzatullah (Dzat Allah), senantiasa dalam KASIH-NYA.

14. Ingkang Karem Sipat iku, uga ana gumletheking, lire Karem Apngalullah, mila ana obah osik, yen sebit paningalira, ening kabuka sayekti.

Yang lebur dalam Sifat, senantiasa dalam KEDAMAIANNYA, yang lebur dalam Apngalullah (Af-‘alullah :Perbuatan Allah), seluruh diam dan geraknya untuk Allah, jika tajam kesadarannya, dan hening kekotoran batinnya, akan mampu membuka rahasia sejati.

15. Ing Sipat Jalal puniku, Jamal Kamal Kahar nenggih, dumadine imanira, sakbul gumletheking ati, dadine oleh sampurna, sampurnaning gesang nenggih.

Membuka kesejatian Jalal (YangAgung), Jamal (Yang Cantik) Kamal (Yang Sempurna) dan Kahar (Yang Kuasa), akan menjadi iman kalian yang nyata (keyakinan yang benar-benar telah menyaksikan sendiri), menjadikan Kedamaian jiwa, memperoleh kesempurnaan, kesempurnaan hidup yang sesungguhnya.

16. Martabate Nyawa iku, lamun sira den takoni, kathahe namung satunggal, iya iku Roh Ilapi, mung sawiji marganira, tegese Urip puniki.

Martabat/Tingkatan/UraianNyawa (Hidup), jika kalian ditanya, jawabannya hanya ada satu, yaitu Roh Idhofi (Ruh Yang Menguatkan), hanya satu keberaadaannya, sesungguhnya (Roh Idhofi) itu tak lain adalah HIDUP ini.

17. Ora nana Urip telu, ingkang mesthi mung sawiji, lamun sira tinakonan, endi Allah ing saiki, iku nuli saurana, sapa ingkang ngucap kuwi.

Tak ada HIDUP bercabang tiga, hanya ada satu, jika kamu ditanya, dimanakah Allah sekarang? Jawablah, Siapakah yang berani bertanya tadi?

18. Aja ta sireku umyung, yen sira dudu Hyang Widdhi, yektine ingkang den ucap, kang ngucap tan liyan Widdhi, nanging kudu kawruhanana, ing Panarima sayekti.

Janganlah kamu bingung (hai yang bertanya), JIKA DIRIMU BUKAN PERWUJUDAN HYANG WIDDHI/ALLAH (LANTAS SIAPAKAH DIRIMU), SESUNGGUHNYA APA YANG KAMU UCAPKAN, BERIKUT YANG MENGUCAPKAN TAK LAIN SEMUA ADALAH HYANG WIDDHI ITU SENDIRI. Akan tetapi harus benar-benarkamu sadari sendiri hal itu, dengan segala pemahaman total yang ada pada dirimu.

19. Ana ingkang Nrima iku, Kaya Toya lawan Siti, lawan ingkang Kaya Udan, apa dene Kaya Wesi, kalawan Kaya Samudra, ingkang Kaya Lemah Warih.

Pemahaman total itu,bagaikan Air dan Tanah, dan juga bagaikan Hujan, bagaikan Besi pula, juga bagaikan Samudera. Yang dimaksud bagai Tanah dan Air.

20. Den Rumesep tegesipun, Ora Pegat Kang Rohani, tegese kang Kaya Udan, Datan PegatTingalneki, ana maneh Kaja Tosan, Sakarsanira Mrentahi.

Resapilah segala pemahaman itu, tiada putus jiwamu (siang malam) meresapi tentang kesatuan wujud itu, yang dimaksud bagaikan Hujan, tak terputus melihat segala isi dunia adalah wujud-Nya (bagaikan rintik hujan yang sambung menyambung tiada putusnya), dan yang dimaksud bagaikan Besi, sekehendak yang membuat.

21. Ginaweya arit wedhung, pethel wadhung kudi urik, Ora Owah Sipatira, Isih bae Wujudneki, ingkang upama Samudra, Pituduh ingkang prayogi.

Hendak dibuat jadi celurit linggis, palu kampak senjata, Tapi tidak terpengaruh sifat besinya, tetap berwujud besi (begitu juga walau berwujud bermacam-macam, jangan terkecoh bahwa semua itu hanya perwujudan dari Tuhan semata), yang bagaikan Samudera, telah mendapatkan kesadaran yang sesungguhnya.

22. Puniku mesthine antuk, ing ujar sakecap tuwin, ing laku satindak lawan, ameneng sagokan nenggih, lamun wis Kaya Samudra, Ora Owah Tingalneki.

Telah menyadari, bahwa setiap ucapan, setiap langkah, diam dan gerak, semua bagaikan Samudera (dengan ombaknya ~ tak terpisahkan mana Tuhan mana Hamba), Tiada lagi Goyah Kesadarannya.

23. Sira andulu dinulu, ora nana tingal kalih, ora nana ucap tiga, dadi sampurna salating, weruh paraning sembahyang, weruh paraning ngabekti.

Yang melihat (Hamba) dan Yang Dilihat (Gusti), tiada lagi dua, tiada lagi ucapan bercabang tiga, inilah kesempurnaan shalat, tahu arah menyembah, tahu arah berbakti yang sesungguhnya.

24. Nyata bener ora kusut, lan weruh paraning osik, weruh paraning neng-ira, weruh paraning miyarsi, weruh paraning pangucap, weruh paran ngadeg linggih.

Nyata berdiam dalam Benar yang tanpa kesalahan, tahu asal gerak hati, tahu asal diamnya hati, tahu asal pendengaran, tahu asal pengucapan, tahu asal berdiri dan duduk kita siapa yang menggerakkan.

25. Lan weruh paraning turu, weruh paranira tangi, weruh paraning memangan, weruh paran nginum warih, weruh paran ambebuwang, weruh paran sene nenggih.

Tahu asal tidur, tahu asal jaga, tahu asal makan, tahu asal minum, tahu asal membuang kotoran, tahu asal membuang air seni.

26. Weruh parang seneng nepsu, weruh paraning prihatin, weruh paran ngidul ngetan, mangalor mangulon kuwi, weruh paraning mangandhap, weruh paraning manginggil.

Tahu asal kesenangan dan nafsu, tahu asal jiwa yang penuh kekuatan menahan hawa nafsu, tahu tempat selatan dan timur, utara barat sesungguhnya, tahu arah bawah, tahu arah atas yang sesungguhnya.

27. Weruh paran tengah iku, weruh paranira pinggir, weruh paraning palastra, weruh paranira urip, weruh kabeh kang gumelar, kang gumreget kang kumelip.

Tahu arah tengah, tahu arah pinggir, tahu tujuan kematian, tahu tujuan hidup, tahu segala hal yang mewujud, yang bergerak dan yang berkelip-kelip ini semua.

28. Tan samar weruh sadarum, anane samita iki, sira kabeh poma-poma, anakingsun para murid, sireku aywa sembrana, weruha rasaning tulis.

Tiada samar lagi mengetahui semuanya, semua wejanganku ini, wahai kalian semua ingat-ingatlah,oh anak muridku, jangan sampai ceroboh, harus memahami inti sari tulisan.

29. Dene sira yen wis weruh, kekerana ingkang werit, aywa umyung pagerana, aywa sembarangan kuwi, nganggo duga kira-kira, aywa dumeh bisa angling.

Jikalau kalian sekarang sudah memahami, jagalah benar-benar, jangan gampang diucapkan dan pagarilah,jangan sembarangan diucapkan, harus memakai kira-kira dan tempat yang sesuai, jangan hanya asal bisa bicara.

30. Lan maneh aywa kawetu, mring wong ahli sarak nenggih, yen maido temah kopar, karana rerasan iki, ora amicara sarak, amung Sajatining Ilmi.

Dan lagi kalau bisa jangan sampai terdengar, kepada ahli Sarak (Syari’at), jika berbantahan dengan merekaakan sia-sia, sebab wejangan ini, tidak lagi membahas sarak (syari’at), akan tetapi membahas Sejatinya Ilmu.

31. Ingkang renteng ingkang racut, tan ana kaetang malih, caritane soal ika, padha anggitening batin, dadi wijange sadaya, sira ingkang ahli buddhi.

Yang tertata dan yang terjaga, tak ada lagi yang perlu diwejangkan, tentang hal ini semua, masukkan dalam batinmu masing-masing, sehingga kamu bisa membuktikannya sendiri, wahai kalian ahli Buddhi (Ahli Kesadaran)!

(Selesai)

(14 Agustus 2010, by Damar Shashangka)